Sang Musafir

Sang Musafir
Meninggalkan Istana


__ADS_3

PUAN Kekelaman membalas dengan yang begitu suara halus dan teduh, membuat Mantingan sejenak melupakan kecurigaannya. “Daku mengira kita telah saling mengenal, Pahlawan. Bukankah begitu?”


“Hanya sekadar sebutanmu yang kuketahui. Puan Kekelaman.”


“Mestikah juga dikau mengetahui namaku?”


“Kiranya dikau telah menjebakku dalam permainanmu, Puan, tak pantas engkau menjawabku seperti itu. Setelah kauketahui hampir segalanya tentang diriku, bahkan mungkin memang telah segala-galanya tentang diriku yang dikau ketahui, tetapi hanya sedikit saja yang kuketahui tentangmu. Dapatkah itu disebut adil?” Mantingan menjawab dengan dingin, bagai tak mementingkan perasaan orang lain maupun perasaannya sendiri oleh perkataan itu. “Daku hanya ingin mengetahui lebih banyak tentang orang yang telah berhasil membuatku terbuai dan terlena sedemikian jauh ke dalam jebakannya ini, setidaknya sebelum hayatku habis ditemui akhir.”


Mendapat balasan sedemikian itu, Puan Kekelaman tidak dapat langsung menjawab. Meskipun telah banyak menerima kata-kata pahit selama hidupnya, tetapi kepahitan yang dirasakannya dari perkataan Mantingan sungguhlah berbeda. Seolah kepahitan itu bukanlah yang sengaja dikeluarkan, melainkan sebaliknya sebab pada dasarnya apa yang dialami oleh pemuda itu sangat pahit.


“Namaku begitu hina untuk engkau ketahui, Pahlawan.” Puan Kekelaman tetap meneruskan langkah kakinya, tetapi kemudian kepalanya tertunduk perlahan-lahan. “Sebagai yang dikau katakan, itu benar. Daku telah menjebak dirimu hingga sedemikian jauhnya, sehingga kini pun engkau tak dapat keluar dari dampak oleh jebakan itu. Nama dikau sebagai pahlawan bagi orang banyak justru tercoreng akibat membantu diriku berlaku makar, padahal sebenarnyalah dikau sama sekali terpaksa melakukan itu. Inilah kesalahanku sepenuhnya. Katakanlah sesuatu yang kiranya dapat membayar semua itu.”


“Tidaklah daku pedulikan harum atau busuknya namaku, tetapi perkara orang-orang yang berharga bagiku ... daku tidak akan pernah bisa melupakan itu. Meskipun segala ini rupa bukanlah kesalahanmu penuh-penuh, tetapi biarkanlah daku mengetahui siapa namamu, agar tidaklah kuingat dirimu sebagai perempuan yang hanya dapat bersembunyi dalam kekelaman belaka.”


Lantas hening. Puan Kekelaman menolak untuk menjawab, atau paling tidak dirinya sedang mempertimbangkan semacam apakah jawaban yang dapat diberikannya. Jadilah mereka melewati lorong demi lorong, jalanan setapak demi jalanan setapak, ruangan demi ruangan, taman demi taman, dan bahkan sampai di tempat penyimpanan abu jenazah dengan senyap tanpa bersuara.


Mantingan langsung bersimpuh lutut ketika menghadap dua kendi besar yang berdiri saling bersebelahan. Mengatupkan tangannya, ia kemudian memejamkan mata. Mengheningkan suasana yang memang telah amat hening sejak sebelumnya. Memanjatkan doa-doa yang terbaik bagi dua pahlawan besar dalam hidupnya itu. Sembari kemudian mengenang kebaikan-kebaikan mereka semasa hidup.


Setelah beberapa lama dalam kedudukan itu, ia bangkit berdiri kembali.

__ADS_1


“Murid mungkin tidak akan pernah menjumpai Guru lagi. Tetapi bila ada kehidupan selanjutnya, Murid akan mencari Guru demi kembali menuntut segala pelajaran yang pernah engkau berikan. Kini Murid akan patuh dengan sepenuh-penuhnya kepatuhan kepada perintah Guru, bahwa tiada boleh kesenangan maupun kesedihan menjadi sesuatu yang berlarut-larut hingga menghambat segala sesuatu.” Mantingan mengucapkan kalimat terakhirnya. Tak terasa bulir-bulir air mata mengalir di pipinya yang mengeras.


Duhai, janganlah menganggap pemuda itu terlalu lemah. Siapakah kiranya yang tidak tahan menangis bila ditinggal oleh seorang guru yang bahkan telah menjelma menjadi orang tua pengganti baginya? Tidak ada yang dapat melakukan itu, termasuk pula dengan Mantingan. Tak peduli seberapa kuat bayangan orang-orang tentang dirinya, pemuda itu tetaplah memiliki perasaan.


Mantingan segera meninggalkan ruangan itu. Sebagai yang dikatakan gurunya, tidaklah boleh rasa sedih dibiarkan sampai berlarut-larut, tidaklah pula dengan rasa senang. Segala sesuatunya bila dilandasi perasaan semata hanya akan berakhir pada keterpurukan.


Mengetahui bahwa Mantingan akan segera meninggalkan istana, berkatalah Puan Kekelaman, “Sebelum dikau pergi, ambillah sesuatu di tempat ini sebagai tanda mata. Daku bisa menunjukkan gudang penyimpanan harta dan senjata pusaka di istana ini bila engkau kehendaki.”


Mantingan tidak menjawab, melainkan hanya menatap perempuan itu tajam-tajam. Tidakkah kiranya siapa pun dapat mengerti bahwa dirinya sama sekali tidak tergiur pada limpahan harta maupun senjata pusaka sakti mandraguna? Terlebih dalam keadaan seperti ini, tiada lagi Mantingan dapat memikirkan dua kesenangan hidup tersebut.


Setelah melepas tatapannya, Mantingan berjalan pergi meninggalkan Puan Kekelaman seorang diri. Itulah yang menjadi pertemuan terakhir bagi mereka.


“Tidakkah semua ini sudah terlalu jauh?” Dia berkata lirih pada dirinya sendiri, sebab memang tiada satupun lagi yang dapat mendengar suara lembutnya di tempat itu. “Batara Dewa, sahaya telah menghancurkan seorang muda. Sahaya telah membuat dirinya merasa sakit tak terperi yang tiada akan sembuh dengan air mata saja. Sahaya telah membuat namanya yang semula harum mewangi menjadi busuk membiru. Balasan seperti apakah yang pantas sahaya terima?”


Betapa pun hebatnya seorang Puan Kekelaman menyembunyikan segala tabiat aslinya di hadapan lawan bicara, sehingga dengan kehebatan itu mampulah dia menjebak Mantingan yang sebenarnya juga memiliki kemampuan membaca pertanda, tetapi dia tetaplah seorang manusia berperasaan yang lebih-lebih lagi berjenis perempuan.


Bila kemudian dirinya sendirian tanpa seorangpun melihat maupun mendengarnya, maka di sanalah dia akan berbicara  terus terang pada tanpa penyamaran maupun sandiwara sekecil apa jua. Di sanalah kemudian dia berserah diri pada dewa-dewa  yang masih diimaninya, memohon ampunan sekaligus pula memohon balasan yang pantas dijatuhkan padanya.


***

__ADS_1


KOTARAJA dilanda kesunyian yang luar biasa mencekam sebelum biasanya justru menjadi kota teramai di seluruh Dwipantara setelah Sundapura. Tentulah hal tersebut disebabkan oleh tindakan makar yang dilakukan oleh Puan Kekelaman yang membuat warga kota merasa was-was jika seandainya kekacauan meluas hingga keluar istana, sehingga memang tidak salah bila kemudian mereka memutuskan untuk menetap di dalam rumah saja.


Jalanan kotaraja justru lebih banyak dilalui oleh prajurit-prajurit yang meronda. Tentulah mereka masih merupakan prajurit yang sama dengan saat sebelum sang raja mati. Mereka memang tidak lantas mengadakan pemberontakan, sebab berpikir bahwa yang menempati tahta kedatuan masihlah merupakan bagian dari keluarga istana.


Ketika Mantingan mengingat tentang para selir yang terbunuh pada peristiwa malam itu, tidaklah ia dapat menahan kebimbangan benaknya mengenai keadaan Dara. Namun, kemudian diingatnya kembali bahwa Rashid melihat rombongan kelompok dagang milik Dara meninggalkan kotaraja dengan kecepatan tinggi di malam yang sama dengan peristiwa penyerangan itu.


Besar kemungkinan bahwa gadis itu masih bernapas hingga saat ini, tetapi tidak pula kecil kemungkinan bila ternyata dirinya ikut terbunuh bersama selir-selir lainnya. Mantingan hanya dapat berharap yang terbaik.


Sesampainya ia di kandang tempat penitipan hewan-hewan ternak, pula yang menjadi tempat menitipkan Munding Caraka, dilihatnya pintu gerbang bangunan itu tertutup rapat. Padahal biasanya, gerbang itu selalu dibuka lebar-lebar baik di waktu siang maupun malam tanpa terkecuali.


Terdapat sesuatu yang tidak wajar!


Mantingan segera melompati gerbang tersebut meskipun tidak memberoleh perizinan. Munding Caraka bisa saja berada dalam bahaya. Segera setelah itu, langkah kakinya bergerak menuju pintu bagian belakang bangunan yang beruntunglah masih terbuka.


Kehadirannya sontak mengejutkan orang-orang yang sedang bermain judi di dalamnya. Mereka tidak berpikir panjang untuk kemudian menarik belati yang terselip di sabuk pinggang. Bagaimanakah kiranya mereka bisa menganggap Mantingan sebagai teman yang datang baik-baik bila seluruh pintu masuk menuju bangunan itu seharusnya terkunci rapat-rapat?


“Siapakah dikau?” Salah satu dari mereka menatap pemuda itu dari atas sampai bawah. Melihat tampangnya yang sangat aneh. Sebilah pedang tak bersarung tersoren di pinggangnya, sedang di punggungnya terdapat sebuah kotak kayu panjang yang terikat erat dengan bentuk melintang.


Siapa pun yang melihat tampang seperti itu telah pasti tidak dapat berhenti menebak-nebak tentang jati dirinya. Tak sekalipun mereka melihat seorang pendekar penyoren pedang yang tidak membungkus pedangnya, terlebih-lebih kotak kayu panjang yang melintang di belakang tubuhnya itu tampak seperti tempat penyimpanan pedang. Mengapakah tidak ditaruhnya saja pedang tak bersarung itu pada kotak kayu tersebut?

__ADS_1


__ADS_2