Sang Musafir

Sang Musafir
Merumitkan Hal yang Telah Rumit


__ADS_3

“Keluarlah, kalian tidak perlu bersembunyi lagi.” MANTINGAN berkata dengan nada rendah, tetapi pula dengan penyertaan tenaga dalam sehingga suaranya dapat terdengar teramat jelas dalam jarak puluhan tombak.


Tidaklah lama setelah itu, tampaklah beberapa sosok orang berpakaian serba hitam yang melayang turun dari atas pepohonan. Mantingan tidak dapat melihat wajah orang-orang itu dengan jelas, sebab mereka juga membelitkan kain hitam di kepala dan hanya menyisakan sedikit celah untuk mata.


Tidak salah lagi, mereka berasal dari dunia persilatan bawah tanah. Tetapi, dari jaringan manakah mereka berasal? Jika mereka berasal dari jaringan Puan Kekelaman dan bukan jaringan bawah tanah lain yang mengincar Mantingan untuk bayaran besar, maka itu akan sangat baik. Namun jika sebaliknya, maka Mantingan benar-benar sedang dalam bahaya yang teramat nyata.


Jaringan bawah tanah hanya akan menjalankan tugas yang sudah tersusun matang perencanaannya. Perencanaan matang berarti memiliki lebih dari satu rencana. Mereka selalu memiliki rencana cadangan untuk menyikapi beragam macam kejadian-kejadian tak terduga.


Jika orang-orang berpakaian serba hitam yang kini sedang mengepung Mantingan itu memang benar-benar berasal dari jaringan bawah tanah, maka mereka tidak pernah sendirian. Selalu ada kawan-kawan mereka yang memantau di garis belakang tanpa pernah campur tangan secara langsung dengan tugas yang sedang mereka jalankan.


Jikapun sampai terjadi pertarungan sengit dan kawan-kawan di pihak mereka berada dalam keadaan tak menguntungkan, sungguh mereka tetap tidak akan campur tangan.


Tugas pendekar-pendekar seperti itu hanya sekadar memantau dan menyalurkan kabar. Gunanya adalah untuk mencegah pengkhianatan.


Tak jarang pihak musuh memberi sogokan yang luar biasa besar pada pendekar-pendekar jaringan bawah tanah yang hendak menyerang kepentingan mereka, sehingga kemungkinan pengkhianatan akan selalu ada. Bukankah jaringan bawah tanah selalu mesti berurusan dengan kepentingan-kepentingan genting yang mesti benar-benar dilindungi dari kemungkinan pengkhianatan?


Maka begitulah para pendekar berpakaian serba hitam yang kini tampak di bawah pepohonan rindang itu sebenarnya tidak sendirian. Betapa rumitnya jaringan bawah tanah di dunia persilatan!


Semilir angin melambai-lambaikan ilalang. Mencipta suara gersak yang sedikit banyak mengisi kesunyian mencekam.


“Apakah kehendak kalian?” tanya Mantingan pada akhirnya setelah terdiam cukup lama.


Orang-orang berpakaian serba itu saling berpandangan untuk sejenak. Menukar kata-kata melalui tatapan mata. Lantas serentak mengangguk.

__ADS_1


Salah satu dari mereka buka suara dengan lantang. “Apakah dikau adalah Mantingan yang memiliki julukan Pahlawan Man dari Negeri Taruma?”


Mantingan ragu sejenak. Mestikah ia menjawab dengan jujur yang sama saja membongkar jati dirinya pada orang-orang yang sama sekali belum dikenali?


Namun sekalipun berbohong, Mantingan merasa mereka akan tetap mengetahui jati dirinya yang sesungguhnya. Pertanyaan mereka itu seperti sekadar basa-basi semata yang sungguh tidak memerlukan jawaban.


“Apakah yang hendak kalian lakukan jika daku memang benar-benar Mantingan dari Negeri Taruma?” Mantingan balik bertanya, yang dalam pertanyaan itu terselip pula sebuah jawaban.


Para pendekar itu saling berpandangan sekali lagi. Mengangguk mantap, sebelum akhirnya berkelebat sebat ke arah Mantingan!


Benarlah kekhawatiran Mantingan dan Chitra Anggini, pendekar-pendekar itu berasal dari jaringan bawah tanah yang betapa pun bukan jaringan Puan Kekelaman!


Mantingan lekas menyiapkan kuda-kuda dan sikap bertarung. Namun kali ini, dirinya masih belum berminat menarik Pedang Savrinadeya. Dari kecepatan gerak seluruh pendekar yang menyerangnya itu, ia dapat mengetahui bahwa kemampuan mereka masih berada cukup jauh di bawahnya. Ia merasa masih dapat mengalahkan mereka dengan hanya berandalkan tangan kosong.


Tidak. Kali ini Mantingan tidak akan berbuat selayaknya orang dermawan. Membebaskan mereka hidup-hidup dengan membawa kabar tentang keberadaannya di Kotaraja Koying adalah tindakan yang teramat bodoh. Mantingan bukan lagi pemuda naif seperti masa silam.


Namun sesaat sebelum Mantingan mengirim Tapak Angin Darah serta totokan penghenti aliran darah pada musuh-musuhnya itu, tetiba saja muncul kelebatan-kelebatan bayangan lain dari arah samping. Menerjang langsung ke arah pendekar-pendekar yang menyerang Mantingan itu!


Pertarungan pecah. Sungguh tiada terduga-duga sebelumnya! Bahkan Mantingan yang memiliki Ilmu Mendengar Tetesan Embun sekalipun tidak dapat melacak keberadaan mereka! Apa yang sebenarnya terjadi?


Mantingan berkelebat mundur beberapa langkah ke belakang. Sebisa mungkin menghindari pertarungan itu. Lantas menoleh ke arah Chitra Anggini, yang pula telah tampak terkejut bukan tipuan!


Segalanya terjadi dengan teramat sangat cepat, bagaikan tiada sesuatu lain yang dapat lebih cepat lagi daripada itu, maka tidak dapat pula Mantingan melangsungkan percakapan dengan mulut.

__ADS_1


Perlulah diketahui bahwa suara membutuhkan waktu untuk bergerak, sedangkan pertarungan yang terjadi di dekat mereka berlangsung dengan berkali-kali lipat lebih cepat ketimbang kecepatan suara. Bicara satu-dua patah kata saja, maka pertarungan telah usai dan keduanya belum sempat berbuat apa pun.


Sebab itulah, Mantingan dan Chitra Anggini berbicara melalui tatapan mata. Dengan begitu, mereka dapat mengutarakan kata-kata dengan kecepatan pikiran. Apa yang sedang dipikirkan, maka itulah yang akan terkatakan dalam tatapan. Tiadalah memerlukan penyusunan kalimat, lantas terkatakan melalui gerak mulut serta suara yang jelas saja akan memakan banyak waktu!


Chitra Anggini menatapnya tajam-tajam, lantas berkata dalam tatapannya: menyerang atau tidak?


Mantingan membalasnya pula dalam tatap mata: mundurlah, hingga kita mengetahui siapakah mereka yang baru bergabung; kawan atau musuh.


Dalam tatapannya, Chitra Anggini tampak menyetujui. Dirinya kemudian membalas: kita harus berpindah ke sisi lain telaga ini, jika mereka menyerang maka akan mudah kamu melawan mereka di atas permukaan air.


Maka tanpa membuka mulut sekalipun, mereka telah bersepakat untuk berkelebat menyeberangi telaga. Di sanalah mereka menunggu pertarungan selesai.


Kembali Chitra Anggini berkata dalam tatapan matanya: siapakah mereka semua?


Mantingan balik melempar pertanyaan: yang menyerang atau yang diserang?


Dengan kernyit di dahinya, perempuan itu membalas: bukankah mereka sama-sama menyerang?


Mantingan perlahan mengetahui bahwa perbincangan dalam tatap mata ini semakin membawa kerumitan, tetapi dirinya tetap membalas: mereka memang sama-sama menyerang, tetapi apakah yang kau pertanyakan itu adalah pendekar-pendekar yang menyerang kita atau pendekar-pendekar yang menyerang pendekar-pendekar yang menyerang kita?


Wajah Chitra Anggini semakin menampakkan raut kebingungan. Barang tentu perkataan Mantingan itu terlalu rumit untuk dicerna. Terlebih lagi dalam hal bercakap dengan tatapan mata, tidak semua gagasan dapat tersampaikan sebagaimana yang diinginkan. Ini sama saja merumitkan hal yang memang telah rumit!


“Apakah yang dikau maksudkan?” Akhirnya Chitra Anggini buka suara, meski tepat setelah perkataannya itu berakhir, pertempuran pun berakhir pula. Alhasil, Mantingan pun tak memiliki cukup waktu untuk membalasnya.

__ADS_1


__ADS_2