
SEPULUH Burung Kutilang itu baru berhenti bernyanyi setelah beberapa saat. Maka dimulailah sebuah perlelangan yang membuat Mantingan sangat terkejut.
Mereka melelang tubuh mereka sendiri!
“Untuk memboyong Shinta malam ini, Tuan-Tuan hanya perlu mengeluarkan lima puluh keping emas. Shinta akan menemani siapa pun yang mampu membayar hingga matahari menanjak naik.” Salah seorang perempuan maju sambil menggendong kecapinya. Dia tersenyum lebar, dan memang dapat dikata kecantikannya sungguh tak dapat ditawar.
“Sedangkan untuk Ashwini, Tuan-Tuan hanya perlu membayar sembilan puluh keping emas saja. Kemampuanku adalah berpuisi dan segala hal yang berhubungan dengan susastra.” Perempuan lain maju sambil merentangkan gulungan lontar. Kecantikannya masih di atas rata-rata, hanya saja mulai tampak pudar karena usia.
Ketika perlelangan masih terus berlangsung, Mantingan mendapat tanda dari ibu pemilik kedai untuk mendekat. Sebab makanannya telah tuntas semua, maka ia segera berdiri dan berjalan menghampiri wanita itu.
“Sudah waktunya,” bisik ibu pemilik kedai. “Ikutilah daku.”
Mantingan mengangguk sebelum mengikuti langkah ibu pemilik kedai menuju ruangan belakang. Meski begitu, kewaspadaannya sama sekali tidak pudar. Lengan kanannya tidak pernah berada terlalu jauh dari Pedang Savrinadeya yang tersoren di sabuk pinggang.
Ruangan belakang di kedai itu benar-benar gelap gulita. Tidak ada jendela dan tidak ada pula lubang udara. Cahaya dari luar tidak dapat masuk, sedangkan ruangan itu sendiri tidak memiliki sumber cahaya apa pun.
Tetapi biar begitu, ibu pemilik kedai terus melangkah dengan penuh percaya diri, seolah saja dia telah menghapal seluruh seluk-beluk ruangan itu sehingga tidak perlu khawatir akan menabrak apa pun meskipun berjalan dalam kegelapan pekat.
Sedangkan Mantingan sama sekali tidak mengalami kendala apa pun. Dirinya masih dapat mengikuti wanita itu dengan Ilmu Mendengar Tetesan Embun yang dimilikinya. Bahkan dalam keadaan gelap seperti ini, dirinya dapat melihat segala sesuatunya lebih baik daripada membuka mata.
Ibu pemilik kedai berjalan menyusuri tangga menurun yang ada di sudut ruangan. Tangga itu penuh dengan lubang-lubang besar, tetapi wanita itu mampu melewatinya dengan sangat mudah, seolah saja matanya dapat menembus kegelapan.
“Ikuti suara langkahku dengan benar-benar, atau dikau akan mendapatkan kesulitan.”
Tanpa perlu mengikuti suara langkah wanita itu pun sebenarnya Mantingan dapat-dapat saja berjalan tanpa hambatan, tetapi ia berniat menyembunyikan ilmu pendengaran tajam yang dimilikinya sehingga memasang sikap seolah tidak dapat melihat apa pun di depannya.
__ADS_1
“Daku tidak dapat memperkirakan suara langkah kakimu, Ibu,” kata Mantingan sembari menghentikan langkah kakinya di anak tangga pertama. “Ada apa di bawah? Mataku tidak dapat melihat apa pun selain hanya kegelapan!”
Tidakkah yang Mantingan katakan itu bukan kebohongan?
Mengetahui bahwa Mantingan telah berhenti melangkah, ibu pemilik kedai pun menghentikan langkahnya. “Dikau sungguh tidak dapat melihat apa pun?”
Mantingan tidak langsung menjawab pertanyaan itu, melainkan berkata, “Bimbinglah daku, biar ini tidak menjadi urusan yang merepotkan.”
Wanita itu segera berbalik dan memapas lengan Mantingan, sebelum kembali berjalan menyusuri tangga sambil menggandeng Mantingan.
Sungguh tindakan yang dilakukan Mantingan itu telah benar-benar tepat, bukannya membuat urusan yang tidak penting menjadi tambah rumit saja.
Kemampuan Ilmu Mendengar Tetesan Embun menerjemahkan bunyi menjadi bentuk tentulah merupakan suatu keunggulan yang sangat menentukan kemenangan dalam pertarungan. Namun jika lawan telah mengetahui keunggulan itu lebih dahulu, maka Ilmu Mendengar Tetesan Embun akan segera berbalik menjadi kelemahan.
Lebih baik bila kemampuan istimewa itu disembunyikan saja, meskipun itu berarti akan memperumit urusan yang sebenarnya tidak perlu.
Tangga itu berakhir pada sebuah pintu yang memiliki ukuran lebih kecil dari biasanya. Ibu pemilik kedai segera membukanya dan segera sinar cahaya menyambutnya.
Pintu itu mengarah pada satu ruangan yang di dalamnya terdapat dua buah bangku dan sebuah meja. Beberapa lentera api tergantung di sudut-sudut ruangan.
Dengan mata kepalanya sendiri, Mantingan dapat melihat sosok yang berbusana serba hitam dan serba tertutup telah menempati salah satu bangku itu. Puan Kekelaman!
“Silakan masuk, Anak. Daku akan menunggu di luar.” Ibu pemilik merentangkan tangannya ke arah ruangan itu dan mempersilakan.
Tanpa ragu lagi, Mantingan segera masuk ke dalam ruangan dan menduduki bangku yang tersisa. Berhadap-hadapan dengan Puan Kekelaman. Pintu tiba-tiba saja tertutup dan muncul sebuah mantra sihir yang menyegelnya.
__ADS_1
“Pahlawan Man, kita bertemu lagi.” Suara syahdu Puan Kekelaman melantun kesunyian. “Tetapi, mengapakah Pahlawan menyembunyikan kemampuan diri yang sangat hebat itu?”
Dengan dingin Mantingan menjawab, “Daku selalu menyembunyikan kekuatan dari musuh-musuhku.”
Menanggapi itu, Puan Kekelaman justru tertawa pelan. “Sebegitukah kiranya Pahlawan membenciku?”
“Daku tidak akan tega membenci seorang pengecut yang bahkan tidak berani menunjukkan dirinya sendiri.” Mantingan mendesis pelan. “Tetapi untuk pengecut besar seperti dirimu, daku akan selalu menaruh kebencian.”
“Apakah gunanya kebencian tanpa tindakan?” Suara Puan Kekelaman masih halus dan lembut, tetapi nadanya mulai terdengar menantang.
“Kemarilah dengan wujud aslimu sehingga dapatlah kutunjukkan tindakanku.” Tangannya bergerak meraba gagang Pedang Savrinadeya. Matanya memancarkan hawa pembunuh.
“Setelah Pahlawan berhasil menembus istana, maka kita bisa bertemu. Untuk itulah kuberikan ini kepadamu.” Puan Kekelaman menunjuk sebuah keropak lontar yang entah bagaimana dapat muncul di meja itu. “Isinya adalah perencanaan. Kutulis menggunakan aksara dan bahasa sandi, temanmu yang bernama Chitra Anggini itu dapat menerjemahkannya.”
Mantingan tidak lantas mengambil keropak lontar itu, melainkan bertanya, “Bagaimana kau dapat menulis aksara dan bahasa sandi yang seharusnya hanya dikuasai oleh anggota Kelompok Penari Daun?”
“Pahlawan Man bertanya terlalu dalam, diriku ini tidak kuasa menjawabnya.”
Mantingan hanya menggeleng pelan sebab tahu bahwa dirinya tidak bisa memaksa sekalipun dengan kekerasan. Betapa pun Puan Kekelaman yang ada di hadapannya saat ini hanyalah wujud bayang-bayang, sama sekali bukan wujud asli yang dapat Mantingan siksa hingga mengeluarkan keterangan yang diperlukan.
Jadilah ia hanya bisa memaki dalam hati. Betapa pengecutnya perempuan itu!
“Daku juga ingin memperingati Pahlawan agar tidak memiliki niat macam-macam. Pasukan yang kumiliki selalu dapat melumpuhkanmu kapan saja, jadi jangan membuatku terpaksa melakukan hal itu.” Puan Kekelaman kembali tertawa pelan dengan suaranya yang sangat merdu. “Bukankah dalam kerjasama ini, kita saling menguntungkan satu sama lain? Daku merasa sangat heran mengapa Pahlawan Man bisa membenciku.”
“Kamu yang mengambil keuntungan dari kekuatanku, Puan Kekelaman.” Mantingan menatap tajam, berusaha menyorot mata perempuan itu yang tertutup kain hitam. “Dan kamu juga telah menjebakku menjadi benda yang bisa kau gerakkan semaunya.”
__ADS_1
“Itulah dunia persilatan bawah tanah, Pahlawan, kami selalu menyukai tipu daya,” ucap Puan Kekelaman dengan lembut. “Kawanmu Chitra Anggini pastinya tidak akan terkejut dengan siasatku ini dan justru menganggapmu sebagai orang bodoh.”