Sang Musafir

Sang Musafir
Tapa Balian Ditawan


__ADS_3

MANTINGAN menarik napas panjang dan berkata, “Katakanlah mengapa pusaka itu sangat penting bagi kelompokmu.”


Kartika tersenyum lebar sebab merasa bahwa dirinya berhasil meyakinkan Mantingan. Setelah itu, dia mulai bercerita.


Pusaka tersebut bernama Sepasang Pedang Rembulan di Tengah Kesenyapan Malam. Disebabkan namanya yang sungguhlah terlalu panjang, orang-orang persilatan menyebutnya dengan sekadar Sepasang Pedang Rembulan.


Sepasang Pedang Rembulan, seperti namanya, adalah dua pedang yang berkepasangan. Dan selayaknya senjata berkepasangan pada umumnya, antara satu sama lain tiada dapat dipisahkan. Jikalau sampai dipisahkan, maka kemampuan senjata itu akan berkurang lebih dari separuhnya.


“Sepasang pedang itu selalu disimpan oleh Tapa Balian. Dia tidak pernah menggunakannya barang sekejap pun. Selalu tersimpan di dalam peti, terkunci rapat-rapat oleh mantra sihir yang kuat. Dijaganya baik-baik, sebab betapa pun pusaka itu hampir tiada dapat dikalahkan oleh siapa pun.”


Mantingan mengernyitkan dahi. Mungkinkah jika Sepasang Pedang Rembulan di Tengah Kesenyapan Malam ialah pusaka yang membuat Pendekar Pedang Lurus sempat menjadi tak terkalahkan meski pada akhirnya terkalahkan pula oleh pendekar yang sungguh tiada Mantingan ketahui namanya?


“Tapa Balian tahu betul betapa berbahanya pusaka itu jika sampai kembali masuk ke dunia persilatan.”


“Sampai kembali masuk?” Mantingan memotong. “Itu berarti ....”

__ADS_1


“Benar.” Kartika balas memotong. “Sepasang Pedang Rembulan pernah mengharu-biru dunia persilatan.”


Kartika menyebutkan bahwa pusaka tersebut telah menghancurkan perguruannya secara penuh. Seluruh anggotanya terbantai habis, kecuali dirinya dan sejumlah murid lain yang sedang menjalankan tugas di luar perguruan.


Dengan mata yang mulai basah, Kartika menjelaskan, “Betapa saat diriku kembali ke perguruan, kulihat gunungan besar yang tersusun dari kepala seluruh penghuni perguruanku. Darah menggenang di mana-mana, bagaikan langit baru saja menurunkan hujan darah yang teramat deras. Daku tidak tahu lagi mesti berbuat apa. Semangat hidupku menghilang tanpa sisa. Sempat kuputuskan untuk bunuh diri dengan memenggal kepala di puncak gunungan itu, bergabung bersama saudara-saudari seperguruan yang telah pergi dengan cara yang tidak adil. Namun ketika daku telah tepat berdiri di atas gunungan, dengan bilah pedang menempel di leher, daku merasakan kobaran api dendam yang teramat sangat besar, begitu besarnya hingga terasa akan membakar tubuhku saat itu pula. Daku membatalkan niat. Jika daku mengakhiri riwayatku di sana, maka diriku adalah pecundang terbesar yang pernah ada. Dengan mati, daku tidak akan bisa menuntut keadilan atas pembantaian tak beralasan yang menimpa perguruanku.”


Mantingan menganggukkan kepalanya. Ia telah mengerti. Kartika pun mengerti bahwa Mantingan mengerti perkataannya itu, sehingga penjelasannya berhenti sampai di sana saja.


“Dikau pastinya melewati saat-saat yang menyakitkan.” Begitulah tanggapan Mantingan yang boleh dikata sama sekali tidak berempati. “Tetapi hanya jika kisah yang dikau ceritakan itu bukanlah dongeng semata.”


Kartika membuka lebar kelopak matanya barang sesaat, sebelum kembali lagi pada kesayuannya yang tampak memedihkan. Kedua bahunya turun. Sepasang matanya semakin berair. Perkataan Mantingan telah begitu membuatnya kecewa.


“Harus kukatakan kepadamu bahwa pada akhirnya daku beserta murid-murid yang tersisa mendirikan sebuah jaringan bawah tanah berkedok kelompok penari wayang. Jaringan kami cukup berhasil, sebab kami memiliki kemampuan membunuh dari jarak jauh dan penuh kesenyapan dengan menggunakan sihir penggerak dedaunan. Perlahan-lahan, kami memulai pemburuan Pendekar Pedang Lurus, dialah satu-satunya orang yang bertanggung jawab atas segala ketidakadilan yang menimpa perguruanku.”


Jauh di dalam benaknya, Mantingan cukup terkejut. Dugaannya tidak salah. Sepasang Pedang Rembulan memanglah pusaka kepunyaan Pendekar Pedang Lurus. Dan kisah tentang sebuah perguruan besar beraliran putih yang dihancurkannya seorang diri itu adalah perguruan tempat Kartika bersama para anak buahnya bernaung.

__ADS_1


Jika Kartika memang mengatakan kebenaran tentang kisahnya sebagai salah satu murid dari perguruan itu, bukankah begitu malang nasibnya? Sungguh tak dapat terbayangkan betapa teririsnya perasaan wanita itu ketika melihat kepala-kepala saudara seperguruannya ditumpuk sedemikian rupa hingga membentuk suatu gunungan. Mantingan mulai merasa bahwa perkataannya tadi cukup berlebihan. Namun jika perkataannya itu bisa ditarik kembali, Mantingan tetap tidak akan melakukannya. Betapa pun, curahan hati dari seorang pendekar jaringan bawah tanah tidaklah dapat dipercaya sepenuhnya. Selalu ada kepentingan di balik ucapan mereka. Jika tidak benar-benar diwaspadai, maka akibatnya dapat menjadi sangat buruk.


“Siapa pun mengetahui bahwa Pendekar Pedang Lurus tidak dapat dikalahkan oleh pendekar mana pun. Meskipun perkumpulan kami menyimpan dendam yang teramat sangat dalam, kami tetap tidak bertindak bodoh dengan menantangnya secara terbuka.”


Mantingan menganggukkan kepalanya, sekadar menunjukkan bahwa dirinya tidak lagi menganggap bahwa kisah itu sebagai bualan semata.


“Penantian panjang kami berakhir ketika seorang pendekar dari Javadvipa datang kepada kami untuk menawarkan kerja sama demi menghentikan sepak terjang Pendekar Pedang Lurus. Kutantang dirinya untuk membuktikan seberapa besar kemampuannya, dan daku kalah pada pertukaran jurus kesepuluh. Belum pernah ada yang mengalahkanku secepat itu, bahkan lawan yang pernah mengalahkanku sewaktu latih tanding membutuhkan seratus pertukaran jurus untuk dapat benar-benar mengalahkanku.” Kartika tersenyum tipis dengan pandangan mata kosong, seolah sedang mengingat betul-betul peristiwa yang sedang diceritakannya itu. “Dengan berpadunya kekuatan besar pendekar itu dan luasnya jaringan rahasia kami, maka Pendekar Pedang Lurus dapat dikalahkan. Daku tidak ingin menceritakannya kepadamu tentang bagaimana pendekar itu dapat mengalahkan Pendekar Pedang Lurus yang semulanya tiada dapat dikalahkan, dikau dapat menanyakannya sendiri pada gurumu.”


Mantingan mengernyitkan dahi. “Mengapakah guruku?”


“Sebab dialah yang telah mengalahkan Pendekar Pedang Lurus. Dialah pula yang merampas Sepasang Pedang Rembulan di Kesenyapan Malam kemudian menyerahkannya kepada Tapa Balian untuk dijaga betul-betul.”


Mantingan sangat terkejut. Kini dapat kembali terbayangkan senyum lebar gurunya ketika tidak menjawab pertanyaannya tentang siapa yang telah mengalahkan Pendekar Pedang Lurus. Mantingan mengetahui betapa gurunyalah yang telah melakukan sesuatu yang seharusnya menjadi hal mustahil itu!


“Lalu mengapa dikau berniat mencurinya?!” Mantingan hampir-hampir naik pitam. “Dikau telah tahu bahwa senjata pusaka itu akan kembali mengharu-biru dunia persilatan!”

__ADS_1


“Justru karena itulah kami harus merebutnya!” Kartika mengeras pula. “Karena senjata itulah Tapa Balian ditawan saat ini! Jika dikau hendak menyelamatkan Tapa Balian, berikut dengan dunia persilatan, dikau mesti bekerja sama dengan kami untuk merebut senjata itu!”


Mantingan tercengang bukan main. “Tapa Balian ditawan?!”


__ADS_2