Sang Musafir

Sang Musafir
Kejutan Pagi


__ADS_3

Chitra Anggini mengangkat salah satu ujung kertas peta itu dan mengamati bagian bawahnya. “Tintanya tidak sampai menembus hingga ke belakang kertas. Kau memang benar, cairan tinta langsung mengering sesaat setelah dilukiskan. Itu artinya ....”


“Udara terlampau dingin saat peta ini dibuat,” pungkas Mantingan. “Negeri Atap Langit ....”


“Itu artinya, peta ini tidaklah resmi dari kerajaan. Dengan kata lain, peta ini tidak dicuri sama sekali.”


“Tetapi siapakah yang dapat memetakan seluruh seluk-beluk bangunan bawah tanah Istana Koying sedangkan belum pernah ada peta resmi dari kerajaan untuk dijadikan rujukan?”


“Itu artinya, ada orang dalam istana yang berkhianat pada pihak luar.” Chitra Anggini mengelus dagu. Tidak terlalu yakin dengan apa yang baru saja diucapkannya.


“Jika memang begitu, peta yang kita dapatkan ini hanyalah salinan belaka.”


“Dan jika ada salinan lainnya ....”


“Maka kita bukan satu-satunya yang sedang merencanakan penyusupan ke istana.”


“Dan semuanya berencana masuk melalui bangunan bawah tanah istana.” Chitra Anggini menyentuh batang hidungnya. Alisnya tampak berkerut. “Ini kebetulan belaka? Atau memang terdapat sesuatu di istana yang membuat musuh serempak ingin menyusup?”


“Kurasa ada.” Mantingan melipat tangannya ke depan sambil memejamkan mata. “Agaknya Koying telah merebut banyak pusaka secara paksa untuk mendapatkan wibawa Pemangku Langit yang tersisa. Hal itu jelas mendatangkan penyusup-penyusup dari kalangan yang diambil secara paksa pusakanya, atau dari kalangan yang sekadar ingin mencuri pusaka-pusaka berharga itu.”


“Itu artinya, nasib kita berdua sama seperti yang lainnya?”


Mantingan mengangguk pelan. Matanya masih terpejam. “Nasib Puan Kekelaman juga seperti kita.”


Kini Chitra Anggini menatap Mantingan. Matanya masih cermelang seperti biasanya, tetapi pandangannya sangat dalam. “Apakah kita akan menganggap mereka sebagai teman atau malah musuh?”


“Jawaban untuk pertanyaanmu itu masih remang-remang. Mereka bisa menjadi musuh, teman, atau bahkan tidak keduanya.” Mantingan tersenyum masam.


...****************...


“Jika mereka menyusup di jalan yang sama dengan kita berdua, apakah tidak sebaiknya kita mencari jalan yang lain saja?”


MANTINGAN mengangguk pelan meski itu sama sekali berarti tidak setuju. Ia mampu memahami apa yang dipikirkan oleh Chitra Anggini. Pertarungan di tempat rahasia, terlarang, remang-remang, dan sekaligus berbahaya merupakan suatu hal yang sama sekali tidak baik. Segalanya dapat menjadi tidak terkendali!

__ADS_1


“Kita tidak tahu mana yang terbaik untuk saat ini,” kata Mantingan. “Aku masih belum berjumpa dengan Puan Kekelaman untuk memastikan keaslian peta ini.”


Mantingan kemudian menjelaskan betapa peta yang ada di hadapan mereka saat ini bisa saja merupakan jebakan. Sengaja memancing pendekar-pendekar yang berniat menyusup untuk berdatangan, menampilkan seolah istana yang menaungi kotaraja sebesar ini memiliki pertahanan yang lemah sehingga menggoda untuk disusupi.


“Segala kemudahan itu terlalu aneh,” balas Chitra Anggini yang agaknya telah sepemikiran dengan Mantingan. “Dan aku juga merasa bahwa Puan Kekelaman memberikanmu kemudahan yang terlalu banyak untuk menyusupi istana. Bukankah perempuan yang menutupi sekujur tubuhnya dengan tabir hitam itu berkata bahwa dirinya berada di dalam istana dan bersumpah tidak akan keluar dari sana sebelum kitab milik perkumpulannya didapatkan kembali? Mengapa tidak dia sendiri saja yang mengambilnya? Itu pasti akan lebih mudah.”


“Kurasa, dia tidak memiliki kekuatan.” Dengan perkataannya itu, Mantingan secara tidak langsung mengungkapkan bahwa dirinya memiliki cukup kekuatan untuk mengharu-biru istana Koying meski hanya untuk sementara waktu.


“Orang-orang di perkumpulannya telah pasti memiliki kemampuan tinggi dalam ilmu sihir, sebab Koying tidak memperkerjakan orang-orang lemah untuk menjaga istananya. Kurasa, itu lebih dari cukup untuk mendapatkan kitab mereka kembali.”


“Kita masih belum mengetahuinya secara persis, sebab Puan Kekelaman masih belum lengkap memberi keterangan-keterangan penting kepadaku.”


Chitra Anggini lantas menganggukkan kepalanya perlahan. “Agaknya, kita baru benar-benar bisa menyusun rencana penyusupan setelah keluar dari pusat penampungan ini.”


“Aku lebih suka menyebutnya sebagai rencana penyelamatan.” Mantingan tersenyum lebar dengan telapak tangan terkepal erat.


***


PAGI menjelang. Mantingan membuka mata dengan kesadarannya. Dirasakannya sebuah benda ramping merangkulnya, terasa seperti tangan manusia! Mata Mantingan lekas menoleh ke samping. Terbialak!


Mantingan sebenarnya ingin segera melompat pergi dari ranjang itu, tetapi betapa disadarinya bahwa hal itu hanya akan membuat Chitra Anggini terbangun dalam keadaan terkejut. Jika sudah seperti itu, pastilah dia akan mengamuk!


Lebih-lebih lagi, wajah Chitra Anggini yang teramat damai itu bagai memberi larangan keras bagi siapa pun yang hendak membangunkannya. Kulitnya yang sewarna langsat tampak bersinar, meski pencahayaan kamar itu remang-remang sebab hanya ada satu buah obor yang masih menyala. Bibirnya terkatup dalam senyuman khidmat. Matanya terpejam sempurna. Napasnya teratur.


Setelah semua itu, siapakah kiranya yang tega membangunkannya?


Mantingan tersenyum tipis. Tangan kirinya bergerak mengelus rambut Chitra Anggini dengan lembut. Penuh kehangatan.


Namun betapa pun kasih sayang yang Mantingan tunjukkan pada perempuan itu, Mantingan tidak pernah menganggap Chitra Anggini lebih dari seorang adik yang mesti dilindungi dengan segenap jiwa dan raga. Tidak juga kurang.


Akankah Chitra Anggini kecewa dengan kenyataan itu? Entahlah. Sudah dua kali Mantingan jatuh cinta pada dua wanita yang berbeda. Rasa-rasanya, ia tidak akan bisa jatuh cinta untuk yang ketiga kalinya.


Ia memang menyayangi Chitra Anggini, tetapi dengan pemahaman yang berbeda. Kasih sayang seorang kakak kepada adiknya.

__ADS_1


Chitra Anggini membuka mata dengan segenap kewaspadaannya. Agaknya belaian tangan Mantingan pada rambutnya telah mengganggu tidur perempuan yang betapa pun adalah seorang pendekar itu. Bukankah pendekar dituntut untuk selalu memasang kewaspadaan sekalipun di dalam tidurnya?


Menyadari bahwa Mantingan sedang mengelus rambutnya, raut wajah Chitra Anggini berubah menjadi masam. “Sudah kukatakan bahwa aku tidak suka kausentuh, bukan?”


“Rambutmu berantakan.” Mantingan tersenyum kaku. Beralasan. “Lagi pula, lihatlah saat ini tanganmu sedang berada di mana.”


Chitra Anggini melirik kedua tangannya sendiri, sebelum kembali menatap langsung ke wajah Mantingan. Tidak terlihat tanda-tanda rasa malu barang sedikitpun pada diri perempuan itu. Wajahnya tidak memerah. Pandangan matanya tidak berpindah. Bahkan, pelukan itu semakin erat adanya!


“Udara di kotaraja terlalu dingin,” katanya sambil memejamkan mata. “Aku masih mengantuk.”


“Tidurlah sepulas dan selama yang kaukehendaki, tetapi lepaskan aku sekarang.” Mantingan berkata dengan suara keras. Tegas. Tidak mau dibantah.


“Bersantailah barang sejenak. Kita masih memiliki waktu tiga hari lagi di tempat terkutuk ini. Lagi pula, memangnya kamu hendak pergi ke mana? Tiada sesuatupun di pusat penampungan ini, dan pagi masih terlampau dingin. Tetaplah di sini bersama Chitra, berkemul di dalam selimut.”


Mantingan mengangkat kedua alisnya dengan mulut sedikit terbuka. Agaknya masih cukup sulit mempercayai apa yang dikatakan perempuan itu.


“Chitra, sebagai wanita, kau memiliki sikap yang terlalu malas.” Mantingan menggeleng pelan sebelum mencoba bergeser ke pinggiran ranjang. Namun, Chitra Anggini menariknya kembali.


“Jangan pergi.”


“Chitra, jangan membuatku marah. Ini tidak benar.” Mantingan mulai bersungguh-sungguh, tetapi agaknya sikap itu tidak mampu dimengerti oleh Chitra Anggini yang kesadarannya belum pulih semua.


“Jangan membuatku marah juga, Mantingan. Kau jelek sekali sikapnya, selalu meninggalkan wanita setelah membuatnya jatuh cinta. Kau perlakukan Rara seperti itu; Lien pun mengalami nasib buruk yang tak jauh berbeda dengannya. Setelah ini kauhendak mengecewakan wanita lagi, wahai Pahlawan Man yang durjana dan tidak tampan sama sekali? Siapa lagi wanita yang hendak kaubuat kecewa, siapa lagi ....”


Mantingan mengembuskan napas panjang. Betapa diketahuinya bahwa Chitra Anggini mengucapkan semua itu dalam keadaan setengah sadar. Memang bagusnya tidak dimasukkan ke dalam perasaan.


Untuk dapat lepas dari pelukan Chitra Anggini tanpa membuat perempuan itu kecewa, Mantingan merasa bahwa pemaksaan tidak akan banyak berguna. Diambillah jalan kelembutan, seperti yang pernah dilakukan Sasmita kepadanya, yakni dengan mengalirkan tenaga prana pada tubuh Chitra Anggini hingga perempuan itu terlelap dengan sepulas-pulasnya.


“Mantingan, ini ....”


Chitra Anggini tidak sempat menuntaskan perkataannya. Perempuan itu lunglai. Tenaganya merosot, tidak lagi merangkul Mantingan terlalu erat. Usailah dia. Tertidur pulas.


Mantingan masih mengalirkan tenaga prana pada Chitra Anggini hingga beberapa saat sebelum akhirnya melepaskan diri dari rangkulan perempuan itu.

__ADS_1


Mantingan memperbaiki letak selimut hingga sempurna menutupi tubuh itu hingga batas leher gadis itu. Tersenyum sambil menggelengkan kepala, Mantingan melangkah pergi dari kamarnya.


__ADS_2