Cahaya Untuk Suami Ku

Cahaya Untuk Suami Ku
Membantu


__ADS_3

" Syukurlah kamu disini Syad " Ucap Histi melihat lelaki itu berdiri didekat pintu kamar.


" Kakak dari mana ?" Tanya Arshad.


" Kakak beli lampu cash sama lilin,gak tau listrik kita mati " Jawab Histi.


" Yg lain hidup Kak " Balas Arshad.


" Ia,makanya Syad Kakak bingung,mana Mas Serkan ga ada " Kata Histi menghela nafas.


Seorang gadis terlihat tidur ditubuh ibunya,gadis mungil itu begitu mengantuk.


" Hm kamu jaga Sania dulu ya,Kakak mau nidurin Adek " Ucap Histi tak enak.


" Iya Kak " jawab Arshad patuh.


Histi menganjak Sutar dan putrinya balik kekamar.


Begitulah rempongnya Histi jika tak ada Serkan dirumah,segala hal harus ia tangani sendiri.


Jika kemarin ada yg membantu,beda dengan hari ini yg semuanya harus serba mandiri.


Sania masih diam duduk,Arshad menoleh dan tersenyum.


" Kamu gak panas ?" Tanya Arshad pelan.


Sania diam tak menjawab.


Arshad ikut diam,perlahan tangan gadis itu ia angkat dan digenggam.


Deg...


Sania terkejut dan menoleh perlahan.


" Tangan mu sangat dingin,apa kau ketakutan ?" Tanya Arshad lagi.


" Tidak " Jawab Sania pelan.


" Benarkah ? Sampe gemeter gini beneran gak takut ?" tanya Arshad mengulum senyum.


" Dia kenapa ??" Batin Sania bingung dengan sikap Arshad.


" Kau mengganggu waktu makan ku " Kata Arshad pura2 marah.


Sania mengernyit.


" Mau makan bersama ?" tanya Arshad.


Sania menggeleng.


" Ayo keluar,kau bisa mati kepanasan dsiini " Ajak Arshad.


" Aku gak bisa jalan " Jawab Sania.


" Benarkah ? Tapi bisa duduk seperti ini ?" tanya Arshad cukup terkejut.


Sania kembali diam.


" Baiklah,dimana kursi roda mu ?"


Sania melihat kiri kanan meski begitu gelap.


" Oh disana " kata Arshad melihat dengan senter hapenya.


Pria itu bangun dan mengambil kursi roda diujung lemari.


" Ayo " Ajak Arshad merentangkan tangannya.


Sania mengangguk,gadis itu juga merasa panas diruangan yg biasa terkena Ac tersebut ditambah tadi rasa takutnya luar biasa saat gelap gulita tanpa ada yg menemani.


Gadis itu dibantu berdiri,keduanya saling berpegangan.


Sania yg takut jatuh begitu memegang pinggang Arshad dengan erat.


Arshad yg tau Sania ketakutan,membiarkan gadis itu memeluknya.


" Turun perlahan " Ucap Arshad sedikit berbisik.


Grgrgrgrgrgrg....


Seketika sekujut tubuh Sania mematung,suara berat lelaki itu membuat Sania tremor.

__ADS_1


" Astaga perasaan apa ini ?" Batin Sania bingung.


Arshad menurunkan Sania dengan perlahan dan penuh hati2.


Lelaki itu takut Sania merasa sakit yg belum sembuh.


Setelah berhasil duduk,kursi roda pun didorong keluar.


Histi yg selesai menidurkan anaknya terkejut melihat Sania bisa keluar kamar.


" Syadd " Panggil Histi syok.


" Gak papa Kak,kasihan dia kepanasan dikamar " Jawab Arshad.


" Tapi Syad,Sania..." Ucap histi melihat anak angkatnya diam saja.


" Biar aku yg urus " Balas Arshad


" Ya udah tapi hati2 ya dia belum pulih " Kata Histi sedikit khwatir.


Arshad mengangguk paham,Histi mengambil lilin dan menyalakannya diruang tengah.


" kamu tunggu disini ya aku ambil piring " Kata Arshad lembut.


Lelaki itu berjalan cepat kedapur meninggalkan Sania sendirian diruangan cukup besar tersebut yg hanya ditemani 1 lilin penerang.


Beberapa menita berlalu,Arshad kembali lagi dengan sepiring nasi beserta lauk.


" Loh Syad mau makan ?" Tanya Histi kaget.


" Hehe iya Kak " Jawab Arshad malu.


" Bentar,lauk kakak masih ada " kata Histi berjalan cepat kedapur.


Sania diam melihat lelaki itu duduk lesehan menatapnya.


" Kau mau ?" Tanya Arshad tersenyum.


Sania ikut tersenyum,gadis itu merasa lucu dengan sikap pria dingin tersebut.


" Apa dia tidak makan malam ini ?" Batin Sania sedikit bingung.


Sania tidak tau bagaimana rutinitas Arshad yg menguras banyak waktu.


" Makasih Kak " Jawab Arshad.


Lelaki itu mulai makan,Histi kembali berpamitan.


Wanita itu tidak bisa berleha leha dengan lampu mati seperti saat ini,ia begitu khwatir dengan buah hatinya yg sedang tidur.


Tak lama,suara hujan terdengar,Arshad yg asik makan menghela nafas panjang.


" Hujan " Ucap Sania pelan


" Iya terdengar sangat deras " Sahut Arshad


Sania kembali diam.


Lengkap sudah cerita mereka malam ini,listrik mati dan hujan deras mengguyur bumi.


Heningggg,keduanya memilih diam.


Sania tak tau ia harus bicara apa kepada lelaki yg ia sukai tersebut.


Sania merasa bahagia sekaligus sedih dengan yg terjadi.


" Uhuk uhuk....." Arshad tiba2 terbatuk.


Sania yg memperhatikan lelaki itu sontak langsung berdiri membuat Arshad kaget bukan main.


" Aakhh " pekik Sania kesakitan dan langsung terduduk lagi.


" Apa yg uhuk uhukkj.." Ucap Arshad terbatuk2.


Sania masih meringis,terdengar larian seseorang menghampiri mereka.


" Ada apa ?" Tanya Histi panik.


Arshad masih terbatuk2 sedangkan Sania meringis kesakitan terus.


" Bentar Syad " ucap Histi berlari kedapur.

__ADS_1


" kamu gak pahuuk hukkm...." Arshad tak bisa bicara benar karna tenggorokannya terasa sakit


" Minum dulu Syad " Kata Histi memberikan segelas air.


Arshad langsung menerima dan menanggak hingga habis.


Sania melihat lelaki itu dan merasa sangat bersalah.


" Uhh udah baikan ?" Tanya Histi kepada Arshad.


" Udah Kak " Jawab Arshad tenang.


" Syukurlah,apa yg terjadi ?" Tanya Histi melihat keduanya bergantian.


" maaf Ma " ucap Sania pelan


" Kenapa minta maaf Sayang ?" tanya Histi bingung.


Sania diam menunduk


" Ada apa ?" tanya Histi lemah.


" Aku ingin mengambilkan minum,tapi...." Jawab Sania lirih.


Arshad menatap gadis itu dan tersenyum tipis.


" Kamu belum bisa kemana mana Saniaa " Kata Histi mengusap kepala putrinya lembut.


Sania mengangguk kecil.


" Dia berdiri Kak,aku spontan kaget " Jelas Arshad.


" Berdiri lalu berlari kedapur mengambil segelas air begitu ?" Tanya Histi terkekeh.


Sania menunduk malu,Arshad memasang wajah tenangnya sambil kembali.makan.


" Gadis yg sangat perhatian " Ucap Histi memberi apresiasi.


" Tapi untuk sekarang jangan dulu ya,kondisi kamu belum memungkinkan untuk berjalan sendiri " Jelas Histi.


" Iya Ma " Jawab Sania patuh.


" Ya udah,Nanti tidur ya minta tolong Arshad gendong ke kamar " Kata Histi berlalu.


Sania melototkan matanya kaget,Arshad juga terkejut tapi lelaki itu bersikap biasa saja.


Setelah makan,Arshad meminta Sania untuk menemaninya keluar.


Lelaki itu harus mengecek kondisi listrik karna Arshad tak tega jika membiarkan keluarga kecil itu dalam kegelapan.


" Kamu tunggu disini " Ucap Arshad mendorong kursi roda Sania sampai depan pintu masuk.


" Hujan " Kata Sania khwatir Arshad basah.


" Iya gak papa " Balas Arshad tenang.


Lelaki itu berjalan kepinggir,air hujan terlihat beradu ingin membasahi pria tersebut bahkan Sania yg jauh pun masih terkena jepratan kecil.


" Apa yg masalahnya ini ?" Gumam Arshad memperhatikan kwh.


Lelaki itu terus memeriksa hingga ia mendapati sebuah kabel yg putus.


" Kenapa bisa putus ?" Gumam Arshad mengernyit.


Lelaki itu memperhatikan kabel tersebut dan...


" Ini bukan digigit tikus atau hewan lainnya " Gumam Arshad pelan.


Pria itu bisa membedakan mana yg putus tak sengaja dan sengaja dilakukan.


" Kak " Panggil Sania lumayan kencang.


Arshad terkejut dan langsung berlari kearah gadis itu.


" Ada apa ?" tanya Arshad kebasahan.


Tangan Sania menunjuk keluar.


" Apa ada apa ?" tanya Arshad melihat keluar pagar.


❤❤❤❤❤

__ADS_1


Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Comentnya.


__ADS_2