Sang Musafir

Sang Musafir
Izinkan Aku Membimbingmu


__ADS_3

MANTINGAN, Chitra Anggini, maupun seluruh tamu perhelatan, tidak diberi kesempatan untuk memilih bangku mana yang akan mereka tempati. Semuanya telah diatur oleh pengurus perhelatan, mereka hanya perlu mengikuti arahan tanpa perlu repot-repot membuat pilihan.


Di atas meja, telah terdapat dua piring, sepasang sendok dan garpu yang terbuat dari perak, serta sebuah lilin berwarna merah yang menyebarkan cahaya temaram sekaligus aroma menenangkan. Dalam pada itu, suasana benar-benar terasa romantis. Benarlah, siapa pun akan terbuai. Istana Koying tidak pernah main-main membuat Perhelatan Cinta.


Mantingan mengembuskan napas perlahan-lahan. Betapakah tidak begitu bila suasana serba romantis ini telah membawa ingatannya kembali pada pujaan hati nian jauh di Champa sana? Ia selalu berharap Bidadari Sungai Utara ada di hadapannya saat ini, menemani makan malam dengan ikan bakar beroleskan madu buatannya, meski hanya sebentar tetapi tidak jadi mengapa.


Namun, bayangan tersebut tetaplah menjadi bayangan yang hanya ada di alam pikirannya. Bidadari Sungai Utara jauh di seberang semenanjung. Terpisah dua pekan pelayaran kapal. Dan lebih dari itu, mereka terpisah oleh kenegaraan dengan segala kepentingannya.


Di hadapannya tetaplah Chitra Anggini, yang meski memang cantik lagi jelita, tetapi bukan kecintaannya.


Bebunyian dari pelantun lagu terbaik di kotaraja masih mengalun dengan lembut. Seolah udara malam yang sejuk ini telah bersahabat dengan bebunyian tersebut. Begitu serasi.


“Apa yang kaupikirkan?”


Chitra Anggini berhasil memecah perenungan Mantingan. Pemuda itu hanya menggeleng pelan sebagai balasan.


Diam sejenak. Chitra Anggini menggigit bibirnya sendiri. Dia telah begitu mengenal Mantingan, bagaimanakah tidak mengetahui apa yang sedang dipikirkan olehnya?


“Jangan sampai lengah. Meskipun semuanya tampak aman-aman saja, tetapi bagi pendekar seperti kita bahaya selalu ada di setiap embusan napas tanpa terkecuali,” kata Chitra Anggini sedikit tercekat, seolah ada yang mengganjal di tenggorokannya. “Kita dapat mengatasi kejadian kemarin malam hanya karena kewaspadaan kita masih terjaga.”


“Ya.” Mantingan tersenyum pada akhirnya. “Terima kasih sudah mengingatkanku.”


Chitra Anggini kembali diam. Membiarkan kesunyian mengambil alih. Telah hilang seleranya untuk bercakap-cakap, dengan alasan yang sungguh tidak sepenuhnya dapat Mantingan pahami.


Seorang petugas perhelatan datang menuju meja mereka. Seperti biasanya pada saat-saat acara makan pagi, orang itu membawa beberapa lembar lontar berisi senarai makanan yang dapat dipilih.

__ADS_1


“Kau ingin memakan apa, Chitra?” Mantingan bertanya, sebab hanya kepadanyalah senarai makanan itu diberikan.


“Sesukamu saja,” jawab perempuan itu.


Mantingan mengerutkan dahi, tetapi segera mengambil tindakan dengan memilih sejumlah makanan yang sekiranya disukai oleh perempuan di hadapannya itu. Bukankah jika perempuan tidak dapat menentukan sesuatu, lelaki harus bertindak sebagai pemimpin?


Setelah petugas itu pergi, Mantingan berujar pada Chitra Anggini, “Bukankah malam ini akan menjadi sangat sunyi jika kita lewati begitu saja tanpa bercakap-cakap?”


Chitra Anggini menoleh. Demi melihat wajah Mantingan yang sangat jernih, begitu jernih, terlalu jernih, sehingga seolah segala sesuatu yang tersimpan di dalam benaknya dapat terungkap begitu saja, maka seluruh pertahanan perempuan itu runtuh dalam sekejap. Tanpa sedu-sedan, tanpa isakan; benar-benar tanpa suara, air mata mengalir perlahan dari sudut matanya, membuat Mantingan kebingungan bukan alang kepalang.


“Ada apa?” Segeralah Mantingan bertanya.


Dibalas pertanyaan itu dengan gelengan kepala. Chitra Anggini berusaha tersenyum, tetapi air matanya terus mengalir bagai sengaja mengkhianati senyumannya.


“Apa asap lilin ini membuat matamu pedih?” Kembali Mantingan bertanya. Cemas.


“Tidak bisa begitu. Katakan, apa yang kaupikirkan?”


Maka tanpa ragu lagi, perempuan itu menjawab, “Pikiranmu.”


Mantingan langsung terpekur. Diam seribu bahasa. Dirinya tidak naif seperti dahulu kala. Berdasarkan ucapan Chitra Anggini, dapatlah ia ketahui bagaimana perasaan perempuan itu saat ini. Mungkinkah kiranya ....


“Maksudku, aku juga merindukannya.” Chitra Anggini berkata cepat-cepat, sambil cepat-cepat pula mengusap air matanya di pipi yang merona itu. Agaknya, pikirannya telah jernih kembali untuk mempertimbangkan apa yang baru saja dikatakannya. “Sama sepertimu, aku juga merindukan kehadirannya, dan sungguh berharap dirinya ada di sini, bersama kita. Dia telah begitu banyak memberikan kesan persahabatan kepadaku. Sulit sekali melupakannya.”


Mantingan mengerutkan dahi. Baginya, apa yang dikatakan oleh perempuan itu tidak akan pernah mudah dipercaya. Ia tahu betul bahwa Chitra Anggini memiliki sikap perkasa sekalipun dirinya merupakan seorang perempuan. Bahkan dalam beberapa hal, kedewasaan Chitra Anggini mampu melebihi dirinya. Namun, mengapa kini perempuan itu menangis untuk urusan yang sebenarnya amat remeh-temeh? Bahkan Mantingan sekalipun, yang sungguh jelas menaruh segala rasa cintanya pada Bidadari Sungai Utara, tidak sampai mengeluarkan air matanya di tempat ini ketika mengingat pujaan hatinya!

__ADS_1


Mungkin perasaan seorang perempuan memang jauh lebih lembut ketimbang perasaan lelaki, sehingga adalah wajar jika mereka sangat mudah menangis. Akan tetapi, Chitra Anggini masuk ke dalam pengecualian.


Apatah gerangan yang sebenarnya ditangisi oleh perempuan jelita itu?


Namun, suasana haru tersebut tidak bertahan cukup lama ketika beberapa pelayan mengantarkan makanan ke meja mereka. Chitra Anggini telah mengesat air matanya hingga bersih sempurna, lekas tersenyum lebar menatap berbagai hidangan yang tersaji di hadapannya.


Perempuan itu langsung mengambil bagiannya, tetapi tidak kunjung jua menyuap makanan sebab melihat Mantingan masih belum menyentuh makanan.


“Mengapa tidak makan?” tanya Chitra Anggini. “Kau ingin aku menyuapimu atau bagaimana?”


Mantingan tersenyum tipis sebelum mulai mengambil bagiannya.


***


PETUGAS perhelatan sama sekali tidak berbohong. Makan malam itu bukan menjadi makan malam yang biasa-biasa saja. Semuanya menjadi serba romantis ketika seluruh pasangan di Halaman Besar Seribu Rumah Istana diminta untuk berkumpul dan menari!


Tarian itu bukanlah pula sekadar tarian, yang hanya bergoyang mengikuti alunan dari bebunyian, dan untuk bersenang-senang belaka. Inilah tarian yang sering dilakukan sesama pasangan di kotaraja, yang penuh dengan cinta dan kemesraan tak terbayangkan.


Mantingan sama sekali tidak menganggapnya mesra. Menari dengan Chitra Anggini adalah sesuatu yang amat sangat rawan baginya, sebab betapa kejelitaan dan kecantikan gadis itu tidak lagi mampu dipungkiri, sehingga tiada dapat terjamin dirinya tak akan terbuai oleh asmara yang tidak seharusnya!


“Aku tahu kau tidak akan pernah menyukai ini,” bisik Chitra Anggini di hadapannya, “tetapi kita harus tetap melakukannya.”


Bebunyian mulai mengalun, begitu juga dengan seluruh pasangan pendekar di lapangan luas itu yang mulai menari tanpa rasa canggung sama sekali. Hanya Mantingan dan Chitra Anggini yang belum bergerak dari tempatnya.


Yang pemuda kemudian berujar pelan, “Aku tidak tahu caranya.”

__ADS_1


Namun, dengan senyuman, Chitra Anggini menjawab lembut, “Tenang saja, aku mengetahuinya. Izinkanlah aku membimbingmu, Mantingan.”


__ADS_2