Sang Musafir

Sang Musafir
Mengenai Ilmu Sihir


__ADS_3

Rama mengajak Mantingan ke sebuah ruangan bawah tanah di rumahnya. Ia mengatakan, bahwa ini adalah ruangan rahasia. Di sana terdapat banyak kitab-kitab yang berjejer rapi di rak, banyak pula pusaka-pusaka yang tergantung di dinding seperti sengaja untuk pajangan.


“Ada beberapa kitab yang cocok untuk pengguna pedang seperti dirimu, Anak Man.” Rama berkata sambil menyusuri rak-rak kitab itu.


“Ketua, jangan berikan kitabmu padaku.”


“Mengapa, Anak Man? Jangan malu-malu dan merasa tidak enak seperti itu, sudah kewajibanku sebagai ketua untuk memberikan ilmu pengajaran pada muridnya.”


“Bukan seperti itu, Ketua. Tidak baik aku membawa kitab-kitab dari Perguruan Angin Putih sedangkan aku akan menghadapi pertarungan sebentar lagi.”


Perkataan Mantingan itu bukan tanpa dasaran. Jika saja dirinya mati dalam pertarungan nanti, dan di dalam bundelannya terdapat ilmu dari Perguruan Angin Putih, itu akan sangat berbahaya. Selain ilmu itu akan jatuh pada aliran hitam, keberadaan Perguruan Angin Putih bisa saja terbongkar.


Rama menggeleng pelan. “Aku sudah memeriksa kekuatanmu, aku juga telah coba tanding denganmu. Dengan begitu, kuketahui sampai mana kemampuanmu. Anak Man, kau bisa mengalahkan lima Pendekar Topeng Putih sekaligus dengan kemampuanmu itu.”


Mantingan ingin mengucap sesuatu, tetapi tersekat sampai tenggorokannya saja.


“Aku yakin kau menang melawan mereka, Anak Man. Akan tetapi, aku menyarankanmu sebisa mungkin menghindari tantangan tarung ke depannya. Sungguh menghilangkan nyawa orang ketika bukan dalam kondisi terdesak sangat tidak dibenarkan.”


Mantingan menganggukkan kepalanya paham. Rama mengambil beberapa kitab ilmu persilatan dalam rak, lalu memberikannya pada Mantingan.


“Di kitab-kitab ini bukan hanya berisi ilmu memainkan senjata seperti pedang saja, di dalam sini juga terdapat ilmu menjadikan bends apa saja sebagai senjata mematikan. Ini adalah kitab beraliran hitam, yang aku coba ciptakan semasa engkau berlatih.”


Mantingan menerima kitab-kitab itu dengan penuh penghormatan, lalu katanya, “Terima kasih, Ketua, ini akan kupelajari sungguh-sungguh hingga suatu hari nanti diriku dapat berguna bagi perguruan. Ketua, apakah boleh aku meminjam beberapa kitab tentang ilmu sihir?”


Rama mengernyitkan dahi, tapi sesaat kemudian tampangnya terlihat senang. “Anak Man, apakah kau tertarik juga dengan ilmu sihir?”

__ADS_1


“Sepertinya begitu, Ketua, tetapi aku masih belum banyak memiliki ilmu pengetahuan tentangnya.”


Rama mengangguk. “Aku memiliki satu-dua kitab ilmu sihir. Tapi sebelum itu, aku ingin menjelaskan dasar-dasar ilmu sihir ....”


Ketua Rama lalu menjelaskan. Ilmu sihir bukanlah ilmu yang menginduk pada aliran tertentu, meskipun terdapat sihir hitam dan sihir putih, Mantingan tetap bisa memakai semuanya tanpa pandang aliran.


Ilmu sihir merupakan ilmu yang cukup membingungkan. Pasalnya, tidak semua ilmu sihir benar-benar dapat dikendalikan. Tidak banyak pendekar yang menguasai ilmu sihir secara utuh.


Pasalnya, ilmu sihir adalah ilmu yang mengubah tenaga dalam menjadi rupa lain. Terkadang tenaga dalam itu menjadi bentuk yang sempurna, terkadang juga menjadi bentuk yang gagal. Tak jarang ilmu sihir yang malah membahayakan penggunanya sendiri.


Sihir biasanya berupa kutukan, petuah-petuah, aksara di atas lontar tertentu, dan sebagainya. Itulah mengapa di Pasar Ayam Jago terdapat lontar-lontar sihir atau sirep. Rama menambahkan, rerata ilmu sihir berasal dari Negeri Atap Langit, beberapa dikembangkan di Dwipantara sebagai bentuk penyesuaian.


Dengan mengucap sebuah mantera, kekuatan sihir bisa tercipta. Dengan menuliskan sebuah aksara, kekuatan sihir akan tercipta.


Rama memberikan kitab-kitab ilmu sihir yang ia miliki. Itu adalah semuanya, diberikan untuk Mantingan. Ia juga memberikan beberapa lontar sihir yang bisa Mantingan coba sendiri nantinya.


“Ketua, sepertinya ini terlalu banyak ....”


Mantingan hanya meminta satu-dua kitab saja, sedangkan ia diberikan sepuluh kitab oleh Rama, ditambah dengan puluhan lontar-lontar sihir yang bisa dituliskan mantera sihir. Semua kitab-kitab yang diberikan Rama itu membuat bundelannya terisi penuh.


***


Setelah selesai berbasa-basi, Mantingan berpamitan dengan Rama dan istrinya, anak Rama telah lama tidur karena memang malam telah larut.


“Jangan ragu untuk selalu mampir ke Perguruan Angin Putih. Datanglah ke sini saat engkau butuh perlindungan, dan datanglah ke sini saat perguruan membutuhkan perlindungan.” Rama tertawa sambil menepuk-nepuk punggung Mantingan.

__ADS_1


“Pasti akan aku lakukan, Ketua.” Mantingan tersenyum hangat.


“Apa pun yang dikau cari dan harapkan, semoga kau dapatkan.” Istri Rama turut tersenyum.


Mantingan mengangguk sekali. “Aku mohon diri, Ketua, Ibu Ketua.”


Rama mempersilakannya. Mantingan berbalik dan menghadap ke dua lusin Pendekar Topeng Putih yang telah disiapkan Rama sebelumnya. Mantingan menarik napas panjang-panjang sebelum berkata, “Mohon dukungannya.”


Mendengar perkataan Mantingan, dua lusin pendekar itu menghela napas. Pasukan Topeng Putih adalah pasukan yang dilatih untuk mendengar perintah, dalam situasi yang serius seperti ini, Mantingan masih bisa sopan pada mereka.


Mantingan sendiri menyadari betapa konyol perkataannya itu, hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Namun pada akhirnya, mereka tetap berangkat.


Itu adalah tengah malam sehabis perayaan. Beberapa murid tertua terlihat membersihkan sampah-sampah yang berserakan sehabis perayaan. Walau dalam aturan perayaan mengatakan sampah tidak boleh dibuang sembarang, tetap saja hal seperti ini tidak bisa dihindari.


Ingin Mantingan membantu murid-murid tertua itu, tetapi ia sadar bahwa waktu yang ia miliki tidaklah banyak. Murid-murid tertua itu pula mengerti setelah melihat dua lusin Pendekar Topeng Putih menggiring Mantingan, bagi mereka itu berarti telah ada tugas rahasia penting.


Setelah sampai di luar pintu gerbang perguruan, Mantingan beserta dua lusin Pendekar Topeng Putih itu melesat menjadi bayangan putih. Dikarenakan Mantingan masih memakai baju yang diberikan perguruan, maka sudah barang tentu bayangannya menjadi putih pula.


Orang-orang yang melihat mereka mungkin akan menyangka kalau itu adalah hantu yang lewat, bukan pendekar-pendekar berkeahlian tinggi. Tetapi bagi sesama pendekar, mereka dapat dengan cukup jelas melihat bagaimana Mantingan serta dua lusin pendekar pengawalnya itu lewat. Tetapi di hutan penuh kabut dingin seperti itu, apakah ada pendekar yang sembunyi dan memata-matai mereka?


Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk berhasil keluar dari hutan berkabut seperti itu. Dua puluh lima pendekar itu mengentak kakinya kuat-kuat saat melihat tebing di depan mereka. Laksana rajawali mereka melesat ke atas, sebelum menempel pada pijakan tebing laksana cecak, sekali lompatan lagi dan akhirnya mereka sampai di puncak tebing.


Untuk menikmati pemandangan, Mantingan beserta dua lusin pendekar lainnya diam sejenak di puncak tebing. Dari sini mereka dapat melihat remang-remang cahaya kota, sedang di atas mereka bulan bersinar dengan cahaya peraknya. Luar biasa.

__ADS_1


__ADS_2