
SEMAKIN jelas suara derap langkah itu sampai akhirnya prajurit pertama terlihat melintas di bawah pohon beringin yang Mantingan hinggapi.
Tentara-tentara musuh yang jumlahnya luar biasa banyak melintasi hutan di sekitaran Mantingan.
Akibat Mantingan berada di atas pohon yang tinggi, ia bisa melihat seluruh pergerakan balatentara musuh. Mereka membawa obor-obor sebagai penerang. Bersenjatakan kelewang. Berpelindung perisai. Dengan pakaian yang hampir semuanya berwarna hitam. Menandakan bahwa mereka berasal dari golongan hitam.
Tidak ada satupun dari mereka yang menyadari keberadaan Mantingan di atas pohon beringin itu. Padahal tentara-tentara musuh di barisan terdepan selalu mengedarkan pandangan untuk untuk memastikan keamanan jalan yang akan mereka lewati, namun tidak ada dari mereka yang mengedarkan pandang ke atas sehingga keberadaan Mantingan tidak ketahuan.
Berada tepat di atas banyaknya tentara musuh membuat jantung Mantingan berdebar-debar juga. Jika saja dirinya tertangkap basah, maka akan cukup sulit untuk melarikan diri. Boleh dikata, Mantingan sedang bertaruh nyawa.
Kebiasaan bernapas yang diajarkan oleh Kiai Guru Kedai benar-benar berguna di saat-saat seperti ini. Mantingan dapat menyamarkan napasnya sama seperti suara angin. Musuh yang memiliki ilmu pendengaran tajam sekalipun akan sangat mustahil mendengar suara napas Mantingan.
Selama Mantingan tidak membuat banyak pergerakan yang menimbulkan suara, dirinya akan aman-aman saja.
Sambil bersembunyi Mantingan membuat perhitungan. Pasukan musuh sebagian kecilnya merupakan pendekar tingkat rendah, dan sebagian kecilnya lagi pendekar ahli, sedangkan sebagian besar adalah prajurit biasa.
Jumlah balatentara mereka jika digabungkan adalah dua kali lipat dari pasukan kawan yang ada di kota.
Mantingan sebenarnya tidak perlu merisaukan hal itu, sebab walau pasukan kota lebih sedikit, tetapi ia memiliki ribuan lontar penjebak yang bisa mengimbangi kekuatan musuh.
Setelah pasukan musuh berjalan menjauh melewati Mantingan, maka saat itulah Mantingan turun dari pohon beringin persembunyiannya. Mantingan menjejak tanah seolah dirinya adalah sehelai kapas yang jatuh.
Diam-diam dirinya mengikuti pasukan musuh dari belakang. Niat Mantingan jelas, ia ingin mencari pendekar musuh yang dianggap berbahaya sebelum kemudian dilumpuhkan.
Berkat ilmu Mata Elang, Mantingan dapat menemukan beberapa pendekar ahli yang ada meskipun berada cukup jauh darinya. Pendekar-pendekar itu tidak terlihat waspada. Dengan aura memerintah mereka berjalan dalam kondisi mabuk, seolah tidak khawatir akan ada serangan mendadak yang tidak terduga.
Sudah disebut sebelumnya, bahwa kesalahan paling mematikan bagi pendekar adalah kelengahan. Dan mabuk adalah kesalahan besar paling memalukan.
Mantingan melepas ikatan Pedang Kiai Kedai di pinggangnya, tetapi tidak membuka sarungnya.
Ia menatap musuh incaran pertamanya, selayaknya elang mengincar anak ayam tak berinduk.
Dalam satu kejapan mata, pendekar itu ambruk dengan hampir semua tulang rusuk patah. Satu benturan di kepalanya langsung membuat dirinya tak sadarkan diri.
Orang-orang di sekitarnya melihat pendekar itu ambruk, tetapi memilih untuk tidak terlalu peduli, toh sudah biasa orang mabuk tak kuat berjalan dan ambruk. Biarlah itu menjadi urusan prajurit paling belakang untuk mengangkutnya.
__ADS_1
Tetapi kecurigaan segera menyeruak ketika delapan pendekar lainnya ambruk bersamaan, bahkan salah satunya sempat berteriak sebelum jatuh. Sadar saja, bahwa telah terjadi serangan yang senyap, sepasukan itu menarik kelewangnya dan meniup panjang terompetnya tanda bahaya.
"Serangan! Serangan!"
Saat kewaspadaan mereka telah penuh, Mantingan sudah tidak ada lagi di tempat itu. Ia melesat secepat kilat setelah semua pendekar berbahaya dilumpuhkan olehnya. Dengan pedang yang masih tersarung itu, ia berhasil membuat balatentara musuh kehilangan kekuatan terbesar mereka.
***
Mantingan kembali ke kota dan langsung masuk ke dalam kediamannya. Tidak ada lagi prajurit di sana. Kediaman yang biasanya ramai, kini sunyi ditimpa malam. Mantingan menghela napas sekali sebelum masuk ke dalam ruangannya.
Kali ini ia tidak akan memanterai Lontar Sihir seperti hari-hari sebelumnya. Mantingan pikir, Lontar Sihir-nya sudah cukup banyak. Pemuda itu juga merasa perlu meningkatkan ilmu kependekarannya sebelum perang dimulai.
Mantingan membuka kitab demi kitab dan mempelajarinya dengan sungguh-sungguh. Kitab-kitab yang ia baca saat ini adalah kitab yang pernah ia baca sebelumnya, sehingga malam itu banyak sekali pemahaman yang hinggap di kepalanya.
***
Pintu kediaman Mantingan diketuk pada pagi buta. Mantingan yang hanya bersamadhi tanpa tidur itu dengan cepat keluar dari ruangannya dan membukakan pintu.
“Saudara dipanggil perwira.”
Sang prajurit menganggukkan kepalanya. “Jikalau begitu, Saudara, sahaya mohon diri.”
Mantingan masuk ke dalam ruangannya. Tidak hanya mengambil pedangnya saja, Mantingan juga mengambil ratusan Lontar Sihir yang lalu ia simpan di dalam bundelannya. Sebagai antisipasi jika lontar-lontar butuh perlu dipasang mendadak.
***
Mantingan tersenyum kecut melihat pemandangan jauh di depannya. Di depan gerbang kota yang terbuka Mantingan berdiri, di sebelahnya adalah perwira yang ekspresinya sama-sama tidak bagus.
“Apakah mereka akan menyerang hari ini juga, Perwira?” Mantingan akhirnya bertanya setelah terdiam beberapa saat.
“Aku tidak mengetahui hal itu, tetapi baiknya kita mempersiapkan kekuatan seolah-olah mereka akan menyerang hari ini pula.” Perwira menjawab lalu menghela napas.
“Kalau begitu, Perwira, bolehkah aku pinjam 13 prajurit yang kemarin bersamaku untuk membantu diriku memasang Lontar Sihir?”
Perwira menggeleng pelan, di wajahnya ada sedikit rasa menyesal. “Maafkan aku. Mereka adalah prajurit yang akan maju di garis terdepan nantinya, hari ini mereka berada di tenda pelatihan untuk berlatih sungguh-sungguh. Aku khawatir mereka tidak bisa diganggu hingga malam hari."
__ADS_1
Mantingan tidak bisa meminta banyak jika sudah seperti itu. “Baiklah, tolong berikan saja prajurit yang sekiranya dapat membantuku, Perwira. Aku tidak bisa memasang ribuan lontar-lontar itu sendirian dalam waktu singkat.”
Perwira mengangguk sekali. “Berapa banyak yang dikau butuhkan, Mantingan?”
“Dari yang aku perkirakan, sekiranya aku membutuhkan paling tidak dua puluh prajurit.”
“Itu bisa diatur, tetapi bolehkah aku mendengar rencanamu, Mantingan?”
Mantingan mengangguk. “Yang aku rencanakan, Perwira, Lontar-Lontar Sihir itu sebaiknya dipasang ke jalanan menuju pusat kota. Sebab yang kita harus lindungi sebenarnya adalah masyarakat di pusat kota. Lontar tingkat tinggi sebaiknya dipasang di gerbang dan tembok pertahanan."
“Baiklah, lakukan sesuai rencanamu. Aku dan prajuritku akan tetap berada di belakang tembok kota.”
Mantingan kembali mengangguk. “Tetapi, Perwira, sahaya memiliki suatu persoalan yang lumayan berat. Saat Lontar-Lontar Sihir sudah terpasang dan kemudian bekerja, itu akan menjadi pedang bermata dua. Mantera sihir yang aku pasang tidak hanya akan mengenai musuh saja, prajurit-prajuritmu juga bisa terkena mantera sihir.”
“Mantingan, akan sulit jika prajurit tidak bisa masuk ke pusat kota. Jika dalam situasi yang tidak menguntungkan, prajurit-prajurit akan masuk ke dalam tempat perlindungan untuk melarikan warga dari kota. Adakah dikau memiliki jalan keluarnya?”
____
Catatan:
Ini adalah ilustrasi yang saya komersialkan untuk di sini. Mohon tidak dipakai untuk urusan komersial lainnya.
Ilustrasi lontar sihir:
Ilustrasi lontar sihir yang bekerja:
*ilustrasi merupakan video, silakan lihat di IG @westreversed .
Peta Taruma tahun 397:
Terima kasih untuk yang selalu memberikan komentarnya dan like di Sang Musafir, terima kasih juga untuk yang selalu memberikan vote, gift, atau bahkan tips.
__ADS_1