
“IKAN TERBANG!”
IKAN Terbang mengangkat sebelah tangannya, sontak membuat lima pendekar yang berlari ke arahnya berhenti.
“Daku sudah mengetahuinya.” katanya kemudian.
“Apakah kami harus membunyikan sangkakala juga, Ikan Terbang?” Jagat yang berada di samping Ikan Terbang bertanya dengan tergesa-gesa. Sangkakala yang ditiupkan pasukan musuh telah membuat ketenangannya buyar seketika.
“Jangan.” Ikan Terbang menggelengkan kepalanya. “Minta armada untuk membentuk Barisan Jaring Danawa sekarang juga.”
Jagat menganggukkan kepalanya sekali sebelum berkelebat pergi bersama pendekar-pendekar yang tadi mendatangi mereka.
Sedangkan itu, Ikan Terbang menghela napas panjang. Pasukan Topeng Putih yang diutusnya untuk memeriksa seluruh kapal di armada belumlah kembali. Dan sebelum mereka kembali dengan membawa kabar, Ikan Terbang tidak bisa tenang.
Ibarat kata jika masih terdapat duri di dalam daging, maka tubuh akan sulit bergerak. Maka begitulah pula dengan armada ini. Jika masih terdapat musuh yang menyelundup, maka armada akan sangat kesulitan untuk bergerak.
Ikan Terbang, sebagai pucuk kepemimpinan armada Perguruan Angin Putih, harus benar-benar mewaspadai bahwa segala rencana yang mereka jalankan tidaklah sampai di telinga pimpinan pasukan musuh. Jika masih terdapat mata-mata atau penyelundup di sini, maka akan amat sangat sulit baginya untuk membuat siasat.
Pula dirinya telah berjanji akan membakar Kelewang Samodra dan tenggelam bersamanya jika tidak ditemukan tanda-tanda mencurigakan di dalam armada.
Dia, Ikan Terbang, tidak takut mati. Dia tidak pernah takut akan kematian. Tetapi Ikan Terbang khawatir, pertempuran ini akan sulit dimenangkan tanpanya.
Sekali lagi Ikan Terbang menghela napas. Lebih panjang ketimbang sebelumnya. Memikirkan Bidadari Sungai Utara yang masih belum juga ditemukan telah benar-benar membuat kepalanya menjadi sangat pening. Wanita paling cantik di Champa itu adalah orang yang amat sangat penting bagi negerinya. Jika dia mati atau menghilang di sini, maka Tarumanagara akan mendapatkan dampak yang sama sekali lebih buruk ketimbang kekacauan yang disebabkan para pemberontak.
“Barisan Jaring Denawa, wahai Ikan Terbang?”
Ikan Terbang menoleh sebelum menundukkan kepalanya. Dia menjawab dengan sesopan mungkin, “Benar, Yang Mulia.”
“Itu barisan yang amat baik.” Sri Punawarman menganggukkan kepala. “Akan tetapi, engkau tidak mengabariku soal perubahan rencana ini, Ikan Terbang.”
Ikan Terbang tertegun sebentar. Memanglah benar bahwa dirinya telah mengubah rencana yang telah disepakati sejak awal. Namun, dia melakukan ini tentu ada alasannya.
__ADS_1
“Duri dalam daging, Yang Mulia,” jawab Ikan Terbang selintas kemudian.
Sri Punawarman menganggukkan kepalanya pelan. Dapat dimengerti olehnya tentang apa yang dimaksud oleh Ikan Terbang. “Engkau terkenal sebagai pelaut yang gagah berani, Ikan Terbang. Tetapi janganlah keberanian engkau menjadi berlebihan. Engkau pasti mengetahui bahwa, nyawa putri dari Sri Bhadravarman dipertaruhkan.”
“Daku mengetahuinya, Yang Mulia Paduka Raja.” Ikan Terbang menjawab lebih hormat lagi. “Jika sampai terjadi sesuatu kepadanya, maka diriku sanggup bertanggungjawab.”
Sri Punawarman tersenyum tipis. Tentu sebagai maharaja yang teramat sangat bijaksana, dirinya mengerti apa yang dimaksud dari kata “bertanggungjawab” itu.
“Daku berharap engkau tidak bermain-main dengan perkataanmu, wahai Ikan Terbang. Sekarang tunjukkanlah kepadaku janji yang telah engkau sumpahkan sebelumnya!”
“Mohon beri diriku waktu sedikit lagi, Paduka.” Ikan Terbang semakin menundukkan punggungnya, tekanan aneh yang diberikan oleh Sr Punawarman terlalu besar untuk dapat dihadapinya. “Jika memang tidak terdapat ....”
Ucapan Ikan Terbang itu harus terhenti setelah seorang pendekar bertopeng putih mendarat tepat di sebelahnya.
“Yang Mulia, izin memberi lapor.” Pendekar itu terlebih dahulu bersoja terlebih dahulu kepada Punawarman, dan barulah berbicara pada Ikan Terbang setelah diberi izin. “Kami menemukan sesuatu yang mencurigakan di kapal Sri Maharaja.”
Sri Punawarman masih dapat mendengar perkataan itu, akan tetapi dirinya menunggu tanggapan dari Ikan Terbang dan sama sekali tidak memiliki niat untuk memotong.
Pendekar itu kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam pundi-pundinya. Ikan Terbang dapat melihat itu sebagai helaian kain berwarna putih. Matanya melebar.
“Benarkah kalian menemukan ini di dalam kapal Yang Mulia?”
Pendekar bertopeng itu menganggukkan kepala. “Kami menemukannya di lorong dekat bilik milik Sri Cakrawarman. Dan kami juga menemukan ini.”
Kembali pendekar itu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung pundi-pundinya. Kembali Ikan Terbang menelisiknya. Seketika itu pula raut wajahnya berubah.
“Ini adalah medali pengenalnya.” Ikan Terbang berkata dengan suara bergetar, telapak tangannya merabai permukaan medali tersebut. “Dan ini benar-benar asli. Apakah engkau benar-benar mendapatkan ini di kapalnya Yang Mulia?”
“Benar, Ikan Terbang.”
Ikan Terbang diam-diam melirik sang maharaja Tarumanagara di depannya. Raja itu tampak menganggukkan kepalanya pelan serta memberi tanda bagi pengawalnya untuk mendekat.
__ADS_1
“Kabari Cakrawarman tentang perkara ini,” katanya kemudian. “Mintalah dia untuk pindah ke Kapal Katak Merah.”
***
“Mereka tertipu lagi, he?”
SEORANG pria tua ringkih tertawa di atas anjungannya. Dirinya melihat betapa kapal yang sebelumnya ditumpangi Sri Punawarman telah menjadi heboh disebabkan oleh penemuan barang-barang yang dianggap milik Bidadari Sungai Utara.
“Jika semuanya berjalan lancar, Salakanagara akan kembali lagi sebagai kekuatan terbesar di seantero Dwipantara.” Pria itu berkata seorang diri. “Arya benar-benar bisa diharapkan. Ah, di mana lelaki berhidung belang itu? Sudah terlalu lama tak kulihat bulu cambangnya.”
Ketika si pria ringkih baru saja melangkah pergi dengan langkahnya yang pendek-pendek, tanpa sengaja matanya menangkap kelebatan-kelebatan yang mendarat di tengah geladak kapal. Sebagai perwira di kapal ini, pria tua itu berhenti untuk melihat siapa yang datang.
Dirinya membeliakkan mata. “Cakrawarman?! Untuk apa dia ada di sini?!”
“Wahai Perwira Hanung!” Dari bawah, Cakrawarman menjura kepadanya. “Daku diperintahkan kakanda untuk pindah ke sini; Katak Merah. Kapal yang kutumpangi hendak diselidiki lebih jauh setelah penemuan barang-barang milik Bidadari Sungai Utara. Kuharap engkau tidak keberatan jika daku mengambil alih puncak kepemimpinan di sini.”
Pria tua ringkih yang dipanggil sebagai Perwira Hanung itu balas menjura dan mengatakan bahwa dirinya tidak keberatan sama sekali. Cakrawarman adalah mahapatih Tarumanagara sekaligus adik dari Maharaja Punawarman, kiranya Hanung ingin batang lehernya putus jika menolak?
Namun dalam benaknya, Hanung amat sangat khawatir. Sebagai mahapatih, Cakrawarman memiliki kekuatan serta ketajaman berpikir yang tinggi. Tidak menutup kemungkinan bahwasanya mahapatih Tarumanagara itu mampu mengendus keberadaan Bidadari Sungai Utara di kapalnya, Katak Merah!
Berdebat di dalam benaknya, Hanung mulai berpikir bahwa Punawarman memang sengaja mengirim Cakrawarman ke tempatnya.
__
catatan:
ini versi unedited, saya ada urusan mendadak sehingga tidak bisa mengedit.
Komik pendek:
__ADS_1