Sang Musafir

Sang Musafir
Perseteruan Lelang


__ADS_3

Mantingan memang membutuhkan pedang, tetapi Mantingan enggan mengambil pedang tersebut. Tidak ada masalah dengan pedang itu, tetapi Mantingan tidak ingin tidur malam bersama Dara, itulah masalahnya. Maka dari itu, Mantingan lekas berkata lantang kepada Dara juga kepada tamu-tamu di ruangan.


“Aku tidak membutuhkan pedang ini, jika ada yang menginginkannya, maka ambillah!”


Mantingan berniat melempar kembali pedang itu, tetapi pria yang berdiri di atas bangku Mantingan menahan gerakannya


“Tunggu! Sesuai aturan, engkau tidak boleh mengembalikan barang yang sudah dibeli," katanya tak kalah lantang.


“Tetapi aku tidak pernah membeli barang ini, lagi pula ini aku dapatkan bukan atas kemauanku."


“Pedang itu termasuk barang yang dilelang.”


“Baiklah, daku akan melelang lagi barang ini.”


“Itu juga tidak sah, engkau tidak bisa melelang barang yang sama di sini.”


“Cukup!” Dara tetiba berteriak, memecah keseriusan di wajah para tamu. Seluruh pandangan mengarah padanya.


Dara turun dari panggung dan berjalan ke arah Mantingan, membuat Mantingan semakin menyesal telah menghadiri lelang ini. Dara mendekat kepada Mantingan, terus mendekat hingga jaraknya hanya terpisah beberapa jengkal saja dari tubuh Mantingan.


Gadis itu mendekat pada Mantingan bukanlah tanpa alasan, rupanya ia ingin berbisik pada Mantingan.


“Kau akan sangat menghinaku jika engkau tidak menerima pedang itu.”


“Baiklah.” Mantingan turut berbisik, “akan daku terima pedang ini, tetapi aku enggan tidur malam bersamamu.”


Dara balas dengan bisikan, “Itu juga sama saja menghinaku.”


“Daku tidak ingin terlibat masalah dengan tamu-tamu di sini, apakah engkau ada jaminan melindungiku?”

__ADS_1


“Tamu-tamu itu tidak akan membunuhmu, apakah engkau tak sadar bahwa ada seorang pendekar yang selalu mengawasi dan menjagamu?”


“Dia?” Mantingan menunjuk pendekar yang masih juga berdiri di atas bangkunya, tetapi Dara menggeleng, Mantingan mengernyitkan dahinya bingung. “Lalu siapakah?”


“Engkau tidak perlu bicarakan itu, sekarang ini yang perlu dikau lakukan adalah menerima pedang dan tidur malam bersamaku, atau aku akan berusaha membunuhmu.”


Mantingan menatap Dara dengan tatapan yang tajam, sedangkan tamu-tamu perlahan mulai mendekat akibat rasa penasaran tak terbendung. Dara buru-buru menyelesaikan percakapan sebelum tamu-tamu mendengar percakapannya dengan Mantingan.


“Baiklah, baiklah. Engkau tidak akan tidur malam bersamaku, tetapi engkau harus tetap bersamaku nanti malam dan di dalam kamarku, agar tidak satupun orang tahu bahwa pelelangan ini telah melanggar aturan lelang!”


Mantingan tetap tidak setuju dengan itu, menurutnya itu sama saja dengan tidur malam bersama. Terlebih, ia berada dalam satu kamar bersama orang yang tidak terlalu dikenalnya.


“Ambil saja pedang ini, aku tidak akan mengganggumu atau berurusan denganmu.” Mantingan melempar pedang itu pada Dara, yang cepat langsung ditangkap olehnya.


Mantingan berbalik lalu berjalan menuju pintu keluar, tetapi tiba-tiba saja dirinya terjatuh, rasanya kakinya dihantamkan oleh sesuatu. Mantingan menahan ringisannya dan memandang ke sekitar, menemukan Dara sedang mengancungkan pedang tersarung padanya. Jelas Dara yang menghantam kaki Mantingan, dengan pedangnya yang masih tersarung.


Mantingan memilih untuk tidak mengandalkan pendekar pelindungnya, yang bisa saja tidak pernah ada, maka segeralah Mantingan berdiri dan meraih tombak di punggungnya, mengancungkan ujung runcing tombak pada Dara.


Suasana menegang, para tamu yang bukan pendekar memilih untuk meninggalkan ruang lelang, karena mereka tahu bahwa akan ada banyak pendekar-pendekar pihak pelelangan yang akan muncul di situasi seperti ini, maka keberadaan mereka di sana tidaklah terlalu aman. Tetapi hal itu berkebalikan dengan pendekar-pendekar dan tamu-tamu istimewa di sana, mereka justru tertarik dengan perdebatan ini, bahkan mereka akan senang hati ikut campur tangan jika seandainya terjadi pertarungan.


“Hentikan itu, wahai Anak Muda!”


Pendekar yang semula berdiri di atas bangku kini meloncat ke samping Dara, menepuk punggung gadis itu untuk menenangkannya. Dara mengangguk dan menurunkan pedangnya. Mantingan masih belum menurunkan waspada, juga tombaknya.


Pendekar itu mendekat pada Mantingan dan berkata pelan, “Anak Muda, mohon pengertiannya. Jika engkau menolak Dara, maka itu sama saja menghina dan melecehkan Dara. Sampai saat ini, tidak ada pria yang menolak tawaran Dara untuk bermalam bersamanya. Daku tidak mengetahui jalan pikiranmu, tetapi mohonlah untuk kali ini, bantu kami.”


“Paman, aku sangat menghormatimu, tetapi aku tetap tidak bisa menerima tawaran ini. Aku berusaha berubah menjadi pria baik-baik. Terlebih aku memiliki urusan lain saat malam telah tiba."


Pendekar itu menghela napas panjang. “Jika memang engkau ingin menjadi pria baik-baik, maka engkau tidak perlu benar-benar bermalam bersama Dara. Engkau hanya perlu berada dalam satu kamar, bersamanya hingga pagi menjemput.”

__ADS_1


“Paman ....”


“Anak Muda, jangan paksa aku berubah sikap padamu.”


Mantingan menarik napas panjang. Sepertinya tidak ada jalan lain selain menerima tawaran itu. Lagi pula, Mantingan hanya perlu ada di satu kamar bersama Dara, tidak perlu melakukan apa pun. Akhirnya Mantingan menganggukkan kepala, membuat paman pendekar itu tersenyum lebar.


“Tetapi Paman, aku harus lebih dahulu menyelesaikan urusanku.”


“Bukan masalah besar, biar Dara ikut bersamamu.” Pendekar itu masih tersenyum.


Mantingan merasa sedikit keberatan. Ia tak ingin urusannya diketahui oleh Dara, terlebih jika ini menyangkut tentang Perguruan Angin Putih. Tetapi Mantingan melihat sorot mata mengancam dari mata paman pendekar di depannya, seakan ia akan membunuh Mantingan demi kehormatan pelelangan. Sekali lagi Mantingan mengangguk.


“Kalau begitu, bawalah Dara. Daku mohon jaga dirinya baik-baik.”


Paman pendekar mendorong pelan Dara maju lebih dekat dengan Mantingan, sebelum dirinya menghilang dari ruangan lelang. Untuk apakah paman pendekar menghilang tiba-tiba seperti itu? Tentu Mantingan menyadari, bahwa pendekar itu ingin menunjukkan kemampuannya pada Mantingan, juga untuk mengancam Mantingan jika dirinya berani berbuat di luar kesepakatan. Mantingan merasa tidak ada pilihan lain, nyawanya berada dalam bayang-bayang kematian setidaknya sampai esok pagi.


Mantingan tidak banyak bicara pada Dara, karena ia tidak ingin pula gadis itu dekat dengannya. Mantingan lekas keluar dari ruangan lelang tanpa mempedulikan siapa pun, seolah ia berjalan sendirian di ruangan kosong, Mantingan juga masih menyiagakan tombak di tangan kanannya.


Dengan begitu, mungkin saja dianggap sudah selesai hingga para tamu bisa bubarkan diri. Lagi pula sebagian tamu-tamu pelelangan sudah meninggalkan ruangan. Maka untuk kali ini pelelangan ditutup tanpa harus ditutup. Dara tidak perlu menutup lelang, tetapi para tamu mengetahui bahwa lelang sudah selesai.


Maka dengan raut wajah kecewa para tamu pun ikut membubarkan diri.


Para tamu tamu istimewa yang tadi melayangkan diri ke udara untuk merebut pedang Dara sini hanya bisa memaki dalam hati. Tanpa sedikitpun mereka mau mengakui bahwa kejadian ini diakibatkan oleh keserakahan dan ketamakan mereka.


___


catatan:


Pembaca yang Budiman, terima kasih atas dukungannya. Mari terus dukung Sang Musafir dan Jayamantingan hingga Kembangmas ditemukan!

__ADS_1


__ADS_2