
Disebuah rumah seorang gadis terlihat memasukkan beberapa bajunya kedalam tas.
Beberapa hari ini gadis kecil itu merasa kesepian karna tak pernah lagi bersama dengan orang tuanya.
" Nanti Paman anter ya " Ucap Justin kepada Sofia.
" Iya Om " Jawab Sofia mengangguk.
Justin memperhatikan gadis itu dengan wajah sendu,sungguh ia merasa kasihan dengan nasib keponakannya tersebut.
" Yank " Panggil Laura masuk kekamar.
" Iya " Jawab Justin menoleh.
" Ayo sarapan dulu " Ajak Laura tersenyum.
Justin mengangguk,Laura berjalan duluan meninggalkan suami dan anak sang adik.
" Ayo sarapan setelah itu baru pergi " Ajak Justin lembut.
" Iya Paman " Jawab Sofia mengangguk.
Justin membantu gadis itu memasukkan baju kedalam tas ransel Sofia.
Memang berapa hari ini Sofia berada dirumah mereka karna Cila dan sanak keluarga Reno sedang umroh.
Laura dan Justin tak tega kepada gadis itu jika harus membiarkannya hidup bersama David saja apalagi mereka tau David juga sedang dipusingkan dengan kasus Vero.
Sofia begitu tenang,tak banyak tuntutan membuat pasangan Justin dan Laura senang dengan kehadiran gadis tersebut.
" Selamat pagi " Sapa Boy anak sulung Justin.
" Halo Bang " Jawab Sofia ramah.
" Ayo sini duduk " Ajak Boy lagi.
Sofia mengangguk,gadis itu mendekati Boy dan duduk diberseblahan.
" Hari ini Bibi masak ayam kesukaan kamu " Kata Laura heboh.
Sofia melihat menu dan diam sejenak.
" Kenapa ?" Tanya Justin melihat raut aneh Sofia.
Sofia diam dengan wajah menunduk.
" Via kangen Papa " Jawab Sofia bergetar.
Deg....
Justin dan Laura kaget dan saling melihat.
" Em Papa lagi sibuk saat ini " Kata Justin bersikap tenanv.
" Kenapa gak pernah telfon Via ? Via kangen sama papa " Kata Sofia berkaca kaca.
Laura menghela nafas panjang,wanita itu iba dengan nasib gadis malang didepannya.
" Via udah ditinggal sama Mama,kenapa Papa juga gitu ?" tanya Sofia lagi.
" Via " Panggil Laura mendekat.
" hiks hiks,Via mau Papa " Kata Sofia mulai menangis.
Laura memeluk lembut tubuh gadis kecil itu,sungguh mereka juga terluka dengan apa yg terjadi kepada Vero dan Yuna.
__ADS_1
" Memangnya Om Vero buat salah apa Pa sampe dipenjara ?" tanya Boy tiba2.
Jedeeer....
Justin terbelalak begitupun Laura yg langsung melotot kaget dengan suara emas anaknya.
" Ada apa ?" tanya Boy bingung Papa dan Mamanya malah melotot.
" Penjara ?" Ulang Sofia mengernyit.
" Iy...
" Ngaakk,maksudnya Bang Boy itu lagi bantu temannya diluar kota " Kata Justin mengalihkan.
Boy diam,bocah itu menatap Justin dengan wajah aneh seolah bertanya kenapa Papanya berbohong.
Sofia kembali mengkrucut,untuk seumuran gadis itu ia belum mengerti masalah orang dewasa dan Justin maupun Lauratidak mau anak itu tau.
" Udah gak papa,kan masih ada Bibi sama Paman " kata Laura tersenyum manis.
" Via boleh sekolah kan ?" Tanya Sofia lagi.
Laura melihat suaminya,beberapa hari ini Sofia dilarang Justin sekolah karna takut berita menyebar dan gadis itu dijahili teman2nya nanti.
" Em kenapa Via mau sekolah kan lagi libur ?" Tanya Justin.
" Libur tapi kok Pr aku ada terus sama Bibi ?" Tanya Sofia polos.
Justin kembali terdiam,meski libur tugas sekolah Sofia tetap jalan dan semua itu sudah Justin atur sedemikian rupa.
" Ya biar kamu pinter terus " Jawab Justin mengalihkan.
" Aku mau sekolah Paman,aku bosen gak ada temen " Kata Sofia berharap.
" Hmm ya udah,besok kamu sekolah " kata Justin memutuskan.
Justin menggeleng pelan seolah sudah punya cara tersendiri.
Laura menghela nafas dan mengusap lembut kepala gadis itu.
Boy memperhatikan gerak gerik orang tuanya yg mencurigakan.
Beberapa hari ini perhatian Laura sedikit berkurang kepadanya,tapi Boy tak ambil pusing karna bocah itu difasilitasi yg lengkap oleh Justin.
Mereka sarapan bersama,Justin begitu tenang sedangkan Laura setiap harinya selalu diselimuti ketakutan dengan kasus Vero.
Ditempat lain,seorang pria makan dengan tenang dengan teman se Selnya.
Sejak kemarin Vero ditahan karna melakukan tindak kriminal yg cukup menghebohkan banyak pihak.
" Lo beneran seorang Bos ?" tanya seorang pria disamping Vero.
" Siapa bilang ?" tanya Vero menoleh.
" Lihat,menu lo sama kita berbeda " Jawab pria itu menunjuk piring nasi Vero yg masih bagus dan bersih beserta lauk pauk sehat.
" Kiriman orang " Jawab Vero tenang.
" Ya tetep aja " Balas Lelaki disampingnya.
Vero tersenyum kecil dan mengambil setengah daging dipiringnya.
" Bagi 2 " kata Vero menyerahkan kepada piring sebelah.
" Gak papa,lo makan aja biar menu kita sama " Kata Vero menahan tangan temannya yg ingin mengembalikan.
__ADS_1
" Makasih " jawab pria tersebut tak enak hati.
Vero mengangguk dan mulai makan lagi.
Siang harinya Vero dibawa kesebuah ruangan.
Tangan pria itu diikat bergol meski ia tak ada niatan melawan.
Vero sangat tenang,para polisi yg berjaga terlihat tak percaya dengan apa yg menimpa lelaki tersebut.
" Baiklah,kita sudah berada ditahap ini " Ucap seorang penyidik menatap Vero.
Vero mengangguk pelan.
" Saya tau kamu dikelilingi oleh orang2 berjaya dan punya kekuasaan " Lanjut Penyidik.
Vero menganggap wajahnya dan memperhatikan lelaki tersebut.
" Tapi hukum tetaplah hukum " Kata lelaki itu tegas.
" Kamu sudah 2x tercatat sebagai kriminal "
" Dan membunuh orang dengan cara yg sama "
Hening....
Vero diam mendengarkan.
" Kenapa kau melakukannya ?" Tanya Penyidik serius.
Vero menghela nafas dan menaruh tangannya diatas meja.
" Kalau Bapak jadi saya,mungkin Bapak akan melakukan hal yg sama bahkan lebih " Jawab Vero tajam.
" Maksud kamu ?" tanya penyidik mengernyit.
" Gadis itu,dia bukan gadis berani meski dia saat ini menjadi anggota kalian " Jawab Vero tegas.
" Mengapa kau bicara seperti itu ?" tanya Penyidik merasa penasaran.
" Dia kuat dihadapan orang lain tapi sangat rapuh menatap dirinya sendiri " jawab Vero lagi.
" Dia punya masa lalu yg begitu buruk dan saya rasa sampai detik ini masih terasa baru untuknya " Kata Vero tegas.
" Saya tidak perduli dengan masa lalunya,itu urusan dia dalam menyikapi masalah " jawab penyedik tegas.
Vero terkekeh pelan,ucapan lelaki itu begitu menggelitikan bagi Vero.
" Saya kemarin seperti itu juga,tapi sekarang tidak lagi " Kata Vero tersenyum smirk.
" Kau membunuh orang lain demi dirinya,apa kau yakin dia akan kembali kepada mu setelah melihat mu seperti sekarang ?" tanya Penyidik memainkan alisnya.
Deg....
Vero terdiam mendengar pertanyaan lelaki itu.
" Dunia sangat kejam Bung,kau berjuang demi dirinya dan dia berjuang demi orang lain " Lanjut Penyidik memperhatikan mimik wajah Vero.
" Saya rasa ini tidak masuk dalam list pertanyaan " Kata Vero mengalihkan.
" Nooo,sekarang kita bicara realistis " Balas Penyidik.
Vero lagi2 terdiam,dirinya juga bingung kenapa melakukan hal bodoh itu lagi tapi melihat Hani yg sangat tersiksa saat itu sungguh membangunkan jiwa iblis dalam dirinya.
" Kau menanggungnya sendiri,apa kau tidak memikirkan perasaan orang tua mu ?" Tanya penyidik lagi yg membuat Vero makin kabut.
__ADS_1
❤❤❤❤
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.