
Malam hari Laura dan Justin berkunjung kerumah sakit,pasangan itu terlihat begitu perduli dengan keduanya.
Laura perduli kepada Hani sedangkan Justin kepada Reka yg kebetulan merupakan bawahannya juga.
" Kamu gak papa ?" tanya Laura melihat luka dijidat Hani.
" Gak papa Kak " Jawab Hani pelan.
" Kamu sudah makan ?" tanya Laura lagi.
Hani menggeleng pelan.
Laura melihat sekeliling dan menghela nafas panjang.
Wanita itu merasa kasihan,tak ada yg menemani Hani dikala sakit,tidak seperti pasien disebelah gadis tersebut yg dijaga keluarganya.
" Vero kasih tau Kakak kamu disini " Ucap Laura tersenyum.
Hani mengangguk kecil,sejak kejadian Hani tak ada sedikit pun bicara kepada mantan kekasihnya tersebut karna kondisi yg tak memungkinkan.
" Onty makan dulu,mau es gak ?" tanya Boy lama membuka suara.
" Eeh orang lagi sakit kamu kasih Es " Kata Laura terkejut.
" Hehe ya siapa tau sembuh Ma,Boy kan gitu biasanya kalo sakit Papa beliin Es,habis itu sembuh " Kata Boy polos.
" Hah " Pekik Laura melotot.
Justin yg berdiri diam langsung dibuat kelabakan dengan ucapan anaknya.
" Yankk kamuuu !" Ucap Laura tajam.
" Gak ada Yank,aku gak ada kasih dia minum es pas sakit " kata Justin membela diri.
" Ihh Papa bohong Ma,aku diajakin ke minimarket saat itu " kata Boy serius.
Justin menelan ludah kasar,pria itu terlihat takut dengan aura membunuh sang istri.
Hani mengulum senyum,gadis itu merasa terhibur sedikit dengan kejahilan ponaan Vero tersebut.
" Tuh Ontynya senyum " kata Boy heboh.
Laura dan Justin melihat kearah Hani yg langsung memasang wajah tercidyuk.
Justin terkekeh geli,pria itu ikut tersenyum melihat gadis bibir Hani malu2 ketahuan..
" Emang2 deh anak dan bapak sama aja " Cibir Laura mencubit pinggang Boy.
Boy tertawa ngakak dan langsung terdiam dipelototi tetangga sebelah.
" Ayo keluar aja " Kata Justin merangkul leher anaknya.
Boy mengangguk pelan dan bersembunyi di punggung Justin..
Kini tinggal lah Laura dan Hani disana,keduanya sama2 diam sejenak.
" Han " Panggil Laura lembut.
" Iya Kak " Jawab Hani.
" Kamu baik2 saja ?" tanya Laura khwatir.
" Iya aku baik2 saja " Jawab Hani tersenyum.
" Syukurlah,kakak khawatir sama kamu " kata Laura sedih.
Hani tersenyum getir dengan ucapan wanita itu.
" Makasih Kak " kata Hani ingin menangis.
__ADS_1
" Kamu yg kuat ya,apapun yg terjadi kamu pasti bisa melewatinya " Kata Laura memberi semangat.
Hani mengangguk dengan air mata yg sudah menetes.
Gadis itu masih tak menyangka Laura masih perduli kepada dirinya padahal hubungan ia dan Vero sudah lama berpisah..
" Ayo makan dulu,Kakak suapin ya " Kata Laura membujuk.
" Iya Kak " Balas Hani dengan suka hati.
Laura pun mulai mengambil menu makan malam sederhana Hani yg disiapkan pihak rumah sakit.
Gadis itu makan dengan lahap meski sedikit merasa malu dan canggung.
Dikamar lain,Justin datang menemui Reka yg juga terbaring seorang diri.
" Dia tidur Pa " ucap Boy melihat Reka tak bergerak.
" Iya gak usah berisik " Kata Justin pelan.
Keduanya melangkah masuk,Reka yg merasa ada pergerakan langsung membuka matanya.
" Eeh hidup " Pekik Boy terkejut
Reka langsung menoleh dan terkejut melihat sang Bos besar.
" Pak Justin " Ucap Reka buru2 bangun.
" aakhhh " Pekik Reka kesakitan.
" Gak usah bangun " Kata Justin menahan.
" Maaf Pak " Kata Reka tak enak.
" Gak papa,kamu berbaring aja " Kata Justin ngeri.
" Gimana keadaan kamu ?" tanya Justin tenang.
" Baik Pak,maaf saya belum bisa bekerja " jawab Reka.
" Gak papa,saya sudah membayar biaya pengobatan selama dirumah sakit " Balas Justin.
" Hah !" Pekik Reka terkejut.
" Ya,kau masih tanggungan perusahaan,jadi tidak usah pusing soal biaya " kata Justin terkekeh.
" Terima kasih Pak " Ucap Reka tak percaya.
" Sama sama " Balas Justin tersenyum.
Boy masih diam memperhatikan Reka yg tersenyum manis.
" Apa ini sakit ?" tanya Boy polos melihat kaki Reka diperban.
" Eeh jangan disentuh " Kata Justin terkejut dengan sikap anaknya.
" Iya sakit sekali " Celetuk Reka terkekeh.
" Uhhh ngerii,aku bakal hati2 nanti " kata Boy takut.
" iya harus hati2,gak usah kebut2an pake sepeda " Cibir Justin.
" Kan masih dirumah gak kejalan " Balas Boy mendengus.
Justin diam,Reka yg melihat Bosnya kehabisan kata2 menahan tawa yg ingin meledak.
" Oh iya Rek,gimana ceritanya kamu sama Hani bisa kecelakaan ?" tanya Justin mulai serius.
" Gak tau Pak,saya sama Hani lagi ngobrol dimotor menuju pulang kerumah dia eh tiba2 kita ditabrak " Jawab Reka mencoba mengingat.
__ADS_1
" Kamu tau salahnya ?" tanya Justin lagi.
" Gak Pak,kita udah ambil pinggir kok " Jawab Reka.
Justin diam mencoba menelaan ucapan sang anak buah.
" Kamu kenal mereka ?" tanya Justin.
Reka menggeleng.
" Aku gak tau mereka siapa,tapi sebelum pingsan aku sempet lihat mobilnya berwarna biru " Jawab Reka serius.
" Biru ?" Ulang Justin.
" Iya Biru dan itu sedan " Jawab Reka lagi.
Justin mangut2 mengerti dan kembali bertanya secara spesipik.
" Apa Hani baik2 saja Pak ? saya belum bertemu dia " Kata Reka hati2.
" Iya dia baik2 saja gak parah kayak kamu " Jawab Justin.
" Ùh syukurlah " Balas Reka tenang.
Lelaki itu begitu mengkhwatirkan keadaan sahabatnya,apalagi Hani perempuan.
Hari makin larut,keluarga kecil Justin pun berpamitan pulang.
Ditempat lain,2 orang pria duduk saling berhadapan dengan rokok masing2.
" Ternyata Ayah pelakunya " Ucap Daniel frustasi.
" Iya Bang,ayah kelewatan banget " Kata Ridho tak habis pikir.
Daniel menggeleng pelan,sungguh 2 lelaki itu terlihat sangat terkejut setelah mendapatkan info yg mereka cari selama 2 hari berturut2.
Bahkan Ridho melupakan sejenak masalah yg menimpa Yuna hingga dipenjara bahkan keadaan anaknya yg diasuh Vero.
" Jadi kita harus gimana ?" Tanya Ridho meminta solusi.
" Aku rasa Ayah sudah tau semuanya " Jawab Daniel.
" Ya gue rasa juga begitu " Balas Ridho menghela nafas.
" Aku akan bicara sama Ayah " kata Daniel serius.
" Lo tau kan Ayah itu orang yg keras,bisa dibunuh lo kalo sampe melawan " Kata Ridho ngeri.
" Aku gak perduli,ini masalah nyawa orang lain,kamu gak denger orang itu bilang bahwa Hani dan Temannya ditabrak,kalo mereka meninggal gimana ?" Kata Daniel kesal..
" Ya juga sih " Balas Ridho lesu.
" Ini pasti ada hubungannya dengan Nial !" Kata Daniel mengepalkan tangan.
" Lo kan udah pisah sama dia Bang " kata Ridho mengernyit.
" Ya aku rasa dia masih belum terima " Kata Daniel yakin.
Ridho diam sejenak dan mencoba menelaan pemikiran kakaknya.
" Ya udah,kita temuin Ayah dulu " kata Ridho memutuskan.
Daniel mengangguk kecil,kedua lelaki itu pun langsung keluar dan pulang kerumah orang tuanya..
Daniel terlihat sangat marah,ia bahkan belum siap kerumah sakit untuk menjenguk gadis pujaannya karna takut emosi nya meledak2.
❤❤❤❤
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.
__ADS_1