Sang Musafir

Sang Musafir
Ramuan Maman


__ADS_3

AKAN TETAPI, Bidadari Sungai Utara justru menggeleng. “Daku hanya melakukan tugas dan janjiku sahaja. Niatku tidak lebih dari itu. Saudara jangan terlalu berprasangka baik kepadaku.”


“Yakinkah dikau tidak tertarik jika kutawarkan kitab ini?” Mantingan mengangkat keropak Kitab Teratai, tampaknya memang sengaja menunjukkan itu kepada Bidadari Sungai Utara.


Bidadari Sungai Utara terdiam cukup lama. Tentu saja ia harus mengambil keputusan untuk menerima atau menolak tawaran Mantingan. Jika dipikir-pikir kembali, maka tawaran Mantingan sangat menguntungkan dirinya. Namun Bidadari Sungai Utara merasa tidak pantas mendapatkan kitab itu. Malam tadi, ia hanya melaksanakan janjinya untuk mengamankan Mantingan, bukan karena ia ingin meminjam kitab itu di lain hari.


Namun biar bagaimanapun juga, Kitab Teratai terlalu berharga untuk dilewatkan hanya karena rasa gengsi. Bidadari Sungai Utara tidak bisa memungkiri bahwa dirinya cukup penasaran dengan isi Kitab Teratai. Bahkan ia berkeinginan untuk mempelajarinya.


Menolak tawaran Mantingan adalah tindakan yang teramat-amat bodoh, maka dari itu Bidadari Sungai Utara memilih untuk menerimanya. “Daku akan meminjamnya darimu jika diriku membutuhkannya.”


Kemudian Mantingan mengangguk puas. “Datanglah ke ruanganku jika Saudari membutuhkannya.”


Mantingan menarik diri ke belakang, hendak pergi dari meja itu. Namun ditahan oleh Bidadari Sungai Utara, entah apa maksud dan keinginannya.


“Apakah Saudari ingin meminjam Kitab Teratai sekarang juga? Ini jika engkau mau.”


“Tidak. Diriku hanya ingin mengingatkanmu bahwa pada siang hari nanti datanglah ke Toko Obat Wira. Ibu Wira mengabarkan kepadaku, bahwa ramuannya akan selesai siang ini juga, dia memintamu untuk datang ke sana.”


Mantingan mengangguk, lalu tampaklah ia baru saja teringat sesuatu. “Saudari, bagaimanakah dengan anak-anak?”


“Kina dan Kana? Bukankah mereka baru saja pergi jalan-jalan?”


“Bukan itu. Bagaimanakah tanggapan mereka setelah kita pulang tanpa membawakan hadiah yang telah kita dijanjikan? Apakah mereka menjadi kecewa?”


“Seperti yang tadi Saudara lihat, mereka tidak kecewa. Diriku telah menceritakan bahwa kita diserang—tentu tidak kuceritakan soal pembunuhan, sehingga mereka mengerti dan tidak mempersalahkan hal itu. Mereka jauh lebih senang setelah kita pulang dalam keadaan yang utuh dan selamat.”


Tanpa sadar, Mantingan menyunggingkan senyum senang. “Kana dan Kina memang bukan anak biasa, merekalah cerdas.”

__ADS_1


“Mereka dipaksa dewasa lebih dini oleh keadaan. Itulah yang membuat mereka cerdas."


“Ya, aku tahu itu.” Mantingan mengangguk pelan sambil mengembuskan napas. “Kuharap Saudari bisa menjadi sosok pengganti ibu bagi mereka. Mereka telah kehilangan sesuatu, yang mungkin hanya bisa didapatkan kembali melalui diri Saudari.”


Bidadari Sungai Utara hanya terdiam. Namun telah tampak dirinya akan melakukan itu meskipun Mantingan tidak memintanya. Mantingan tersenyum lega sebelum berbalik dan pergi.


***


SIANG ITU, Mantingan pergi ke Toko Obat Wira. Namun kali ini, ia datang bersama Kana dan Kina. Mantingan merasa akan berbahaya jika meninggalkan mereka sendirian di rumah tanpa penjagaan. Mengingat Kitab Teratai ada di tangan Mantingan. Bukan tidak mungkin ada yang bermaksud mencuri kitab itu. Dan bukan tidak mungkin pula ada yang berusaha membalas dendam.


Tentu saja, Mantingan tidak meninggalkan rumahnya tanpa pengamanan yang ketat. Andaikan seseorang mau mencermati, maka akan ditemukannya puluhan Lontar Sihir Penjebak yang tersebar di mana-mana. Sangat tidak mungkin bagi seorang pendekar dapat masuk jika tidak terluka. Dan sangat tidak mungkin pula bagi seorang ahli sihir dapat masuk jika tidak memakan waktu satu hari satu malam.


Saat itu, Kina dan Kana sedang bermain di halaman belakang Toko Obat Wira. Sedangkan Mantingan, Bidadari Sungai Utara, dan Wiranti sedang berada di dalam ruang pengobatan. Toko ditutup untuk sementara.


Telah nampak dari awal bahwa Mantingan merasa tidak enak. Bukannya ia tidak suka pada ruang pengobatan yang hanya memiliki satu obor sebagai pencahayaan, bukan juga karena aroma obat-obatan yang menyeruak masuk ke dalam hidungnya. Namun, ia tidak enak pada semua pelayanan yang ditunjukkan padanya. Menurutnya, itu terlalu berlebihan.


“Ibu Wira, sesungguhnya engkau bisa kembali membuka toko, tidak perlu berlebihan memikirkan diriku ini.”


Mantingan tersedak napasnya sendiri setelah mendengar itu. Wajahnya tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja didengar telinganya. Apakah Wiranti berusaha menjadikannya katak percobaan?


“Tenang saja, Saudara Man.” Bidadari Sungai Utara melihat perubahan di wajah Mantingan, langsung menenangkannya. “Bahan-bahan yang terkandung di dalam ramuan itu telah dipastikan tidak berbahaya bagi tubuh.”


“Bahkan setelah digabungkan menjadi satu ramuan?”


Bidadari Sungai Utara dan Wira sama-sama menganggukkan kepala. “Jangan menganggap kami sebagai orang yang kejam.”


“Tentu tidak, aku tidak berpikiran seperti itu.” Mantingan tertawa canggung. “Kapankah harus kuminum ramuan itu?”

__ADS_1


“Jika Anak Man sudah siap.” Wiranti yang menjawab, sambil tersenyum.


Di dalam benak seorang Mantingan, sebenarnya ucapan Wiranti itu kembali membuatnya curiga. Mengapakah harus menunggu siap terlebih dahulu? Namun sebagai seorang lelaki, Mantingan menjawab dengan tegas, “Aku sudah siap, Ibu Wira.”


“Bagus, aku suka kepercayaan dirimu.” Ibu Wira terlihat mengambil sesuatu di bawah meja pengobatan. “Ini adalah Ramuan Maman, engkau pasti tahu dari mana nama ramuan ini diambil.”


Mantingan tertawa malu. “Ini dari Kina.”


“Ya, itu benar. Kuharap ini bisa bekerja dengan baik pada Anak Maman.”


Candaan orang sepuh itu sebenarnya tidak mampu membuat Mantingan tertawa, akan tetapi pemuda itu tetap tertawa demi menghormati Wiranti yang telah susah payah membuatkan ramuan ini untuknya.


Mantingan kemudian memandangi bumbung buluh berisi penuh oleh ramuan itu. Tersenyum samar. Membayangkan bagaimana rasanya setelah terecap oleh lidah.


“Silakan diminum, Anak Man, jangan malu-malu.”


Mantingan mengangguk sekali lagi. Meraih bumbung buluh itu dan membuka tutupan di atasnya, dan tanpa ragu memasukkan semua cairan ke dalam mulutnya. Mantingan segera menutup mulutnya rapat-rapat, mencegah dirinya sendiri memuntahkan ramuan itu.


Duhai. Betapa kernyit pada dahi Mantingan telah mengisyaratkan rasa racun yang sedemikian pahit. Bahkan tubuh pemuda itu mulai meringsut. Namun, tidak sedikitpun membuang ramuan di dalam mulutnya itu. Tidak di depan Ibu Wira dan Bidadari Sungai Utara. Mantingan menelan semua ramuan itu ke dalam tenggorokannya, tetapi rasa pahit masih merangkul erat lidahnya.


“Diriku memang tidak memusatkan perhatian pada rasa ramuan. Jadi maafkanlah jika rasanya kurang sedap.”


Mantingan menunjukkan senyumnya yang kaku dan mengangguk pelan. Baginya, rasa pahit dari racun itu tidak seberapa jika harus ditukar dengan kesehatannya. Rasanya bukan saja kurang sedap, namun memang sangat-sangat tidak sedap.


____


catatan:

__ADS_1


Banner bagi yang mau memperkenalkan Sang Musafir:



__ADS_2