
UNEDITED VERSION
Mantingan mengulurkan lengannya ke tumpukan api bakar yang basah itu. Ia memejamkan mata perlahan. Mantingan mengalirkan tenaga dalamnya pada telapak tangan, membiarkannya berputar-putar hingga keluar dari dalam tubuh sebagai hawa panas. Mantingan berkeringat dingin. Panas terasa sangat menyengat pada dua telapak tangannya, bahkan mulai menjalar hingga pada lengannya.
Mantingan masih terus memejam mata, saat tubuhnya bergetar hebat. Hawa panas benar-benar keluar dari telapak tangannya menuju tumpukan kayu bakar. Air yang membasahi kayu itu mulai menguap. Kayu perlahan mulai terbakar. Tetapi bukan saja kayu itu yang terbakar, tangan Mantingan pula terbakar. Kulit tangannya di beberapa tempat melepuh.
Hingga pada akhirnya api berkobar secara tiba-tiba dari tumpukan kayu itu. Mantingan tidak peduli pada kondisi telapak tangannya, juga tidak peduli pada tatapan kagum dari pendekar-pendekar suruhan Dara. Mantingan meletakkan panci berisi air bersih itu di tepi api unggun yang membara, melepas daun sirih ke dalam panci. Buru-buru ia lari ke dalam tenda hingga lupa menggunakan kemampuan pendekarnya, ia ambil garam dari bundelannya.
Agar rebusan daun sirih dapat lebih bekerja menyembuhkan rasa gatal, maka garam juga diperlukan semasa perebusan. Mantingan tidak sayang-sayang dan tidak tanggung-tanggung melepas lima butir garam batu ke dalam panci rebusan, walau garam sangat sulit didapatkan.
“Mantingan ....” Dara memanggil dengan suara lirih. “Tidak perlu dipaksakan, ini bukan masalah besar.”
Mantingan menanggapi Dara hanya dengan senyuman. Dara yang terkulai lemas itu cukup meyakinkan Mantingan atau bahkan siapa pun, bahwa sakitnya bukanlah sakit ringan semata.
Kobaran api semakin menjadi-jadi, sebab api itu berasal dari tenaga dalam yang dipaksakan keluar. Air mendidih dengan sangat cepat.
Mantingan lalu berkata, “Randu, tolong bantu Dara berjalan, dan ikuti aku.”
Karena Randu adalah satu-satunya dari mereka yang Mantingan kenal, maka Mantingan memilih dirinya untuk membantu. Randu mengangguk, membungkuk dan berniat membantu Dara berdiri. Tapi Dara malah menepis tangan Randu.
“Apa maksudmu, Mantingan?” Dalam kondisi seperti itu, Dara masih bisa memperlihatkan kemarahannya pada Mantingan. “Mereka ini hanya orang-orang suruhanku.”
Randu terlihat tidak suka dengan perkataan Dara itu, tapi ia sendiri tidak mau memaksa orang yang telah membayarnya itu. Mantingan mengangguk mengerti kondisi Dara. Mungkin Dara enggan jika orang sembarang menyentuhnya. Bayangkan saja, Dara memiliki banyak penggemar yang selalu ingin dekat dan menyentuhnya, menjadikan sentuhan pada diri Dara adalah hal yang mahal, termasuk untuk orang suruhannya sendiri. Alasan itu juga yang membuat Mantingan menahan diri untuk tidak menolong Dara, jika itu berarti menyentuh Dara.
“Randu, maafkan daku, tapi bisakah engkau saja yang bawa panci itu untukku?”
Randu tanpa berpikir lama mengangguk.
__ADS_1
“Mantingan, tolong bantu aku, ya?”
Mantingan mengernyitkan dahi. Lagi-lagi ia tak mampu menebak apa isi pikiran Dara. Bukankah hubungan Dara seharusnya lebih dekat pada orang-orang bawahannya? Sedangkan Mantingan tidak lebih dari salah satu tamu lelang. Apa maksud Dara sebenarnya?
Situasi seperti itu tidak memberikan Mantingan banyak waktu untuk berpikir. Segera Mantingan menghampiri Dara, meraih lengannya dan bantu dia berdiri. Randu juga terlihat sudah mengangkat panci itu.
“Kita harus sesegera mungkin sampai di sungai. Nyai, berhentilah menggaruk.”
Dara menatap Mantingan tajam. “Dan berhentilah memanggilku dengan sebutan itu.”
***
Mantingan dan pendekar-pendekar lainnya tengah duduk bersila mengelilingi nangka besar yang tadi berhasil Mantingan dapatkan. Mereka makan nangka beramai-ramai, karena Dara memang harus dibiarkan sendirian di tepi sungai itu. Biarpun Dara ditinggalkan sendiri, Mantingan tetap memasang pendengaran tajamnya untuk mengetahui bahaya di sekitar Dara, walau Mantingan harus menyayangkan karena harus mendengar suara yang tidak seharusnya ia dengar.
Sambil makan nangka manis itu dan bergetah itu, mereka juga bercakap-cakap. Percakapan antar-pendekar memang hampir semuanya merupakan percakapan penting. Dari percakapan itu, Mantingan bisa lebih mengetahui situasi kekinian di kotaraja.
“Bukankah itu berarti pertumpahan darah akan tetap terjadi?”
“Tidak masalah, demi kedamaian.”
“Benar. Bayangkan jika orang-orang golongan hitam itu terus menerus memeras rakyat tak berdaya, bukankah itu malah lebih kacau lagi?”
“Baiklah, baiklah! Begini pertanyaanku, dengar! Apakah kalian akan ikut terlibat dalam peperangan ini?”
Mereka sama-sama terdiam beberapa saat, sebelum Randu menjawab.
“Jika Nyai memerintahkanku untuk terlibat perang, daku tidak mengapa. Asal bayaran di muka.”
__ADS_1
Tertawalah mereka terbahak-bahak. Sebelum Randu berkata, “Daku tidak bercanda.”
Mantingan hanya tersenyum tipis mendengar itu. Memang terlihat Randu sedang tidak bercanda mengucap hal itu.
“He, Randu! Dikau ini enak sekali namamu sering disebut-sebut oleh Nyai, sehingga hampir seluruh tugas ditumpuk pada dikau. Terkenal pula nanti dikau. Aku curiga, jangan-jangan Nyai menaruh hati padamu.”
“Sena! Jangan asal bicara dikau! Jika Nyai mendengarnya, bisa habis dikau di tangannya!”
“Randu, Randu ... mengapakah daku harus takut? Bukankah alasan Nyai menyewa kita dikarenakan kita lebih kuat ketimbang dirinya sendiri?”
“Oh!” Yang lain berkata, “jadi engkau tidak setia, hah?”
“Kesetiaanku sering berubah-ubah, Kawan. Selalulah berwaspada terhadap diriku.”
Randu mendecih. “Sedaripada daku terus-terusan berwaspada, lebih baik daku habisi saja dirimu sekarang.”
“Pertanyaanku, apakah dirimu mampu menghabisiku? Atau malah dikau sendiri yang terhabisi.”
“Selama daku dibayar, nyawaku milik Nyai.” Randu mengencangkan otot tangannya, nafsu pembunuhnya menyebar. “Daku tidak takut mati.”
“Jangan engkau bawa ini serius,” berkata Sena, “daku hanya bercanda.” Sena lalu menoleh pada Mantingan. “Lagi pula, jika engkau tidak bisa mengalahkanku, masih ada pendekar kuat bernama Mantingan yang akan mengalahkanku di sini.”
Mantingan tidak tahu harus menanggapi itu dengan apa, hanya bisa tersenyum.
Salah seorang dari mereka mengangguk. “Benar. Mantingan ini adalah sosok pendekar yang hebat. Mampu menyelamatkan Nyai, padahal kita sendiri gagal melindunginya. Mantingan juga mampu membuat tempat tinggal menakjubkan di jantung rimba seperti ini. Sungguh luar biasa.”
Kali ini Mantingan menjawab sambil menggeleng pelan. “Itu terlalu berlebihan.”
__ADS_1
Sena tertawa. “Sombong rupanya.”