
Saat sampai dirumah terlihat Denis sedang menenangkan Sintia yang menangis tersedu sedu melihat Vero hanya diam menyendiri dengan pandangan fokus kedepan Tv.
David merasa sangat sedih melihat keterdiaman Vero,biasanya pria itu akan sangat heboh dan manja jika kedatangan Neneknya.
" Ada apa Nak ?" tanya Beni kepada Clara yang terdiam di ambang pintu dapur menangis sendirian.
" Ayah " Panggil Cila pelan dan langsung menghambur memeluk pria tua itu.
"Kamu yang sabar ya ini ujian untuk kalian " kata Beni mengusap punggung Cila yang gemetar.
" Anak aku Ayah hiks hiks " Kata Cila menumpahkan rasa sedihnya.
" Iya sayang,Ayah tau hati mu sangat hancur " Kata Beni memeluk Cila erat.
Sintia masih menangis terisak,sedangkan Vero hanya cuek saja tak mèlihat siapapun yang ada disana.
Pria itu benar2 seperti kehilangan arah,ingatannya belum juga kembali,bahkan Vero kini tak mau berbicara banyak dengan siapapun kecuali Laura yang bisa menenangkan hatinya.
Flashback On.
Keluarga Beni datang melihat anak cucu mereka,Beni sangat syok saat tau Vero kecelakaan dan hilang ingatan.
Tanpa menunggu waktu mereka pun langsung pergi kerumah Cila dan David untuk memastikan keadaan Vero,saat mereka sampai keluarga itu dikejutkan dengan Cila yang menangis diluar rumah.
Beni langsung menghampiri anaknya dan bertanya ada apa.
Cila memberitahu bahwa dirinya mendapat laporan dari polisi bahwa David saat ini sedang mengamuk disana saat tau siapa pelaku yang mencelakakan Vero,Cila taunya sang Suami pamit bekerja,tanpa basa basi Beni pun langsung berpamitan lagi menemui David,takut2 sang menantu membuat onar.
Sintia masuk kedalam rumah bersama Denis,anak dan ibu itu terdiam saat memasuki kamar cucu mereka.
Terlihat Vero baru selesai mandi dengan handuk dipinggang,melihat ada yang memperhatikannya,Vero tiba2 langsung marah merasa Sintia dan Denis tak sopan masuk kamar orang.
Sintia yang melihat Vero membentak pun seketika mundur mengusap dadanya yang sesak,sungguh cucu pertama nya itu telah berubah 100 derajat dari biasanya.
Saat Denis mendekat,Cila langsung menghalangi.
" Kenapa Vero begini Kak !" Kata Denis marah.
" Jangan " Kata Cila berkaca kaca.
" Vero kenapa Cila ?" Tanya Sintia menitikkan air mata.
Cila menunduk dalam menatap putranya yang kini masuk lagi kekamar mandi.
" Vero hilang ingatan Bunda huhuhuhu " Tangis Cila pecah memberitahu Sintia.
" Apa ! jadi itu benar ?" Tanya Sinta nanar.
Cila mengangguk lemah,Denis sama syoknya dengan sang Bunda,lelaki itu tak menyangka Vero yang biasanya selengekan dan hoby minta uang kini tak mengenali mereka.
" Maafkan aku Bund hiks hiks " kata Cila menangis terisak.
Denis memeluk Cila dan mengusap punggung Kakaknya.
" Kakak yang sabar ya " kata Denis dengan cepat mengusap air matanya yang sempat jatuh.
" Kakak gagal Denis hiks " Kata Cila memeluk Denis.
__ADS_1
Denis menggeleng.
" Ngak Kak,Kakak orang tua yang luar biasa untuk Vero dan juga Laura " Kata Denis lembut.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka,Vero terdiam melihat Cila menangis memeluk pamannya.
Pria itu kembali merasa bersalah melihat wanita yang 24 jam bersamanya kini kembali bersedih.
" Maaf,aku tak mengingat kalian sedikit pun,tolong jangan dekati aku !" Kata Vero datar.
Pria itu pun berlalu dari sana dan duduk diruang tamu menghadap televisi.
Cila kembali terisak,hati ibu mana yang tak sakit saat buah hatinya berbicara seperti itu.
Cila merasa dunianya runtuh,meski sudah sering mendengar hal2 seperti itu bahkan lebih tapi Cila tetap merasa nyeri yang luar biasa.
Flashback Off.
Beni mendekati cucunya yang hanya diam saja,David mendekati Cila dan memeluk istrinya,David tau apa yang sedang Cila rasakan sekarang.
" Vero " Panggil Beni menepuk pundak lelaki itu dan duduk bersama Vero di kursi.
Vero menoleh dan tetap memasang wajah datar.
" Lagi ngapain ?" tanya Beni tersenyum getir.
Vero kembali menghadap depan menunjuk televisi.
Beni mengangguk lemah dan merangkul cucu nya.
Vero menggeleng lemah menatap manik hitam lelaki itu.
Beni menghela nafas,gelayar aneh mulai merasuk ke jiwanya.
" Tolong jangan dipaksa Yah " Pinta David lemah.
Beni mengangguk dan kembali melihat Vero yang masih menatapnya dalam diam.
" Boleh saya peluk ?" Tanya Beni merentangkan tangannya.
Vero mengernyit,pria itu berusaha mengingat siapa pria tua didepannya saat ini,tapi nihil Vero tak mengingat apapun.
Vero melihat sekeliling,terlihat semua orang menatap dirinya dengan tatapan yang sulit dimengerti.
" Apa anda orang jahat ?" Tanya Vero wanti2.
Beni melengkungkan senyumannya.
" Memang saya terlihat seperti penjahat ?" Tanya Beni mengangkat alis.
Vero mengangguk polos.
Beni terkekeh pelan dan menyentil kening lèlaki itu.
Vero mengusap kapalanya merasa bingung,bagaimana tidak wajah Beni sangatlah sangar,ditambah kumis yang mulai tebal.
__ADS_1
Beni memeluk Vero dengan hangat dan mengusap punggung lelaki itu.
" Ini Kakek mu Nak " Kata Beni berkaca kaca.
Vero hanya diam.
" Dulu saat kamu masih kecil kamu sering sekali meminta Kakek menggendong mu di pundak,lalu kita berjalan ria,mandi disungai dan menangkap ikan bersama Kakak mu Laura,bahkan saat kamu makan pun sering meminta Kakek menyuapi nya,apa kamu ingat ?" Cerita Beni dengan suara lirih.
Vero menggeleng pelan.
" Ngak papa,kamu akan mengingatnya nanti,berusaha lah Kakek tau kamu bisa !" kata Beni melepaskan pelukan mereka dan menatap manik Vero yang masih datar.
" iya " Jawab Vero mengangguk pelan.
Beni berpindah tempat,kini Sintia yang maju mendekati cucunya.
" Vero hiks hiks " Panggil Sintia dengan tetasan air mata yang tak henti menetes.
Vero hanya tersenyum canggung..
" Ini Nenek Nak " Kata Sinta menepuk dirinya.
Vero diam menatap datar.
" Maaf saya tak mengingat kalian,tolong jangan paksa saya karna itu akan membuat kepala saya sakit seperti dihantam batu besar " Kata Vero datar.
" Iya Nak,maafkan Nenek " Kata Sintia memilih mundur tak kuasa.
Vero mengangguk tersenyum.
Mereka semua menghela nafas dan membiarkan Vero dengan kegiatannya sendiri.
" Laura mana Kak ?" Tanya Denis saat mereka makan siang.
Vero mendongak saat nama gadis yang selalu menganjak nya mengobrol disebut.
" Masih kuliah,nanti sore baru pulang " Kata Cila tersenyum.
" Oh,Laura udah punya pacar ?" tanya Denis lagi.
" Uhuk uhuk uhuk..." Tiba2 Vero tersedak makanannya.
David dengan cepat memberi minum kepada putranya dan mengusap punggung lelaki itu.
" Makan yang pelan " kata David lembut.
Vero mengangguk lemah dan diam.
Denis menatap keponaannya aneh begitu pun Orang tuanya.
" Ada apa dengan Laura dan Vero ?" tanya Sintia merasa tak beres.
" Hah,ngak ada apa2 kok Bun,Vero kini makin lengket sama Laura,jadi kalo ada yang ngomongin Laura pasti Vero responnya cepat " Cerita Cila.
Sintia mangut2 mengerti,lain hal dengan Denis yang menatap aneh keponaannya.
Vero kembali melanjutkan makan siang tanpa menimpali sedikit pun obrolan orang tuanya.
__ADS_1
❤❤❤❤❤
Hay guys jangan Lupa terus dukung author dengan cara Vote,Like,Coment ya kalau masih mau cerita ini berlanjutt.