Cahaya Untuk Suami Ku

Cahaya Untuk Suami Ku
Ungkapan


__ADS_3

Siang menjelang,Rania terbangun dari tidurnya karna merasa sangat lapar.


Gadis itu melihat jam dan melotot hari sudah menunjukkan pukul 10 siang.


" Astaga,lama sekali aku bangun " Gumam Rania mengusap wajahnya.


Gadis itu bangun dari tiduran dan melihat sekeliling.


Hening,tak ada siapapun selain dirinya.


" Hmm apa yg harus aku makan ?" Gumam Rania mengusap perut.


Gadis itu melihat kiri kanan membuka laci berharap ada disesuatu.


" ishh kosong " ucap Rania menghela nafas.


Ia bingung harus bagaimana,maklum Rania juga bukan gadis yg sering cek in hotel.


" apa aku telfon Arshad aja ya,tanya sama dia " Gumam Rania teringat akan pria tersebut.


" Ya aku telfon dia aja " Lanjut Rania.


Dengan cepat,gadis itu merampas hapenya yg akan mati dan menelfon Arshad.


Tuttt....


Panggilan tersambung.


" Angkat dong " ucap Rania pelan.


Panggilan terus tersambung tapi belum ada jawaban.


Beberapa saat kemudian,gadis itu mendengar sesuatu.


" halo " sapa Rania semangat.


" iya " Jawab seseorang disberang.


" Syad,cara pesen makanan gimana ? Aku laper nih " kata Rania cepat.


Hening tak ada jawaban.


" Syad " Panggil Rania lagi.


" Ini Papanya " Ucap pria itu membuat Rania melotot seketika.


" Pa pa ?" Ulang Rania syok


" Kamu panggil saya ?" Tanya Aktam diseberang.


" Hah em ngga Om " jawab Rania kelabakan.


Hening,tak ada jawaban


" Siapa Pa ?" Tanya seseorang diseberang


" Temen mu nih " Jawab Aktam.


" Halo " Sapa Arshad tenang.


" Syad " Panggil Rania cepat


" Hah ya " Jawab Arshad.


" Aku laper,gimana cara pesen makan ?" tanya Rania.


" Tinggal pesan aja " Jawab Arshad.


" Aku ga tau " Balas Rania mengkrucut.


Heninggggg..


Arshad kembali diam.

__ADS_1


" Mau makan apa ?" Tanya Arshad


" Nasi " jawab Rania manja.


" Ya udah,diem disitu aku pesenin makan " Balas Arshad.


" Beneran ?" tanya Rania heboh.


" hm " Jawab Arshad malas.


Tut.


Panggilan terputus,Rania melihat hapenya dengan wajah bingung.


" Kenapa dimatiin sih ?" Tanya Rania heran.


Gadis itu mencoba menelfon lagi dan mengurungkan niatnya.


Disebuah perusahaan,dua orang pria saling melihat.


" Dia siapa ?" tanya Aktam duduk tenang disofa.


" Temen aku Pa " Jawab Arshad jujur.


" Nama ?"


" Rania " Jawab Arshad lagi.


Aktam mangut2 dan melihat wajah tenang sang anak.


Arshad mengotak atik hapenya dan berpamitan keluar.


" Huhh sebenarnya siapa pacar Arshad ? Semua gadis dia bilang teman " Kata Aktam heran.


Aktam tak mau terlalu ikut campur urusan putranya apalagi Arshad bukan pria yg mudah untuk di dekati.


Tak lama Arshad kembali masuk dan mengajak Aktam untuk segera mengikuti meeting.


Pria itu telah memesan makanan untuk Rania,Arshad tidak tega jika harus membiarkan gadis itu hidup tanpa makan.


Disebuah rumah,seorang pria duduk termenung di belakang rumah dengan ssbungkus rokok dan kopi yg sudah dingin.


Denis terlihat melamun,mengenang putrinya yg kini belum ditemukan.


Miska melihat dari kejauhan dengan wajah sendu,bagaimana pun perlakuan Denis akhir2 ini Miska masih memaklumi sikap suaminya karna memang selama menikah Denis tidak pernah berlaku kasar apalagi sampai main tangan.


" Aku harus bagaimana? Cara apalagi yg harus aku lakukan ?" Gumam Miska bingung


Sebagai seorang ibu ia juga merindukan Rania,tapi rasa bersalahnya kini lebih memuncak saat rumah yg biasanya harmonis langsung berbalik arah seketika,bahkan hubungan dengan suaminya pun diambang keretakan.


Yap Denis hampir menceraikan Miska saat emosinya sedang memuncak,tapi semuanya berhasil digagalkan berkat adiknya yg ternyata bolos sekolah dan kecelakaan.


Bahkan saat ini bocah kecil itu dirawat dirumah sakit dengan ditemani sang nenek.


Denis tak punya banyak tenaga,pikiran dan jiwanya terkuras harus menghadapi masalah yg tak kunjung selesai.


" Apa yg harus aku lakukan ? Kenapa ini sangat sulit ?" Gumam Denis sedih.


Sesapan rokok pun terus berulang membuat gumpalan asap yg cukup pekat diudara.


" Aku harus minta tolong ke siapa sekarang ?" Gumam Miska menghela nafas.


Masalah keluarganya hanya mereka yg tau,bahkan Cila tidak tau bahwa Rania kabur dari rumah,Denis tak mau cerita soal tersebut ke kakaknya apalagi jika ibunya tau,Denis takut Cila berbuat nekad dan menyalahkan Miska akan segala hal yg terjadi,karna keluarga Denis tau bahwa Miska memang sering mengkambing hitamkan gadis tersebut.


" aku ga bisa diem terus,nanti pasti akan lebih parah " Ucap Miska takut.


Wanita itu diam terus melihat suaminya hingga panggilan telepon menegur Miska.


" Halo Mak " Sapa Miska.


" Kamu dimana ? Cepat kerumah sakit " Ucap seseorang diseberang.


" Ada apa ?" tanya Miska mengernyit.

__ADS_1


" Anak kamu ngelepasin selang infusnya,dia mau pergi " jawab Ibu Miska panik.


" Apa ?!" Pekik Miska kaget.


" Cepetan kesini "


Tut.


Panggilan terputus,Miska menelan ludah kasar.


Wanita itu ingin memberitahu Denis,tapi melihat suaminya membuat wanita itu mengurungkan niat.


" Ga bisa,kalo aku bilang Mas Denis nanti malah makin repot " Ucap Miska ngeri.


Tanpa tunggu lama,wanita itu berlari keluar mengambil motor dan langsung menuju rumah sakit.


Bahkan Miska juga tak sempat berpamitan kepada sang suami.


Mendengar grasak grusuk,Tania keluar dari kamar dan mengernyit melihat ibunya sudah melaju kejalan raya.


" Apa Mama dan Papa berkelahi lagi ?" Gumam Tania sedih.


Gadis itu juga terlihat trauma,Tania sebelumnya tidak pernah melihat Denis benar2 murka,tapi sejak Rania pergi,sosok asli lelaki itu menampakkan diri membuat isi rumah takut.


Tania berjalan keluar dan melihat Papanya duduk sendirian.


" Pa " Tegur Tania hati2.


Denis menoleh dan tersenyum.


" Kamu pulang Ran " Ucap Denis berbinar.


Deg...


Tania terdiam mendengar nama yg diucapkan Denis.


" Sini duduk sama Papa " Kata Denis menepuk bangku disebelahnya.


Tania menahan tangis,memang bukan sebab Denis berbicara begitu karna keduanya memiliki wajah yg sama.


Tania duduk disamping Denis dan menatap kedepan.


Denis melihat wajah putrinya dengan senyum merekah dan terlihat sangat berbinar haru.


" Maafin aku Pa " Ucap Tania lirih.


" Ga papa,bukan salah kamu " Jawab Denis mengusap kepala anaknya.


" Aku Tania Pa,bukan Kakak " Jawab Tania menahan tangis.


Deg...


Tangan Denis yg tadinya mengusap langsung terdiam.


Tesss.....


Air mata Tania menetes,sungguh sikap Denis menghancurkan hati kecilnya.


" Ohh maaf Tan,Papa kira kamu Rania " Ucap Denis menggaruk kepala tak enak.


Grebbb....


Tania langsung memeluk tubuh renta Papanya yg kurang nutrisi,gadis itu menangis sejadi jadinya membuat Denis hanya bisa menghela nafas.


" Maafin Tania Pa huhuhu " ucap Tania penuh sesal.


" Bukan salah kamu Nak " Balas Denis mencoba tegar.


" Ini salah aku Pa " Ucap Tania terus menangis.


Denis tersenyum dan mengusap punggung bergetar putrinya.


" Papa juga minta maaf belum bisa jadi orang tua yg adil untuk kalian " Ucap Denis gemetar.

__ADS_1


❤❤❤❤


Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.


__ADS_2