
“Kisanak silakan naik di kereta kuda dengan tanda yang sesuai angka yang tertera di kayu itu. Jika angka yang Kisanak dapatkan adalah empat-tiga, maka kereta kuda dengan angka itu berada di sisi utara.” Prajurit itu berkata cepat tanpa kesalahan sedikitpun, terlihat ia telah mengucap kalimat yang serupa hingga ribuan kali.
Mantingan pergi melewati petugas yang berdiri itu, lekas-lekas ia berjalan ke barisan kereta kuda sebelah utara sebelum senjakala menjemput.
***
Kini Mantingan berada di atas kereta kuda yang melaju di atas jalanan, membelah kepadatan kota.
Mantingan tidak duduk sendirian di atas kereta kuda, ada beberapa orang lain bersamanya dengan arah yang serupa. Perlahan Mantingan mengerti cara kereta kuda ini memperoleh penumpang. Kereta-kereta kuda yang ada di tempat perhentian memiliki angka penanda pada dinding kereta, kereta kuda yang memiliki angka sama akan menempuh jalur yang sama pula. Kereta-kereta kuda dibuat dengan angka dan jalur yang berbeda. Angka digunakan untuk mempermudah calon penumpang menemukan kereta yang tepat untuknya.
Orang yang telah lama berada di kota ini biasanya tidak akan sulit menemukan angka kereta sesuai dengan jalur yang ditujunya, mereka sudah menghapalnya. Tetapi Mantingan bukanlah orang yang telah lama berada di kota ini, maka memang tadi sebaiknya pergi ke perhentian kereta kuda.
Kereta kuda yang ditumpangi Mantingan perlahan berhenti. Mantingan melihat ke sisi kanannya, di mana terdapat bangunan bertingkat tinggi yang sangat besar dan ramai pengunjung.
“Di sinilah tempatnya, Anak.” Kusir kuda itu berkata pada Mantingan.
“Berapakah yang harus kubayar, Bapak?” tanya Mantingan.
“Kau hendak menimba ilmu di sana?”
“Ya.”
“Tak perlu bayar kalau begitu, lekaslah turun sebelum hari menjadi malam. Perpustakaan akan tutup saat malam.”
Mantingan menatap kusir kuda itu dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Kusir kuda itu balik menatap Mantingan, seolah memperlihatkan keseriusan dan kejujurannya, tidak ada niat jahat di balik tatapan itu.
__ADS_1
“Terima kasih, Bapak.”
Mantingan lekas turun dari kereta kuda. Ingin ia tersenyum pada kusir kuda baik hati itu, tetapi Mantingan seakan tak memiliki kuasa untuk menggerakkan bibirnya. Pada akhirnya kusir kuda itu mengekang kuda dan dengan cepat pergi dari tempat itu.
Mantingan menghela napas panjang, menatap gedung di depannya yang sangat tinggi. Berapakah banyak buku yang tersimpan di dalamnya? Adakah atau tidak buku mengulas tentang Perguruan Angin Putih?
Melangkahlah Mantingan ke pintu gerbang. Terdapat gapura indah dengan goresan-goresan aksara pawala, menandakan betapa pengunjung masuk ke pusat aksara-aksara berkumpul. Mantingan melewati gapura itu dengan langkah yang khidmat.
Setelah melewati gapura itu, Mantingan bisa melihat halaman gedung lebih jelas lagi. Terdapat taman beserta kolamnya di sebelah kiri, dan bangku-bangku untuk membaca lontar di sisi kanannya. Pengunjung perpustakaan rerata diisi oleh orang lanjut usia yang memang mengabdikan dirinya pada seni baca-tulis, selebihnya diisi oleh bangsawan-bangsawan muda.
Mereka menatap Mantingan aneh. Mantingan menatap mereka dengan canggung, ia jelas tahu apa yang membuat mereka menatapnya seperti itu. Jika dilihat dari penampilan, maka penampilan Mantingan sangat berbeda jauh dari penampilan mereka. Mantingan memiliki penampilan pengembara dengan membawa buntelan dan empat pundi-pundi. Pakaiannya juga tergolong dekil oleh debu. Mantingan pula memakai caping lebar. Penampilannya jauh berbeda dengan sastrawan maupun bangsawan.
Mantingan tetap melangkah. Ada beberapa anak tangga yang ia lalui sebelum akhirnya bisa sampai di pintu masuk gedung.
Pintu masuk gedung ini sangatlah lebar, seolah-olah seratus orang bisa memasukinya dengan cepat dan mudah. Terdapat dua penjaga di dua sisi pintu. Di dalamnya terlihat sesuatu yang lebih menakjubkan. Mantingan lalu melangkah ke dalam, merasakan lantai halus yang terbuat dari kayu jati.
Mantingan butuh mendongakkan kepalanya untuk melihat rak itu sampai atas.
Buku-buku tertata rapi dari bawah sampai atas, entah siapa yang telah berani menata buku-buku itu sampai bagian rak tertinggi. Tidak dapat dibayangkan betapa buku-buku itu akan berjatuhan saat terjadi gempa, pastilah dapat mencederai orang-orang di bawahnya karena buku-buku itu besar dan jatuh dari ketinggian.
Mantingan melihat ke sekitarnya. Di lantai dasar ini banyak orang-orang yang membaca atau mencari buku di rak-rak kecil, tetapi mereka tidak berisik seperti, tidak seperti orang di luar sana. Keadaan di sini benar-benar sunyi dan tenang. Aroma lontar tercium pekat.
Di berbagai sisi ruangan, selain tiang-tiang besar penyangga gedung, terdapat pula meja-meja, lengkap dengan petugasnya yang siap menjawab pertanyaan pengunjung. Mantingan pergi ke salah satu meja itu.
Petugasnya adalah seorang perempuan yang sepertinya terpelajar, ia tersenyum ke arah Mantingan walau penampilan Mantingan terlihat sangat aneh di sini.
__ADS_1
“Selamat datang di perpustakaan pusat, adakah yang bisa sahaya bantu?”
“Apakah di sini terdapat buku atau kitab yang menyangkut tentang keberadaan Perguruan Angin Putih?”
Senyum wanita itu seketika menghilang, bagaikan tertelan ombak pantai. Sebaliknya, wanita itu kini menatap Mantingan dengan tatapan tajam.
“Untuk apakah Anda mengucap nama itu di sini?”
“Maaf. Daku sedang mencari tahu tentang perguruan itu, sehingga daku tidak tahu apakah perguruan itu boleh disebut atau tidak.”
“Sahaya bisa menganggap itu wajar, tetapi biar sahaya peringatkan Anda secara tidak resmi. Perguruan itu adalah perguruan terlarang untuk disebutkan namanya di kota ini. Mungkin dikau bisa sebut nama itu di kota lain, tetapi tidak di kota ini.”
“Daku tidak mengerti alasannya.”
“Tidaklah engkau butuh alasan.” Perempuan itu berkata pelan. “Yang terpenting adalah dirimu tidak lagi menyebut nama perguruan itu.”
“Aku sudah katakan, bahwa aku tak mengerti alasannya. Aku tak tahu apakah engkau bermaksud menipuku atau tidak.” Mantingan mengangkat bahunya. “Kalau memang kau tak mau memberi alasan, biar aku cari sendiri tentang Perguruan Angin Putih di perpustakaan ini.”
Wanita itu mendesah pelan, lalu menahan Mantingan yang hendak berbalik. “Kau ingin mencari perguruan itu untuk belajar silat?”
“Alasanku tak penting bagimu.” Mantingan berkata singkat dan mulai berjalan menjauh, tetapi wanita itu meraih jubahnya dan berhasil menahan Mantingan.
“Jika engkau mau menemukan perguruan itu, maka temui aku di halaman perpustakaan setelah selesai bekerja.”
Mantingan segera terlibat perang batin di dalam kepalanya. Mantingan tidak ingin perempuan ini dekat dengannya seperti apa yang terjadi pada Rara dan Arkawidya, tetapi Mantingan butuh keterangan tentang Perguruan Angin Putih dan sejarah kelamnya di kota ini. Ditambah keterangan awal dari wanita itu yang mengatakan bahwa nama Perguruan Angin Putih adalah nama yang terlarang disebut di kota ini. Itulah yang Mantingan takutkan, jika dirinya berada di dalam kota; dekat dengan orang lain.
__ADS_1
“Aku akan menunggumu.” Mantingan akhirnya memutuskan. Ia tetap butuh keterangan tentang Perguruan Angin Putih. Mantingan bersumpah dalam hatinya, bahwa wanita ini tidak akan dibiarkan lebih dekat daripada pertemanan belaka.