Sang Musafir

Sang Musafir
Kelewang Samodra


__ADS_3

SEKALI lagi tangan Mantingan berkelebat dengan kecepatan melebihi cepat untuk menangkap lima pisau terbang yang menyasar kepala, dada, dan kaki Bidadari Sungai Utara.


Ketiga pisau itu tidak lagi disimpannya, melainkan dilesatkan kembali pada pemiliknya. Dua sosok bayangan hitam yang berlentingan di atap-atap bangunan seketika berdebam jatuh ketika dua pisau terbang itu masing-masing menancap di dada mereka, menggegerkan orang-orang di sekitar.


Rombongan Mantingan terus bergerak. Kana dan Kina sebenarnya sempat terhenti ketika mendengar kehebohan tak jauh dari tempatnya, akan tetapi Bidadari Sungai Utara meminta mereka untuk berjalan dan menghiraukan hal tersebut.


Mantingan terus berwaspada, ketika kembali didengarnya suara kelebatan-kelebatan yang bergerak teramat cepat ke arah mereka. Tanpa membuang waktu barang sekedip mata pun, Mantingan melesat cepat ke udara, menghampiri sosok-sosok bayangan yang berkelebatan ke arah Bidadari Sungai Utara!


Hanya Mantingan yang melesat pergi, sedang dua pendekar bertopeng putih itu menetap untuk menjaga Bidadari Sungai Utara. Memanglah sekiranya Mantingan seorang diri saja sudah cukup untuk menghadapi pendekar-pendekar nekad yang kurang berpengalaman.


Dengan masih melayang-layang di udara, Mantingan melepaskan bilah Pedang Kiai Kedai dari sangkarnya, bersiap menghadapi tujuh bayangan hitam yang menghunus pedang pula.


Tidak terjadi adu serangan di udara, sebab memanglah bahwa ketujuh lawan Mantingan tidak cukup mampu untuk membuat pemuda itu menangkis serangan mereka. Betapa gerakan Mantingan terlalu cepat untuk dapat dihalau oleh mereka!


Darah terpecik di udara. Cukup tujuh kali Mantingan mengayunkan pedang untuk memisahkan nyawa dari tubuh ketujuh lawannya itu. Mantingan telah memikirkan cara paling tidak menyakitkan untuk membunuh mereka bertujuh, yakni dengan langsung menebas batok kepala mereka.


Mantingan menjejak tanah dan kembali berjalan di samping Bidadari Sungai Utara sambil menyarungkan pedangnya. Tujuh tubuh tak bernyawa itu kemudian berdebam jatuh di atas tanah. Tatapan mata pemuda itu semakin menajam. Ia meminta Bidadari Sungai Utara serta Kana dan Kina untuk berjalan lebih cepat.


Tibalah mereka di dermaga, yang langsung segera diarahkan untuk menaiki sebuah perahu layar berukuran sedang yang bersandar di dermaga itu.


Setelah dipastikan bahwa semuanya telah tiba di atas geladak, maka jembatan penghubung ditarik kembali. Layar sesegera mungkin dibentangkan. Pendekar-pendekar di atas anjungan menggunakan Ilmu Mengendalikan Angin untuk mengembus layar kapal. Sedang pendekar-pendekar di geladak dasar mulai mendayung.


Dengan segala daya yang ada, kapal itu bergerak cepat meninggalkan dermaga. Beberapa pendekar musuh masih sempat melesatkan diri menuju atas geladak, tetapi hanya untuk dibunuh secepat-cepatnya oleh Pasukan Topeng Putih yang berjaga di sana.


Segala-galanya dilaksanakan dengan begitu senyap dan cepat. Ketika kabar tentang keberangkatan Bidadari Sungai Utara tersebar, mereka sudah berada jauh dari pelabuhan.

__ADS_1


***


KETIKA tengah malam tiba, di lepas pantai Cupu Negara, armada Perguruan Angin Putih yang berjumlah tiga puluh lima kapal perang bergabung dengan armada Tarumanagara yang berjumlah seratus kapal perang.


Meskipun jumlah armada Perguruan Angin Putih jauh lebih kecil ketimbang armada Tarumanagara, tetapi mereka sudah dapat dikatakan ambil andil besar dalam keberhasilan rencana dan bahkan pertempuran nantinya.


Sekalipun jumlah armada Tarumanagara banyak, akan tetapi kemampuan pendekar-pendekar di dalamnya tidaklah setinggi pendekar-pendekar dari Perguruan Angin Putih yang bahkan mampu mengendalikan angin untuk menggerakkan layar-layar.


Perguruan Angin Putih memang tidak memiliki kapal perang yang banyak, tetapi perguruan itu memiliki pendekar-pendekar yang unggul untuk menutupi kekurangan itu. Maka boleh dikata, armada Perguruan Angin Putih dan armada Tarumanagara memiliki daya yang seimbang.


Pagi itu Mantingan berusaha menikmati terbitnya sang surya, yang betapa pun terlihat jauh lebih indah jika dipandang di tengah lautan seperti ini. Meskipun begitu, Mantingan tidak benar-benar menikmati pemandangan tersebut akibat mabuk laut yang dialaminya.


“Keadaan seperti ini cukup berbahaya, Saudara Man.” Seorang pendekar bertopeng putih yang berdiri di sebelahnya berkata. “Jika Saudara tidak segera terbiasa dengan lautan, maka akan sulit menghadapi pertempuran nanti. Kami baru saja menyiapkan sebuah ayunan untuk Saudara pakai segera untuk latihan.”


“Benar. Agar Saudara terbiasa dengan kapal yang terombang-ambing, kami akan mengayun-ayunkan Saudara di atas ayunan.”


Mantingan melebarkan matanya. Tentu dapat dibayangkan olehnya betapa latihan seperti itu akan sangat memualkan, tetapi memang benar-benar diperlukan!


“Baiklah. Tolong tunjukkan tempatnya.”


Pendekar itu menganggukkan kepalanya dan meminta Mantingan mengikutinya menuju buritan kapal. Ketika melewati anjungan, nakhoda menyapa mereka dengan ramah.


“Wahai!” panggilnya sambil melambaikan tangan. “Hendakkah kalian berdua ini pergi ke Ayunan Seribu Tangisan Bumi Terbalik?”


Mantingan mengerutkan dahinya, masih belum terlalu mengerti mengapakah ayunan tersebut dinamai Seribu Tangisan Bumi Terbalik yang menurutnya terlalu menakutkan untuk sekadar ayunan biasa. Akan tetapi, pendekar bertopeng putih di sebelahnya membalas.

__ADS_1


“Benarlah itu, wahai Ikan Terbang yang gagah perkasa! Saudara Man ingin berlatih di sana.”


“Bagus kalau begitu!” Orang yang disebut sebagai Ikan Terbang itu kembali menyahut. “Ada baiknya kalian lebih cepat lagi. Ada banyak kemungkinan bahwa perang akan meletus malam ini pula. Jika itu terjadi, jangan sampai Saudara Man berguling-guling di atas geladak sambil menangis karena merasa bumi dan seisinya telah terbalik!”


Sang nakhoda kemudian tertawa lebar, disahuti oleh suara tawaan dari pendekar-pendekar lain di atas anjungan.


“Kami dengarkan saranmu, wahai Ikan Terbang! Kami izin diri sekarang juga.”


Setelah mengatakannya, pendekar bertopeng putih itu meminta Mantingan untuk kembali meneruskan perjalanan menuju buritan. Melewati para pendekar muda yang sedang mengerjakan tugas mereka masing-masing di atas kapal bernama Kelewang Samodra itu.


“Jangan dimasukkan ke dalam hati perkataan Ikan Terbang itu, Saudara Man. Itu hanya candaan para pelaut.”


Mantingan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum canggung. “Daku memahami perkataannya. Rasanya, Ikan Terbang tidak sedang bermain-main.”


“Mungkin saja, tetapi Ikan Terbang memang sulit untuk dimengerti. Di perguruan, hanya Ketua Rama yang mampu mengobrol santai dengannya ....”


Pendekar itu kemudian menceritakan segala yang diketahuinya tentang Ikan Terbang selama mereka berjalan santai menuju buritan kapal.


“Ikan Terbang tidak begitu saja mendapatkan julukannya. Jika sedang bertarung, dirinya benar-benar tampak seperti ikan yang sedang terbang. Jurus andalannya adalah Ikan Berlentingan Menyeberang Lautan.


“Dengan jurus itu, dia mampu melenting dari ombak ke ombak, hingga tiba di kapal musuh dengan sepasang kelewangnya. Kapal ini mendapatkan nama dari kelewangnya. Sepasang Kelewang Samodra, begitulah sepasang pedangnya disebut karena bilahnya yang begitu bersih dan mengilap hingga memantulkan bayangan laut biru.


“Bagi para penyamun, Ikan Terbang merupakan momok yang amat sangat menakutkan. Ikan Terbang tidak kenal takut akan kematian, dia menyerbu kapal-kapal musuh dengan gila. Armada yang berada di bawah kepemimpinannya tidak pernah kalah dalam pertempuran, dan tidak perah barang satu kali pun menyatakan kata mundur!”


__ADS_1


__ADS_2