
“Nama Jakawarman sendiri pun cukup mengherankan, bukan? ‘Warman’ adalah nama yang diturunkan dari Jayasingawarman kepada anaknya Dharmayawarman, yang kemudian diturunkan pula pada anaknya Punawarman. Saat ini, nama ‘Warman’ hanya dipakai keluarga kerajaan yang merupakan keturunan langsung dari Jayasingawarman. Jika begitu, dari manakah Jakawarman mendapatkan namanya?”
Mantingan masih pula menahan napasnya. Alam pikirnya berputar. Apakah ia harus membeberkan kejadian yang sebenar-benarnya, bahwa Jakawarman sama sekali tidak mati diterkam binatang buas melainkan hilang dengan meninggalkan jejak Kembangmas? Sungguhkah Rama merupakan orang yang dapat dipercaya untuk menjaga sebuah kerahasiaan?
“Kutahu bahwa hubunganmu dengan Jakawarman dikatakan sangat dekat. Tetapi harus engkau ketahui bahwa kemungkinan terbesarnya, Jakawarman adalah mata-mata musuh. Kulihat pakaian Jakawarman yang seperti berlumuran darah, tetapi sebenar-benarnyalah itu bukan darah manusia maupun darah binatang. Bukan darah siapa-siapa. Melainkan cairan dari buah buni yang memang sengaja dioleskan pada pakaian itu.” Rama menarik napas panjang. “Jadi, jika dirinya adalah benar seorang mata-mata, maka dia berusaha menyamarkan kematiannya, seolah-olah dirinya mati diterkam binatang buas.”
Kali ini, Mantingan menghela napas panjang. Sungguh, dadanya terasa berat sekali. Bukankah menghela napas sebenarnya bukan masalah jika tidak melakukannya terlalu sering?
“Dirikulah yang memalsukan kematian Jakawarman, Ketua.”
Rama mengangkat alisnya. Tampak terkejut. Namun, itu hanya berlangsung barang sesaat saja. Rama kemudia menganggukkan kepalanya pelan sebelum berkata, “Untuk tujuan apakah hingga Anak Man berani berdusta?”
Begitu Rama mengatakan itu, sebenarnya dada Mantingan semakin terasa berat saja. Betapa perkataan itu benar-benar menusuk benaknya. Tetapi biar apa pun yang terjadi, Mantingan harus menceritakan kejadian itu.
Rama beberapa kali menganggukkan kepalanya sepanjang Mantingan bercerita. Tidak tampak raut kemarahan maupun kekecewaan di wajahnya. Hanya senyum tipis, yang terkadang berubah menjadi senyum hangat.
Maka setelah Mantingan menyelesaikan ceritanya, berkatalah Rama, “Agaknya alasanmu berbohong dapat sekaligus tidak dapat diterima, Anak Man. Betapa pun, engkau telah menodai nama baik Jakawarman sebagai seorang pendekar pemberani. Tetapi daku dapat menerimanya untuk kali ini, Anak Man, sebab orang yang telah engkau nistakan nama baiknya itu berkemungkinan merupakan mata-mata musuh. Atau yang lebih baik lagi, orang yang mengaku sebagai Jakawarman itu tidak lain dan tidak bukan adalah Kembangmas.”
Kemudian Rama menepuk pundaknya sambil tersenyum lebar. “Tidak ada yang perlu engkau sesali, Anak Man. Ambil saja pelajarannya,” katanya kemudian. “Armada pelayaran akan berangkat dalam waktu dua bulan lagi. Habiskanlah waktu itu bersama mereka. Jangan sampai engkau menyesal setelah mereka pergi ke Champa, Anak Man.”
***
MANTINGAN KEMBALI berjalan menuju kediamannya dan Kana. Senjakala telah lama terlewati semenjak. Keadaan langit dapat dikatakan cerah. Bulan separo menggantung di langit. Berkawan dengan bintang-bintang yang beragam kekuatan sinarnya. Bahkan karena begitu cerahnya, kelelawar yang terbang melintas pun akan nampak dengan jelas.
__ADS_1
Mantingan menjumpai Kana yang tengah berlatih di halaman kediaman. Anak itu lekas menghentikan langkah kakinya untuk sekadar menyapa Mantingan.
“Kakanda, marilah ajari diriku! Daku ingin mendapat semua pelatihan darimu sebelum benar-benar pergi ke Champa!” Kana berucap penuh semangat. “Jika Kakanda ingin melatihku sampai pagi sekalipun, diriku tidak keberatan. Marilah!”
Mantingan tersenyum sambil terus berjalan, seolah tiada menaruh perhatian barang sedikitpun pada Kana. Tetapi sebentar kemudian, dirinya berkata, “Siapkan kuda-kudamu, daku akan menyerang.”
Kana memasang kuda-kudanya sekokoh mungkin serta mengarahkan ujung pedangnya pada Mantingan.
Tetapi Mantingan terus berjalan ke arah pintu masuk kediaman tanpa terlihat berselera pada Kana. Kana mengerutkan dahinya, sungguh tidak mengerti maksud Mantingan yang tadi telah jelas mengatakan bahwa dirinya akan menyerang sehingga meminta Kana untuk menyiapkan kuda-kudanya!
“Kakanda, engkau tidak jadi menyerangku.” Tanpa sadar, Kana melonggarkan kuda-kudanya. Bahkan pedangnya pun tak lagi teracungkan.
Maka ketika itulah tubuhnya tiba-tiba saja terdorong sebuah daya aneh yang begitu kuat. Ia melayang barang sesaat di udara sebelum akhirnya terseret di atas tanah berumput. Pedangnya tergeletak begitu saja di atas tanah, dengan jarak yang dapat dikatakan cukup jauh darinya.
Bocah yang merasa tersindir itu lekas bangkit dan berlari meraih pedangnya. Kembali kedua kakinya membentuk kuda-kuda yang kokoh. Kali ini, ia tak akan lengah barang sedikitpun!
Mantingan mengambil sebuah sapu halaman yang semulanya bersandar pada tembok kediaman. Dengan senyum di sudut bibirnya, Mantingan berbalik badan hingga kini tubuhnya menghadap Kana.
Meskipun Mantingan sepertinya hanya mempersenjatai diri dengan sebatang sapu halaman yang tak kurang dan tak lebih merupakan gabungan dari lidi-lidi daun kelapa kering, Kana tidak cukup bodoh untuk meremehkan pemuda itu.
Telah dibacanya sebuah sastra persilatan yang menyatakan bahwa seorang pendekar berilmu tinggi dapat memanfaatkan setetes air menjadi senjata mematikan.
Maka yang dipegang Mantingan sekarang bukanlah setetes air, melainkan sebuah sapu halaman!
__ADS_1
Kana mengambil langkah mundur yang kecil-kecil dengan terus mempertahankan kuda-kudanya. Pandangan matanya tidak pernah digeser barang sedikitpun dari sosok Mantingan.
Mantingan melebarkan senyumnya setelah melihat bocah itu tetap mempertahankan kewaspadaan dan kuda-kudanya. Nampak pula bahwa bocah itu tidak berniat meremehkannya. Dirasakannya bahwa Kana telah siap untuk menerima serangan. Maka diayunkanlah sapu halaman itu ke arah Kana meski masih berjarak sangat jauh.
Dari sapu itu, terciptalah gelombang angin besar yang menderu ke arah Kana. Bocah itu melihatnya, tetapi tidak mungkin jika ia bergerak menghindar. Maka yang dapat ia lakukan sekarang ini hanyalah memperkuat kuda-kuda kakinya saja.
Gelombang angin itu menghantam tubuh kurus Kana. Yang tak ayal membuat anak itu kembali terempas ke belakang. Kana tersungkur di atas tanah dengan pedang yang dibiarkan tergeletak begitu saja.
“Kakanda engkau sungguh kelepasan ....”
Mantingan tertawa lepas. “Diriku sama sekali tidak kelepasan, Kana. Serangan itu telah kuukur sebelumnya. Aku memang sengaja melakukan hal ini.”
Kana mengangkat kepalanya sebelum berteriak. “Kakanda, engkau sama sekali tidak berniat melatihku!”
“Salah, Kana. Aku amat sangat berniat melatihmu maka kulakukan ini padamu. Ambillah pedangmu dan masuk ke dalam kediaman.”
Kana membuang muka. “Kakanda saja. Daku ingin melanjutkan latihan.”
“Sesekali engkau harus mempelajari kitab, Kana. Kecuali jika engkau ingin membacanya di luar sini, tanpa penerangan selain dari rembulan.”
“Kakanda ingin mengajariku kitab persilatan?”
Mantingan hanya mengangguk sebagai balasan. Dan tanpa menunggu jawaban dari Kana, ia membuka pintu dan masuk ke dalam kediaman. Sedangkan Kana lekas-lekas menyarungkan pedangnya sebelum berlari masuk.
__ADS_1