
Sesampainya dirumah,terlihat rumah besar itu sepi.
Angel masuk duluan sedangkan barangnya dibawa masuk oleh Sania dan Arshad.
" Kemana orang2 ?" Gumam Angel pelan.
Gadis itu melihat kiri kanan dan tak mendapati siapapun.
" Non Angelll " Pekik seorang wanita heboh dari dapur.
Angel menoleh dan mendapati asisten rumah tangga menyambutnya dengan haru.
" Halo Bi " Sapa Angel ramah.
" Non kemana aja ? Ya ampunnn Non Bibi khwatir loh denger Non diculik,alhamdulillah Non dah balik " Ucap wanita parubaya itu dengan senyum mengembangnya.
" Hehe iya Bi,Mama belum pulang ya ?" tanya Angel.
" Belum,mereka pada Umroh buat doain Non,kasihan Ibu,nangis2 terus " Jawab Bibi sedih.
Angel menghela nafas panjang,gadis itu juga merindukan sosok ibunya yg biasa begitu berisik.
" Biar saja aja Den " Pekik art itu melihat Arshad masuk.
" Gak papa Bi,ini berat " Balas Arshad menolak.
" Duh Den,gak enak bibi " Ucap Wanita itu menggaruk kepala.
Arshad tersenyum dan kembali berjalan.
" Sini biar saya aja Neng " Kata Bibi kepada Sania.
" Gak papa Bi,saya aja " balas Sania sopan
Bibi mengkrucut dan berbalik badan saat Angel memanggilnya.
" Bi,es jeruk dong " Kata Angel mulai menunjukkan kebar2an.
" Siap Neng,mau disini apa didapur ?" tanya Bibi.
" Didapur aja Bi,mau ngobrol juga " Jawab Angel.
Kedua perempuan itu pun berjalan menuju dapur.
Arshad dan Sania masuk lift,gadis itu diam seribu bahasa dengan memeluk erat tas jinjing Angel yg terlihat mahal.
" Kapan sampai ?" Tanya Arshad membuka suara.
" Kemarin Bang " Jawab Sania sopan.
Hening...
Arshad diam lagi hingga pintu lift terbuka.
Gadis itu terus mengekori Arshad hingga mereka tiba disebuah pintu.
" Kamu mau kemana ?" tanya Arshad berbalik badan.
" Ngikutin Abang " Jawab Sania polos.
" Masuk kamar aku ?" tanya Arshad lagi.
" Hah " kata Sania mendongak.
" Ini kamar aku dan aku mau mandi,mau ikut juga ?" Tanya Lelaki itu dengan wajah entengnya.
Deg....
Sania terbelalak dan mundur selangkah.
Melihat wajah kaget Sania membuat Arshad tersenyum tipis.
" Kamar Angel disana,aku mau mandi dulu " Kata Arshad membuka pintu kamarnya.
Sania melihat dan diam sejenak.
Begitu banyak kamar dilantai 3 tersebut,Sania merasa tak berani jika memasukinya tanpa izin.
__ADS_1
" Dah sana,aku gerah " Kata Arshad memainkan rambutnya.
Glek....
Sania menelan ludah kasar,expresi pria itu sungguh merontokkan imannya yg ia kumpul dari kampung.
Pria itu langsung masuk kamar tanpa menghiraukan Sania yg masih diam ditempat.
" Astagfirullahhhh " Ucap Sania tersadar.
Gadis itu merasa begitu dihipnotis dengan keperawakan cucu konglemerat tersebut.
Arshad seolah mengalihkan dunianya.
" Sadarrr Sannn,kamu bukan siapa2 " Gumam Sania menyadarkan diri.
Gadis itu pun melangkah mendekati kamar Angel,tapi karna merasa tidak enak jadi Sania membawa turun lagi tas mahal tersebut bertemu pemiliknya.
Ditempat lain,2 orang pria terlihat serius dengan beberapa hewan peliharaan.
" Mereka belum diberi obat beberapa hari ini " Ucap Prito kepada Daniel.
" Kenapa ?" tanya Daniel mengernyit.
" Aku sangat sibuk,masalah Angel kemarin akan kami jadikan bukti untuk bantu Vero " Jawab Prito.
" Dia masih dipenjara " Kata Daniel pelan.
" Iya dan gadis itu juga harus menjadi saksi nanti begitupun Angel " Balas Prito.
" Tapi aku tidak yakin " Lanjut Prito lagi.
" Kenapa tidak yakin ?" tanya Daniel heran.
" Angel pasti tidak mau terlibat,gadis itu takut hukum " Jawab Prito mengingat anaknya.
" Bukankah dia juga kuliah hukum ?" tanya Daniel mengingat.
" Ya,dia mau jadi hakimnya bukan saksi apalagi pengacara " Jawab Prito.
Daniel terdiam.
" Mama nya akan pulang lusa,aku juga harus mikir cara gimana nanti ngeles tentang Angel,tiap hari dirusuhinnn,nangis2,aduh pokoknya cape sampe Papa minta mereka umroh aja " Kata Prito malah curhat.
Daniel yg awalnya serius malah terkekeh geli mendengar ucapan lelaki itu.
" Akhirnya mereka umroh ?" Tanya Daniel.
" Iya,langsung dibeliin tiket biar rumah gak panas terus " jawab Prito.
" Hahahah keluarga kamu lucu2 ya " Kata Daniel tertawa geli.
" Apanya yg lucu,setres yg ada " Balas Prito.
" Pantesan kamu awet muda,punya istri dan anak kocak " Kata Daniel lagi.
Prito menghela nafas panjang,dirinya bisa dibilang beruntung menjadi menantu Reno Salders tapi disisi lain ia juga tersiksa dengan aturan tegas pemilik perusahaan besar tersebut.
" Dah ah,ayo kerja lagi nanti siang aku mau lihatin Angel dirumah " Kata Prito mengalihkan.
Daniel mengangguk,kedua lelaki itu pun kembali bekerja.
Siang harinya,benar saja rumah besar itu mulai dipadati warga.
Satu persatu anak cucu Reno pulang,bahkan Azura pun ikut pulang membawa anaknya.
Seperti yg bisa ditebak,kehebohan terjadi apalagi ada Jack yg sangat merindukan sosok kakaknya.
" Huhu aku pikir Kakak udah koid huhu " Ucap Jack dengan tangis harunya.
" Eh enak aja,masih hidup ini " Jawab Angel menyentil kepala bocah itu.
Jack mengkrucut dan kembali memeluk Angel.
Keluarga begitu menantikan kehadiran Angel bahkan pelukan rasa rindu pun tak bisa terelakkan.
Sania yg berada ditengah mereka tersenyum kecil.
__ADS_1
Gadis itu juga merasa bahagia tapi disisi lain ia juga merasa iri karna tak seberuntung Angel.
" Kamu disini juga ?" Tegur seseorang.
Sania menoleh dan mendapati pria tinggi dibelakangnya.
" Bang Juna " Ucap Sania terkejut.
" Lama gak ketemu kamu " Kata Arjuna tersenyum.
Sania mengangguk pelan.
Pria itu menganjak Sania keluar dari kerumunan.
Dari atas balkon,seorang pria menatap keduanya dengan tatapan yg sulit dimengerti.
Yap,Arshad melihat interaksi Arjuna dan Sania yg terlihat akrab.
" Mau kemana mereka ?" Gumam Arshad pelan.
Pria itu masuk lagi ke kamarnya dan menghilang dibalik pintu.
Disebuah lapangan,sepasang anak manusia bertemu dengan expresi masing2.
" Kenapa kau....." Ucap Yuna menggantung.
" Gak usah udik " Cibir Vero malas.
Yuna menutup mulutnya yg menganga lebar.
" Apa aku sedang mimpi ?" Gumam Yuna lagi.
Vero menghela nafas panjang dan berlalu dari sana.
Pria itu juga kesal kenapa mereka harus bertemu dalam satu tempat.
" Verooo " Pekik Yuna mengejar.
Vero terus berjalan tanpa menghiraukan lelaki itu.
" Ver tunggu " Kata Yuna menarik tangan Vero.
Vero berhenti dan berbalik badan.
" Apa ?" tanya Vero malas.
" Kenapa kamu disini ?" tanya Yuna serius.
" Kau tidak lihat baju kita sama ?" tanya Vero balik.
Yuna mengangguk polos.
" Kalo kau disini lalu bagaimana dengan Sofia ?" tanya Yuna menampar lelaki itu.
Vero diam tak menjawab.
" Dimana anak ku Vero ? Apa kau membuangnya ?" Tanya Yuna kesal.
" Heiiii kau pikir anak itu barang !" Pekik Vero tak suka.
Yuna langsung terdiam melihat kemarahan Vero.
" Maks sud ku,sia apa yg merawat Sofia ?" tanya Yuna takut.
" Dia bersama Papa " Jawab Vero melemah.
Yuna langsung berjongkok dan menutup matanya.
Vero menghela nafas panjang,wanita itu sudah menangis dibawah sana.
" Dia akan baik2 saja,Papa merawatnya dengan baik " Kata Vero pelan
" Hiks hiksss malang nya anak kuu huhuhu " Kata Yuna menangis sedih.
Vero meninggalkan wanita itu menangis sendirian,bertemu dengan Yuna saat ini membuat otaknya makin kacau.
❤❤❤❤
__ADS_1
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.