
BIDADARI Sungai Utara menambahkan, “Kau tidak ingin ke sana juga, bukan?”
Mantingan menggeleng keras, bukan itu tujuannya. “Silakan saja, Saudari, tetapi selepas itu mohon temui aku di halaman penginapan.”
Bidadari Sungai Utara sebenarnya penasaran dengan niatan Mantingan, tetapi ia memilih untuk tidak bertanya. Jika dilihat dari raut wajah Mantingan, pemuda itu sepertinya tidak ingin memberitahu apa maksudnya. Bidadari Sungai Utara mengangguk dan pergi menjauh.
Mantingan terdiam beberapa saat sebelum kembali berjalan menuju tangga. Di penginapan ini memang memiliki setidaknya dua lantai. Kebanyakan kamar yang tersedia berada di lantai kedua, sedangkan lantai pertama lebih banyak digunakan untuk keperluan penginapan, seperti dapur dan semacamnya.
Sampai di lantai pertama, Mantingan pergi ke dapur untuk memesan teh hangat. Beruntungnya penginapan selalu menyediakan teh hangat di setiap pagi, maka Mantingan tidak perlu menunggu lebih lama lagi untuk membawa tehnya keluar.
Di hadapannya terhampar dua gunung, yang walau sering dilihat tetap saja menyejukkan mata. Sedang di sisi yang berseberangan dari dua gunung itu, Mantingan dapat melihat dataran rendah di bawahnya, jadi saat ini ia sedang berada di dataran tinggi. Wajar saja jika udaranya terasa lebih sejuk.
Saat sedang menikmati teh hangat, Mantingan melihat beberapa gerobak kerbau masuk melewati gapura desa. Beberapa gerobak kerbau itu terlihat dikawal oleh sejumlah prajurit, sedangkan rombongan pedagangnya berada di belakang dan di dalam kereta kuda.
Mereka melihat keberadaan Mantingan, tetapi tidak menghiraukannya dan terus berjalan masuk. Jika Mantingan lihat dari seragam prajurit-prajurit itu, tampak bahwa mereka bukanlah prajurit Taruma atau prajurit kerajaan manapun. Mereka adalah prajurit bayaran. Seragam mereka menunjukkan bahwa mereka berasal dari satu kelompok yang sama. Kelompok tentara bayaran. Itu bukan hal yang mengejutkan lagi di masa seperti ini.
Mereka berhenti di depan penginapan. Kerbau-kerbau dilepas dari gerobaknya, diikat pada tiang penambat di depan penginapan. Pintu kereta kuda dari rombongan pedagang terbuka. Seorang saudagar buncit keluar, dua wanita berparas cantik sama-sama turun bersamanya.
“Bapak, sepertinya hanya di sini saja desa yang bisa disinggahi. Sahaya khawatir di depan tiada lagi desa yang aman.” Seorang prajurit bayaran menunduk di depannya.
Saudagar buncit itu mengangguk lalu melihat ke sekeliling. Saat matanya berpapasan dengan Mantingan, saudagar itu menatapnya tajam. “Ada pendekar di sini,” katanya pelan.
__ADS_1
Prajurit yang menunduk di depannya itu lekas melirik Mantingan, sedangkan Mantingan sendiri cukup terkejut sebab saudagar itu bisa melihat jadi dirinya sebagai seorang pendekar.
“Bapak, sahaya tidak punya pilihan lain. Banyak desa-desa yang kini telah dikuasai pendekar aliran hitam, mereka akan menjebak rombongan pedagang seperti Bapak.”
Mantingan memberikan senyum ramah pada saudagar buncit, itu ia lakukan agar mereka tidak takut pada dirinya. Saudagar yang melihat senyum ramah dari Mantingan itu membalas dengan senyum ramah juga.
“Ya, sepertinya pendekar itu bukanlah masalah.” Saudagar memberi tanda kepada para anak buahnya untuk masuk ke dalam penginapan.
Rombongan itu masuk ke dalam penginapan, hanya tersisa dua prajurit bayaran yang ditugaskan untuk menjaga barang dagang. Mantingan kembali menikmati pemandangan di depannya, dan teh hangat tentunya.
Tak lama kemudian Bidadari Sungai Utara keluar dari penginapan. Gadis itu menoleh ke sekitar sebelum akhirnya menemukan keberadaan Mantingan, setelah itu ia menghampirinya.
“Mantingan, aku sudah selesai.”
Bidadari Sungai Utara sebenarnya sudah menebak ini sejak awal, maka dari itu ia mempersiapkan dirinya sejak di kamar mandi tadi. Bahkan kini ia membawa pedangnya juga.
“Mantingan, latihan seperti apakah yang akan kau ajarkan padaku?”
“Tidak ada yang akan aku ajarkan padamu. Kita akan beradu dengan kemampuan masing-masing.” Mantingan lalu memutar badannya menghadap Bidadari Sungai Utara. “Aku akan melempar cangkir ke atas, aku akan menangkapnya kembali saat gelas itu hampir menyentuh tanah. Yang harus kau lakukan adalah menghalangiku melakukan itu.”
Bidadari Sungai Utara berpikir sejenak sebelum akhirnya mengangguk. Ia mundur beberapa langkah ke belakang. Tangannya bergerak menggenggam hulu pedangnya.
__ADS_1
“Akan lebih menarik jika tanpa senjata.”
Bidadari Sungai Utara hampir tersedak ludahnya sendiri. Senjata andalannya adalah pedang. Ia dan pedang hampir tidak bisa dipisahkan dalam sebuah pertarungan. Tetapi setelah dicermati lagi, Mantingan berusaha mengingatkannya pada suatu hal paling mendasar di dalam ilmu persilatan. Ketergantungan seorang pendekar pada senjata akan sangat membahayakan jiwa jika senjatanya tidak dirampas. Seperti apa yang dialami Bidadari Sungai Utara sendiri, pedangnya tertinggal di hutan, maka ia kehilangan hampir separuh kekuatan tempurnya.
Berat hati gadis itu meletakkan senjatanya di tanah, sebelum kembali memasang kuda-kuda. Tangannya sedikit menyilang di depan dada, dengan telapak tangan halus lembut yang terbuka.
Mantingan tersenyum. Melihat keadaan Bidadari Sungai Utara sekarang, gadis itu akan terlihat seperti dalam kondisi pertempuran yang nyata. Ia memakai jubah tebal, dengan cadar, dan senjata yang ada di tanah.
Benar. Mantingan memang sengaja melatih perempuan itu untuk tidak tergantung pada senjatanya. Bahkan Mantingan tidak pula meminta perempuan itu melepas jubahnya. Jika dalam keadaan terburuk, Bidadari Sungai Utara akan bertarung tanpa senjata, sekaligus dengan beban jubah di tubuhnya.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Mantingan melempar cangkirnya jauh ke atasnya. Bidadari Sungai Utara mengentak kakinya, melesat hampir tak kasat mata menuju tempat Mantingan berdiri. Ia melancarkan serangan tapak yang dialiri tenaga dalam besar, tak tanggung-tanggung, Bidadari Sungai Utara ingin menyelesaikan pertarungan dengan cepat.
Serangan itu menyasar dada Mantingan yang terbuka lebar. Tangan pemuda itu memang dilipat di belakang punggung, sehingga pertahanan di bagian depannya terbuka lebar.
Bidadari Sungai Utara mengurangi sedikit daya serangnya karena menyangka Mantingan akan terluka parah setelah terkena serangannya. Terlebih Mantingan tidak membuat gerakan untuk menangkis, luka yang ia dapatkan bisa sangat parah.
Namun sayang seribu sayang, Bidadari Sungai Utara melupakan bahwa Mantingan masih bisa menghindar. Hanya dengan menggeser sebelah kakinya ke belakang, Mantingan bisa menghindari serangan Bidadari Sungai Utara. Gadis itu dengan mata terbialak saat ia melewati tubuh Mantingan begitu saja.
Setelah melewati Mantingan, Bidadari Sungai Utara lekas-lekas memendaratkan kakinya ke tanah. Mantingan harus kembali diserang sebelum gelas itu jatuh ke bawah. Dua kaki Bidadari Sungai Utara menyeret tanah dua depa jauhnya sebelum gadis muda itu bisa menarik diri dan kembali menyerang.
Saat itu cangkir tinggal satu depa lagi dari tubuh Mantingan; Bidadari Sungai Utara tidak lagi menahan kekuatannya. Ia menyerang dengan dua tapak sekaligus, kekuatan penuh.
__ADS_1
Ia pikir dengan cara seperti ini, Mantingan tidak bisa lagi menghindar dengan cara menyampingkan tubuhnya. Tetapi nyatanya, ia salah.