Sang Musafir

Sang Musafir
Musuh atau Kawan


__ADS_3

Pedang Merpati Putih tersoren di sabuk pinggangnya. Kunciannya selalu dibuka, dan beberapa kali gadis itu terlihat menggenggam gagangnya dengan risau.


“Kana, di manakah pe—”


Ucapan Bidadari Sungai Utara harus tertahan sebab telinganya menangkap suara derap langkah halus dari luar kamar. Ia segera menarik Pedang Merpati Putih Haus Darah keluar dari dalam sarungnya, dan menghunuskannya ke depan sambil melangkah maju perlahan-lahan. Gadis itu bertindak cepat.


Kana dan Kina mengerutkan dahi karena tidak satu pun dari mereka yang mengerti keadaannya, akan tetapi mereka tahu bahwa Bidadari Sungai Utara telah merasakan, atau melihat, atau mendengarkan sesuatu di luar kamar!


***


BIDADARI Sungai Utara sampai tepat di belakang pintu kamar. Ia menempelkan telinganya pada permukaan pintu untuk mendengar suara di lorong penginapan yang menghubungkan kamar-kamar lainnya.


Akan tetapi, Bidadari Sungai Utara tidak mendengarkan sesuatu pun selain dari napas dan detak jantungnya sendiri. Bidadari Sungai Utara kembali menarik diri dan berniat untuk mundur perlahan-lahan.


Namun pada saat gadis itu baru mundur satu langkah, suara derap kaki itu kembali muncul. Bidadari Sungai Utara segera menghentikan gerak langkahnya untuk memastikan bahwa suara derap itu bukanlah berasal darinya.


Dan benar saja! Suara itu masih terdengar meskipun ia jelas-jelas telah menghentikan langkahnya. Suara derap langkah itu tidak terdengar lama, sebab langsung berhenti sesaat setelah Bidadari Sungai Utara menghentikan langkahnya. Seolah ingin menyamarkan derap suara langkahnya dengan milik gadis itu.


Bidadari Sungai Utara pun telah berhasil dibuat tegang oleh suara tersebut. Amat sangat jelas bahwa ada seseorang mengendap-endap di dalam lorong panjang penginapan. Siapa pun orang itu, dari cara mengendap-endap saja telah diketahui bahwa dia datang dengan niat yang tidak baik.


Gadis itu maju selangkah dan mengulurkan sebelah tangannya ke arah gagang pintu. Namun sesaat kemudian, gadis itu kembali menghentikan gerakannya. Ia menjadi ragu.


“Apakah ini merupakan pancingan yang berujung pada jebakan?” Bidadari Sungai Utara bergumam pelan pada dirinya sendiri, sangat amat pelan hingga Kana dan Kina pun tidak mampu mendengarnya.


Gadis itu cukup cermat dengan memperhitungkan bahwa musuh telah menyiapkan jebakan ketika dirinya telah terpancing untuk keluar kamar. Ia tidak bisa melihat apa yang terjadi di luar kamarnya, dalam keadaan ketidaktahuan itu maka dirinya mudah sekali untuk dijebak dan dilumpuhkan.


Akan tetapi, Bidadari Sungai Utara pula harus memastikan siapakah kiranya yang berada di depan sana. Musuh ataukah teman. Datang ingin membantu atau datang ingin mencelakai.


Maka berdasarkan pertimbangan itu, Bidadari Sungai Utara kemudian mengeluarkan suara keras. “Siapakah kiranya dikau yang berada di luar dan hendak apakah?”


Tidak terdengar jawaban hingga beberapa saat berlalu.

__ADS_1


“Kami adalah Pasukan Topeng Putih yang datang menjemput engkau, Bidadari Sungai Utara.”


Bidadari Sungai Utara mengerutkan dahi. “Lalu mengapakah datang dengan mengendap-endap?”


“Kami takut jikalau yang ada di dalam kamar bukanlah Bidadari Sungai Utara atau Mantingan, melainkan musuh yang memasang jebakan.”


Jawaban masuk akal, tetapi masih belum bisa meyakinkan seorang Bidadari Sungai Utara.


“Berapa banyak yang datang?” tanyanya kemudian sambil masih menggenggam erat gagang pedangnya.


“Hanya tiga orang,” balas orang di luar.


Bidadari Sungai Utara mengatur jalannya pernapasan sambil menenangkan diri. Betapa sebenarnya ucapan orang itu tidak sepenuhnya meyakinkan.


“Apakah kalian datang hanya untuk menjemputku saja atau bersama dengan dua anak-anak yang kubawa?”


“Sesuka hati engkau. Jika engkau ingin membawa mereka, maka kami mempersilakannya.”


Bidadari Sungai Utara berjalan cepat dengan ilmu meringankan tubuh ke sisi meja untuk mengambil beberapa lembar Lontar Sihir Cahaya. Ia yakin Mantingan tidak akan marah meskipun ia mengambil seluruh Lontar Sihir miliknya.


Gadis itu kembali berdiri di belakang pintu. “Daku ingin sekali keluar dan menjumpai kalian, tetapi dua anak yang kubawa tidak akan mau keluar jika tidak disebut namanya terlebih dahulu! Dan daku tidak akan mau keluar tanpa mereka.”


“Heh, benarkah demikian?” Terdengar sahutan dari luar.


“Ya, benar!” Kini giliran Kana yang berteriak setelah memahami jalannya siasat Bidadari Sungai Utara. “Jika kalian tidak mengetahui nama kami berdua, kita takut kalian adalah penipu yang menyamar!”


“Bocah, namamu adalah Kana. Dan saudarimu bernama Kina? Benar atau salah?” Yang di luar menjawab dengan cepat.


“Nah, setelah kalian mengetahui namaku, maka sebutkanlah pula ilmu yang sedang kupelajari saat ini!”


“Ilmu yang sedang dikau pelajari adalah Ilmu Tapak Angin Darah, bukan?”

__ADS_1


“Ya, itu benar! Kami bisa percaya sekarang.”


Bidadari Sungai Utara melirik Kana. Seolah memintanya untuk berhenti menanyakan hal-hal konyol pada orang yang tak jelas apakah kawan atau musuh itu. Akan tetapi sesaat kemudian, Bidadari Sungai Utara menyadari bahwa dirinya sendiri pun masih belum mengetahui tentang ilmu silat apa yang sedang dipelajari Kana saat ini, tetapi orang di luar itu telah mengetahuinya. Aneh tapi nyata!


Kana kemudian menghampiri Bidadari Sungai Utara dan berbisik kepadanya, “Mereka telah mengetahui terlalu banyak daripada yang seharusnya diketahui Pasukan Topeng Putih, kecuali jika mereka telah memata-matai kita sejak lama.”


Sekarang segalanya tampak amat sangat jelas bagi Bidadari Sungai Utara. “Mundurlah, Kana. Bahwa adikmu ke sudut ruangan, dan lindungilah dia bagaimanapun caranya jikalau sesuatu terjadi kepadaku nantinya.”


Di bawah siraman cahaya lontar, raut wajah Kana tampak memburuk. Dirinya kemudian meminta Bidadari Sungai Utara untuk menunduk dan mendengar bisikannya. “Jika Kaka Sasmita ingin menyerang mereka, maka hal itu amat sangat tidak kusarankan, sebab kita sama sekali tidak mengetahui besaran kekuatan musuh. Tunggulah sampai Kakanda datang untuk membereskan mereka. Kita hanya perlu menunggu dan sabar.”


Baru saja Bidadari Sungai Utara hendak menjawab, tetiba suara panggilan dari luar kamar kembali muncul begitu kerasnya.


“Apakah kalian sudah selesai berkemas? Kita harus berangkat secepat mungkin.”


“Kita tidak memiliki cukup banyak waktu untuk menunggu Kakanda-mu, Kana.” Bidadari Sungai Utara menunjukkan lembar-lembar Lontar Sihir Cahaya di tangannya. “Daku memiliki rencana yang bagus, Kana.”


“Mengapa kalian tidak menjawab?” Terdengar lagi suara dari luar.


Kana menatap Bidadari Sungai Utara resah. “Mereka akan melakukan hal yang sangat buruk padamu jika engkau sampai tertangkap, Kaka Sasmita.”


Bidadari Sungai Utara justru tersenyum. “Ini adalah yang terbaik dari yang bisa kita lakukan.”


Pintu kamar mulai diketuk berkali-kali. Suara-suara masih terus memanggil Bidadari Sungai Utara untuk keluar. Kana tidak memiliki pilihan lainnya selain membiarkan Bidadari Sungai Utara melangkah lebih dekat ke belakang pintu, sedangkan dirinya mundur dan mengapai tangan Kina untuk kemudian berlindung di sudut ruangan. Ketika Kina ingin berteriak menghentikan tindakan Bidadari Sungai Utara, dengan amat terpaksa Kana menyekap mulutnya.


Bidadari Sungai Utara memejamkan matanya barang sejenak untuk menenangkan dan sekaligus meyakinkan diri. Tangan sebelah kirinya, telah menggenggam gagang pintu; sedang yang sebelah kanan memegang lima lembar Lontar Sihir Cahaya. Bilah pedangnya kembali tersarung, yang betapa pun diketahuinya bahwa pedang itu akan segera ditariknya lagi.


Gadis itu jelas mengetahui apa yang akan terjadi pada dirinya jika sampai tertangkap, sesuatu yang bahkan masih ia sembunyikan dari Mantingan hingga saat ini.


Sepatah kalimat terucap dari bibir merahnya, “Jika aku tamat di sini, maafkanlah aku, Mantingan.”


Ia menarik gagang pintu hingga terbuka barang sedikit. Badannya berputar ke sebelah kiri—menuju celah kecil yang terbuka bersamaan dengan terbukanya pintu tersebut, menghindari tusukan-tusukan bilah pedang berkilauan yang menembus badan pintu. Dari celah kecil itulah lima lembar Lontar Sihir Cahaya melesat keluar dalam keadaan yang hampir meledak menjadi kilauan cahaya terang-benderang.

__ADS_1



__ADS_2