
Pagi ini Cila terbangun lebih awal karna ingin memasak untuk teman suami nya.
" Pagi Bang " Sapa Cila hangat melihat Rehan berjalan sempoyongan ke kamar mandi.
" Eh iya Cil,maaf baru bangun " Kata Rehan mengusap wajahnya.
" Iya ngak apa2 Bang,Mas David juga belum bangun " Kata Cila santai sambil membalik telur dadar diwajah.
" Hehe iya,gue kamar mandi dulu ya " Kata Rehan malu.
Cila mengangguk kecil dan meneruskan acara masaknya.
Mood nya pagi ini lumayan bagus,perut dan kepalanya tak sakit lagi.
" Ayo Nak bantu Mama berjuang ya " Gumam Cila mengusap perut datarnya.
Perempaun itu pun melanjutkan acara masaknya meski matahari belum terbit.
" Mau gue bantuin ngak ?" Tanya Rehan mendekati perempuan itu.
" Ngak apa2 Bang,ini udah mau selesai kok " Tolak Cila sopan.
" Beneran ?" Tanya Rehan menggoda.
" Iya,tenang aja semua aman " Kata Cila tersenyum.
Rehan mengangguk tersenyum dan berlalu dari sana.
Pria itu melewati kamar pasangan itu,senyum manis tercetak disana melihat David masih tidur dengan pulas meski hanya di kasur lantai.
" Beruntung banget sih lo Vid,ini hasil kesabaran lo selama ini " Gumam Rehan menghela nafas.
" Gue harap lo selalu bahagia Vid bersama Cila dan calon anak kalian " Lanjut Rehan.
Pria itu pun keluar rumah menikmati angin pagi.
Kesiang harinya saat mereka sudah selesai sarapan,David bersama Rehan keluar dari rumah pergi bekerja.
" Vid,gimana masalah keluarga lo kemarin ?" Tanya Rehan hati2.
" Huuuuffftt masih belum Han,Bang Reno yang urus " Kata David menghela nafas.
" Ohh semoga aja lancar ya " Kata Rehan tersenyum.
David menganguk ikut tersenyum lembut.
2 pria itu pun melanjutkan perjalan mencari sesuap nasi.
Dirumah Cila baru saja mendapat kabar dari Nisa bahwa biang rusuh keluarga besar itu sedang sakit.
" Ya ampun ternyata tu bocah bisa sakit juga " Gumam Cila terkekeh pelan.
Meski sangat terkejut tapi Cila merasa lucu,karna setelah sekian lama bocah kecil itu hidup baru sekarang anak bontot Nisa dan Reno itu baru masuk rumah sakit.
" Ngak ada penyakit lain apa,kenapa tuh bocah kena nya malaria sih " Tawa Cila meledak.
" Kok malah girang gini ya,tu bocah baru kena karma apa gimana ?" Lanjut Cila masih tertawa.
Tok tok tok...
Pintu rumah Cila diketuk dari luar.
Cila yang sedang duduk pun terkejut dan langsung bangkit menghampiri pintu.
Ceklek...
Pintu rumah terbuka,nampak lah seorang gadis mungil dengan wajah paniknya.
" Ante,gawat Te " Pekik gadis itu ketakutan.
" Ada apa Laura ?" Tanya Cila mengernyit bingung.
" Bos Ana sakit Te,aku halus kelumah sakit sekalang " Kata Laura menggigit jarinya takut.
Cila mengulum senyum melihat tingkah gadis kecil itu.
" Kok Ante senyum sih bukannya takut kayak aku ?" Tanya Laura heran.
__ADS_1
" Tenang aja Bos kamu itu lagi enak2 sekarang " Kata Cila santai.
" Enak2 gimana Nte ?" Tanya Laura.
" Ya enak aja,semua kemauan dia dituruti sama emak bapaknya " Kata Cila tertawa.
Laura tiba2 ngelag tak mengerti maksud Cila.
" Jadi aku halus gimana Te,aku ndak bisa pelgi sendili nanti aku kekasal " Kata Laura sedih.
"Huuuffftttt " Cila menghela nafas seraya mengusap perut ratanya.
" Kamu mandi dulu,bentar lagi kita otw " Kata Cila tersenyum.
" Benelan Te ?" Pekik Laura girang.
" Iya,nanti kamu di pecat kalo ngak jengukin bos besar kamu itu " Kata Cila tertawa.
Laura dengan polosnya mengangguk dengan wajah takut.
" Dah sana mandi dulu " Titah Cila lembut.
" Oke Nte " Jawab Laura mengangguk hormat.
Gadis kecil itu pun berjalan dengan wajah sedikit tenang.
Setelah bersiap2 kini mereka berdua sudah berada di depan rumah sakit nan megah.
" Waawww ini lumah sakit apa hotel Te ?" Tanya Laura menggenggam tangan Cila.
" Kayak nya sih rumah sakit rasa hotel " Kata Cila takjub.
" Ayo Te kita masuk,aku dah kangen sama Bos aku " Kata Luara menarik tangan Cila.
" Tunggu dulu,aku telepon Bunda nya dulu " Kata Cila merogoh tasnya.
Laura mengangguk dan masih menatap rumah sakit terkenal di kota itu.
Setelah mendapatkan izin kini 2 perempuan beda usia itu masuk ke pakarangan rumah sakit.
" Waaah pada ngumpul dsini ternyata " Kata Cila tersenyum.
" Hay Cila " Sapa Pony menggendong anaknya.
" Hay Mba " Sapa balik Cila.
Laura menunduk takut saat semua tatapan melihat kearah mereka.
" Dia siapa ?" Tanya Sonya kepada Cila.
" Dia Laura Bu " Jawab Nisa tersenyum.
Sonya mengernyit bingung,dirinya merasa belum pernah melihat gadis kecil itu selama ini.
" Laura mau ketemu Ana ya ?" Tanya Toni tersenyum.
Laura mengangguk lemah memainkan tangan dan bajunya takut.
" Jangan takut Nak,ayo sini sama Kakek " Ajak pria tua itu melambaikan tangannya.
Manik bulat Laura melihat Cila dan lainnya.
" Ngak papa mereka baik kok " Kata Nisa menenangkan.
Gadis kecil itu pun mengangguk tersenyum canggung kepada Kakek bos nya itu.
Saat Laura sudah dekat dengan Toni,manik hitamnya menatap sekitaran tapi tak menemukan objek yang dia mau lihat.
" Cari Ana ?" Tanya Dimas terkekeh pelan.
" Iya Kek,kok Bos Ana ngak ada bukannya dia sakit ya ?" Tanya Laura heran.
Dimas tertawa kecil mengusap rambut hitam gadis itu.
" Anak mu Nis,masih kecil udah dipanggil Bos " Kata Dimas tèrtawa geli.
Nisa mengangguk ikut tertawa.
__ADS_1
" Biasalah Pa,kayak ngak tau Ana aja " Kata Nisa seraya membuatkan teh hangat.
" Emang Ana kemana ?" Tanya Dimas ikut penasaran.
" Biasa lagi manja2 sama Mas Reno ditaman,katanya bosen dikamar terus " Jawab Nisa.
Dimas menggeleng pelan tak percaya dengan apa yang dia dengar sekarang.
" Nanti balik kesini langsung kambuh lagi sakitnya" Kata Nisa malas.
" Ana benar2 mirip bapaknya " Kata Sonya tertawa.
" Iya Bu,mirip banget malah mereka berdua tuh yang lomba2an bikin aku darah tinggi " Kata Nisa mengingat keseharian mereka.
" Hahahaha " Tawa mereka langsung pecah.
Mereka sudah bisa membayangkan bagaimana repotnya Nisa mengurus keluarga kecil itu sendirian,ditambah tingkah anak dan bapak sama2 sengklek.
Laura hanya diam saja mendengar cerita orang dewasa itu.
Disebuah taman seorang pria sedang sibuk menerima panggilan masuk dari kantornya.
" Pa udah belum ?" Tanya Ana sudah tak sabaran.
" Shutt bentar " Kata Reno menutup hp nya dengan tangan.
" Ck,tau gini males aku keluar sama Papa,mending aku rebahan dikasur di pijitin Bunda " Gerutu Ana kesal.
Gadis itu bersedekap dada melihat Reno yang masih mengurus pekerjaannya.
" Nanti saya hubungi,untuk sidang selanjut nya saya usahakan datang bersama adik saya " Kata Reno tegas.
"........."
" Oke,lakukan yang terbaik pastikan mereka semua mendekam dipenjara !" Lanjut pria itu tersenyum miring.
Tut.
Panggilan pun terputus,saat Reno berbalik kebelakang alangkah kagetnya pria itu tak mendapati lagi putrinya duduk dibangku taman.
" Loh Ana mana ?" Pekik Reno panik.
Pria itu celingak celinguk mencari keberadaan putrinya.
" Allahuakbarr " Pekik Reno kaget saat maniknya menatap sang putri sedang menggoda seorang dokter tampan tak jauh dari taman.
" Dok,tolong bawa aku kekamar dong,aku lemes nih jalan " Rengek Ana bergelayutan manja di lengan pria tampan nan muda itu.
" Aduh gimana ya ?" Gumam pria itu bingung.
" Oh,dokter ngak mau nih nolongin aku,aku lagi sakit loh dok !" Kata Ana menelisik.
Pria berjas putih itu melotot kaget saat gadis itu membisiki identitasnya.
" Mati aku kalo ngak diladeni,ternyata ni bocah cucu konglemerat " Batin pria itu ketakutan.
Ana tersenyum penuh kemenangan melihat wajah panik pria tampan itu.
" Ya udah kalo ngak mau " Kata Ana pura2 merajuk.
" Ehhhh jangan2,sini saya gendong sampe ruangan kamu " Kata Dokter itu cepat.
" Nah gitu dong " Kata Ana tersenyum.
Pria itu langsung berjongkok didepan gadis licik itu,Ana pun tak menyia nyiakan kesempatan emas krna di cueki sang Papa.
" Berangkattt" Pekik Ana girang melingkarkan tangannya di leher pria itu dengan tiang impus di pegang sang dokter.
Mereka pun berjalan melewati Reno yang diam mematung melihat gadis kecilnya di gendong pria lain.
" Ya Tuhan ampuni dosa hamba dulu Tuhan " Sadar Reno saat gadis itu menjauh dengan wajah licik tercetak jelas diwajahnya.
" Semoga anak ku cepat sadar Ya Allah,kenapa kecil2 udah gini gimana gede nya coba " Gumam Reno masih oleng.
❤❤❤❤❤
Hay guys jangan lupa Vote,like,coment ya biar author semangat Up.
__ADS_1