Cahaya Untuk Suami Ku

Cahaya Untuk Suami Ku
Trauma


__ADS_3

Dirumah sakit,sanak keluarga sudah cukup ramai.


Ada Serkan,Kakak Sania dan iparnya berada disana.


" Kamu yakin ?" Tanya Serkan untuk terakhir kalinya.


" Iya Dok,disini sulit menjaganya " Jawab Kakak Sania yakin.


" Ya udah,karna keadaan Sania masih seperti ini,dia akan dirawat insentive dirumah " Balas Serkan.


" Lalu kami bagaimana untuk bertemu Sania ?" Tanya ipar Sania.


" Kalian tinggal dirumah saya,nanti istri saya juga akan membantu " Balas Serkan.


" Apa itu tidak merepotkan ?" Tanya Kakak Sania bingung.


" Saya rasa tidak " Balas Serkan.


" Ya udah,yg penting Sania pulang dulu aja " Ucap Kakak Sania kasihan melihat adiknya.


Bagaimana tidak kasihan,setiap malam Sania tidur tanpa ditemani siapapun kecuali perawat dan dokter.


Serkan maupun Histy tak bisa setiap hari menemani gadis itu karna mereka pun punya buah hati yg harus diurus.


Kakak Sania juga tak bisa setiap hari karna ipar Sania juga sedang hamil.


Kedua belah pihak sudah menyepakati aturan yg mereka buat.


Untuk 1 minggu ini Kakak Sania akan tinggal dirumah Serkan lalu selanjutnya akan mereka serahkan kepada Serkan,Histy untuk mengontrol keadaan.


Mau membawa Sania kekampung pun merupakan ide buruk karna kondisi Sania tak bisa ditebak.


Para Dokter mulai bergerak menyiapkan semua peralatan yg akan membantu Sania bertahan hidup.


Hanya Serkan disana,Histy tak bisa ikut.


Wanita itu sibuk mengurus kamar yg akan Sania pakai.


Tak lama Arshad dan Aktam sampai.


" Gimana ?" Tanya Aktam mendekat


" Lagi diurus bang " Jawab Serkan.


" Ya udah,kita ikutin dari belakang nanti "


" Histy udah siap2 ?" Tanya Aktam lagi.


" Udah,ada Mama sama Juna juga " Jawab Serkan.


Deg....


Aktam tersentak saat nama Juna disebut.


Dokter menghampiri Serkan dan memberitau bahwa semuanya sudah selesai dan siap berangkat.


Brangkar Sania dikeluarkan dari ruang Vvip.


Sang Kakak ipar terlihat syok dengan menutup mulut tak percaya menatap adik iparnya saat ini.


" Ayo " Ajak Serkan mencoba kuat.


Aktam merangkul lelaki itu seolah memberi kekuatan.


Mereka semua pun mengikuti dari belakang.


Dirumah,Histy kembali menangis.


Sungguh hatinya kacau menerima keadaan saat ini.


Memang harapan Histy,Sania bisa kembali kerumah tapi tidak dengan keadaan sekarang.

__ADS_1


Ia ingin anak angkatnya tersebut pulih seperti semula.


" Jangan nangis terus,kasihan Sania nanti " Tegur Zaiva kepada anaknya.


" Kenapa nasib Sania begitu malang Ma huhu " Ucap Histy berderai air mata.


" Gak papa Kak,Sania gadis yg kuat kok " Kata Juna mencoba menguatkan.


Histy menatap kesebelah dan terlihat putri kecilnya mèmperhatikan mereka semua dan tau keadaan sedang tak baik2 saja.


" Ayo sini sayang sama Om " Ucap Juna menggendong gadis kecil tersebut.


Dengan penuh kasih sayang,Juna membawa keponakannya keluar rumah agar tidak setres.


1 jam kemudian,bunyi ambulance terdengar.


Mereka semua keluar dari rumah dengan perasaan campur aduk.


Serkan membantu mendorong brangkar putrinya masuk kerumah.


" Gimana Sania ?" Tanya Zaiva tenang.


" Baik Ma " Jawab Serkan.


" Kalian yg kuat ya,Sania bisa lewatin ini semua kalo orang tuanya semangat " Ucap Zaiva tersenyum.


Serkan mengangguk pelan.


Arshad mendekati Juna yg masih menggendong anak Histi.


" Sudah lama Bang ?" tanya Arshad basa basi.


" Lumayan,kamu gak kekantor ?" tanya Juna balik.


" Iya,tapi temenin Papa kesini dulu " Jawab Arshad.


Juna mengangguk paham.


Setelah semua disetting sedemikian rupa,semua orang berkumpul diruang tamu untuk membicarakan kelanjutan perawatan Sania.


Dirumah lain,seorang gadis terlihat menunduk dimarahi ibunya.


" Kalo kamu gak mau diurus,gak usah pulang lagi krumah ini Rania !" Bentak Miska kesal.


" Berani2 nya ya kamu pulang bawa rokok ! Siapa ngajarin kamu hah !" Lanjut wanita itu murka.


" Bukan punya aku Ma " Jawab Rania.


" lalu punya siapa ? Teman mu ?" Kata Miska tersenyum smirk.


Rania diam,memang benda itu miliknya yg diam2 ia sering ia habiskan saat sedang pusing memikirkan hidup.


" Terlalu klise jawaban mu kalau kau bilang itu milik teman mu " Lanjut Miska geram.


" Ya itu milik ku " Kata Rania mendongak.


Plaaakkkkk...


Dengan keras gadis itu mendapat tamparan keras dari ibunya.


" Kakakk " pekik Tania terkejut dan langsung menghampiri Rania.


" lepas !" Bentak Rania mendorong Tania hingga terjatuh.


Darah Miska kembali mendidih melihat sikap kasar gadis tersebut.


" Kak " ucap Tania berkaca kaca.


" Diam kau ! Semua ini gara2 kamu !" Bentak Rania.


" Apa maksud mu Rania ?" tanya Miska emosi.

__ADS_1


Rania melihat Miska dan menatap tajam.


Emosi gadis itu sudah meledak2,ia tak sanggup lagi menahan rasa marah didadany.


" Kenapa kau selalu beruntung hah ! Kenapa semua keberuntungan berpihak pada mu dan aku selalu mendapatkan sialnya !" Bentak Rania.


Tania mendongak menatap wajah murka sang kakak.


" Jaga mulutmu Rania " Kata Miska memberi peringatan.


" Ma,aku juga anak Mama kenapa aku tidak diperlakukan sama dirumah ini !" Bentak Rania dengan air mata yg mulai tumpah.


" Kau yg membuat Mama selalu marah pada mu Ran !" Balas Miska


" Apa ? Karna aku membuat Kania meninggal ?" tanya Rania terus berderai.


Deg....


Jantung Miska tersentak mendengar nama anak kembarannya yg sudah berpulang.


" Kenapa harus aku yg menanggung kebencian Mama,apa aku tidak berhak bahagia disini hiks hiks " Kata Rania begitu sedih.


" Ngak Kakk huhuh " Tania ikut menangis melihat Kakaknya terluka.


Miska diam,memang sejak putrinya meninggal membuat kondisi mental Miska cukup terganggu.


Bahkan Miska sempat membenci anak pertama nya tersebut karna Kania meninggal ditangan gadis itu meski tak ada kesengajaan disana.


" Aku pun tidak pernah melupakan kejadian itu Ma,Mama tau bagaimana aku membenci diriku sendiri ?" Tanya Rania mendekat.


" Ran kau mau apa ?" Tanya Miska melihat Rania mengeluarkan pisau kecil dalam tasnya.


Dengan berani gadis itu membuka penutup dan mengeluarkan isi yg begitu tajam dipandang.


" Lepas Rania !" Ucap Miska.


" Kakak huhu jangan Kak " kata Tania terus menangis.


Tak ada Denis disana,mereka hanya bertiga dirumah dan sang adik kecil berada dikamar.


" Apa aku juga harus mengakhiri hidup agar penderitaan ini berakhir ?" Tanya Rania nanar.


" Rania !" bentak Miska tak suka.


" Kenapa ? Mama ingin melakukannya sendiri ?" Tanya Rania lagi.


PLaaakkkkkk....


Gadis itu kembali mendapat tamparan keras membuat Rania tertoleh.


" Mamaaa jangan sakiti Kak Ran !" Bentak Tania kesal


" Lepaskan benda itu Rania,berbahaya !" Pinta Miska tegas.


Sreet....


Dengan sayatan kecil,Rania menggores lengannya menggunakan benda tersebut hingga mengeluarkan darah segar.


" Kak Ran " Ucap Tania mematung.


Miska terbelalak tak percaya dengan apa yg anaknya lakukan saat ini.


" Mama ingat,dulu Kania juga berlumur darah hehe " Kata Rania seperti bukan dirinya.


" Telfon Papa mu sekarang Tania !" Pinta Miska cepat.


Tania mengangguk,dengan tubuh gemetar gadis itu bangun dan langsung berlari mengambil ponsel.


❤❤❤❤


Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.

__ADS_1


__ADS_2