
Meski pertemuan dengan dua wanita itu tidak pernah disesalinya, terutama terhadap pertemuannya dengan Bidadari Sungai Utara, Mantingan tetap berusaha menghindari segala pertemuan yang dapat berujung pada pengikraran janji, sebab betapa janjinya dengan Kenanga masih belum dilunasi hingga saat ini.
“Makanlah bersama kami.”
Ketika sedang terbenam dalam ingatannya saat masih bersama Bidadari Sungai Utara, Mantingan mendengar suara Chitra Anggini di belakangnya. Lantas ia berbalik meski tangannya masih pula memegang sebuah sikat gosok yang menempel di punggung Munding Caraka.
***
“Terima kasih atas tawarannya, tetapi lihatlah apa yang sedang kulakukan saat ini.”
MANTINGAN memang sengaja memperlihatkan bahwa dirinya sedang melakukan pekerjaan lain, yakni menggosok punggung kerbau yang dekil dan bau. Lantas siapakah kiranya yang akan dengan suka hati mengajak orang yang sedang tengah menggosok punggung kerbau seperti dirinya untuk bergabung dan makan bersama?
“Ketua yang mengajak dikau untuk makan bersama di sana. Jika dikau tidak mau, maka daku diminta untuk menemanimu makan di sini,” kata Chitra Anggini. “Betapa pun, dikau harus makan. Ketua selalu berusaha melayani tamunya dengan sebaik mungkin, dan dikau telah dianggap sebagai tamunya di sini.”
“Daku ....” Mantingan terdiam beberapa saat sebelum melihat Chitra Anggini mengedipkan sebelah matanya satu kali, maka begitulah ia lekas mengetahui apa yang mesti dilakukannya. “Daku merasa tidak sopan jika harus bergabung dan makan bersama kalian. Sebab betapa pun, satu-satunya lelaki di sini adalah diriku. Jika dikau hendak menemaniku makan di sini maka itu cukup baik, tetapi akan lebih baik lagi jika diriku makan seorang diri di sini.”
Mantingan tahu, betapa percakapannya dengan Chitra Anggini saat ini sedang didengarkan oleh Kartika yang seolah saja larut dalam obrolan bersama anak-anak buahnya. Maka dirinya pun juga mengetahui, betapa tawaran makanan yang telah disediakan oleh wanita itu sebaiknya tidak ditolak.
“Keputusannya tidak dapat diganggu gugat dengan sedemikian mudahnya. Daku akan membawakan sedikit makanan ke sini, dan kita akan makan bersama,” ujar Chitra Anggini dengan nada yang sebenarnya datar-datar saja, “ini bukan kehendakku, ini kehendak ketua.”
Mantingan menampilkan diri seolah seolah berpasrah. Tidak lebih dan tidak kurang dirinya hanya mengangguk. Meski sebenarnya ia senang, karena merasa akan mendapatkan banyak keterangan dari Chitra Anggini ketika sedang makan bersama. Bukankah itu sangat berharga?
__ADS_1
Maka dengan itu, Chitra Anggini berbalik dan berjalan pergi. Mantingan tidak lanjut menggosok kerbaunya, melainkan mengambil bumbung buluh berisi air bersih untuk mencuci tangannya.
***
“Jika diriku tidak salah, namamu adalah Chitrapala, bukan?”
MANTINGAN membuka percakapan manakala dirinya dan Chitra Anggini telah duduk berhadap-hadapan di atas selembar tikar anyaman daun pandan. Tepat di tengah mereka adalah daging ayam rebus tak berkuah yang dialasi daun pisang. Cukup memberikan suasana yang canggung bagi Mantingan, sebab dirinya benar-benar harus memakan ayam utuh itu berdua dengan Chitra Anggini. Dalam benaknya ia bertanya-tanya, tidak adakah piring atau semacamnya sehingga ayam tersebut dapat dibagi dua dalam wadah terpisah?
“Ya, benar.” Tangan Chitra Anggini tanpa ragu memotek salah satu paha ayam. Namun sebelum melahapnya, terlebih dahulu dirinya berkata, “tidak perlu malu-malu seperti itu, wahai lelaki bertampang muda yang bernama Mantingan. Cara makan kami memang seperti ini, agar terciptanya rasa kebersamaan yang erat. Lihatlah yang lainnya.”
Mantingan pun sebenarnya telah melihat bahwa perempuan-perempuan wayang lainnya menaruh makanan mereka di atas berhelai-helai daun pisang yang membentuk jejeran panjang, di sanalah mereka kemudian makan bersama sambil tertawa ria seolah tiada memiliki masalah yang telah lalu maupun yang sekiranys akan datang.
Berbeda dengan suasana makan pemain-pemain wayang lain yang semarak, suasana makan Mantingan dan Chitra Anggini justru hening dan bersuasana canggung. Tentulah hal tersebut disebabkan oleh Mantingan yang begitu tidak terbiasa makan berdua dengan seorang wanita dengan cara yang menurutnya cukup barbar.
“Apakah kiranya yang akan kalian lakukan di Lembah Balian?” Mantingan bertanya setelah dan sebelum dirinya kembali mengunyah.
“Menari.” Chitra Anggini menjawab singkat. “Apakah dikau tidak bisa melihat pakaian yang kami kenakan dan alat bebunyian kami miliki? Atau bagaimana?”
“Daku tahu. Akan tetapi, daku masih heran mengapa Lembah Balian yang biasanya begitu sepi dan seolah tidak berharga itu kini dijaga oleh begitu banyak prajurit, yang saking banyaknya sampai harus menyewa rombongan besar pemain wayang seperti ini.”
Chitra Anggini melirik Mantingan barang sekejap sebelum akhirnya menjawab, “Tempat itu menjadi begitu berharga setelah kabar burung tersiar tentang Pemangku Langit. Tapa Balian, sebagai penempa pusaka paling handal di wilayah Suvarnabhumi bagian timur, menjadi buruan bagi pendekar-pendekar yang berhasrat untuk meraih kewibawaan Pemangku Langit. Sehingga memanglah wajar jika tempat itu dijaga oleh seribu prajurit.”
__ADS_1
Mantingan mengerutkan dahinya. Sebelumnya ia menduga bahwa hanya ada sekitar lima lusin prajurit yang menjaga Lembah Balian, itu saja merupakan perkiraan paling banyak. Namun, kini ia mendengar dari mulut Chitra Anggini bahwa tempat itu dijaga oleh seribu prajurit banyaknya. Bukankah hal tersebut menandakan seberapa penting dan gentingnya permasalahan yang tengah terjadi? Mantingan pula menyorot “Pemangku Langit” yang Chitra Anggini bicarakan. Mungkinkah itu permasalahannya? Tetapi apakah itu Pemangku Langit?
“Tentang Pemangku Langit ... apakah itu?”
“Jika daku ceritakan kepadamu, rasanya akan sia-sia saja. Ini berkaitan dengan dunia persilatan yang sudah tentu akan sulit dipercaya oleh orang awam seperti dirimu.”
Mantingan berdecak kagum dalam benaknya. Chitra Anggini telah memainkan perannya dengan sangat baik. Seolah saja percakapan antara mereka berdua adalah sebenar-benarnya percakapan antara dua orang yang tidak saling mengenal sebelumnya.
“Daku memang pantas dikata sebagai orang awam, tetapi biarpun begini diriku tetap mempercayai adanya dunia persilatan. Daku telah melihat sendiri bagaimana pendekar-pendekar berkelebatan dan saling bertarung di udara, yang berlangsung sedemikian cepatnya hingga mataku tidak dapat melihat dengan begitu jelas.”
Chitra Anggini mengangkat sebelah alisnya. “Jadi dikau telah mengetahui bahwa peristiwa yang terjadi di Tarumanagara lima bulan lalu disertai pula dengan campur tangan para pendekar di dunia persilatan?”
Mantingan menganggukkan kepalanya. “Daku mengetahui dan daku percaya akan hal itu. Sekarang katakanlah apa itu Pemangku Langit.”
Chitra Anggini terdiam barang sejenak. Ditatapnya Mantingan dengan lamat-lamat. Seperti menemukan sesuatu, dia menyunggingkan senyum penuh arti. Mulailah perempuan muda itu menjelaskan.
Pemangku Langit adalah istilah yang digunakan untuk menyebut pendekar-pendekar terkuat yang mampu menguasai dunia persilatan. Dunia persilatan yang dimaksud tidaklah terbatas hingga Dwipantara saja, melainkan pula hingga Negeri Atap Langit dan Jambhudvipa. Itu berarti, Champa, Funan, dan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya turut masuk.
Pembentukan Pemangku Langit tercetuskan setelah diadakannya pertemuan rahasia antara para raja dari negeri-negeri tersebut. Pertemuan itu dilangsungkan secara sembunyi-sembunyi dan tidak pernah diumumkan secara resmi, meski dunia persilatan telah membuktikan bahwa kabar itu benar adanya.
Pembentukan Pemangku Langit juga sebagai tanggapan atas kekacauan yang terjadi di Javadvipa, yang hampir saja turut melibatkan Champa dalam peperangan berdarah. Tetapi nyatanya, kekacauan kecil seringkali terjadi di negeri-negeri luar, yang selalu saja terdapat campur tangan dari para pendekar dunia persilatan.
__ADS_1
Pemangku Langit adalah sekumpulan orang-orang yang bertugas untuk menjaga keseimbangan dunia persilatan, meski tidak berarti keteraturan untuk selamanya. Terkadang keseimbangan pula membutuhkan ketidakteraturan. Pemangku Langit hanya akan diisi oleh pendekar-pendekar yang memang telah menguasai dunia persilatan atau yang sekiranya mampu mengambil kekuasaan di dunia persilatan.
“Jumlah Pemangku Langit telah ditentukan sebelumnya. Dwipantara diberikan jatah dua tempat duduk bagi para pendekarnya untuk menempati Pemangku Langit. Dan hal itulah yang menyebabkan dunia persilatan Dwipantara sekali lagi kembali bergejolak, sebab terjadi persaingan antara pendekar-pendekar papan atas di telaga persilatan, rimba persilatan, dan bahkan dunia persilatan bawah tanah,” jelas Chitra Anggini. “Mereka memperebutkan satu kursi yang tersisa, sebab satu kursi telah pasti ditempati oleh Pahlawan Man dari Tarumanagara.”