Sang Musafir

Sang Musafir
Takdir Langit Takkan Seindah Kisah Karangan


__ADS_3

MANTINGAN memasukkan beberapa keropak lontar ke dalam bundelannya. Pada keropak-keropak itu, terdapat berbagai macam isi surat penting yang dapat membantu Bidadari Sungai Utara untuk kembali ke Champa dengan aman. Ia baru menyusunnya semalaman penuh tanpa henti.


Surat-surat tersebut tentulah merupakan surat tipuan dari surat perintah kerajaan. Mantingan masih menyimpan lambang panji-panji Tarumanagara yang biasanya digunakan untuk urusan surat-menyurat, sehingga ia dapat menirunya meski hal itu tidaklah dapat  dianggap sebagai pekerjaan yang mudah sebab lambang yang ada di dalam penyuratan kerajaan memang dibuat serumit mungkin agar tak mudah ditiru. Lebih dari ratusan lontar terserak di kamarnya, dengan lambang panji-panji kerajaan yang cacat, itulah yang membuat Mantingan tidak tidur semalaman suntuk.


Ketika itu, tiba-tiba saja pintu terbuka tanpa suara ketukan sebelumnya. Mantingan sama sekali tidak perlu berwaspada, sebab ia tahu betul bahwa yang datang adalah Bidadari Sungai Utara. Dirinya memang meminta gadis itu untuk tidak mengetuk pintu kamarnya ketika ingin masuk, sebab sekiranya hal tersebut dapat memancing perhatian dari tamu penginapan lain. Untuk apakah orang dari kamar sebelah selalu masuk ke dalam kamarnya?


“Sudahkah selesai pekerjaanmu, Mantingan?” Bidadari Sungai Utara menghampiri meja tulis pemuda itu dengan senyum memesona. Merangkul leher pemuda itu dari belakang.


“Sudah,” jawab Mantingan balas membelai tangan Bidadari Sungai Utara dengan lembut. “Kita bisa berangkat pagi ini pula.”


“Pagi ini?” Senyum Bidadari Sungai Utara memudar.


Mantingan menggeleng pelan tanpa mengendurkan senyumnya, dirinya berkata, “Sasmita, sudah waktunya dikau kembali ke Champa. Sadarilah betul bahwa apa yang kita lakukan sejauh ini tidaklah benar. Dikau kepunyaan lelaki lain, dikau sudah bersuamikan orang yang bukan diriku. Bahkan tidak sepantasnya daku sekadar menyentuh tanganmu.”


Mendengar itu, Bidadari Sungai Utara bagai ditimpa hujan lebat. Tetiba saja tubuhnya meringsut, kepalanya menunduk, bagai telah kehilangan seluruh kepercayaan diri. Bukankah memang benar apa yang Mantingan katakan itu, bahwa cinta mereka berdua sebenarnya merupakan cinta terlarang?


“Daku masih tidak mengerti tentang apa yang sebenarnya diinginkan langit.”


Mantingan menatap gadis itu dengan tatapan menunggu jawaban. Ia tahu bahwa ucapan Bidadari Sungai Utara tidak akan berhenti sampai di sana saja.


“Jika memang kita ditakdirkan bukan sebagai jodoh, tak bisa bersama selama-lamanya, lantas mengapakah kita dipertemukan dalam kemustahilan seperti ini?”

__ADS_1


Mantingan menarik napas panjang. Kemustahilan yang dimaksud oleh Bidadari Sungai Utara tentulah telah jelas. Semestinya gadis itu mustahil kembali ke Javadvipa, bahkan keluar dari istana tempat tinggalnya pun sudah amat sulit mengingat segala pengawalan dan peraturan yang ada. Ketika harapan untuk kembali bertemu telah hampir terkubur, mengapakah kiranya mereka justru dipertemukan dengan cara paling tak terbayangkan?


Mantingan pernah mendengar orang-orang tua berkata: “Sekuat apa pun dikau hendak berpisah dengan seseorang, dengan sejauh mungkin dikau melangkah pergi, tetapi bila dia memang telah disuratkan menjadi jodohmu, maka dikau akan kembali kepadanya dengan cara paling tak terbayangkan.”


Namun, dapatkah dirinya dengan Bidadari Sungai Utara dianggap berjodoh dengan jari manis gadis itu telah berinaikan cincin orang?


Lantas jika kenyataannya mereka memang tidak berjodoh, tak dapat bersama buat selama-lamanya, mengapakah keduanya harus kembali dipertemukan dengan cara paling tak dapat terbayangkan?


Maka begitulah kemudian Mantingan berkata, “Sasmita, apakah pertanyaanmu itu membutuhkan jawaban dariku?”


Bidadari Sungai Utara hanya mengangguk.


Mantingan telah banyak membaca kisah-kisah nyata maupun yang sekadar kisah karangan, tetapi ia tidak pernah mendapati kisah-kisah itu serupa dengan takdirnya saat ini. Pada kisah-kisah tersebut, yang telah berpisah maka selamanya akan tetap berpisah, dan bagi yang dipertemukan akan maka pula selamanya akan terus bersama dalam kebahagiaan. Namun, tidak satupun di antara kisah-kisah itu yang menceritakan pertemuan sesudah perpisahan, yang tidak selamanya bersedih dan tidak pula selamanya berbahagia.


Bukankah memang kisah karangan jauh berbeda dengan kehidupan nyata?


Para sastrawan membuat kisah-kisah khayalan yang sebegitu membahagiakannya memang disengaja untuk menjadi pelipur lara bagi orang-orang yang menginginkan sesuatu sebagaimana khayalan tersebut, sebab amat berbeda dengan suatu gambaran atau lukisan, tulisan lebih mampu membawa seseorang benar-benar merasakan apa yang ada di dalam tulisan tersebut, sebab pikirannya tak terkekang pada suatu bentuk rupa yang telah ditentukan oleh sang seniman.


Mantingan bangkit berdiri dari bangkunya sebelum berkata, “Sudahkah dikau berkemas, Sasmita?”


Bidadari Sungai Utara kembali hanya menganggukkan kepala.

__ADS_1


“Pakailah caping ini.” Mantingan mengambil satu dari dua caping di atas meja. Caping tersebut telah dipasangi mantra bayangan yang sama bergunanya menutupi wajah seperti cadar. Ia berpikir bahwa Bidadari Sungai Utara telah cukup dikenal sebagai perempuan yang menutupi kecantikannya dengan cadar, sehingga penyamaran memang perlu diubah.


Setelah memasang bundelannya masing-masing, mereka berdua bergegas turun ke lantai pertama untuk mengembalikan kunci penginapan.


Namun, dikarenakan Kembangmas memberikan begitu banyak uang untuk membayar sewa kamar Bidadari Sungai Utara, seharusnya masih tersisa dua puluh malam lagi sampai batas sewanya benar-benar habis.


Sesuai dengan ketentuan, pengurus penginapan mengembalikan uang yang tersisa dengan potongan sekian bagian. Jumlah uang yang dikembalikannya lebih dari dua ratus keping emas, tentulah tidak dapat dianggap sebagai jumlah yang kecil. Bidadari Sungai Utara segera memberikan seluruh keping emas itu pada Mantingan, tetapi pemuda itu menolaknya.


“Di perjalanan nanti, dikau akan lebih membutuhkannya.”


Pengurus penginapan memandang keduanya dengan tatapan curiga, hendak mencari tahu siapakah mereka sebenarnya, sebab tidak diketahuinya ada pasangan yang menyewa dua kamar terpisah, tetapi yang dilihatnya hanyalah bayang-bayang hitam pekat yang menutupi rupa wajah, bahkan sekadar ujung hidungnya pun tidak dapat nampak. Pada akhirnya, pengurus penginapan itu memilih menyerah, selain tidak ada gunanya pula dia mencari tahu jati diri dua muda-mudi di depannya itu.


Mantingan dan Bidadari Sungai Utara berjalan keluar dari penginapan ketika Munding Caraka yang semula merebahkan badan besarnya di bawah pohon rindang itu bangkit dan berjalan menghampiri keduanya. Kerbau itu melenguh pelan, menawarkan tunggangan, tetapi dibalas dengan gelengan kepala oleh majikannya itu.


Dengan tatapan mata, Mantingan berkata pada Bidadari Sungai Utara, ‘Kita harus berjalan sampai beberapa jauh terlebih dahulu sebelum terbang bersama Munding.’


Bidadari Sungai Utara hanya membalas dengan anggukan. Sama seperti Chitra Anggini, dirinya juga dapat bercakap-cakap melalui tatapan mata dengan Mantingan, bahkan dapat pula bercakap-cakap tanpa bahasa sehingga tidaklah dapat dikatakan sebagai cakapan. Meskipun pertemuan mereka tidaklah selama dan sebanyak Mantingan dengan Chitra Anggini, tetapi ikatan batin antara keduanya amatlah kuat. Siapa pun tidak dapat mendustai itu.


Selama berada di perjalanan, Mantingan dan Bidadari Sungai Utara bercakap-cakap riang. Ada begitu banyak hal yang dapat mereka bahas, mulai dari Kana yang semakin pandai berkata-kata, Kina yang entah mengapa begitu menyukai kuda, hingga sampai pada perpisahan mereka di laut utara Javadvipa sewaktu itu.


“Andai sewaktu itu daku masih terjaga, sudahlah pasti daku tidak akan pernah melepaskanmu.” Bidadari Sungai Utara mengingat betapa dirinya tak sadarkan diri ketika dirinya dilarikan menuju Champa. “Saat itu, daku terbangun dengan tidak mendapati engkau di seluruh kapal. Kulupakan betapa daku tidak memiliki kemampuan berenang, sehingga melompatlah diriku dari kapal itu. Beberapa pendekar sampai harus susah-payah menggotongku kembali ke atas kapal.”

__ADS_1


__ADS_2