
"Akan tetapi, sungguh sikap saya tidak sehitam itu. Niat saya murni untuk membantu dan memenuhi pesan guru untuk menolong yang lemah.”
“Dikau makin sulit aku percaya."
PERWIRA itu menatap Mantingan tajam. Dalam benaknya, ia membutuhkan tenaga seorang pendekar seperti Mantingan yang ahli sihir, tetapi tidak juga berani mengambil risiko jika seandainya Mantingan menyerang dari dalam.
“Akan ada beberapa prajurit yang mengawasimu, aku masih belum bisa menaruh kepercayaan pada orang asing seperti dirimu.”
Mantingan menganggukkan kepala, ia tidak masalah diawasi gerak-geriknya hanya dengan beberapa prajurit biasa. “Perwira, jika tidak keberatan, boleh aku pinjam satu ruangan untuk membuat Lontar Sihir?”
Perwira mengangguk sekali lalu berkata, “Ya, dikau juga bisa mendapatkan ruangan dan lontar-lontar untuk pekerjaanmu itu. Berapa hari yang kau butuhkan untuk membuat seratus Lontar Sihir?”
Mantingan berpikir sejenak sebelum menjawab, “Agaknya itu memerlukan waktu paling lama dua hari.”
Perwira itu mengangguk pelan. “Prajuritku akan mengantarkan dikau nanti, kau tunggu saja di depan.”
Mantingan menyetujui itu dan bergerak keluar tenda. Sedangkan sang perwira memanggil prajurit-prajuritnya masuk ke dalam tenda. Mantingan menunggu agak lama sampai beberapa prajurit bersenjata lengkap keluar dari tenda dan menghampirinya.
“Saudara, harap tidak keberatan kami mengawasimu.” Salah satu dari mereka berkata, “kami akan tunjukkan di mana kediaman yang bisa dipakai Saudara.”
***
Mantingan menggaruk kepalanya setelah ia ditunjukkan lontar-lontar yang dimaksud oleh sang perwira. Lontar-lontar yang Mantingan lihat bukanlah Lontar Sihir. Itu adalah lontar biasa, yang tentu mantera sihir tidak dapat bekerja di dalamnya.
“Apakah tidak ada Lontar Sihir?” Mantingan menoleh dan bertanya.
“Hanya ini lontar semua lontar yang kami punya, jumlahnya 2.000 lembar.”
“Untuk apa kalian memiliki lontar sebanyak ini?”
“Kami singgah ke kota ini sambil membawa lontar untuk keperluan surat-menyurat di wilayah timur.”
__ADS_1
Mantingan menghela napas panjang. Walaupun jumlahnya banyak, tapi tetap saja tidak bisa dipakai untuk membuat mantera sihir. Kecuali lontar-lontar itu diubah menjadi Lontar Sihir. Namun, pembuatannya rumit serta membutuhkan banyak waktu.
Karena tidak memiliki pilihan lain, Mantingan memutuskan untuk mengubah lontar-lontar biasa menjadi Lontar Sihir. Ia mengetahui caranya, tetapi tidak pernah melakukannya.
“Tolong carikan tungku besar serta sediakan air yang banyak. Siapkan rempah-rempah yang aku tulis di sini, bawakan juga jaring besar yang bisa untuk meniriskan air panas.” Mantingan menulis beberapa rempah-rempah yang diperlukan untuk pembuatan Lontar Sihir, catatan itu ia berikan pada salah satu prajurit yang mengawasinya.
“Akan kami siapkan sesegera mungkin, Saudara.” Dua orang prajurit melangkah pergi, sedang sisa prajurit masih terus mengawasi Mantingan.
“Apakah kalian akan terus melihatiku terus seperti ini?”
“Maaf, Saudara, kami hanya melaksanakan perintah.”
Mantingan tersenyum kaku sebelum membalik badan dan masuk kembali ke ruangannya. Di dalam ruangannya yang cukup besar itu, hanya satu prajurit saja yang masuk untuk mengawasi Mantingan.
Ruangan yang dipinjamkan untuk Mantingan cukup nyaman digunakan. Suhu di dalam ruangan sejuk, memudahkan Mantingan untuk berpikir. Seluruh ruangan terbuat dari kayu, kecuali lentera-lentera yang tergantung di dinding.
Mantingan mengeluarkan semua Lontar Sihir yang ia miliki. Tangannya mengambil pengukir dan mulai menuliskan mantera penjebak.
Dalam membuat lontar penjebak, menggunakan kecepatan tinggi malah akan merusak mantera sihir itu sendiri. Seorang pendekar yang biasanya bergerak cepat harus melambatkan diri selayaknya manusia biasa.
Prajurit yang menunggui Mantingan itu terlihat gusar. Ia hanya duduk dan mengawasi Mantingan dari waktu ke waktu, sedangkan pemuda yang diawasinya itu terlihat menikmati bahkan melambat-lambatkan kegiatannya.
Mantingan melemparkan sekeropak kitab persilatan ilmu dasar pada prajurit yang mengawasinya. “Kau bisa membaca kitab persilatan ini jika kau bosan. Duduk diam seperti itu sama saja membuang-buang waktu. Aku tidak akan ke mana-mana.”
“Saudara, kau jangan coba-coba mengelabuhiku.”
Mantingan mengangkat alisnya sekali sebelum menggeleng pelan, dirinya kembali terbenam menggurat aksara pallawa di atas Lontar Sihir.
Prajurit itu berkata tidak di awalnya, tapi ia embat pula kitab persilatan yang diberikan Mantingan. Bagaimanapun, dirinya tetap tertarik untuk menjadi pendekar sakti. Sedang saat ini dirinya masihlah prajurit biasa. Melihat itu membuat Mantingan tertawa pelan.
Pintu diketuk beberapa kali sebelum terbuka dengan sendirinya, seorang prajurit mengatakan bahwa barang-barang yang dipesan Mantingan telah datang. Mantingan menyelesaikan aksara terakhirnya sebelum bangkit berdiri.
__ADS_1
“Di mana kalian menaruhnya?”
“Tungku-tungku kami letakkan di halaman, sedangkan rempah-rempah ….” Prajurit itu menunjukkan kantung yang mengeluarkan aroma pekat. “Saya membawanya ke sini.”
Mantingan mengangguk pelan dan menerima kantung berisi rempah-rempahan itu, ia kemudian berjalan keluar rumah, prajurit-prajurit mengawal di belakangnya. Mantingan mengangguk beberapa kali ketika melihat besar tungku sesuai dengan perkiraannya.
“Aduh, bagaimana aku bisa lupa.” Mantingan menepuk dahinya. “Kayu bakar tolong.”
Prajurit-prajurit itu saling menyenggol dan menyuruh temannya untuk melakukan tugas itu, tidak ada satupun yang cukup bersemangat melakukan itu.
“Ah, kalau begitu biar aku sendiri yang mencarinya ….”
“Jangan-jangan, biar salah satu dari kami saja yang melakukan itu.”
Di pikiran mereka, mengekori Mantingan pergi mencari kayu bakar akan lebih melelahkan, mereka juga telah diperingati untuk tidak membawa Mantingan terlalu jauh dari kediamannya.
Akhirnya mereka membuat putusan untuk mengirim tiga orang mencari kayu di puing-puing bangunan kota, tiga orang yang dikirim itu adalah orang yang kalah undian.
Mantingan tidak kembali ke dalam ruangannya, ia mengelilingi kediaman yang dipinjamkan padanya, melihat-lihat sambil menyilangkan tangan ke belakang. Prajurit-prajurit yang mengekor di belakangnya mengumpat keras di dalam hati, mereka mengira Mantingan memang sengaja mengerjai mereka dengan berkeliling seperti ini. Apa boleh buat, mereka tetap harus mengikuti Mantingan.
“Jangan banyak mengeluh.” Mantingan menghirup udara segar. “Tadi kata kalian, kalian hanya menuruti perintah saja. Maka jalanilah dengan penuh rasa pengabdian. Hirup udara segar ini bersama-sama, buang perlahan-lahan. Sungguh menyenangkan, bukan?”
Mereka semakin mengumpat di dalam benaknya, tetapi ada satu prajurit yang menghirup udara dalam-dalam lalu membuangnya perlahan-lahan seperti apa yang dikatakan Mantingan.
“Ini tidak terlalu buruk, bahkan ini sangat baik. Mengapa kalian tidak mencobanya?”
Seluruh prajurit itu ragu-ragu, namun pada akhirnya mengikuti apa yang Mantingan lakukan setelah merasakan sendiri kedamaian yang didapatkan. Mereka menyilangkan tangan ke belakang dan berjalan tenang sambil melihati pemandangan. Nyatanya, bersantai tidaklah terlalu buruk.
____
catatan:
__ADS_1
Luar biasa dukungan dari teman-teman. Terima kasih banyak atas ketulusannya. Saya akan menyiapkan beberapa bonus chapter sebagai bentuk terima kasih saya. Salam.