
Dirumah sakit Laura menunduk sedih melihat Vero seperti orang linglung,pria itu mulai tak mengenali siapapun,Vero hilang ingatan lagi.
Cila dan David hampir depresi memikirkan kondisi anaknya yang kian parah.
" Sayang ayo makan dulu " Kata Sintia menegur pria itu.
Vero hanya diam menatap Sintia bergantian dengan orang2 yang berada disana.
" Maaf saya tidak kenal anda " Kata Vero menunduk sopan.
" Iya Nenek tau,tapi nenek mohon makan dulu ya kamu dari tadi ngak makan " Kata Sintia menahan tangis.
Kepala Cila sudah dipasangi koyo kiri kanan,wanita itu benar2 pusing dengan kondisi sekarang.
" Saya bisa makan sendiri " Kata Vero dingin.
" Iya,tapi kan kamu lagi sakit " Kata Sintia memelas.
" Saya bisa melakukannya sendiri " Ulang Vero lagi.
" Udah Bun,jangan dipaksa " Kata Beni menghela nafas.
" Tapi Yah...
" Udah,Vero udah gede dia bisa sendiri " Potong Beni.
Sintia menghela nafas dan mengangguk pasrah.
Tak lama datang Denis membawa bungkusan makan malam untuk keluarganya.
" Gimana keadaan rumah ?" Tanya Cila kepada adiknya.
" Beres Kak,Kak Clara sama Bang Rendi yang urus " Jawab Denis tersenyum.
Cila mengangguk paham.
" Laura " Panggil David.
Gadis itu menoleh dan menatap David dengan nanar.
" Makan dulu Nak " Kata David iba melihat putrinya.
" Aku ngak laper Pa " Kata Laura pelan.
" Kamu harus makan,jangan terlalu dipikirkan " Sahut Beni tegas.
" Tapi Kek...
" Ayo sini " Potong Beni.
Laura mengangguk pasrah dan melihat Vero terlihat pria itu menatapnya dingin.
Laura tidak tau apa yang ada dipikiran Vero saat ini,Laura benar2 menyesal telah membuat lelaki itu kembali lupa akan segalanya.
Saat Vero sadar tadi pria itu terlihat seperti biasa,tak ada teriakan seperti pertama kali masuk rumah sakit.
Saat ditanya,Vero memberitahu bahwa dia tak mengenali semua orang disana.
dan itu membuat keluarga besar kembali terpukul.
" Ayo makan dulu,kamu ngak boleh sakit " Kata Cila dengan suara bergetar memberi piring kepada gadis itu.
" Mama " Rengek Laura berkaca kaca.
" Jangan nangis sayang,kita bisa okey jangan nangis " Kata Cila memegang pipi putrinya.
Laura menunduk,air mata pun mulai menetes.
" Jangan sedih Dek,Vero pasti sembuh " Kata Denis memegang pundak gadis itu.
__ADS_1
" Ini salah aku Bang hiks " Kata Laura langsung memeluk Denis.
Pria itu menghela nafas dan merengkuh adik angkatnya.
" Vero pasti sembuh,kamu harus kuat " Kata Denis mengusap kepala Laura.
Laura terus menangis terisak,Cila bangun dari duduknya dan berlari keluar ruangan.
Vero hanya diam melihat wanita itu berlalu didepannya.
" Vid,tenangin Cila jangan terlalu berlarut,Vero masih hidup !" Kata Beni tegas.
" Iya Yah " Jawab David menghela nafas dan bangun dari duduknya.
" Sudah " Kata Denis menepuk pelan punggung Laura.
Pria itu menghapus air mata Laura dengan lembut seraya tersenyum menyemangati.
" Lihat Vero,dia baik2 saja bukan " Kata Denis menunjuk Vero yang diam memperhatikan mereka.
Laura melihat dan tersenyum kepada pria itu.
Vero tak menunjukkan reaksi apapun,wajahnya sangat datar.
Hingga tak terasa sudah 1 minggu Vero dirawat dirumah sakit.
Pria itu sudah diperbolehkan pulang karna memang fisiknya tak bermasalah,tubuh Vero sehat hanya saja otaknya sedikit tak berfungsi dengan baik.
Laura mencoba mendekati pria yang hampir menjadi suaminya itu,tapi Vero tak pernah memberikan respon berlebihan.
Vero akan berbica jika penting saja selebihnya akan diam seharian.
" Vero,ini bagus ngak ?" Tanya Laura menunjuk foro praweding mereka.
" Kapan saya berfoto alay seperti ini ?" tanya Vero dingin.
" Hah,hm itu dulu " kata Laura sedikit kaget.
Laura menghela nafas melihat Vero masuk kamar tanpa melihat dirinya.
" Sampai kapan ini berakhir Vero,aku sangat lelah " Gumam Laura sedih.
Gadis itu menutup album dan berjalan gontai kekamarnya.
***
Diapartemen seorang pria Justin mulai merencanakan sesuatu.
Pria itu tidak bisa balik ke Amerika karna urusannya dengan Laura belum selesai,pria itu bertekad membawa Laura kesana dan hidup bersama.
Memang cukup egois tapi Justin tak punya cara lain lagi pria itu sudah terobsesi kepada Laura.
" Tunggu aku sayang,aku tidak akan melepaskan mu kali ini " Gumam Justin tajam menatap jalanan dari ketinggian.
Setelah puas menenangkan dirinya,pria itu keluar dari apartemen menemui Daddynya.
Justin akan memulai semuanya dari sana karna pria itu tau hanya sang Daddy yang bisa menolong saat ini.
Tak lama kemudian,pria tinggi tegap itu sampai.
Aura gentle dan misterius Justin mulai menyeruak.
pria itu dilirik pasang mata perempuan yang menjadi karyawan sang Daddy diperusahaan,tapi Justin terlalu dingin untuk membalas.
Justin masuk ke lift dan langsung memencet tombol ruangan orang tuanya.
Saat sampai disana,terlihat lelaki tua itu sedang mengobrol dengan klaennya.
" Dad " Panggil Justin masih mengenakan kaca mata hitamnya.
__ADS_1
Abraham menoleh dan terkejut melihat sang putra berdiri tegap di depan pintu.
" Nanti saya hubungi lagi " Kata Abraham memberi kode.
" Baiklah Pak,senang berbisnis dengan anda " Ucap Klaen laki2 itu hormat.
Abraham mengangguk,Justin memberi jalan kepada klaen Daddynya sambil menunduk hormat.
" Masuklah !" Titah Abraham.
Justin mengangguk dan masuk kedalam menutup pintu.
" Ada apa ?" tanya Abraham dingin seraya duduk dibangku kebesarannya.
" Aku ingin menikah " Kata Justin to the point.
" Menikah ?" tanya Abraham kaget
" Ya,dengan gadis itu " Jawab Justin dingin.
Abraham terkejut dan langsung mendekati anaknya.
" Apa kamu sudah gila ?" Tanya Abraham tak habis pikir.
" Ya aku gila karna memikirkannya,aku ingin dia Dad " Kata Justin membuka kaca matanya.
Abraham terdiam mendengar perkataan anaknya barusan.
" Dia membuat hidup ku sedikit berwarna Dad,aku mau dia mendampingi hari tua ku " Kata Justin serius.
" Kau tau kan keluarga mereka sedang berduka karna calon suami gadis itu masuk rumah sakit "Kata Abraham pelan.
" Itu adiknya bukan calon suami !" Kata Justin seketika geram.
" Ya terserah,yang jelas mereka hampir menikah " Kata Abraham mengangkat bahu.
" Itu tidak akan terjadi,Laura hanya milik ku Dad !" Kata Justin tajam.
" Kasihan dia Justin,gadis itu masih muda dan sendirian,kamu akan membuatnya terluka nanti " kata Abraham iba dengan Laura.
" Aku tidak akan menyakiti orang yang aku cintai Dad " Kata Justin kesal.
Deg...
Daddy pria itu terdiam mendengar kata cinta terucap dari mulut putranya.
" Kamu percaya Cinta sekarang ?" tanya Abraham mengejek.
" Aku tak tau,yang jelas aku menyukainya " kata Justin dingin.
" Kau terobsesi Son " Kata Abraham menggeleng.
" Ya aku hanya ingin Laura " kata Justin mengakui.
" Apa yang harus Daddy lakukan ?" tanya Abraham.
" Aku akan membawanya ke Amerika " Kata Justin tersenyum.
" Apa !! jangan gila kamu !" Kata Abraham kaget.
" Dia akan menjadi istri ku,bukankah seorang istri harus menurut kepada suaminya ?" Kata Justin tersenyum miring.
" Daddy rasa gadis itu punya pelindung cukup kuat dikeluarganya " Kata Abraham menghela nafas.
" Daddy bisa melakukan itu Dad,aku ingin Laura secepatnya " Kata Justin tajam.
Pria itu langsung bangun dan mengenakan kaca matanya berjalan keluar.
" Astaga anak itu sangat keras kepala " Gumam Abraham menggeleng melihat tingkah putranya.
__ADS_1
❤❤❤❤
Hay guys jangan lupa terus dukung Author dengan cara VOTE,LIKE,COMENT YA