Sang Musafir

Sang Musafir
Mantingan Membunuh


__ADS_3

Mantingan terus menerjang, tidak ada keraguan lagi dalam dirinya. Sedangkan orang yang diserang segera membuat gerakan cepat meraih belati di pinggangnya, lalu ia mengayunkan itu untuk menangkis tongkat Mantingan.


Tetapi apalah daya sebilah belati melawan terjangan tongkat Mantingan yang terlampau kuat dan cepat itu? Maka si musuh menghindar dengan cara berguling ke belakang jika tak ingin kena sambaran tongkat Mantingan itu. Mantingan melayang di atasnya sebelum mendarat lagi bertepatan dengan musuh yang telah bangkit berdiri.


Mereka sama-sama berhadapan dan memasang kuda-kuda, tetapi tidak ada di antara keduanya yang menyerang.


Mantingan masih memikirkan cara terbaik untuk menyerang selagi tongkatnya dihunuskan, begitu pula musuhnya yang tak mau menyerang sebelum berpikir matang. Tongkat Mantingan dirancang bukan untuk menyerang, sehingga akan berbahaya jika Mantingan menyerang secara tergesa-gesa walau senjatanya jauh lebih panjang ketimbang belati musuh, sebab tongkatnya tidak terlalu ampuh melukai musuh.


Musuh juga mempertimbangkan cara menyerang yang dapat memenangkannya karena senjata Mantingan itu terlampau panjang ketimbang belati miliknya


Maka Mantingan mencoba jalan yang lebih damai.


“Siapakah dirimu? Katakan!”


“Haruskah aku katakan padamu?”


Saat itu musuh lengah, walau sedikit tetapi Mantingan segera mengambil kesempatan itu sangat cepat. Ia menusukkan tongkatnya pada bagian sebelah kanan perut orang itu, bagian yang pengamanannya sedikit.


Serangan Mantingan itu tentu mengejutkan musuh, ia sabetkan belatinya ke arah ujung tongkat, tetapi tongkat terus melaju walau belati itu telah menghantam. Mau tidak mau, ujung runcing dari tongkat itu mengenai sasaran, merobek pakaiannya hingga menembus kulit perut. Tetapi dia melompat mundur hingga tusukan itu tidak terlalu dalam dan tidak juga menimbulkan luka serius.


Kembali mereka saling bertatapan dan memasang kuda-kuda. Kembali juga Mantingan mengajukan jalan yang lebih damai.


“Siapa dirimu? Katakan!”


“Biar kukatakan namamu biar kau tidak mati penasaran!” katanya sebelum menyerang bertubi-tubi. “Namaku Wasupati, wahai orang asing!”


Mantingan terus menangkis serangan orang itu menggunakan tongkatnya dan terus menerus menghindar dari serangan yang membabi buta itu. Di ruangan yang kecil seperti ini, menggunakan senjata panjang seperti tongkat atau tombak bukanlah pilihan yang bagus. Tetapi, jika mendengar kata orang itu, maka namanya Wasupati. Siapakah Wasupati itu? Mungkinkah dia adalah kelompok rampok dahulu kala yang berniat balas dendam pada Mantingan? Tetapi itu agak mustahil. Mungkin saja orang ini tidak memiliki sangkut paut apa pun dengan Mantingan, Rara, maupun Arkawidya sekalipun.


Di sini adalah tempat pelacuran rahasia, tindak kejahatan bisa saja terjadi di sini. Tak terkecuali apa yang ada di depan Mantingan saat ini.

__ADS_1


Pertarungan terus berlanjut, Mantingan masih belum terluka, sabetan belati dari musuh belum mengenainya. Sedangkan musuh mulai kehilangan cukup banyak darah akibat tusukan tongkat Mantingan itu. Maka dengan itu, tenaganya lebih cepat berkurang dan serangannya mulai melambat.


Kini Mantingan mulai membalas serangan. Semulanya ia hanya dapat bertahan saja. Serangannya berupa tusukan yang gencar mengincar titik-titik mematikan di bagian tubuh musuh. Banyak serangan Mantingan yang hanya mengenai angin kosong ataupun mengenai tangkisan musuh, tetapi terdapat pula serangan-serangan yang berhasil menembus kulit musuh.


Darah telah membasahi baju orang itu dan lantai kamar, sampai akhirnya ia bersandar di tembok dan tanpa sadar melepas belatinya. Napasnya terengah-engah, dua tangannya berusaha menutupi luka-luka di mana darahnya terus mengucur.


Mantingan mendekat, dengan masih mengacungkan ujung tongkat. “Ada masalah apa dirimu dengan kami?”


Orang itu tertawa terbahak-bahak. Mulut mengeluarkan banyak darah. “HAHAHAHA! Ingatlah, wahai orang asing! Penginapan Tanah akan mencarimu hingga lubang cacing sekalipun! Ingatlah!”


Orang yang bernama Wasupati itu tersedak beberapa kali sebelum tubuhnya melorot ke bawah, nyawanya melayang tepat di situ.


Mantingan kini berada dalam pikiran yang sangat-sangat kacau balau. Apa hubungan Penginapan Tanah dengan Rara? Apakah Wasupati hanya bermaksud untuk mencuri Rara saja, tanpa ada maksud membalas dendam karena suatu peristiwa masa lampau yang tidak Rara ceritakan?


Dan terlebih kini Mantingan telah membunuh manusia, sebuah pelanggaran berat baginya. Ia telah menyalahi janjinya dengan Kenanga bahwa dirinya tidak akan bermain kasar dalam tugas menemukan Kembangmas.


Wasupati terbunuh di tombaknya, dan tombaknya itu digerakkan oleh tangannya, dan tangannya digerakkan otaknya. Apakah harus Mantingan salahkan otak saja? Tapi bagaimana bisa otak menyalahi otak?


Tidak banyak waktu untuk berpikir. Mantingan harus segera melarikan Rara tepat waktu. Maka lekas ia mengambil belati musuh yang tergeletak di lantai dan buru-buru menghampiri Rara.


“Maaf aku sedikit terlambat,” katanya sambil menggesekkan mata belati ke tali yang mengikati Rara.


Tak butuh waktu lama sampai tambang itu putus dan membebaskan Rara. Mantingan juga melepas sekapan di mulut Rara.


Dengan air mata berurai, Rara bangkit dan memeluk Mantingan erat-erat.


Apakah ini? Mantingan sangat tidak terbiasa dengan pelukan wanita. Haruskah ia menganggapnya biasa-biasa saja? Mantingan tidak membalas pelukan Rara.


“Terima kasih, Mantingan, terima kasih.”

__ADS_1


Mantingan bergerak melepas pelukan Rara, tak ada cukup banyak waktu untuk berpelukan.


“Rara, kita harus segera naik ke atas.” Mantingan menghapus air mata Rara dengan kain jubahnya, Rara tidak boleh terlihat dalam kondisi menangis atau rencana bisa terganggu. “Lekaslah ambil buntelanmu, jangan bersedih, semuanya baik-baik saja.”


Sayang sekali, Rara menganggap tindakan Mantingan itu dengan arti yang lain. Tetapi dirinya tahu, bahwa bukan saatnya mereka menyibukkan tentang perasaan.


Mantingan membersihkan ujung tombaknya dari darah dengan baju musuhnya, Wasupati, yang telah tergeletak mati itu, lalu mereka keluar dan mengunci pintu.


Mereka melangkah setengah berlari di tangga, Mantingan memimpin di depan. Tangannya mencengkeram erat tombak pembunuh itu, agar bisa menyerang atau bertahan saat dibutuhkan. Mantingan tidak ragu untuk menyerang lawan yang berani menghalangi langkahnya saat ini, bahkan tidak apa jika harus membunuhnya sekalipun.


Mereka sampai di lantai pertama. Birawa sudah terlihat berbicara dengan Arkawidya di meja penerimaan tamu. Merek terlihat berbicara sebagai pelanggan dengan pelayan saja, tetapi yang mereka bicarakan sungguh di luar itu semua.


Sampai saat Birawa menyadari kehadiran Mantingan dan Rara, ia menghentikan percakapannya dengan Arkawidya, kemudian ia mengangguk penuh arti pada cucunya itu. Birawa menoleh pada Mantingan dan menunjuk pintu keluar dengan gerakan matanya. Arkawidya berjalan cepat keluar dari meja penerimaan tamu.


Mantingan mengerti, cepat ia meraih lengan Rara, menariknya arah pintu luar bersamaan dengan langkah jalannya Arkawidya.


“Jangan bergerak!”


Seisi ruangan dikejutkan oleh suara keras yang entah ditunjukkan untuk siapa. Tetapi Mantingan tidak mengindahkan perintah itu, terus berjalan.


“Kalian melangkah satu langkah lagi maka aku selesaikan hidup kalian!”


Suara itu muncul lagi, tapi disambung suara Birawa yang tidak kalah kerasnya.


“Terus berjalan!”


Mantingan merasa bahwa kekuatan Birawa sanggup untuk melawan siapa pun di penginapan ini, hingga ia tetap menarik lengan Rara dan mengajaknya terus melangkah. Arkawidya yang mengenal betul kakeknya juga tetap melangkah, bahkan tambah cepat dan lebar saja langkah kakinya.


Sedikit lagi Mantingan meraih gagang pintu keluar, tubuhnya dan tubuh Rara tiba-tiba saja terhempas angin hingga hampir terjatuh. Mantingan pernah mengalami hal ini sebelumnya di rumah Satya, telah pecah suatu pertarungan di sini!

__ADS_1


__ADS_2