
Hari ini sama seperti sebelumnya,Sofia bersiap sekolah.
Kondisi mental gadis itu belum terlalu stabil karna Sofia masih mengingat Vero.
Tak ada yg disembunyikan lagi,Hani memberitahu yg sebenarnya kepada gadis itu takut Sofia berpikir yg macam2.
" Kamu gak bawa bekal ?" tanya Hani mengernyit.
" Ngak Umi,aku mau ketemu ayah nanti siang " Jawab Sofia.
" Ayah ?" Ulang Hani.
" Iya Ayah Ridho " Jawab Sofia lagi.
Deg...
Hani tersentak mendengar ucapan gadis itu.
" Kenapa gak bilang Umi ?" tanya Hani.
" Tadi barusan bilang " Jawab Sofia.
" Maksudnya kapan Ridho mau ajak kamu ?" tanya Hani.
" Tadi subuh aku telfon " Jawab Sofia.
" Kenapa gak tanya sama Umi dulu ?" Tanya Hani tak suka.
" aku gak boleh ketemu Ayah Ridho ?" tanya Sofia balik.
Hani terdiam,wanita itu harus berhati2 menjawab pertanyaan anak Vero tersebut.
" Bukan gak boleh,kamu kan dirumah ini sama Umi,jadi Umi harus tau kemana anak Umi pergi " Kata Hani melemah.
" Aku mau ketemu Ayah,Ayah lagi sedih " Balas Sofia.
" Umi anter mau ?" tawar Hani.
" Ayah yg jemput " Jawab Sofia.
" Ya udah,nanti telfon Umi kalo ada apa2 " Balas Hani pasrah.
Sofia mengangguk,gadis itu berjalan keluar dengan tas sekolahnya.
Hani bersiap mengantar,wanita itu tak bisa membiarka Sofia pergi sekolah sendirian meski kini banyak anak2 sekolah tak jauh dari rumah senang berjalan kaki.
Sofia sudah dipindahkan kesekolahan terdekat dan terbilang sekolah anak biasa,tak seperti sekolah elit kemarin.
Semua itu keputusan Vero mengingat jika sekolah elit anaknya harus menempuh jarak jauh dan harus ada 1 orang yg antar jemput.
Selain itu faktor mental juga membuat Vero makin yakin dengan keputusannya.
Selama dijalan,Sofia diam tak banyak bicara.
" didepan aja Umi,aku mau ketemu Cici " Ucap Sofia tenang.
Hani mengangguk dan memberhentikan motornya didepan gerbang tak masuk kedalam.
Gadis cilik itu turun menyalami Hani dan langsung berlari.
Hani hanya diam memperhatikan,mood Sofia tak bisa ditebak.
Kadang gadis itu senang kadang langsung sedih tak tertahan.
" Uh udah lah,mending aku bersih2 rumah aja " Ucap Hani ingin pulang.
Wanita itu berlalu dari sana,tanpa Hani ketahui,seorang pria terlihat melihat dari balik mobilnya.
" Hani " Ucap lelaki itu lirih.
Pria itu menghela nafas dan kembali tancap gas.
__ADS_1
Pria itu adalah Daniel yg tak sengaja melewati sekolahan Sofia karna pria itu yg akan menjemput Sofia pulang sekolah nanti.
Daniel mewakili adiknya lantaran Ridho tidak bisa minta izin langsung kepada guru.
Meski itu sekolahan biasa dan mayoritas bukan seperti mereka tapi David membayar lebih untuk ketenangan cucunya.
Pria itu begitu menjaga Sofia dari marabahaya,makanya Ridho harus hati2 dan tak boleh ceroboh sedikit pun.
David dan Vero mengizinkan Ridho untuk bertemu dan membawa Sofia dengan persyaratan tertentu dan nasib baik Ridho menerimanya dengan lapang dada asal ia tak berpisah dari sang anak.
" Maaf,Sofia dimana Bu ?" tanya Daniel bertemu seorang kepala sekolah disana.
" Oh mungkin masih berkeliaran Pak,jam masuk sebentar lagi " Jawab kepala sekolah tersenyum.
" Baik,em apa Pak Ridho sudah kesini sebelumnya ?" tanya Daniel lagi.
" Pak David sudah menghubungi saya dan Sofia boleh dibawa pulang nanti " Jawab kepala sekolah itu ramah.
" Baiklah,apa saya boleh bertemu dengannya sebentar ?" Tanya Daniel hati2.
" Iya Pak "
Daniel tersenyum,keduanya pun keluar dari ruangan.
Para guru terlihat terkejut dengan kedatangan lelaki itu,bagaimana tidak.
Pesona Daniel sulit ditolak oleh kaum hawa,pria dengan wajah manis dan pendiam tersebut mmebuat orang2 terpesona..
" Ya Tuhan,apa itu jodoh ku ?" Ucap seorang guru muda menggeleng tak percaya.
" Hei,apa yg kau pikirkan " tegur guru satunya.
" Cowok itu ganteng banget,dia mau nemuin siapa ya ?" Tanya si guru muda.
Temannya mengangkat bahu tidak tau karna Daniel baru kali ini kesana.
Diruangan,para murid terlihat berisik,berjalan sana sini mengobrol dan bermain ria.
Sofia yg awalnya duduk langsung berdiri dan menangkap kertas tersebut.
"Happp...
Gadis itu berhasil menangkapnya dengan wajah girang.
" Wah2 kau hebat sekali " Puji gadis berkuncir 1 itu mendekati Sofia.
" Heheh makasih " Jawab Sofia malu.
" oh iya,besok aku ultah loh,Mama aku masak2 kamu mau ikut gak ?" tanya gadis bernama Misna itu.
" Hm 0.0kamu ulang tahun ya ?" Ulang Sofia.
" iya,ini pertamanya aku ulang tahun Sof,soalnya tahun kemarin Ayah gak ada uang buat rayain " Jawab Misna mengkrucut.
Sofia diam melihat temannya tersebut.
Disekolahan baru anak2 itu mudah sekali bergaul,mereka juga tak banyak bertanya dan tak tau informasi tentang Vero.
" Kalo mau ikut,nanti kita pulang sama2 " Kata Misna dengan senyum mengembang.
" Iya,tapi aku tanya Umi dulu ya " kata Sofia tersenyum.
Misna mengangguk,guru masuk membuat para murid kelabakan.
Sofia duduk dengan tenang melihat kedepan.
Seorang pria dewasa berdiri diambang pintu dengan wajah tak kalah tenanv.
" Eh itu " Ucap Sofia kaget.
Daniel yg tau keterkejutan ponaannya tersenyum tipis.
__ADS_1
Pria itu hanya melihat saja tanpa masuk kedalam.
Pembelajaran dimulai,Daniel menghela nafas panjang.
Ntah mengapa tiba2 ia teringat akan putrinya yg sudah berpulang.
" Zini sayang " Ucap Daniel lirih.
Hatinya sakit dan perih,Daniel sangat berharap suatu hari nanti ia juga akan melihat anaknya belajar dan bermain bersama teman2nya,tapi apa daya kuasa Tuhan lebih memilih gadis kecil itu berada dipangkuannya.
" Pak " Tegur kepala sekolah tiba2.
" ah iya " Kata Daniel tersentak.
" Kenapa tidak masuk ?" tanya wanita tua itu aneh.
" Ngga papa Bu,saya juga udah mau pulang " Jawab Daniel.
" Oh baiklah " Balas wanita itu paham.
Daniel pun berpamitan,Sofia melihat Daniel dan melambaikan tangannya.
" Gadis manis " Ucap Daniel lembut sambil memberi semangat.
Sofia tersenyum cerah dan menghadap lagi guru yg sedang menjelaskan.
Lelaki malang itu pergi dari sana,perasaannya mulai tak karuan.
Beberapa hari ditinggal Zini selamanya membuat Daniel kehilangan arah.
Bahkan lelaki itu berhenti bekerja karna merasa masih berduka.
Lelaki itu benar2 belum bisa move on.
Drt drt...
Hape Daniel berdering,Pria yg sedang menyetir tersebut melihat nama dilayar.
" Nomor siapa ini ?" Gumam Daniel mengernyit.
Merasa penasaran,Daniel pun mengangkatnya.
" Halo " Sapa Daniel sopan.
" Daniel " Panggil seorang pria.
" Iya,ini siapa ya ?" tanya Daniel lagi.
" Ini Ayah " Jwab lelaki itu.
Deg...
Daniel tersentak
" Ada apa ?" tanya Daniel datar.
" Ayah turut berduka cita ya atas meninggalnya Zini " Jawab pria tersebut sedih.
" Ya Zini sudah memilih tempat yg nyaman " Jawab Daniel.
" Maafin Ayah Nak " Ucap lelaki itu parau.
Daniel diam tak menjawab,rasa sakitnya kepada lelaki itu juga belum hilang karna orang yg paling ia segani adalah orang yg paling menyakiti keluarganya.
Suara tangis terdengar ditelepon,Daniel tak bersuara sama sekali.
Lelaki itu berusaha fokus kedepan mengendarai mobilnya.
❤❤❤❤
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.
__ADS_1