
MANTINGAN MELANJUTKAN dengan bertanya, “Lalu mengapakah kalian berhenti di sini?”
“Kami menunggu kedatangan kalian.”
Mantingan mengerutkan dahinya. “Tidak seharusnya kalian menunggu. Kami semua adalah pendekar, adalah hal yang sangat mudah bagi kami untuk menyusul kalian, bukan?”
“Memang benar,” jawabnya. “Tetapi bukan itu saja alasan yang membuat kami harus berhenti.”
Mantingan mengangkat alisnya. Adakah terjadi sebuah permasalahan lain sedangkan tubuhnya amat sangat membutuhkan istirahat sekarang ini?
“Ada sebuah pertempuran jauh di depan sana,” kata Jakawarman sambil jarinya menunjuk ke arah timur. “Beberapa prajurit Agrabinta yang menjaga jalan menghentikan kami dan menyarankan untuk tidak lewat. Sekelompok aliran hitam sedang menempur pasukan Agrabinta dengan seganas-ganasnya. Lebih-lebih yang bersama kami adalah Gusti Permaisuri. Jadi, barang tentu kami tidak meneruskan perjalanan.” Jakawarman mengambil napas dalam-dalam. “Pahlawan Man, kami menunggu dua puluh pendekar yang pergi untuk membantumu, kami juga menunggu Sri Cakrawarman yang gagah perkasa di medan peperangan, dan secara khusus menunggu kehadiranmu yang menjadi kunci utama untuk memenangkan pertempuran. Dengan semua kekuatan ini, kuyakin dapat kita memenangkan pertempuran dengan sangat mudah.”
Mantingan menarik napas panjang sebelum menganggukkan kepalanya pelan. Jakawarman tersenyum selebar-lebarnya melihat anggukan yang berarti persetujuan itu.
Meski waktu istirahat Mantingan harus digantikan dengan pertempuran, Mantingan merasa tidak terbebani. Inilah keharusannya untuk memerangi kejahatan demi terciptanya kebaikan. Tubuh lelah adalah pengorbanan yang tidak seberapa dibandingkan dengan hasil yang akan didapatkan nanti.
“Kapankah kita bisa mulai bergerak?” tanya Mantingan kemudian.
Jakawarman membuka mulutnya untuk menjawab, akan tetapi sebuah seruan menahan ucapan serta menarik seluruh perhatiannya.
“Seluruh pendekar berkumpul!”
Mantingan, Jakawarman, dan enam pendekar bertopeng—yang sedari tadi lebih banyak diam—berkumpul dengan prajurit Laskar Kerbau Taruma lainnya. Dengan cepat mereka membentuk beberapa barisan menghadap ke arah Cakrawarman di depannya.
“Kuharap kalian telah mengetahui, bahwa musuh menantikan pedang kita disimbah darahnya. Dan kita pula menantikan hal itu sejak lama. Siapkanlah bilah pedangmu, wahai para prajurit yang gagah berani! Kita akan tumpas para begundal aliran hitam itu demi terciptanya perdamaian di tanah ini! Majulah senantiasa dan pantanglah untuk mundur sebelum musuh dikalahkan!” Cakrawarman berteriak lantang. Suaranya disertai tenaga dalam untuk meyakinkan para prajuritnya, tetapi itu tidak terlalu berpengaruh pada Mantingan yang merupakan pendekar setingkat atau bahkan lebih tinggi daripada Cakrawarman. “Delapan puluh pendekar ikut bersamaku, dua puluh lainnya menjaga Gusti Prameswari di sini. Sedangkan prajurit yang bukan pendekar, tetaplah di sini dan mengawasi lingkungan sekitar. Tugas apa pun yang kalian ambil adalah sama kehormatannya. Bubar dan bersiaplah!”
Pasukan membubarkan diri. Bersiap-siap menghadapi pertempuran dan membagi kelompok. Sedangkan Mantingan sudah pasti berada di garis terdepan pertempuran, begitu pula dengan Jakawarman dan enam pendekar Pasukan Topeng Putih.
Mantingan lekas menghampiri Kana dan Kina yang masih bersama Bidadari Sungai Utara. Ia belum sempat menemui mereka tadi, dan kini harus terpisah lagi.
__ADS_1
Kana dan Kina bergerak lebih dahulu memeluk Mantingan erat-erat sebelum menumpahkan air matanya penuh haru. Mantingan tertawa dan mengelus kepala keduanya.
“Sekali lagi, sekali lagi Kaka melanggar janji.” Kana berkata ketus.
“Kak Maman tetap bertempur seolah tidak sayang nyawa!”
Mantingan semakin dibuat tertawa oleh perkataan itu. “Ya, kuakui bahwa diriku memang telah melanggar janji pada kalian. Untuk menebusnya, aku akan membelanjakan kalian makanan enak sewaktu-waktu. Apakah kalian setuju?”
“Makanan enak? Penawaran yang tidak menarik sama sekali. Tetapi setelah Kina pertimbangkan, lebih baik Kina menerimanya. Bagaimanakah denganmu, Kakanda?” Kina menjawab sambil tertawa.
“Seperti perkataan engkau, Adinda. Penawarannya sama sekali tidak menarik, tetapi diriku yang malang ini tidak memiliki pilihan lain selain menerimanya.”
Mantingan tergelak. Betapa disadari sekarang, dirinya begitu menyayangi dua anak yang teramat istimewa ini. Bahkan, ada keinginan di dalam lubuk benak yang terdalam untuk menahan kepergian Bidadari Sungai Utara, sehingga ia bisa selalu bersama Kana dan Kina. Akan tetapi apalah dayanya jikalau Yawabhumi sedang menunjukkan sisi tidak ramahnya?
Bidadari Sungai Utara menghampirinya. Mantingan tahu bahwa dirinya sedang tersenyum, meski jelas terhalang cadar. Betapa kecantikannya tidak bisa diterima dunia.
“Apakah diriku bisa ikut denganmu?”
Bidadari Sungai Utara mendapat jawaban telak. Ia pula mengetahui bahwa Kana dan Kina tidak mungkin ditinggalkan lagi, terlalu kejam jika ia melakukan itu. Lebih-lebih, pertempuran rasanya akan dengan amat sangat mudah dimenangkan karena kehadiran Mantingan, Cakrawarman, dan gabungan dua pasukan khusus sekaligus—Pasukan Topeng Putih dan Laskar Kerbau Taruma.
Meskipun hanya berjumlah delapan puluh pendekar, akan tetapi lebih itu dari cukup untuk melawan lima ratus pendekar berkeahlian sedang.
Mantingan meminta Kana mengambilkan bundelannya di atas punggung kuda. Kesigapan Kana membuat bundelan tersebut sampai dengan cepat di tangannya. Mantingan mengisi ulang pundi-pundinya dengan barang dari bundelannya, seperti jarum beracun, pisau terbang, serta mengikat kotak penyimpanan lontar di paha kanannya.
“Diriku harus pergi. Tenang saja, ini tidak akan lama,” kata Mantingan dengan senyum di bibirnya. “Ketika aku kembali nanti, tidak ingin kulihat satupun dari kalian terluka.”
Kana dan Kina mengangguk mantap meski menahan kesedihan. Bersama Bidadari Sungai Utara, keduanya melepas kepergian Mantingan.
***
__ADS_1
MANTINGAN DAN Jakawarman melesat bersebelahan. Delapan puluh pendekar lainnya melesat dengan kecepatan yang sama. Cakrawarman melesat di barisan terdepan dengan sepasang pedang baru yang entah dari mana dia mendapatkannya.
Patih perang Tarumanagara itu sama sekali tidak menunjukkan kemarahannya meski Mantingan telah menghancurkan sebilah pedang kesayangannya. Bahkan seolah tidak pernah mengingat peristiwa itu. Betapa tingkat kejiwaannya itu memang pantas mendapat kedudukan sebagai patih perang sebuah kemaharajaan.
Beberapa orang prajurit yang ditugaskan untuk menjaga jalanan hanya bisa menganga melihat kelebatan-kelebatan tepat di atasnya. Namun dalam benaknya, mereka sungguh berteriak kegirangan. Keyakinan mereka bahwa pertempuran akan dimenangkan sangatlah tinggi.
Tidak jauh di arah timur sana, Mantingan dapat melihat gumpalan asap hitam membumbung tinggi pada beberapa titik. Jelas saja asap hitam itu bukan pertanda sebuah desa, melainkan pertempuran besar. Mantingan merasakan gemuruh dalam dadanya.
“Mantingan, masih ingatkah dirimu padaku?”
Ketika Mantingan mendengar sebuah suara, ia segera menoleh. Tetapi kemudian disadarinya, bahwa suara itu tidak berasal dari arah manapun.
Mata Mantingan kemudian melebar. Suara itu rasa-rasanya pernah dikenalinya. Suara yang mampu meneduhkan jiwanya dalam segala keadaan. Menyiraminya dengan curahan nasihat ketika situasi mendesaknya. Betapa kemudian disadarinya bahwa suara itu pernah menjadi bagian dari sukmanya.
“Rara!” teriaknya di dalam benak. Penuh suka cita yang tiada terkira.
“Rupa-rupanya kamu tidak juga melupakanku.” Suara itu kembali terdengar dengan nada yang lembut.
“Apa pun yang terjadi dan berapapun usiaku, tidak akan pernah bisa kulupakan dirimu.” Mantingan membalas sambil terus berkelebat, asap-asap hitam itu semakin terlihat jelas.
“Aku juga tidak akan pernah melupakan dirimu.” Rara yang ada di dalam benaknya tertawa. “Jikalau begitu, pastinya engkau tidak melupakan kejadian di tepi pantai itu, bukan?”
Senyuman Mantingan perlahan memudar. Sorot matanya—orang pasti tahu—memancarkan kesedihan. “Ketika aku mengingat namamu, ketika itulah aku mengingat bagaimana kau terbunuh.”
“Jujurlah kepadaku, Mantingan,” ujar Rara dengan nada yang aneh. “Apakah kamu benar-benar bisa melupakan dendam itu?”
___
catatan:
__ADS_1
Ini adalah bonus episode khusus malam Minggu. Biar galaunya tak lebay seperti sahaya. Selamat menikmati dan terima kasih atas segala dukungannya! Jangan ragu untuk berkomentar jika menemukan typo atau kata yang tidak nyambung.