
Makan siang hari ini terbilang sedikit membanggongkan.
Cila banyak diam begitupun Hani yg tak mengeluarkan kata sedikit pun.
Gadis itu awalnya menolak pergi tapi David memaksanya untuk ikut karna mereka memang sudah lama tak menghabiskan waktu bersama.
" Bi " Panggil Rania menegur Cila.
" Hm " Jawab Cila cuek.
" Hehe makanannya enak ya " Kata Rania cengengesan.
" Bilang aja mau nambah gak usah kode2 " Kata Cila malas.
" Mana ada,aku cuma bilang makanannya enak " Kata Rania tak terima.
Dinda diam menunduk menghabiskan makanannya,gadis satu itu terlihat lebih kalem.
" Mau lagi ?" tanya David tersenyum.
" Gak ah,gak dikasih Bibi " Jawab Rania bersedekap dada.
" Tadi katanya janji gak makan banyak " Kata Cila menoleh.
" Iya tapi kan enak Bi " Kata Rania mengkrucut.
David menggeleng pelan dan melambaikan tangan memanggil pelayan.
Pria itu begitu baik kepada para ponakannya,jika Rania dan Dinda mengunjungi mereka David akan memposisikan diri menjadi Paman yg paling baik hati.
" Kamu mau tambah ?" tanya David melihat Hani.
" Gak Pa aku kenyang " Jawab Hani sopan.
Vero melirik mantannya yg duduk tepat disamping Cila.
Lelaki itu terlihat tenang,seperti tak ada beban sama sekali.
" Kenapa sayurnya gak dimakan ?" tanya Vero melihat Yuna menyisihkan timun yg dipotong kecil.
" Aku gak suka " Jawab Yuna manja.
" Kamu harus makan biar...." Ucap Vero menggantung.
Cila dan Hani melihat kearah lelaki itu cepat.
Vero yg tersadar langsung menganggantungkan kalimatnya.
" Biar gendut " Lanjut Vero asal.
" Apa !" Pekik Yuna terbelalak.
" Pfftttttt " Dinda yg asik makan sontak kaget mendengar ucapan absurd sang paman.
Gadis itu hampir menyembur jika pahanya tak dicubit oleh Hani.
" Iya iya ampun " Kata Dinda menunduk takut melihat Hani mengeluarkan mata besar.
Gadis itu terkekeh pelan menahan tawa yg ingin meledak.
Yuna yg tau sedang diketawai oleh Dinda merasa begitu terganggu dan kesal.
Ia tak terima dikatai gendut didepan banyak orang apalagi Cila yg juga seolah menertawai dirinya.
" Kamu tinggal dimana ?" tanya David mengalihkan suasana.
" Aku ?" tanya Yuna menunjuk dirinya.
__ADS_1
" Kau pikir siapa lagi orang asing disini ?" Ucap Cila ketus.
" Ma " Tegur David dan Vero kaget.
Cila mendengus dan melanjutkan makannya lagi.
Hani kembali menunduk,gadis itu tau suasana hati Cila sedang tak bersahabat.
Dinda dan Rania juga diam tak berani melawak atau mencari gara2.
" Hehe aku asing ya ?" Tanya Yuna malah cengengesan.
Darah Cila kembali membara,wanita itu kesal melihat gadis menye2 didepannya.
" Gak sih,cuma karna kamu baru kita lihat aja " Jawab David tersenyum kecil.
" Ya aku baru pertama kali bertemu kalian,gak nyangka ternyata Vero punya orang tua yg baik " Kata Yuna tersenyum.
" Kau kira Vero terlahir dari keluarga jahat begitu ?" Tanya Cila kembali baran.
Yuna menunduk takut mendengar suara keras Cila yg tak bisa dikecilkan.
" Bi,jangan emosian napa " Tegur Rania ngeri.
Cila kembali mendengus dengan wajah kesal.
" Cepat habiskan makanan kalian !" Titah Cila tegas.
" Yah makanannya belum sampe,gimana mau habisin " kata Dinda mengkrucut.
" Bungkus " Jawab Cila ketus.
Dinda terkejut dan memasang wajah melas didepan David..
Pria dewasa itu hanya bisa menghela nafas panjang.
Istri sedang dirasuki hantu posesif membuat David sulit mengendalikan.
Mereka pun pulang begitu saja tanpa membayar.
" Pa " Panggil Vero melongo melihat semua orang pergi.
" Bayarin " Jawab David tenang.
" Tapi..." Ucap Vero melotot.
David berlari dengan senyum mengembang.
Vero menghela nafas panjang,pria itu kembali duduk dan diam melihat Hani masih duduk disana sambil merogoh tasnya.
" Dimana ya ?" Gumam Hani pelan.
" Kamu cari apa ?" tanya Vero menegur.
" Oh ini dia " Kata Hani menemukan sesuatu didalam tas lusuhnya.
Gadis polos itu mengeluarkan sesuatu dan membuka kertas yg dilipat kecil.
" Ini bayarlah " Kata Hani memberikan uang 200 ribu.
" Hah " kata Yuna dan Vero kaget.
" Aku punya segini,nanti sisanya utang ya " Kata Hani tak enak hati.
" Hutang ?" Ulang Yuna begitu terkejut dan melihat aneh Hani.
Hani diam masih mengulurkan uang lusuh nya yg ia simpan begitu rapi untuk biaya hidupnya.
__ADS_1
Vero menatap gadis itu dalam,tak ada yg berubah Hani masih seperti gadis kecil yg ia kenal.
" Tidak usah " Kata Vero menolak uang itu lembut.
" Aku makan banyak tadi,gak enak kalo kalian yg bayar " Ucap Hani tersenyum getir.
Vero mengepalkan tangannya kuat,Hani seolah menjatuhkan harga dirinya saat ini.
" Em,aku pergi dulu terima kasih " Ucap Hani menaruh uang itu dimeja dan melesat pergi menyusul Cila yg duluan..
Vero menatap mantan kekasihnya nanar,sungguh hati kecil lelaki itu merasa terhantam sesuatu,apalagi manik Hani begitu tulus tidak mau merepotkan orang lain.
" Aku rasa kenal gadis itu " Ucap Yuna berpikir keras.
Vero kembali duduk semula menatap uang tak seberapa indah tesebut.
" Dulu kita pernah juga kan bertemu sama dia ?" tanya Yuna melihat Vero.
" Hm " Jawab Vero mengangguk.
" Dia kenapa gitu ya,dulu waktu kamu bayarin juga nolak,sekarang nolak lagi,dari penampilannya sih biasa aja bukan dari keluarga terpandang " Kata Yuna nyerocos.
" Ya dia gadis biasa " balas Vero nanar.
" Kamu kenal dia dari mana ?" tanya Yuna melihat kekasihnya.
Vero ikut melihat wajah Yuna yg penasaran.
" Aku ?" tanya Vero.
" Hm,aku rasa kalian dulu sempat dekat ya,soalnya dia natap kamu beda " Jawab Yuna serius.
Vero tersenyum getir,tiba2 bayangan ia dan Hani hadir dikepalanya membuat lelaki itu menyugar rambut.
" Dia mantan kamu ?" tanya Yuna mendesak.
" Hah " Kata Vero terkejut.
" Jadi dia beneran mantan kamu ?" Tanya Yuna makin ketir.
Vero diam tak membalas.
" Kalo dia beneran mantan kamu bearti aku...?" Ucap Yuna menggantung.
" Gak,kita gak ada hubungan apa2 " Jawab Vero cepat.
Yuna menunduk menaruh tangannya diperut.
Vero memejamkan mata,kepalanya mulai sakit melihat expresi Yuna yg bersedih.
" Kita akan menikah,aku janji " Ucap Vero serius.
" Gimana mau nikah,Mama kamu kelihatan gak suka sama aku " kata Yuna mengkrucut.
" Mama baik,dia akan menerima " Balas Vero menggenggam tangan wanita itu.
" Kamu serius sama aku ?" tanya Yuna melihat manik kekasihnya.
Vero mengangguk tersenyum.
Meski otaknya bercampur aduk tapi Vero berusaha agar tak kabut..
Ia juga bingung dengan jalan hidup yg ia ambil saat ini,tapi melihat Yuna ia tau bahwa ada tanggung jawab yg harus ia emban.
" Aku tidak yakin Mama akan setuju soal ini,tapi aku harus mencobanya "Batin Vero yakin.
Setelah membayar semua makanan,Vero dan wanita itu pun pergi dari restoran..
__ADS_1
❤❤❤❤
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.