Sang Musafir

Sang Musafir
Pelarian di Dalam Lorong — Jilid 4 Selesai


__ADS_3

BIDADARI SUNGAI Utara menggigit bibirnya. Tak banyak pilihan baginya saat ini. Mantingan sudah membentaknya. Jarang-jarang ia mendengar Mantingan membentak. Bahkan hampir tidak pernah. Bentakan Mantingan bisa berarti amarah. Bisa berarti keseriusan. Dua-duanya itu menuntut Bidadari Sungai Utara untuk segera lompat masuk ke dalam lubang gelap.


Apakah yang dibayangkan Bidadari Sungai Rawa? Bebatuan yang langsung menghancurkan kepalanya. Kelabang-kelabang besar yang akan melilit. Ular-ular beracun. Atau terperosok ke dalam jurang tak berujung, ke dalam kegelapan yang tak juga berujung.


Bidadari Sungai Utara menutup setengah matanya. Kakinya mendekati lubang. Menegup ludah sekali. Menghirup napas dalam-dalam. Keberaniannya terkumpul. Bidadari Sungai Utara melompat maju. Kakinya tidak lagi menyentuh lantai kayu. Terjun bebas ke dalam lubang. Tangan kanannya masih mencengkeram erat sebatang obor.


Bidadari Sungai Utara semakin kuat menggigit bibirnya. Ia sungguh takut. Tak berani berteriak. Darahnya seolah melayang ke kepalanya. Tapi hanya sebentar, tiba-tiba saja tubuhnya berhenti. Ia merasa dua tangan memegangi pinggangnya. Dua tangan itu yang menghentikan laju jatuhnya.


“Kau selamat.” Suara Mantingan terdengar pelan. Bidadari Sungai Utara menarik napas lega.


Mantingan mengambil obor di tangan kanan Bidadari Sungai Utara. Jari telunjuknya cukup menyentuh kapas obor, maka terbakarlah dan teranglah. Dapat terlihat jelas isi lubang. Ukurannya tak lebih dari dua depa, setidaknya orang dewasa masih bisa berdiri. Dinding lorong adalah batuan keras. Meliuk-liuk dalam kegelapan abadi.


Mengapa disebut kegelapan abadi? Lorong-lorong ini sepertinya tidak pernah menerima cahaya sejak awal terbentuk. Obor yang dibawa Bidadari Sungai Utara jadi satu-satunya penerang. Mengungkap yang belum pernah terungkap.


“Pegang obor ini, aku akan ke atas sebentar.”


Tangan Bidadari Sungai Utara bergerak cepat. Namun bukannya mengambil obor, ia malah mencengkeram tangan Mantingan. Wajahnya yang cemas terbias oleh cahaya obor. Matanya memantulkan cahaya obor, seakan ada air yang bergerak di dalamnya.


“Tolong jangan tinggalkan aku sendirian di sini.” Bidadari Sungai Utara menggeleng dengan menatap penuh harap.


“Saudari Sungai Utara, aku hanya sebentar.” Mantingan tersenyum tipis, dengan lembut melepas cengkeraman Bidadari Sungai Utara pada tangannya. “Dan aku tidak akan ke mana-mana.”

__ADS_1


Tanpa menunggu jawaban lagi, Mantingan mengentak kakinya ke bawah. Tubuhnya melayang ke atas. Mendarat tepat di lantai gudang. Mantingan merogoh sesuatu di dalam pundi-pundinya. Tiga Lontar Sihir. Di mulut lubang galian, Mantingan pasang tiga Lontar Sihir itu.


Lontar Sihir yang Mantingan pasang memiliki mantera pelontar. Mantera yang sama seperti yang ia pasang di pintu Kota Angin Nyiur. Siapa saja yang berusaha masuk, akan dihempaskan kembali sesuai dengan kekuatannya saat berusaha menerobos.


Mantingan merogoh kembali pundi-pundinya. Dua puluh keping emas. Seharusnya ini lebih dari cukup. Pekerja kasar yang bekerja untuk hal seperti ini biasanya dibayar tiga keping emas.


Setelah itu, Mantingan masuk kembali ke dalam lubang. Mendarat ringan di samping Bidadari Sungai Utara. Gadis itu sangat bersyukur setelah melihat Mantingan. Lontar Sihir diaktifkan.


“Saudari Sungai Utara, tolong berikan obornya.”


Bidadari Sungai Utara tanpa ragu menjulurkan obor menyala padanya, Mantingan mundur sebab jilatan api hampir mengenainya. Yang disodorkan Bidadari Sungai Utara bukanlah pangkal obor, melainkan ujung obor, yang membara apinya. Mantingan mendekat dan memegang pangkal obor.


“Maaf-maaf.” Bidadari Sungai Utara berusaha tertawa, walau yang terdengar adalah tawaan hambar.


Langkah Mantingan tiba-tiba berhenti.


“Ada apakah, Mantingan?” Bidadari Sungai Utara menatap depannya dengan cemas. Tapi tidak ada yang ia lihat selain lorong bebatuan. Yang semakin jauh semakin gelap. Apakah bahaya yang ada di depan.


“Ada kelelawar di depan.”


Bidadari Sungai Utara ingin mundur, tetapi di belakangnya adalah kegelapan. Mau maju pun ia tak berani. Terjebaklah. Maju salah, mundur pun salah. Begitulah rasa takut, membuat yang mengalaminya merasa tak berdaya.

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara takut kelelawar. Terutama yang besar. Yang hidupnya di goa bersama kegelapan. Makhluk yang mengerikan, itu pikirnya. Lebih parah lagi rasa takutnya saat mengingat bahwa ia sedang berada di ruangan sempit, hampir tanpa jalan keluar. Hanya keberadaan Mantingan saja yang membuatnya tidak gila.


Tetapi yang mengherankan, Mantingan berhenti. Ia mengatakan bahwa ada kelelawar di depannya. Apakah pemuda pemberani seperti Mantingan juga takut pada kelelawar?


“Kelelawar ini jaraknya sangat jauh, tetapi udara yang dihasilkan mereka tercium sampai di sini. Udara ini sangatlah beracun.”


Bidadari Sungai Utara menegang.


“Aku akan membersihkannya.” Mantingan maju selangkah. Diulurkan tangannya ke depan. Jari-jarinya terbuka, membentuk tapak. Angin berembus pelan, mengalir di lorong-lorong panjang di depannya, melewati lika-liku yang berjumlah lebih dari seratus.


Biarpun angin berembus pelan, tetapi itu cukup untuk menyingkirkan udara kelelawar yang beracun itu. Memang hal yang mereka hadapi sekarang umum ditemui di gua-gua yang lama tertutup. Jika ada kelelawar yang bersarang di sana, maka dapat dipastikan udaranya beracun. Bahkan jika tak ada kelelawar sekalipun, udara gua bisa saja beracun.


Angin berembus beberapa lama. Mantingan masih berdiri di sana, tangan kanannya mengalirkan angin sedangkan tangan kirinya mengangkat obor.


Waktu sepeminuman teh lewat. Waktu yang sedemikian lama untuk membuat Bidadari Sungai Utara merasa terbiasa dengan lingkungan goa. Angin-angin yang dihasilkan Mantingan telah berhasil membawa udara beracun menuju daratan luar.


Mantingan menarik kembali tangan kanannya. Ia menghela napas panjang dan menggeleng pelan. Sepertinya ia telah salah perhitungan di awal. Setelah mengirim Ilmu Pengendali Angin, Mantingan mengetahui bahwa lorong-lorong ini jauh lebih panjang dari apa yang ia perhitungkan sebelumnya. Bahkan ada kemungkinan lainnya, lorong ini jauh-jauh lebih panjang . Pemuda itu mulai merasa telah salah memilih langkah.


Tetapi tidak ada jalan keluar. Orang yang mengintai mereka pasti curiga setelah Bidadari Sungai Utara lama tak terlihat di dalam kamarnya, dia akan mulai mencari. Jika mereka kembali, ada kemungkinan terbesar akan bertemu dengan si pengintai. Bukankah itu berbahaya?


Jika saja terjadi satu pertarungan, hasilnya akan selalu merugikan. Jika saja Mantingan mengalahkan si pengintai, maka kabar tentang pertarungan mereka sukar dicekal. Bahkan bukan tidak mungkin, si pengintai masih punya rekan-rekan yang berdiri di belakangnya. Jika saja sampai kabar itu menyebar luas dan banyak pendekar ahli yang berdatangan, Mantingan merasa tidak mampu mengalahkan mereka hidup-hidup.

__ADS_1


“Lebih baik kita tetap berjalan. Bukan tidak mungkin Lontar Sihir yang aku pasang bisa dipatahkan, saat itu terjadi kita harus berada sejauh mungkin dari sini.”


__ADS_2