
MELOMPAT BERSAMAAN, mereka mendarat dengan mulus di atas tanah pinggiran danau. Bidadari Sungai Utara tidak lagi kesulitan untuk menapak di atas tanah basah. Setelah latih tanding tadi, Bidadari Sungai Utara langsung membaca kitab ilmu meringankan tubuh milik Mantingan. Meskipun ia hanya membaca sedikit saja, tetapi kualitas kitab pemberian Kiai Guru Kedai memang bukan rendahan, sehingga Bidadari Sungai Utara mendapatkan banyak pemahaman setelah membaca kitab itu.
Dengan ini, Mantingan tidak perlu lagi memapah atau menolong Bidadari Sungai Utara yang tergelincir. Diam-diam Mantingan juga senang dengan daya serap Bidadari Sungai Utara yang menurutnya cukup tinggi.
Mereka berjalan dalam kegelapan yang berkabut tebal. Menciptakan garis-garis cahaya saat Lontar Cahaya berusaha menembus kabut. Bidadari Sungai Utara terpana melihat pemandangan yang tersaji tepat di depan matanya. Entah mengapa, bidadari rawa itu justru suka dengan pemandangan yang menurut sebagian besar orang sangatlah menakutkan.
Bahkan Mantingan sendiri berjalan dengan penuh kewaspadaan, berbeda dengan Bidadari Sungai Utara yang berjalan sambil terus memutar pandangannya hampir ke segala arah. Menjelajahi tempat yang remang-remang.
Bidadari Sungai Utara tidak tahan untuk tidak berkata, “Wah Mantingan, pemandangan macam apa ini?”
Mantingan cukup terkejut. Pertanyaan Bidadari Sungai Utara seperti pertanyaan seorang penakut. Tetapi mendengar nada bicaranya yang riang, Mantingan jadi mengernyitkan dahi. Bahkan jauh lebih terkejut ketika mendengar gadis itu berdecak beberapa kali.
“Seandainya aku tahu lebih awal bahwa pemandangan seindah ini benar-benar ada, aku pasti akan sering-sering masuk ke tengah hutan di malam hari.”
Saat itulah Mantingan melebarkan matanya. Sungguh perkataan Bidadari Sungai Utara membuatnya tidak bisa berkata-kata lagi. Mantingan hanya memberi anggukan yang terkesan gugup.
Mereka terus berjalan, dengan Mantingan yang berada sedikit di depan sekaligus yang memasang kewaspadaan penuh. Bidadari Sungai Utara berada di belakangnya sambil menikmati suasana menyeramkan. Beberapa kali Mantingan dikejutkan oleh bayangan pohon yang berbentuk aneh, tampak sangat menyeramkan di antara kabut tebal.
__ADS_1
Udara yang dingin acapkali membuat Mantingan menggigil. Bagaimana tidak? Ia hanya pakai baju lengan panjang berbahan tipis. Udara malam seperti ini tak mampu diadang oleh pakaian lengan panjang sekalipun. Menggunakan tenaga dalam secara terus menerus akan membuatnya kelelahan. Sungguh luar biasa yang harus Mantingan hadapi.
Dan sungguh enak yang harus Bidadari Sungai Utara nikmati.
Biarlah gadis itu menikmati suasana yang memang bisa ia nikmati. Mengingat betapa gelap peristiwa yang telah ia lalui di tanah Javadvipa, maka melihatnya tersenyum saat ini akan membuat hati orang lain senang juga. Lihatlah gadis rapuh itu kini tersenyum bahagia! Meskipun itu berarti Mantingan harus berkorban, tetapi rasa-rasanya memang harga yang pantas untuk kebahagiaan Bidadari Sungai Utara.
Dan kalau dilihat-lihat oleh Mantingan, pemandangan di depannya memang enak dipandang dari sisi lain. Kabut putih sejuk yang sangat indah, enak dipandang mata. Tidak perlu memikirkan apa yang ada di sekelilingnya, hanya terpusat pada jalan yang harus mereka lalui saja, benar-benar seperti makna hidup. Tetapi bukan berarti orang yang berjalan di depan tidak harus peduli pada lingkungan di sekitarnya, harus tetap waspada agar orang yang di belakang senantiasa ada dalam kondisi aman dan nyaman.
***
BEGITULAH MALAM yang panjang itu mereka lewati dengan hampir tanpa ada hambatan. Banyak yang telah mereka lalui di malam yang berkabut dingin itu. Mulai dari bertemu harimau hutan—untungnya kucing besar itu langsung berlari menjauh, bertemu badan ular besar yang kepala dan ekornya entah di mana, hampir tercebur jurang, dan segala macam rintangan yang akan sulit mereka lupakan.
Entahlah, tetapi jika dilihat-lihat dari jejaknya yang banyak hingga merusak tanah, dapat diartikan bahwa rombongan yang lewat bukanlah rombongan yang kecil.
Masih dengan kemungkinan rombongan itu lewat tadi malam, ada pula kemungkinan bahwa rombongan itu lewat sehari atau dua hari yang lalu. Namun, apakah pedulinya bagi perjalanan dua orang muda-mudi itu?
Bagi Mantingan, itu cukup penting untuk menentukan ke arah manakah mereka harus berjalan, tetapi berkebalikan dengan Bidadari Sungai Utara yang sama sekali tidak menganggap serius jejak-jejak yang tercetak di jalanan.
__ADS_1
Mantingan berjongkok untuk memperhatikan jejak-jejak itu, sebelum kemudian menganggukkan kepalanya pelan. Mereka harus bergerak ke arah barat jalan. Rombongan pergi ke arah timur dan datang dari arah arah barat. Dan jika dilihat dari kedalaman jejak yang merosok ke dalam tanah, dapat diperkirakan bahwa rombongan itu membawa bawaan berat saat mereka melintasi jalan ini.
Kemungkinan besarnya adalah mereka sedang dalam tugas mengantar perbekalan ke kota-kota besar.
Dan mengapakah Mantingan memilih jalur barat bukannya jalur sebelah timur? Dikarenakan jalur sebelah timur itulah tempat rombongan ini bertujuan, jika kemungkinan bahwa rombongan itu mengantar perbekalan kepada kota-kota besar, maka Mantingan harus menghindarinya. Sedangkan arah barat, Mantingan hanya perlu bergerak sedikit ke barat untuk mengurangi kemungkinan bertemu dengan kota besar yang banyak pendekarnya, sebelum kembali bergerak ke utara.
Lagi pula, mereka tidak benar-benar bertujuan ke pelabuhan Tanjung Kalapa. Tujuan mereka yang sebenar-benarnya adalah menemukan pulau kecil di sebelah utara, tentu itu bisa dicapai dengan hanya berlayar dari pesisir utara, tanpa harus pergi ke pelabuhan. Bahkan akan lebih aman jika mereka pergi ke pelabuhan terlebih dahulu untuk berlayar, itu pasti menimbulkan kecurigaan di situasi yang penuh dengan gejolak saat ini. Akan lebih aman jika Mantingan membeli kapal layar kecil di pelabuhan dengan dalih ingin menangkap ikan, selepas itu membawanya pergi ke tempat Bidadari Sungai Utara.
Itu pemikiran yang cermelang, namun Mantingan tahu segala sesuatu pasti memiliki kejutan yang tak terduga. Maka mulai dari sekarang, Mantingan membuat rancangan-rancangan di dalam kepalanya. Sambil berjalan pun dirinya masih berpikir.
“Kita bergerak ke sebelah kiri,” katanya seraya bangkit berdiri, “Saudari, tolong pakai cadarmu.”
Bidadari Sungai Utara mengangguk, mengambil cadar yang selalu tersimpan di balik belahan jubahnya. Lekas-lekas ia memakainya untuk menutupi hampir seluruh wajah kecuali mata dan dahi. Tak hanya itu, Bidadari Sungai Utara juga melonggarkan ikatan jubah di pinggangnya tanpa diperintahkan.
Mantingan melihati Bidadari Sungai Utara dari atas sampai bawah. Ia memastikan penampilan Bidadari Sungai Utara yang sekarang jauh berbeda dengan penampilan Bidadari Sungai Utara saat tidak memakai jubah dan cadar. Kemudian Mantingan mengangguk, memang jauh berbeda.
___
__ADS_1
Ayo tunjukkan komentar inspiratif agar penulis terinspirasi!