Sang Musafir

Sang Musafir
Oh, Sudah Pagi


__ADS_3

MANTINGAN memimpin jalan menuju ruang penyimpanan Lontar-Lontar Sihir buatannya. Setelah sampai, Mantingan menunjukkan ribuan Lontar Sihir di dalam ruangan itu. Diam-diam tangan Mantingan memapas lontar penjebak yang ada di bagian belakang pintu ruangan, agar perwira tidak kena imbasnya.


Raut wajah perwira berubah menjadi sangat terkejut melihat berikatan-ikatan lontar yang memenuhi ruangan berukuran besar itu. “Semua ini ... berapa jumlahnya?”


Mantingan tersenyum lalu menjawab. “Sepuluh ribu, lima ribu lontar lainnya masih belum sahaya beri mantera. Perwira, ada sesuatu yang ingin saya sampaikan.”


"Katakan saja.” Perwira itu berkata, namun pandangannya masih tertuju pada Lontar-Lontar Sihir di hadapannya.


“Perwira, sahaya meminta bantuan tempur pada beberapa pendekar di dalam kota, sahaya telah menjanjikan mereka masing-masing mendapat seribu lontar jika mereka ingin membantu. Apakah Perwira tidak keberatan memberikan sahaya beberapa ribu lontar lainnya?"


Perwira mengangguk. “Masalah lontar kosong, aku akan menambahnya."


“Namun, Perwira, sahaya meminta pendekar-pendekar itu membantu kota-kota lain di sekitar, bukan kota ini.”


Ruangan hening sejenak. Perwira menghela napas panjang. “Man, dikau tahu mana yang terbaik. Laksanakan saja sesuai nalurimu, dan jangan sekalipun mengingkari kepercayaan yang aku berikan padamu.”


Mantingan tersenyum senang, ia telah mendapat kepercayaan dari perwira, dengan begini ia dapat lebih leluasa dalam bertindak.


“Pendekar seperti dirimu masih sangat muda. Anak-anak seusia dikau biasanya memilih untuk kabur dan bersembunyi dari pertempuran. Namun, dikau malah memunculkan diri dan menawarkan bantuan yang artinya tidak terhingga bagi kami. Padahal kautahu bahwa nyawa adalah taruhanmu. Aku harap putraku suatu hari nanti bisa menjadi seperti dirimu.” Perwira menepuk punggung Mantingan sekali sebelum berbalik. “Kupercayakan semua ini padamu. Dari sinar matamu dan dari sinar senyummu, aku tahu bahwa sinar itu adalah sinar sang mentari."


Perwira meninggalkan ruangan dan berkata pada prajurit-prajuritnya. “Tidak ada yang perlu lagi mengawasinya lagi, kalian bisa pulang sekarang.”


Mereka serempak menjawab, “Perwira, izinkan kami di sini untuk memperoleh ilmu!”


“Tenaga kalian diperlukan untuk persiapan pertempuran.” Perwira kembali berkata.


“Dengan ilmu dari Saudara Man, kami bisa lebih bermanfaat di gelanggang pertempuran.”


Perwira tampak diam beberapa saat.


“Oh ... aku bisa saja mengizinkan kalian tetap di sini. Dengan persyaratan, kalian berada di barisan terdepan saat pertempuran pecah.”


Tanpa ragu, mereka kembali menjawab serempak, “Siap, Perwira!”


Mantingan menepuk dahinya. Secara tidak langsung, mereka meminta Mantingan mengajarinya ilmu agar bisa selamat di medan pertempuran. Tentu mereka juga tahu bahwa Mantingan tidak akan membiarkan mereka begitu saja di barisan terdepan tanpa ilmu. Itu akan jadi sangat melelahkan.

__ADS_1


“Aku pegang kata-kata kalian.” Perwira melangkah pergi.


***


Pada tengah malam, Mantingan baru saja selesai mengajar prajurit-prajurit yang meminta pengajaran darinya. Sebenarnya yang dilakukan Mantingan sulit disebut mengajar, lebih tepat disebut menghajar.


Prajurit-prajurit sebagian merebah dan sebagian lainnya bersimpuh.


Mereka habis-habisan dipukuli oleh pedang Mantingan yang tersarung. Biarpun tersarung, tetapi daya pukul yang diberikan Mantingan cukup besar hingga mampu membuat mereka tidak bisa bangkit lagi, terlebih pukulan yang Mantingan berikan tidak hanya empat-lima pukulan saja.


“Sebelum mempelajari ilmu bela diri, kalian harus meningkatkan pengalaman, untuk memudahkan masa pengajaran nantinya.” Mantingan tertawa pelan. “Ini demi keselamatan kalian sendiri di pertempuran.”


Mantingan berlalu masuk kembali ke dalam rumah. Sedangkan prajurit-prajurit yang baru saja Mantingan hajar itu masih terdampar di halaman, mereka tidak minat pindah sampai rasa sakit menghilang.


***


Saat kokok ayam jago nyaring bersiar, Mantingan akhirnya merebahkan diri. Setelah semalaman bekerja tanpa henti, Mantingan merasakan lelah pikiran yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Lelah pikiran ini jauh lebih memusingkan ketimbang lelah badan.


Mantingan mencoba untuk tidur, tetapi rasa pusing pada kepalanya semakin menjadi-jadi saat mata dipejamkan.


Pemuda itu dengan gusar membuka pintu dan keluar dari ruangannya. Untuk mencari angin segar, Mantingan berjalan menuju halaman.


Betapa terkejut dirinya ketika melihat prajurit-prajurit yang semalam ia hajar itu masih berbaring di atas rumput halaman.


Mantingan menghampiri mereka dengan cemas. Ia khawatir pukulan-pukulan pedangnya semalam terlalu berlebihan dan membuat mereka sampai tak sadarkan diri.


Mantingan menghampiri salah satu dari mereka yang tergeletak. Ia mengguncang-guncangkan tubuh prajurit itu dengan harapan yang besar.


“Cepat sadar dan katakan semuanya baik-baik saja!”


Tubuh itu menunjukkan tanda-tanda pergerakan, matanya terbuka dan melirik ke sekitar. Lalu katanya, “Oh, sudah pagi.”


Mantingan tidak tahan untuk tidak menjitak kepala orang itu. Kekhawatirannya benar-benar lenyap.


“Aduh, aduh, mengapa Saudara Man memukulku? Aduh, jangan pukuli aku lagi seperti tadi malam ....”

__ADS_1


“Bangunkan kawan-kawanmu yang lain.” Mantingan berkata keras. “Cepat atau aku ambil pedangku dan kalian akan mencicipinya tanpa sarung!”


“Ya, ya! Tolong jangan lakukan itu!” Setengah sadar prajurit itu bangkit dan membangunkan kawan-kawannya yang lain dengan ketakutan.


Mantingan benar-benar dibuat kesal. Dari 13 prajurit yang ada, semua dari mereka hanya tertidur, tidak ada yang tak sadarkan diri.


Prajurit memang dilatih untuk dapat tidur kapan saja dan di mana saja tetapi tetap saja itu akan mengesalkan di saat-saat seperti ini


Mantingan sangat khawatir mereka semua pingsan, bagaimana bisa mereka tertidur pulas seolah rumput-rumput itu adalah ranjang empuk?


Melihat Mantingan berdiri di antaranya, prajurit-prajurit itu mulai khawatir Mantingan akan melatihnya seperti malam tadi.


“Kumpulkan kayu bakar dan air, kita akan kembali membuat Lontar Sihir hari ini.” Mantingan kemudian tersenyum kejam. “Dan malam hari adalah waktu kalian latihan. Persiapkan diri baik-baik. Ah, tidak ... persiapkan badan baik-baik.”


Mantingan berbalik dan masuk kembali ke dalam kediamannya untuk memeriksa persediaan lontar kosong. Sedangkan 13 prajurit itu, tidak ada satupun dari mereka yang tidak menegup ludahnya.


***


Sungguhan Mantingan tidak bisa beristirahat. Walau ia tahu, itu akan sangat berbahaya untuk dirinya sendiri. Dampaknya tidak terasa sekarang, mungkin saja sore atau malam nanti baru muncul.


Mantingan meyakinkan dirinya untuk tidak sakit, tetapi suara-suara yang entah berasal dari mana mulai muncul. Mantingan berhenti untuk memastikan asal suara itu, sampai ia menyadari bahwa suara tersebut berasal dari dalam kepalanya sendiri. Sangat mengherankan.


“Istirahat, Mantingan. Walau sejenak, sejenak saja dikau pejamkan mata." Lalu katanya lagi, “jika tidak, sangat mungkin tubuhmu akan tumbang malam nanti.”


Mantingan memejamkan mata, suara ini tidak rasa-rasanya bukan berasal dari dirinya sendiri.


Sesaat kemudian dalam keheningan, Mantingan membuka matanya dan tersenyum sedih. Tanpa berusaha memikirkan lebih jauh lagi dan melupakan alasan apa yang membuatnya tersenyum sedih, Mantingan kembali pada pekerjaannya.


“Dikau memang keras kepala dan tidak memahami diri sendiri. Sebelum menyelamatkan orang lain, dikau harus memastikan dulu kondisi dirimu.”


Mantingan tampak tidak peduli.


“Kau tahu siapa aku, Mantingan. Jangan berusaha mengelak. Jika tidak mau melakukannya demi dirimu, lakukanlah demi aku, orang yang kaucintai dan kaukasihi.”


Mantingan sungguh tipis pertahanannya dalam soal ini. Ia tak bisa mengelak lagi. Sungguh kenangan yang datang membuat dirinya harus meluangkan sedikit waktu untuknya. Senyum Mantingan semakin sedih.

__ADS_1


“Rara ....”


__ADS_2