Cahaya Untuk Suami Ku

Cahaya Untuk Suami Ku
Rasa


__ADS_3

Denis terdiam melihat Reka berbicara begitu lancang kepadanya.


" Apa maksud mu ?" tanya Denis melemah.


" Cihhh,aku heran dengan keluarga cemara kalian ini " Decih Reka terlihat muak.


Denis diam sejenak mencoba menelaan kata2 pria didepannya.


" Udah lah Om,jangan terlalu keras sama Rania,dia itu udah membatu " Ucap Reka menghela nafas.


" kau tau banyak tentang Rania ?" tanya Denis mengernyit.


" Tidak,aku sebenarnya tidak ingin tau,tapi yaah semesta berkata lain " Jawab Reka.


" beritahu saya " Pinta Denis.


" Harusnya bapak lebih tau karna itu anak bapak " Balas Reka.


" Saya tidak tau banyak tentang anak2 saya karna mereka sudah dewasa " Ujar Denis pelan


Reka diam menatap lelaki dewasa didepannya.


Melihat Denis seperti sekarang membuat Reka sedikit iba.


" Bapak terlihat sangat sibuk " Ucap Reka.


" Hm ya,saya bekerja siang malam demi mereka,saya kurang perhatian dan itu sangat mengecewakan " ucap kepala keluarga yg merasa gagal.


" Boleh saya tau cerita Rania ?" tanya Denis


Reka kembali diam terus melihat lelaki itu.


" Baiklah " Jawab Reka mengangguk.


Denis tersenyum kecil,lelaki itu pun diajak masuk kerumah dan keruangan kerja Denis.


" Pa aku..." ucap Tania tapi Denis langsung menggeleng.


" Masuk kamar " Ucap Denis dengan nada tegasnya.


Tania menunduk dengan anggukan pelan.


Gadis cantik itu pun berjalan gontai kearah lain.


Reka diam melihat interaksi bapak dan anak tersebut.


Tania masih polos dan sangat menuruti keinginan orang tuanya beda jauh dengan Rania yg bar2 dan tak takut apapun.


" Ayo Rek " Ajak Denis.


Reka mengangguk,keduanya pun berjalan mendekati sebuah ruangan.


Ditempat lain seorang wanita diam sambil menatap suami dan tamu mereka masuk ruangan.


" Ma " Panggil seorang bocah laki2.


Miska menunduk dan menatap wajah anaknya.


" apa Kakak akan pulang ?" tanya bocah kecil itu dengan mata berbinar.


Miska menghela nafas panjang dan mengangguk.


" Ya sayang,kakak cuma pergi sebentar " Balas Miska mengusap kepala anaknya.

__ADS_1


" Kakak marah ya Ma ?" tanya bocah itu lagi.


Miska terdiam,pertanyaan sang anak sedikit membuatnya termenung.


" Ngga,kan Kakak kamu suka gitu,mungkin dia laper " Balas Miska mencari alasan.


" Aku mau Kakak Ma " Rengek bocah itu manja.


" Nanti ya " Balas Miska.


" Aku mau tidur sama Kak Ran Ma,Kak Ran selalu jaga aku kalo tidur " kata si bungsu ingin menangis.


" dari mana kamu tau ?" tanya Miska mengernyit.


" Kakak sering diam2 masuk kamar aku,peluk aku tidur " Jawab sang anak mengingat.


Deg...


Miska tersentak.


" benarkah ? Apa dia ikutan tidur ?" tanya Miska terkejut.


" Ngga,Kakak ngga tidur,,dia peluk aku lamaa terus balik kamarnya " Jawab sang anak dengan wajah polos.


Miska lemas seketika,sungguh ia tak tau bahwa anak gadisnya tersebut sering masuk kamar si bungsu diam2.


" Jadi Rania sering ga tidur ?" Batin Miska menerka.


Seketika otaknya mencoba mengingat beberapa moment dimana putrinya tersebut sering sekali mageran dirumah atau terlihat hidup segan mati tak mau.


" Nanti kalo Kaka dah pulang,kasih tau aku ya Ma " ucap bocah itu tenang.


Miska mengangguk tersenyum.


Putranya itu pun berjalan masuk kekamar.


Disebuah jalan,seorang gadis duduk diemperan sambil mengusap air matanya yg terus menetes tak henti.


" Mengapa hati ku sangat sakit ? Bukan kah ini sudah biasa terjadi ?" Gumam Rania heran.


Air matanya terus keluar tanpa diminta,terlihat luka batinnya kembali menganga lebar kemasukan debu membuat sang luka terasa menyakitkan.


" Apa yg harus aku lakukan ? Tak ada yg menginginkan ku lagi didunia ini " Ucap Rania dengan suara gemetarnya.


Lalu lintas terlihat ramai,para pemotor dan mobil melewati jalur mereka masing2.


Terlintas dikepala Rania saat beberapa tahun lalu dimana semuanya terjadi.


Sang adik kembar yg sedang gembira bahagia dengan senyum merekah tiba2 menjadi diam membantu ditempat setelah terjadinya hal yg tak pernah terpikirkan dalam hidup.


Ruangan gelap disertai petir angin dan hujan membuat gadis tak berdosa itu merasa hancur tak tersisa.


Tak ada cahaya lagi,semuanya benar2 gelap gulita,hanya ada kesedihan mendalam yg tak tau kapan akan berakhir.


" Hiks hiks " Bunyi isakan semakin dalam.


Tak ada yg berani menghentikan kesedihan gadis itu,bahkan pejalan kaki pun terlihat tak perduli.


" aku harus kemana ?" Gumam Rania mencoba untuk tenang beberapa saat..


Tak ada tujuan hidup,ia tak tau harus kemana lagi.


" Mengapa aku sangat menyedihkan ? Aku pikir harapan terakhir ku bisa memberikan aku rasa aman,tapj sama halnya dengan yg lain,mungkin aku hidup hanya untuk menjadi ujian buat mereka " Lanjut Rania terkekeh.

__ADS_1


Harapan terakhir adalah Denis,ia pikir sang Papa akan selalu membelanya setiap saat seperti yg sudah2,tapi kini Denis sama halnya dengan Miska yg seolah hanya menyayangi satu anak saja yaitu Tania.


Rasa iri memang hadir dalam jiwa gadis itu meski ia sering mencoba untuk menghilangkannya jauh2,tapi Rania hanyalah manusia biasa yg memiliki sifat tak menentu.


Semakin pusing dengan jalan hidup,gadis itu menyeret tubuhnya menjauhi tempat yg sekarang.


ia tak tau akan pergi kemana,tapi Rania yakin dirinya akan baik2 saja.


Diruangan,Reka menjelaskan apasaja yg sudah ia tangkap dari Rania selama ini.


Meski gadis itu tak banyak bicara,tapi Reka tau masalah hidup Rania sangatlah berat..


" Dia ga cerita secara spesifik ?" tanya Denis bingung.


" Ngga Pak,Rania sangat tertutup " Jawab Reka.


" Kalian dekat dari mana ?" tanya Denis lagi.


Reka diam,pria itu mencoba mengenang pertemuannya pertama kali dengan Rania.


" Ngga tau Pak,intinya saat saya ketemu dia,hari saya pasti sial eh maksudnya em anu em ujian " Ucap Reka kecoplosan membuat Denis melotot kaget.


" Haissstt kamu ini,anak saya bukan pembawa sial " Kata Denis tak terima.


" Maaf Pak,ga bermaksud gitu " Balas Reka tak enak hati.


" Ya sudah,hm tapi saya boleh minta tlong sama kamu ga ?" tanya Denis


" Apa Pak ?" Tanya Reka mengernyit.


Denis diam,Reka menjadi deg degan dengan sikap lelaki dewasa didepannya.


" Apa Pak ?" tanya Reka lagi.


" Hufffttt,apa benar kamu ga suka sama Rania ?" tanya Denis menatap wajah Reka.


Deg....


Manik Reka melotot seketika.


" Atau kamu menyukai Tania ? Maksud saya apa kamu menyukai salah satunya ?" Tanya Denis terus.


Reka masih diam.


" Jangan bilang kamu menyukai keduanya ?"Tebak Denis syok.


" Eehhh ngga " Jawab Reka kaget


Denis menghela nafas dan mencoba rileks meski jantung pria itu cukup deg degan.


" Saya hanya simpati kepada mereka,lagian saya juga udah punya pasangan " Jawab Reka dengan tenang.


" Hah kamu udah punya pacar ?" Tanya Denis terbelalak.


Reka menelan ludah kasar dan mengangguk pelan.


Tanpa keduanya sadari,seorang anak manusia terlihat sangat syok dan tak menyangka dengan apa yg ia dengar.


" Keduanya udah saya anggap adik sendiri " Lanjut Reka meski hatinya merasa tak yakin.


Tessss....


Air mata Tania jatuh seketika mendengar kata yg sangat sederhana tapi begitu menyesakkan dada.

__ADS_1


❤❤❤❤


Hay Guys jangan lupa Vote,Like Coment ya.


__ADS_2