
MEREKA MASIH terus menyelinap di antara pepohonan berbatang besar. Di bawah sinar perak rembulan. Senyap dan sunyi. Mantingan masih memimpin jalan. Bidadari Sungai Utara berjalan di belakangnya, berjaga-jaga dengan meletakkan telapak tangan pada gagang kelewang.
Hutan yang mereka lewati semakin lebat. Sinar rembulan hampir tidak bisa menembus rindangnya pepohonan yang bagai kubah. Mereka memasuki kegelapan yang teramat pekat.
Mungkin bagi Mantingan, ia dapat melihat sekitarannya dengan Ilmu Mata Elang. Namun, Bidadari Sungai Utara tidak memiliki ilmu penglihatan tajam. Yang dilihatnya hanyalah kegelapan malam. Beruntunglah Mantingan segera menyadarinya sebelum gadis itu tersesat demikian jauh. Ia mengeluarkan sebuah tambang kecil—yang memang menjadi benda wajib untuk penyusup, lalu meminta Bidadari Sungai Utara menggenggam itu.
“Pegang ini. Daku akan membimbingmu.”
Begitulah Bidadari Sungai Utara berjalan di bawah bayang-bayang kegelapan menggunakan seutas tambang kecil. Gadis itu tidak dapat melihat Mantingan, tetapi selama tambang itu masih dalam genggamannya, maka ia akan merasa aman.
Tak berselang lama kemudian, Mantingan melihat titik-titik cahaya agak jauh di depannya. Dikarenakan hutan yang teramat sangat gelap, maka titik-titik cahaya itu dapat dilihat begitu jelas. Meminjam Ilmu Bisikan Udara, Mantingan meminta Bidadari Sungai Utara untuk berhenti.
Mantingan kemudian mengeluarkan Lontar Pelacak. Cahaya merah padam di lontar itu semakin kentara. Memenuhi sebagian besar guratan-guratan di permukaan lontar. Mantingan mengangguk dan tersenyum.
“Tujuan kita ada di depan sana.” Mantingan membisik.
“Bintik-bintik cahaya itu?”
“Ya, di sanalah.” Kembali bisiknya, “ingatlah bahwa malam ini, kita hanya akan memantau. Hindari pertarungan sebisa mungkin. Anggaplah bahwa lawan yang akan kita hadapi adalah orang-orang terlatih.”
Bidadari Sungai Utara diam saja, tetapi mengerti betul apa yang Mantingan katakan.
“Sekarang kita bergerak.” Mantingan bergerak lebih dahulu, sedangkan Bidadari Sungai Utara berjalan di belakangnya bermodalkan seutas tambang kecil.
Mereka menemui semak belukar yang mengharuskan mereka untuk terbang melewatinya. Jika mereka harus menembus semak belukar itu dengan berjalan kaki, barang tentu akan menyebabkan suara gersak yang mencurigakan.
Bidadari Sungai Utara turut melesat di samping Mantingan. Mereka mendarat bersamaan dengan sangat-sangat ringan. Selain desir angin, tidak ada suara apa pun yang diciptakan keduanya.
__ADS_1
“Tetap berjalan.” Mantingan memberi bisikan angin. “Waspadai segala sisi. Terutama pucuk-pucuk pepohonan, biasanya banyak pendekar yang memantau dari atas pohon.”
Sekali lagi Bidadari Sungai Utara tidak menjawab. Namun, ia mengerti betul apa yang telah Mantingan ucapkan. Jikapun menjawab, maka itu tidak ada gunanya selain menambah risiko saja.
Mereka terus maju. Kali ini tidak secepat tadi. Ketika mendekati markas musuh, maka bukan tidak mungkin telah dipasang penjagaan kuat di sekeliling markas. Mereka harus memastikan terlebih dahulu keamanan di sekitarnya sebelum mengambil langkah kecil ke depan.
Tidak ditemukan adanya Lontar Sihir penjebak di dekat mereka. Tidak juga dengan pendekar-pendekar di pucuk pohon. Mantingan curiga bahwa dirinya dan Bidadari Sungai Utara telah masuk ke dalam jebakan musuh.
“Saudari, aku akan memeriksa ke depan. Maukah Saudari menunggu di sini untukku?”
“Saudara, bukankah akan berbahaya jika maju seorang diri saja?”
“Akan lebih berbahaya jika kita maju berdua, jika dilihat dari sisi manapun.” Dalam kegelapan, Mantingan memasang senyum. Tidak dibutuhkan cahaya untuk dapat merasakan senyuman Mantingan. “Jika tidak mau melakukan ini untukku, maka lakukan ini untuk Kana dan Kina.”
Bidadari Sungai Utara ingin menghela napas panjang. Namun ia tahu, bahwa sikap itu hanya akan membuat keadaan semakin memburuk. Maka dengan pasti, Bidadari Sungai Utara mengangguk. “daku akan menunggu di sini sembari berjaga-jaga.”
“Bergeraklah, Mantingan. Jangan menunggu lebih lama lagi.”
Maka Mantingan melepaskan seutas tambang yang semula menautkannya kepada Bidadari Sungai Utara. Lalu berjalanlah ia seorang diri. Menuju titik-titik cahaya yang semakin kentara. Bidadari Sungai Utara menunggu di belakangnya. Berharap yang terbaik, tetapi pula cemas bukan alang kepalang.
Sedangkan itu, Mantingan sudah berada jauh dari tempatnya semula. Di antara semak belukar tinggi dan sebatang pohon besar, Mantingan bersembunyi dan mengintip.
Tak jauh di depannya, Mantingan dapat melihat sebuah bangunan besar. Tingginya mungkin dua lantai, atau lebih sedikit. Bangunan itu menduduki tanah lapang di antara pepohonan lebat.
Bangunan itu tampak dibangun ala kadarnya. Selayaknya bangunan tempat para pekerja kasar beristirahat. Namun di dalam bangunan rapuh itu, terdengar suara-suara yang cukup keras terdengar sampai ke luar. Mantingan menggunakan ilmu pendengaran tajam untuk dapat lebih jelas mendengar suara itu.
Mantingan mendengar suara tabuhan dan bunyi-bunyian lain. Sudah pasti dimaksudkan untuk hiburan. Dan jika Mantingan mau mendengar lebih jelas lagi, ia akan mendengar suara wanita-wanita. Tidak perlu dijelaskan lagi bagaimana rupa suara tersebut.
__ADS_1
“Apa yang sedang kamu lihat, Mantingan?”
Sungguh Mantingan terkejut. Jika saja tidak dapat menguasai dirinya, barang tentu Mantingan akan melompat dan berteriak. Lalu disadari olehnya, bahwa itu adalah suara Rara. Mantingan dapat melihat bayangan Rara samar-samar di sebelahnya, yang semakin samar lagi ditimpa gelap malam.
Mantingan berkata dalam batin, “Rara ... mengapalah engkau baru datang? Sekian lama aku menunggumu. Sungguh aku merindukanmu.”
“Aku rasa Bidadari Sungai Utara sudah cukup menggantikan diriku di hatimu.”
“Tidak mungkin dan tidak akan pernah.” Mantingan berkata lembut.
“Lupakan soal ini. Kamu harus melihat ke depan. Ada banyak marabahaya di sini.”
Mantingan mengangguk pelan. Pandangannya kembali tertuju kepada markas musuh.
“Sepertinya mereka sedang berpesta.”
“Benar.” Rara menanggapi. “Maka dari itulah, tidak ada penjagaan kuat di sekitar sini. Lihatlah menara tinggi yang mereka bangun itu, tidak ada orang yang menjaganya.”
Mantingan mengangguk, kembali ia berkata di dalam batin, “Jikalau seperti ini keadaannya, bukankah lebih baik kuserang saja mereka?”
Rara tertawa kecil. “Itu tindakan yang bodoh, Sayangku. Ingatlah bahwa masih banyak orang-orang mereka di dalam desa. Cukuplah mereka kirim panah sendaren, maka dibantailah seisi desa.”
Mantingan mengangguk. Rara menyadarinya bahwa tindakan itu amat sangat berbahaya. Maka Mantingan tetap akan menjalankan rencana awal. Semata mengintai. Bukan menyerang.
Lalu Rara kembali berkata, “Jika mereka tidak sedang berpesta, penjagaan di sini akan lebih ketat lagi. Namun untuk malam ini, hawa ***** telah menguasai mereka.”
“Jika hari untuk menyerang telah tiba,” kata Mantingan, “akan kubuat mereka semua berpesta ria terlebih dahulu.”
__ADS_1