
“Kakanda, sepertinya engkau terlalu memanjakanku kali ini.”
MANTINGAN TERTAWA pelan. “Aku sama sekali tidak berniat memanjakanmu.”
Mantingan lalu menjelaskan bahwa minum teh telah menjadi kebiasaan seorang penyoren pedang selepas menyantap hidangan dan sebelum mereka melanjutkan perjalanan. Kana yang menyadari hal itu menjadi bersemangat.
“Itu berarti, diriku ini sudah dapat dikatakan sebagai penyoren pedang?”
Mantingan mengangkat alisnya sebab merasa heran. “Selama engkau menyoren pedang di punggung, di pinggang, atau di manapun itu, engkau telah dapat disebut sebagai penyoren pedang.”
“Tetapi tetap saja, diriku adalah penyoren pedang yang setidak-tidak memiliki lebih banyak pengalaman dan ilmu ketimbang orang yang hanya menyoren pedangnya sebagai pajangan saja, bukan?” Kana lekas membantah pernyataan Mantingan dengan membuat alasan, tidak ingin kebanggaannya dihancurkan begitu saja.
Mantingan dan Kana melanjutkan perjalanan setelah menghabiskan teh mereka masing-masing. Meskipun kedai itu menawarkan penginapan sederhana berupa ruangan lasehan, Mantingan tetap pada keputusannya untuk melanjutkan perjalanan di malam hari.
Perjalanan di malam hari akan jauh lebih melatih Kana yang memiliki sifat penakut. Meskipun boleh dikata, Mantingan sangat mengantuk dan ingin sekali rasanya merebah di alas tidur milik kedai itu, yang tidak perlu empuk asalkan nyaman. Tetapi keinginan itu segera ditepisnya, sebab ia mengetahui betapa pun Kana akan meninggalkannya sebentar lagi. Ketika itu terjadi, Mantingan ingin dirinya telah banyak memberi Kana pelajaran dan pelatihan.
Sebelum benar-benar pergi dari kedai itu, Mantingan terlebih dahulu membeli sebatang obor dari pemilik kedai. Dibayarnya cukup dengan sekeping perunggu. Kana yang melihat itu pun menjadi kebingungan sekaligus takut.
“Kakanda, tidakkah Kakanda menggunakan Lontar Sihir yang dapat bercahaya lebih terang daripada obor itu?”
“Tidak.” Mantingan menggeleng pelan. “Tampaknya tidak untuk malam ini.”
__ADS_1
“Apakah Kakanda telah kehabisan alat ajaib itu?”
“Tidak pula.” Sekali lagi Mantingan menggelengkan kepala. “Aku masih mempunyai beberapa untuk berjaga-jaga.”
“Tidakkah bisa menggunakan salah satunya saja sebagai penerang kita malam ini?” Mata Kana diam-diam melirik jalanan yang ditimpa kegelapan pekat. Berjalan di waktu tengah malam, dalam keadaan gelap gulita, pikiran Kana mengarah ke mana-mana. Anak itu berandaikan terdapat binatang buas selayaknya macan kumbang, atau yang lebih buruk adalah penyamun menyergap dalam kegelapan.
Tetapi untuk hal seperti ini, Mantingan tidak akan menerima penawaran. Mereka akan tetap berjalan dalam kegelapan malam menggunakan setangkai obor yang cahayanya remang-remang, tidak menggunakan selembar Lontar Sihir Cahaya.
“Bukankah memang sudah biasa seorang penyoren pedang melakukan perjalanan di malam hari menggunakan obor?” kata Mantingan, “bahkan ada beberapa yang tidak menggunakan obor atau alat penerang apa pun.”
Mantingan berhasil memberikan sebuah jawaban telak kepada Kana. Dia yang selama ini ingin dianggap sebagai penyoren pedang hebat, tentunya tidak ingin dipecundangi oleh penyoren pedang lainnya yang berjalan hanya dengan sebatang obor. Jika penyoren lain bisa melakukan hal itu, mengapakah dirinya tidak?
Kana pada akhirnya menganggukkan kepalanya dan meminta Mantingan untuk mulai berjalan. Meskipun dalam benaknya masih tersimpan ketakutan yang tidak kecil, tetapi harga diri dan kehormatan membuat Kana rela menghiraukan rasa takutnya.
Padahal jika dijual, pedang itu bisa jatuh pada harga 500 keping emas. Mantingan jelas telah berusaha menolaknya, tetapi betapapun itu, Dara lebih keras kepala. Kana pun tidak memberikan penolakan, bahkan dengan senang hati menerimanya.
Ketika Kana ditanya ingin diberi nama apa pedangnya, anak itu menggelengkan kepala dan berkata bahwa dirinya masih menunggu waktu yang tepat untuk menamai pedangnya.
Mantingan dan Kana berjalan meninggalkan kedai tersebut dalam gulitanya malam. Cahaya obor menari-nari ketika angin dingin kemarau menerpanya, serta merta membuat bayangan benda-benda di sekitarnya pun ikut menari-nari.
***
__ADS_1
TIADA KESULITAN berarti yang mereka hadapi sampai fajar tiba. Pagi itu. Di tepi sungai kecil yang airnya sepekat warna teh. Beberapa daun kering jatuh di atas permukaan air yang mengalir lamban bagaikan sapi menuruni lembah ketika angin berembus tenang. Bayangan pohon-pohon memanjang di tanah ketika matahari menyinarinya dari ufuk timur.
Mantingan dan Kana terlihat sedang beristirahat di sana. Sebab memang sungai kecil itu tidak berjarak terlalu jauh dari jalan yang mereka lalui. Dan pagi tadi, setelah melewati malam dengan terus berjalan kaki, Kana melaporkan pada Mantingan bahwa dirinya begitu kelelahan dan mengantuk. Maka berhentilah mereka di sini.
Kana membawa selembar daun pisang lebar yang baru saja ditebas olehnya. Digunakanlah daun pisang itu sebagai alas tidurnya di atas tanah. Dalam beberapa kejap mata, Kana tiba-tiba mendengkur keras tanda bahwa dirinya telah terlelap.
Sedangkan Mantingan bersila teratai di atas batu besar yang jaraknya hanya beberapa langkah saja dari tempat Kana tertidur. Pemuda itu menghadap sungai. Matanya terbuka setengah, tidak benar-benar terpejam. Selain untuk bersiaga, dilakukannya seperti itu pula untuk menghayati keindahan alam di sekitarnya.
Sungai kecil ini begitu sederhana. Hampir tiada yang istimewa jika dibandingkan dengan sungai-sungai hikayat yang tersohor dan menjadi tujuan berpelesir. Sungai di depannya itu barang tentu jarang mendapatkan perhatian meskipun berada tak jauh dari jalanan yang sering dilewati pedagang maupun pelancong.
Tetapi terkadang, di dalam kesederhanaan itu, Mantingan dapat mengecap makna yang begitu dalamnya. Bahwasanya betapa hebatnya cara alam bekerja, tidak peduli apakah dirinya sederhana atau tidak sederhana, banyak dilihat atau tidak banyak dilihat, mendapat pujian atau tidak mendapat pujian, betapapun ia tetap bekerja sesuai dengan garis hidup.
Dapatkah manusia meniru cara alam semesta bekerja? Dapatkah manusia tidak peduli betapapun dirinya sederhana atau tidak sederhana, banyak dilihat atau tidak banyak dilihat, mendapat pujian atau tidak mendapat pujian, dan tetap bekerja sesuai dengan garis hidupnya?
Pada akhirnya, tidak banyak manusia yang dapat melakukan hal itu. Dengan hawa nafsu yang ada dalam pikirannya, manusia menjadi makhluk yang haus pujian.
Betapa Mantingan merasa bahwa alam selalu memberikan percontohan kepada manusia tetapi tidak banyak yang dapat menyadarinya. Mantingan berpikir, pantaslah seorang biksu lebih suka menghabiskan waktu dengan bersamadhi di tengah alam atau di dalam gua. Itu adalah cara mereka mendengar dan memahami alam.
Tetapi Mantingan merasa bahwa ilmu yang didapatkan dengan memahami alam tidaklah baik disimpan sendirian. Mantingan tidak bisa terus bersamadhi di tengah alam atau di dalam gua dan memutus segala hubungan kemasyarakatan. Bukan seperti itu cara mendamaisejahterakan dunia.
Maka dengan membuka matanya lebih lebar lagi, Mantingan menyudahi samadhinya. Waktu telah lama terlampaui selama dirinya memikirkan tentang kesederhanaan tadi. Perjalanan harus tetap dilanjutkan. Begitupun dengan Kembangmas, harus tetap ditemukan!
__ADS_1