Sang Musafir

Sang Musafir
Kembali ke Perpustakaan Kotaraja dengan Penyamaran


__ADS_3

MANTINGAN berlutut tepat di sebelah tubuh Pendekar Seribu Kitab yang terbaring lemah tanpa daya. Sekarat. Darah mengucur deras dari dadanya yang merekah. Membasahi jalanan berbata merah yang semakin merah jadinya akibat darah itu. Mantingan lekas menggenggam lengan orang tua itu untuk kemudian mengalirkan tenaga prana sebanyak-banyaknya.


“Pahlawan Man tidak perlu repot-repot menahan kematian orang tua tak tahu diri yang telah sepantasnya untuk mati seperti diriku ini.” Pendekar Seribu Kitab tersenyum tipis sebelum batuk darah beberapa kali. “Kitab yang dikau cari-cari itu ada di dalam jubahku. Ambillah sendiri, tanganku seolah kehilangan semua tenaganya. Bila kau menggunakannya untuk berbuat kebaikan bagi bersama, maka dapatlah dosaku diringankan meskipun hanya sedikit.”


“Bapak dapat pergi dengan tenang. Terima kasih atas segala pelajaran berharga yang telah Bapak berikan kepadaku.” Mantingan menundukkan kepala saat mengatakan hal itu, benar-benar menunjukkan rasa hormatnya yang sungguh teramat tulus.


“Mungkin dikau akan sedikit berolahraga, Pahlawan. Bukan hanya dikau yang mengincar kitab itu.” Tepat setelah berucap seperti itu, nafas kehidupan Pendekar Seribu Kitab berhenti. Matanya terpejam dalam senyum kedamaian.


Mantingan merogoh jubah Pendekar Seribu Kitab dan menemukan sebuah keropak yang ditunjukkan padanya sewaktu masih berada di Perpustakaan Kotaraja. Dan ketika ia menyimpan keropak lontar itu ke dalam pundi-pundinya, terdengar suara desing logam tepat di belakang kepalanya!


Nyatanya ketegangan memang belum ditakdirkan untuk usai, sebab masih saja ada yang menyerang Mantingan setelah dirinya berhasil mengalahkan seorang pendekar tangguh yang namanya cukup tersohor di dunia persilatan itu!


Mantingan lekas menarik badannya ke belakang, tepat sebelum sebilah pedang menerjangnya dari atas!


Dikirimkanlah serangan balasan berupa tebasan pedang pada pendekar yang menyerangnya itu. Dalam seketika membunuh orang malang itu.


Mantingan bukannya tidak berpikir masak-masak ketika ia membunuh pendekar itu. Jika saja ia hanya sekadar melumpuhkannya buat selama-lamanya, maka sudahlah pasti pendekar itu akan hidup dalam ketikdakberdayaan dan rasa malu yang teramat sangat besar untuk dapat ditanggung manusia, merasa bahwa seribu kematian jauh lebih baik ketimbang hidup seperti itu.


Dan jikalau pendekar itu berhasil terlepas dari kelumpuhannya, dia akan mencari Mantingan atau setidaknya orang-orang yang dekat dengan Mantingan untuk membalaskan dendam sebab telah dipermalukan sebagai seorang pendekar.


Namun jika Mantingan membunuhnya, maka sekalipun nanti bertemu di alam baka, pendekar itu akan berterimakasih sebesar-besarnya pada Mantingan.


Tetapi satu pendekar itu saja nyatanya tidak cukup. Tampak kelebat-kelebat bayangan lain yang sedang bergerak dalam kecepatan teramat sangat tinggi ke arahnya.


Merasa tidak ada untungnya berhadapan dengan mereka, Mantingan segera melesat pergi dengan seluruh dayanya selagi bisa.


***

__ADS_1


MENYAMAR menjadi orang yang benar-benar awam adalah salah satu keahlian yang wajib dikuasai oleh setiap pendekar. Kemampuan menyamar dan melebur dalam kehidupan orang-orang awam akan membantu para pendekar bersembunyi dari pengejaran, menjalankan tugas rahasia, memata-matai, dan masih banyak lainnya.


Sama seperti yang sedang Mantingan terapkan saat ini. Ia menyamar, membaur, dan menyelinap di tengah-tengah masyarakat awam dengan tampilannya yang pula seperti orang awam di sekitarnya.


Ia berjalan santai di jalanan pada sebuah pemukiman khusus yang ditinggali orang-orang dari Negeri Atap Langit.


Pakaian yang dikenakannya saat ini berasal dari Negeri Atap Langit yang tidak ia ketahui nama dan jenisnya. Asal memapasnya diam-diam dari pedagang kain di pinggir jalan, dan tentulah dengan segenap permintaan maaf di dalam benak sebab hanya dapat memberi bayaran berupa sebuah Lontar Sihir Pelindung yang langsung dipasangkannya di toko itu.


Agar benar-benar tampak seperti orang yang berasal dari Negeri Atap Langit, Mantingan mengalirkan tenaga prana yang bersifat dingin pada seluruh kulitnya. Sehingga kini ia tampak memiliki kulit putih pucat, kurang-lebih menyerupai orang Negeri Atap Langit yang hanya saja kurang makan sayur.


Mantingan masih menggunakan caping serta berpenampilan seperti seorang penyoren pedang. Namun nyatanya, keputusan untuk menyamar menjadi penyoren pedang masihlah kurang tepat. Banyak orang-orang di sekitarnya yang menatap kedua pedangnya dengan teramat kagum.


Bahkan ada pula yang menghampirinya dan dengan semangat bertanya apakah dirinya pernah membunuh orang dengan pedang-pedang itu.


Tentulah Mantingan tidak membalasnya dan hanya berlalu begitu saja setelah mendengus napas dingin.


“Hai, Tuan Tampan! Berkunjunglah ke Penginapan Camar Terbang untuk sekadar melepas penat. Sahaya akan menemani Tuan!”


Mantingan menoleh dan menemukan sesosok wanita berpupur tebal menyorakinya dari lantai dua sebuah bangunan. Ketika tatapannya saling bertemu, perempuan itu langsung menunjukkan senyum genit.


Mantingan hanya menggelengkan kepala dan kembali berjalan. Dua-tiga wanita lain turut menyorakinya di sepanjang jalan. Bahkan, ada pula yang sampai melemparinya bunga.


“Tuan! Kamu tampan sekali! Mampirlah ke penginapan ini, Tuan tidak perlu membayarku.”


“Bermainlah dengan kami berdua, Tuan! Tidak perlu membayar, kamilah yang akan membayar Tuan!”


Mantingan mempercepat langkah kakinya. Bukankah hal ini sangat tidak wajar? Mengapa perempuan-perempuan bunga raya itu justru hendak membayarnya untuk membayar mereka, sedang yang seharusnya berlaku adalah sebaliknya?

__ADS_1


Satu-dua dari mereka mulai berjalan cepat menuju ke arahnya, beberapa lainnya menyusul. Mantingan masih tetap berjalan dengan tenang, tetapi ketika perempuan-perempuan itu mulai berlarian mengejarnya, Mantingan pun mau tidak mau ikut berlari pula.


Sungguh sukar dipercaya betapa Mantingan, sang Pemangku Langit yang telah berada di puncak dunia persilatan, berlari tunggang-langgang dikejar perempuan-perempuan lacur yang sebenarnyalah sangat tidak berdaya di hadapannya. Telaga persilatan, rimba persilatan, bahkan jaringan bawah tanah persilatan pun akan sulit mempercayainya.


***


BETAPA pun pada akhirnya, Mantingan berhasil sampai di Perpustakaan Kotaraja ketika mentari telah sedikit lengser ke barat.


Cukup mudah baginya untuk menghindari pelacur-pelacur gila itu. Dirinya hanya perlu berlari, dan sungguh tidak ada apa pun selain terus berlari. Perempuan-perempuan itu memiliki batas wilayahnya masing-masing, sehingga terlarang bagi mereka untuk melanggarnya hanya karena seorang pria tampan.


Mantingan tidak lagi menyamar menjadi pemuda Negeri Atap Langit, sebab penampilannya yang seperti itu justru menarik banyak perhatian. Maka kini ia menyamar sebagai orang yang benar-benar tidak layak diberi perhatian; Astacandala.


Berjalan-jalan di tengah keramaian dan kemegahan kotaraja, Mantingan hanya menggunakan cawat dan ikat kepala yang telah begitu lusuh. Sekujur tubuhnya dilumuri lumpur kering, sehingga kini tampak sekali dirinya belum mandi berpekan-pekan lamanya, meski sebenarnyalah ia selalu mandi setiap hari.


Orang-orang akan memalingkan wajah ketika melihatnya. Tiada yang sudi untuk memberi perhatian kepadanya meskipun hanya sedikit. Bahkan ada pula yang lantas mengguyurkan air ke mata setelah melihatnya. Siapakah kiranya yang ingin pandangan matanya ternodai oleh penampakan Astacandala?


___


catatan:


Terima kasih telah memberi kritik dan sarannya. Dan maaf bila saya tidak membalasnya satu demi satu, tetapi semua kritikan yang masuk telah saya baca baik-baik dan dijadikan bahan evaluasi ke depannya.


Selanjutnya, sekali lagi saya hendak meminta bantuan pada para pembaca untuk menyebutkan episode yang paling kalian sukai dari Sang Musafir.


Saya akan mengikis kekurangan dan mengembangkan kelebihan pada novel ini.


Atas kontribusinya yang teramat berharga, saya ucapkan rasa terima kasih yang mendalam!

__ADS_1


__ADS_2