
Pertanyaan itu berhasil membuat Mantingan tersedak ludahnya sendiri.
“Apa tadi yang kautanyakan, Rara?”
Rara menarik napas, memberanikan diri untuk kedua kalinya.
“Apakah dirimu sudah berpasangan?”
“Tentu tidak, Rara. Jika saja aku punya pasangan, maka tidak mungkin diriku berkelana sampai jauh-jauh seperti ini.” Mantingan menahan tawanya saat ia berbicara.
Rara mengumpulkan keberanian untuk yang kesekian kalinya. “Apakah kau mau menjadi pasangan hidupku, Mantingan?”
Mantingan terhenti gerakannya, memastikan telinganya tidak salah dengar.
“Apakah aku salah dengar, Rara? Baru saja kau mengatakan ....”
“Kau tak salah dengar, Mantingan.”
Sampai pada akhirnya ia menghela napas, ia sudah menebak bahwa Rara mungkin saja akan bertanya seperti ini. Dan benarlah saat ini hal itu terjadi, maka telah ia persiapkan jawabannya sejak awal.
“Rara, aku sangat menghargai itu. Tetapi engkau lihat sendiri, aku sedang bertugas. Pertanyaanmu ini akan aku jawab saat kita bertemu lagi, Rara, dan jika engkau bertanya lagi kepadaku. Tetapi engkau dapat berubah pikiran selama aku pergi. Aku bukanlah pria yang baik.”
Rara menunduk menatap lantai ruangan sebelum menganggukkan kepalanya. “Aku tidak akan berubah pikiran, Mantingan. Dan kau perlu tahu, bahwa dirimulah pria terbaik di mataku.”
Mantingan tersenyum, dirinya bersyukur sebab Rara bisa mengerti keadaannya sekarang. “Tetapi aku bukan yang terbaik di dunia ini.”
“Dirimu yang terbaik. Entah orang lain hendak berkata apa pun tentangmu, kau tetap yang terbaik, bagiku dan selamanya.”
Mantingan tersenyum salah tingkah. Belum pernah ia mendapatkan sesuatu yang sejauh ini dari wanita. Dan jujur, ia merasakan perasaan hangat di dalam dadanya.
Setelah perkataan itu selesai diucapkan, suasana canggung muncul tanpa bisa terhindarkan, sehingga Rara buru-buru pamit dan lari kecil keluar dari kamar tersebut sebelum keadaan semakin bertambah canggung. Mantingan menggelengkan kepalanya pelan lalu meneruskan pekerjaannya yang belum selesai.
***
__ADS_1
Pagi yang tidak ditunggu-tunggu datang juga, kecuali Mantingan yang sangat menunggu pagi ini. Keberangkatannya harus dilepas, suka atau tidak suka, rela atau tidak rela.
Jauh terlihat di batas laut, matahari menyembulkan sinarnya sedikit demi sedikit, yang akan menanjak menuju atas sebelum jatuh lagi menjadi senjakala. Amat lambat, seolah tiada hal lain yang kelambatannya dapat menandinginya.
Di tepi pantai itu, berdiri tiga orang yang berhadapan dengan seseorang. Seseorang yang berada di hadapan tiga orang itu adalah Mantingan. Dan tiga orang itu tentunya adalah Rara, Arkawidya, dan Birawa.
Sebelum mereka keluar dari rumahnya, Birawa memberikan Mantingan banyak perbekalan hingga membuat bundelannya terasa sangat berat. Tetapi bukanlah bekal makanan yang membuat buntelan Mantingan berat, melainkan keberadaan ratusan keping emas di dalamnya.
Mantingan sudah menolak kepingan uang itu dengan keras, tetapi Birawa membawanya ke dalam sebuah ruangan yang terletak di bawah tanah. Di sana Mantingan terbialak dengan isi ruangan yang penuh dengan keping-keping uang!
Tadi juga Birawa berkata, “Andai saja uang tidak berat, akan kuberikan semua ini untukmu.”
Seratus keping emas itu dibungkus dalam sebuah kantung khusus yang membuat suara gemerincing dari keping-keping itu dapat terendam, sehingga tidak memancing perhatian orang untuk berbuat jahat.
Birawa juga memberikan Mantingan potongan kelopak bunga yang merupakan bagian dari Kembangmas itu. Lagi-lagi Mantingan menerimanya dengan tangan bergemetar. Tak hanya itu, Birawa juga memberikan lontar-lontar catatan tentang Kembangmas.
Tidak semua lontar tentunya, karena itu akan sangat memberatkan dan memenuhi ruang di buntelan. Tetapi Birawa merangkum semua itu dan mencatatnya dengan ringkas tetapi jelas dan padat, sehingga tumpukan lontar itu menjadi setipis setengah jengkal saja.
Birawa tidak banyak mengucapkan terima kasih pada Mantingan karena telah berhasil menyelamatkan cucunya, tetapi Birawa telah membuktikan sendiri bagaimana cara dirinya berterimakasih pada Mantingan.
“Yang aku berikan tidaklah banyak, tetapi aku yakin dikau akan suka dengan cincin ini.”
Yang Arkawidya berikan adalah sebuah cincin indah dengan permata biru tembus pandang. Mantingan tersenyum manis dan lekas memasang cincin itu pada salah satu carinya.
Tiba-tiba terdengar suara isak tangis yang lebih menarik perhatian ketimbang suara deburan ombak menjenuhkan, itulah suara tangis Rara, yang betapa pun telah diperkirakan sebelumnya. Ini adalah bagian yang paling tidak disukai oleh Mantingan sedari awal: perpisahan dengan Rara.
Mantingan takut saat ia berpisah dengan Rara, air matanya akan jatuh. Janganlah sampai ia terlihat menangis di depan Rara, entah apa yang akan dipikirkan gadis cantik berhati putih itu.
Tetapi memang sepertinya kesedihan Mantingan tidak sebaiknya dipendam.
“Kemarilah, Rara.” Mantingan membuka kedua tangannya, Rara berlari ke arahnya dan segera memeluk Mantingan erat-erat. Mantingan balas memeluknya.
Terisak-isak Rara di dada Mantingan, menumpahkan air matanya. Mantingan mengelus rambut Rara dengan lembut, air matanya perlahan menetes. Bukankah tidak mengapa pria itu menangis? Jika saja pria tidak boleh menangis, untuk apa pula Gusti menciptakan air mata tangis untuk pria?
__ADS_1
“Aku berjanji akan kembali padamu.”
Suasana yang haru itu diiringi deburan ombak. Matahari semakin menyembulkan dirinya di batas laut dengan cahayanya yang hangat.
Masih dengan isak tangis, Rara dengan tinggi harapan berkata, “Kembalilah cepat-cepat Mantingan. Kembalilah dan ceritakan padaku tentang perjalananmu. Kembalilah dan dekap aku lagi, Mantingan. Camkan perkataanku ini dalam ingatanmu, Mantingan!”
Rara melepas pelukannya lalu berlari masuk ke dalam rumah Birawa, dengan derai air mata jatuh ke pasir pantai.
“Lebih baik engkau lekas berangkat, Anak.” Birawa berkata penuh iba.
“Baiklah, Bapak.” Mantingan berbalik dan mengusap air matanya.
***
Mantingan tahu betul tentang jalan mana yang harus ia lalui. Tadi malam baru saja ia rundingkan bersama Birawa. Dan dari sanalah ia menemukan banyak kejanggalan pada peta miliknya jika dibandingkan dengan peta milik Birawa. Ia menunjukkan kejanggalan itu pada Birawa, dan Birawa sendiri pada akhirnya terbingung-bingung pula dengan peta Mantingan.
Di dalam peta Mantingan, terdapat nama-nama tempat yang menurut Birawa tidak seharusnya ada. Seperti nama Kuningan dan Kanoman, bahkan hampir seluruh nama tempat di peta Mantingan adalah salah.
Tidak ada kota yang bernama Kanoman. Kuningan bukanlah nama resmi kota itu, hanyalah sebuah julukan saja karena kota itu banyak membuat barang berbahan Kuningan, tentu tidak seharusnya dijadikan nama dalam peta resmi.
“Petamu ini dapat dipastikan salah, Anak. Tetapi anehnya, letak-letak penampakan alam yang ada di sini tidaklah salah. Bahkan bisa dibilang, petamu lebih merinci ketimbang peta milikku ini.”
Lalu Mantingan bandingan letak-letak tempat di petanya dan peta Birawa.
Jika dibandingkan, maka nama Kanoman seharusnya adalah Bumi Sagandu, Kuningan juga terletak di Bumi Sagandu. Bukankah itu berarti, ada dua kota besar di dalam satu wilayah belaka?
Keheranan Mantingan semakin bertambah saat melihat bahwa Sundapura bersebelahan dengan Tanjung Kelapa, sebuah wilayah yang di petanya tertulis nama Tanjung Barat.
“Apakah benar petaku ini keliru, Bapak?”
“Benar, Anak. Petaku adalah peta yang umumnya digunakan orang-orang saat ini.”
Lalu, siapakah kiranya yang telah mengarang peta ini hingga sedemikian rupa merincinya? Atau sebenarnya peta ini datang dari masa depan, setelah banyak tempat diubah namanya? Mantingan mengusir pikiran yang sungguh amat sangat aneh itu.
__ADS_1
Pada akhirnya, Birawa memberikan petanya itu pada Mantingan. Hebat sekali saat peta itu setelah digulung bisa dilipat jadi dua, sehingga ukuran satu depa menjadi setengah depa saja.
Dan kini Mantingan telah meninggalkan garis pantai, memulai petualangannya mencari Kembangmas yang pernah ditemui Birawa di pulau Svarnabhumi!