
MANTINGAN merasakan wajahnya seperti dicabik-cabik oleh sesuatu yang terasa kecil dan tajam. Sontak saja dengan naluri kependekarannya, Mantingan melompat bangun dari tidurnya.
Namun setelah selesai menebar pandang, Mantingan tidak melihat seorang pun di sekitarnya. Hanya pasir kelabu, hutan jauh di sana, dan air laut yang kelabu pula. Ia sedang berada di tepi pantai!
Mantingan lalu menundukkan pandang, menemukan beberapa kepiting yang mengangkat capit-capitnya ke atas seolah menantang. Rupa-rupanya, merekalah yang telah membangunkan Mantingan.
Pemuda yang baru saja tersadar itu mencoba untuk mengelus wajahnya yang baru saja dicapit-capit kepiting, akan tetapi kemudian disadari bahwa dirinya telah kehilangan lengan kanannya.
Mantingan kemudian menghela napas sedemikian panjangnya, sepanjang ketabahannya dalam menerima nasib yang sungguh tiada mengenakan ini.
Namun, Mantingan tidak marah, tidak mengutuk, dan tidak pula menyesal. Setelah membunuh lebih dari ribuan pendekar, kehilangan satu tangan dapat dianggap sebagai hukuman yang pantas bahkan dapat saja dianggap kurang.
Mantingan kemudian bergerak mengambil Pedang Savrinadeya yang tergeletak begitu saja di bibir pantai. Sebuah anugerah bahwa pedang itu terdampar di dekatnya setelah sekian lama terombang-ambing di tengah lautan.
Mantingan kini memandangi pedang itu lebih seksama lagi, sebab memang sebelumnyalah ia tidak sempat memeriksa pedang tersebut secara menyeluruh.
Gagang Savrinadeya terbuat dari kayu mengilap, yang berurat-urat dan memelintir sedemikian rupa tanpa bentuk yang jelas, bagai diambil langsung dari batang pohonnya tanpa sempat dipahat atau diukir barang sedikitpun.
Bilahnya berwarna keperakan, berkilauan dipantul sinar mentari di ufuk tengah. Berbeda dengan bilah Pedang Kiai Kedai yang berwarna hitam legam hingga hanya sedikit memantulkan sinar mentari, dan tentu saja bahan yang dipakai untuk membuatnya adalah barang khusus serta istimewa; maka Pedang Savrinadeya ini terlihat seperti bilah pedang kebanyakan yang terbuat dari logam besi saja, atau setidak-tidaknya adalah baja.
Pedang ini tiada dilengkapi sarung pula, sebab Perempuan Tak Bernama memang tidak memberikan atau sekiranya tampak membawa sarung pedang tersebut. Sedangkan setelah terombang-ambing di tengah lautan tanpa dilindungi oleh apa pun, mustahil jikalau bilah Savrinadeya tidak terciprat air laut yang dapat membuat logam cepat karatan.
Mantingan merasa perlu untuk membersihkan Pedang Savrinadeya secepat mungkin, akan tetapi dirinya tidak memiliki kain bersih atau apa pun itu untuk dapat membersihkannya.
Bundelannya telah basah kuyup; dan air laut bahkan merembes dan membasahi benda-benda di dalamnya.
Bahkan saat ini, Mantingan berpukas dada. Jubahnya telah ia berikan kepada Bidadari Sungai Utara sebagai penutup badan dan sekaligus pula sebagai kenang-kenangan.
__ADS_1
Setelah mengingat tentang gadis itu, entah mengapa Mantingan merasakan sakit yang terasa teramat sangat dalam, yang saking dalamnya hingga tidak mampu ia ketahui di mana letak pasti dari rasa sakit itu.
Mantingan pula mendapati sebuah kekosongan di dalam benaknya, yang sekiranya kekosongan itu tidak dapat diisi oleh siapa pun jua kecuali Bidadari Sungai Utara seorang.
Tetapi betapa pun jua, Mantingan merasa bahwa Bidadari Sungai Utara tidak akan pernah berkunjung lagi ke Javadvipa setelah semua yang terjadi. Dan sekalipun memang kembali suatu hari nanti, perempuan itu tidak akan pernah menjadi miliknya.
Pham Lien, dia adalah putri dari raja Champa, yang hendak dinikahkan dengan anak dari raja Funan. Jika Mantingan ingin bersaing, maka sungguh teramat berat saingannya. Dan betapa cinta dalam ketatanegaraan selalu bersifat ketatanegaraan pula. Cinta yang bukan cinta, melainkan kepentingan negara.
Tetapi terlepas dari semuanya, apakah Mantingan benar-benar mengingini Bidadari Sungai Utara menjadi miliknya? Setelah diketahuinya bahwa bayang-bayang Rara yang selalu menggentayanginya itu bukanlah sosok arwah Rara yang asli, melainkan sosok Perempuan Tak Bernama yang telah mengubah tampang diri menyerupai Rara, Mantingan merasa sukar untuk mengkhianati cintanya kepada Rara.
“Rara.” Mantingan berbisik pelan sambil memegangi kendi abu milik Rara di lehernya. “Maafkan daku ... daku telah membunuhmu.”
Bukankah memang benar adanya tentang apa yang Mantingan bisikan itu? Bukankah kematian Rara, Arkawidya, dan Paman Bala disebabkan oleh karena dirinya memiliki bakat untuk menjadi seorang pendekar jagoan beraliran hitam, sehingga ketiga orang itu sengaja dibunuh agar bara kemarahannya terpatik sampai ia memutuskan untuk memijak jalan setapak di tengah rimba belantara persilatan?
Memikirkan Rara dan Bidadari Sungai Utara, dua wanita yang sebenarnya amat sangat dicintainya meski dalam cinta yang masing-masingnya berbeda itu, membuat perasaan Mantingan tambah pedih saja. Jadilah pemuda itu mencangklong bundelannya ke punggung serta menyoren pedang di sabuk sebelum mulai berjalan pergi.
Perkara luka di lengan tangannya, Mantingan telah mengalirkan tenaga prana yang sedemikian banyaknya sampai luka itu menjadi mengering dengan cepat. Kini sudah tidak terasa terlalu menyakitkan.
Langkah Mantingan terhenti ketika didengarnya suara teriakan yang meminta pertolongan itu. Segera saja tanpa menunggu lebih lama lagi, Mantingan memejamkan mata dan menancapkan Ilmu Mendengar Tetesan Embun. Namun sesaat kemudian, Mantingan kembali membuka kedua matanya. Betapa diketahuinya bahwa suara itu telah begitu dekat dengannya!
Terlihat sesosok anak perempuan yang berlari tunggang-langgang dari batas hutan menuju ke bibir pantai. Sesekali anak itu melirik ke belakang dengan raut wajah ketakutan, jelas saja menjadi pertanda bahwa dirinya sedang dikejar oleh sesuatu yang mestinya berbahaya dan genting.
Sejurus kemudian dari tempat yang sama, keluarlah beberapa orang dewasa mengejar anak itu dengan mengangkat kelewang panjang ke atas langit!
Berpikir bahwa betapa tidak adil jikalau anak perempuan itu harus melawan banyak orang dewasa bersenjata seorang diri saja, maka Mantingan memutuskan untuk turun tangan meski tidak mengetahui benar duduk perkaranya.
Kendatipun ia tahu bahwa amat sangat tidak sopan jika membuat masalah dengan orang asing di tanah asing pada hari pertamanya, tetapi Mantingan tentu saja tidak dapat berdiam diri dan melihat anak perempuan itu berakhir dengan nasib yang malang.
__ADS_1
Dengan sekali kelebatan saja, Mantingan tiba dalam jarak beberapa tombak dari orang-orang itu. Kemunculannya yang secara tiba-tiba itu tentu saja telah mengejutkan mereka semua, yang dengan serta merta menghentikan langkah kakinya.
Mantingan menatap mereka satu demi satu dengan datar. Seluruhnya berjumlah enam pria berbadan kekar. Meski ada beberapa orang yang telah menginjak usia parobaya, tetapi tidak satupun dari mereka yang merupakan pendekar.
Mengalahkan mereka seharusnya jauh lebih mudah daripada membalikkan satu telapak tangan.
“Hai, orang buntung! Siapakah dikau hingga berani menghalangi langkah kami?!”
Mantingan mengangkat alisnya. Awalnya ia mengira bahwa bahasa yang digunakan oleh masyarakat di Suvarnadvipa akan sangat berbeda dengan bahasa yang digunakan di Javadvipa yakni bahasa Melayu percampuran bahasa daerah, tetapi nyatanya sama-sama saja.
Tentunya Mantingan berpikir bahwa hal ini amat sangat bagus, sebab dengan begitu dirinya mampu mengadakan perundingan dengan mereka demi menghindari pertumpahan darah yang tidak perlu. Mantingan mencoba menjura dengan sebelah tangannya, walau hal itu terasa sangat menyedihkan baginya.
“Saudara-Saudara sekalian, sahaya yang rendah ini berasal dari Javadvipa setelah terombang-ambing begitu lamanya di tengah lautan. Sepertinya, sahaya telah kehilangan hampir segala ingatan, termasuk nama sahaya sendiri. Sehingga maafkanlah jika pertanyaan Saudara tidak bisa kuberi jawaban yang sekiranya dapat memuaskan.”
“Heh? Dikau panggil diriku dengan sebutan itu? Memangnya daku ini saudaramu atau apa?!”
Mantingan menarik napas panjang. “Baiklah, engkau hendak dipanggil apa?”
“Wah, sungguh tidak mengenal sopan santun!” Seorang dari mereka menodongkan ujung kelewang. Mantingan mundur seolah merasa gentar, meski dalam benaknya tiada sedikitpun ia merasa kegentaran. Justru sekuat tenaga menahan tawanya.
___
catatan:
Jangan bosen untuk like, comment, dan subscribe!
Eh?
__ADS_1
Jika ada pertanyaan, pembaca bisa mengajukannya di kolom komentar. Namun, untuk pertanyaan yang menyangkut tentang alur cerita ke depan tidak akan mendapat jawaban.