Sang Musafir

Sang Musafir
Masuk ke Dalam Pasar


__ADS_3

RASA SEMANGAT Mantingan seolah runtuh seketika tanpa tersisa sedikitpun. Di bawah sana, Bidadari Sungai Utara melangkahkan kaki ke arah selatan. Sungguh ia keliru membedakan utara dan selatan. Kini dapat dipastikan, mereka telah dan akan semakin menjauhi Pelabuhan Kalapa. Bahkan bukan tidak mungkin, saat ini keduanya tidak lagi berada di wilayah Tanjung Kalapa.


Mantingan tidak langsung bergerak saat Bidadari Sungai Utara pergi. Ia menyempatkan diri untuk memeriksa peta. Mantingan tidak perlu takut kehilangan jejak Bidadari Sungai Utara, karena dari pohon asam yang tinggi ini dirinya dapat dengan mudah menemukan keberadaan Bidadari Sungai Utara. Sekalipun tidak bisa melihatnya dari atas, Mantingan masih bisa menelusuri jejaknya di bawah.


Maka dibentangkanlah peta besar itu. Mantingan memperhatikan tanda-tanda alam di sekitarnya lalu mencocokkannya dengan peta. Membutuhkan waktu yang cukup lama sebelum Mantingan dapat menemukan di mana dirinya sekarang berada.


Mereka berada di wilayah Cigede sebelah selatan. Wilayah Cigede berada di sebelah barat Tanjung Kalapa, sehingga seharusnya mereka tidak bergerak cukup jauh dari Tanjung Kalapa. Mantingan salah kalau ia mengira dirinya telah berada di ujung barat pulau Javadvipa.


Beruntunglah Bidadari Sungai Utara mengambil jalan yang berputar-putar sehingga mereka tidak tersesat cukup jauh walaupun sudah sangat lama berjalan. Mantingan kembali menggulung petanya dan memasukkannya ke dalam bundelan, sebelum ia melayang turun ke bawah.


Bersamaan dengan Mantingan yang melayang turun, sehelai daun pula sama-sama melayang turun ke bawah.


Mantingan seolah berada di air, bukan di udara. Begitu ringan tubuhnya jatuh ke bawah. Sebelum Mantingan mendarat, daun yang jatuh bersamanya telah lebih dulu mendarat. Betapa sangat lembutnya saat mendarat di atas tanah. Itu semua telah membuktikan seberapa tinggi ilmu meringankan tubuh yang Mantingan kuasai.


Dengan cepat, Mantingan mengikuti Bidadari Sungai Utara. Karena telah bosan melenting dari satu pohon ke pohon lainnya, Mantingan ingin mencoba mengikuti Bidadari Sungai Utara melalui jalur darat. Namun, pemuda itu masih menerapkan jarak yang aman.

__ADS_1


Bidadari Sungai Utara telah mengetahui bahwa dirinya tidak bisa terus menerus berjalan di jalanan yang rata. Dia tahu, bahwa sewaktu-waktu jalanan bisa menyesatkan. Dengan keyakinan bahwa ia sedang berjalan ke arah utara, Bidadari Sungai Utara membelah semak belukar dengan kelewangnya.


Mantingan berdecak di dalam benaknya. Ia telah mengajari Bidadari Sungai Utara cara membelah lautan semak belukar tanpa perlu menyakiti tumbuhan itu, namun yang saat ini tengah berlangsung membuatnya sedikit kecewa. Entah apakah Bidadari Sungai Utara telah melupakan pengajarannya, atau malah sengaja melakukan itu karena sangat membenci Mantingan.


Namun biar bagaimanapun juga, Mantingan merasa tidak baik bersangka buruk pada Bidadari Sungai Utara tak peduli seberapa sering gadis itu bersangka buruk padanya. Bukankah memang seharusnya kejahatan dibalas dengan kebaikan? Tetapi, pada saat-saat tertentu memang dibutuhkan kematian para pelaku kejahatan demi sebuah kebaikan.


Kiai Guru Kedai pernah bercerita kepadanya tentang seorang pendekar paling kejam di dunia persilatan yang bertemu dengan pendekar paling baik hati di dunia persilatan. Pendekar yang baik itu berkata pada pendekar yang jahat, bahwa kejahatannya akan dibalas dengan kebaikan. Namun siapa sangka saat mereka bertarung, pendekar yang baik membunuh pendekar yang jahat. Lalu pendekar yang baik berkata bahwa inilah kebaikan.


Itulah sebenarnya arti kejahatan dibalas dengan kebaikan. Jika kejahatan seperti merampok, membunuh, dan sebagainya dibalas dengan kebaikan berupa kasih sayang, pujian, makanan, tempat tinggal, dihormati, dan sebagainya maka kejahatan akan terus merajalela tanpa ada yang mau menahannya.


Kebaikan bukan berarti selalu kain putih yang bersih, kebaikan bisa juga berupa noda darah. Kebaikan bisa dicapai dengan jalan perang atau tanpa perang. Dengan pertumpahan darah atau tanpa pertumpahan darah.


***


MANTINGAN MENGERNYITKAN dahi saat melihat Bidadari Sungai Utara berani masuk ke dalam sebuah pasar kecil. Biarpun pasar itu tergolong kecil, gadis itu tetap harus mewaspadai kemungkinan adanya pendekar di sana. Tetapi setelah melihat langkah tegas dari Bidadari Sungai Utara, Mantingan merasa gadis itu tidak melakukan perhitungan sebelum masuk.

__ADS_1


Namun, kini sudah terlambat bagi Mantingan untuk mencegah, sebab gadis itu sudah masuk pasar terlalu dalam. Di siang itu, kondisi pasar mulai sepi pengunjung, mengakibatkan keberadaan Bidadari Sungai Utara cukup menarik banyak perhatian. Terlebih saat tidak ada satupun pengunjung pasar yang memakai cadar sebelumnya.


Mantingan bergerak cepat. Melompati atap-atap bangunan toko dengan ringan dan senyap. Saat ia menemukan toko yang menjual beraneka macam pakaian, Mantingan segera turun.


Mantingan menyerahkan dua keping uang emas pada penjual dan mengisyaratkan orang itu untuk diam. Ia melepas dua bundelan dan seluruh barang bawaannya kecuali Pedang Kiai Kedai, Mantingan meminta orang itu untuk menjaga semua barang itu dengan baik. Mantingan lalu mengambil sepasang pakaian berupa celana dan baju, lekas ia memakainya dengan kecepatan gerak seorang pendekar. Di saat-saat akhir, Mantingan mengambil kain selendang panjang untuk menutupi leher dan wajah bagian bawahnya.


“Daku rasa dua keping emas cukup untuk membayar semua ini.”


Penjual pakaian yang masih tertegun itu hanya bisa mengangguk tanpa bisa menjawab lebih banyak lagi. Mantingan lalu berjalan dari toko pakaian ke toko yang menjual barang kerajinan batang buluh, di sana ia melemparkan sekeping uang perak pada penjual lalu mengambil sebuah caping lebar.


Caping lama miliknya tidak aman lagi dipakai karena Bidadari Sungai Utara sudah pasti dapat mengenal caping itu. Tetapi di sisi lain, Mantingan tetap perlu menutupi wajahnya dari penglihatan Bidadari Sungai Utara dan dari penglihatan pendekar lain pula. Maka atas dasar itulah, ia membeli caping baru.


Setelah memakai caping itu, Mantingan berjalan cepat tanpa menggunakan kekuatan pendekarnya ke arah pintu pasar. Matanya dapat melihat ke sekitar walaupun tidak cukup jelas, dan saat itulah Mantingan berpas-pasan dengan Bidadari Sungai Utara.


Namun dapat dilihat gadis itu hanya meliriknya sekilas saja tanpa mengurangi kecepatan jalan. Mantingan segera mengembuskan napas lega tatkala mereka kembali berpisah. Bisa dibilang berpas-pasan dengan Bidadari Sungai Utara adalah sesuatu di luar rencananya, tetapi ia bersyukur karena gadis itu tidak cukup cermat untuk mengenalinya.

__ADS_1


Mantingan berjalan cukup jauh dari Bidadari Sungai Utara. Setelah memastikan gadis itu tidak menaruh rasa curiga, barulah Mantingan mulai mengikutinya.


Alasan mengapa Mantingan tidak mengikuti Bidadari Sungai Utara dengan berlentingan di atas atap tentu saja karena keamanan dirinya sendiri dan Bidadari Sungai Utara.


__ADS_2