
Malam menjelang,Serkan masih berada dirumah sakit untuk mencari Sania yg menjadi korban.
Bukan hanya 1 2 orang tapi puluhan orang terkena dampak tersebut dan mayoritas anak2.
Sanak keluarga terdengar ramai bertangis2 mencari keluarga mereka.
" Dimana Sania ?" ucap Serkan bingung.
Rumah sakit terlalu ramai membuat lelaki itu tidak fokus.
Drt drt...
Hape Serkan berdering,lelaki itu merogoh saku celananya dan melihat nama sang istri disana.
" Ya Tuhan " Ucap Serkan tersadar.
Pria itu langsung mengangkat dan mendengar suara sang putra.
" Papa dimana sih,kenapa belum pulang,ini sudah malam !" Ucap Sutar dengan suara kesalnya.
Serkan menghela nafas panjang dan mencoba tenang.
" Pa,dimana !" Pekik Sutar lagi.
" Maaf Sayang,Papa dirumah sakit " Jawab Serkan pelan.
" Rumah sakit ? Ngapain ?" tanya Sutar kaget.
" Mama kamu mana ?" tanya Serkan lagi.
" Mama lagi telfon Kak Sania,dia juga belum pulang Pa " Jawab Sutar.
Deg....
Serkan tersentak dan diam seketika.
" Pa,siapa yg sakit ?" tanya Sutar lagi.
" Hm,kamu kasih hapenya ke Mama skrg " kata Serkan tenang.
" ishhh,ya udah tunggu " Balas Sutar jengah.
Hening...
Serkan terus menarik nafas panjang mencoba untuk tenang,ia tak tau apa yg akan dikatakan nanti.
" Halo Yank " Sapa Histy diseberang.
" Histy " Panggil Serkan gemetar.
" Iya,kamu dmana Mas ? Kenapa belum pulang ?" tanya Histy cepat.
" Hm Histy " Panggil Serkan lagi.
" Iya kenapa ?" jawab Histy kesal.
" aku em aku dirumah sakit dan...."
" Kenapa ? Siapa yg sakit ?" Potong Histy.
" Huuuftttt " Serkan menghela nafas lagi.
" Ada apa sih Mas " Ucap Histy mulai kesal.
" Hm aku hm nanti aku hubungi lagi " kata Serkan buru2 memutuskan sambungan.
" Tap.....
Tut.
Panggilan terputus,Serkan langsung berlari mengejar dokter yg baru keluar dari salah satu ruangan.
Dirumah,Histy menatap aneh ponselnya yg kini berganti walpaper gambar sang anak.
" Kenapa Ma ?" tanya Sutar yg masih mengintil disamping Histy.
__ADS_1
" Ngak tau,Papa mu aneh " Jawab Histy heran.
" Ish,ada apa sih,Papa gak pulang,Kakak juga gak pulang,mereka pada kemana " kata Sutar merocos dengan bibir gembulnya.
" Huufftt coba telfon Sania lagi,mungkin skrg udah aktif " Kata Histy mencoba tenang.
" Ya " Jawab Sutar malas.
Bocah lelaki itu pun berjalan menjauh mendekati telefon rumah yg berada diruang keluarga.
Histy masih diam,perasaannya mulai tak karuan,sebagai istri dan Ibu wanita itu bisa merasakan ada yg tidak beres dengan keluarganya.
" Astagfirullahalazim " ucap Histy mengusap pelan dadanya yg berdebar kencang.
" Ada apa ya,kenapa hati ku gak enak gini " Kata Histy mulai takut.
Rasa khawatirnya begitu besar,wanita itu sungguh tidak tenang.
" Huaaa huaaaa " Suara tangisan terdengar.
Histi tersadar dari lamunannya dan langsung berlari teringat sang putri berada dikamar.
Diruang rumah sakit,suara gaduh tangis terdengar saut sautan.
Dokter dibuat kerepotan karna sanak keluarga yg tidak terima anak mereka menjadi korban.
" Sania dimana ?" ucap Serkan celingak celinguk.
Hingga saat ini,lelaki itu belum menemukan sang anak angkat karna ramainya pengunjung dan kepanikan yg belum reda.
" Dokterr " Panggil Serkan melihat seorang lelaki berjalan keluar.
" Iya Pak ada apa ?" tanya Dokter berbalik badan.
" Dimana korban yg dewasa ?" tanya Serkan mencoba tenang.
" Dewasa ?" ulang Dokter.
" Ya seorang gadis " jawab Serkan menelan ludah kasar.
" Banyak korban Pak,ada yg dewasa dan anak2,saya tidak tau korban mana yg bapak maksudkan " Jelas Dokter.
Serkan diam sejenak,dirinya harus tenang dan tidak bisa terbawa rasa panik apalagi dalam keadaan seperti sekarang.
" Dokter " Tegur seorang perawat.
" Ya ada apa ?" tanya Dokter menoleh.
" Maaf Dok,para jenazah yg menjadi korban bagaimana ? sebagian tidak ditemukan identitas " Ucap perawat itu pelan.
Deg....
Jantung Serkan tersentak mendengar sayup2 suara perawat.
" Tidak bisa hubungi keluarganya ?" tanya Dokter tenang.
Perawat menggeleng pelan.
" baiklah ayo kita kesana " Kata Dokter itu berlalu.
Keduanya pun berjalan menjauh,Serkan ikut mengintil kedua awak rumah sakit tersebut.
Sesampainya disana,Suasana hening.
Serkan mengenali ruangan tersebut dan sering masuk kedalam dulu yg ia kenal dengan kamar mayat.
Ruangan besar itu memiliki bnyk ranjang yg diatasnya terdapat tubuh malang tak bernyawa dengan ditutupi kain putih.
" Sania " Ucap Serkan melemah.
Ntah mengapa hatinya langsung hancur dan untuk pertama kalinya Serkan merasa tak mampu masuk dan melihat satu persatu.
" Bapak bisa mencari anggota keluarga bapak disini " Ucap Dokter tak enak.
" Anak saya belum meninggal !" kata Serkan tak suka.
__ADS_1
Dokter seketika diam dan mulai bekerja.
Serkan masuk kedalam dan membuka satu kain penutup.
Saat kain keramat itu terbuka,lelaki itu mundur selangkah dan menutup mulut tak percaya.
" Ini bukan Sania " Ucap Serkan menggeleng pelan.
Para korban itu cukup terluka parah bahkan ada yg tak utuh efek ledakan yg sangat parah.
Suara ponsel Serkan terdengar lagi.
Pria itu melihat nama dilayar dan mengernyit.
" Kamu dimana ?" tanya Seseorang diseberang.
" Ak ku dirumah sakit Kek " Jawab Serkan mencoba tenang.
" Apa yg kamu lakukan disana ?" tanya Pria tersebut yg bukan lain adalah Kakek Reno.
" Aku em aku..." Ucap Serkan tak bisa berkata kata.
" Ada apa ?" Tanya Reno tenang.
" Maaf Kek,aku sedang mencari anak angkat ku Sania " Jawab Serkan sedih.
" Hah kenapa ?" Tanya Reno terdengar kaget.
" Dia menjadi korban bom bunuh diri ditaman " Jawab Serkan berat.
" Apa !" Pekik Reno syok.
" Aku tidak tau dia dimana Kek,aku tidak bisa memberitahu Histi tentang ini " Kata Serkan menahan tangis.
" Ya Tuhan,jadi berita sore tadi benar " Kata Reno pelan.
" iya Kek,banyak korban dan Sania...." Ucap Serkan bergantung.
" Dia akan baik2 saja,lanjutkan pencarian mu dulu biar Kakek yg tenangkan Histi dan Sutar " Kata Reno mengerti keadaan menantunya.
" Iya Kek,terima kasih " Balas Serkan bersyukur.
Tut.
Panggilan kembali terputus,Serkan menarik nafas panjang lalu menaruh hapenya di kantong.
Serkan tau pasti Histi mengadu kepada Reno tentang dirinya yg tak jelas tadi,tapi lelaki itu tidak marah karna Reno mau mengerti.
Kaki berat kembali melangkah,kali ini manik Serkan tertuju pada satu ranjang yg dibaringin orang dewasa.
Dengan menelan ludah kasar,Serkan mendekati ranjang tersebut.
Duuuuuuuaaarrrrr.....
Dirumah besar,Histi jatuh seketika mendengar kabar mengejutkan dari kakeknya.
" Jadi Sania...." Ucap Histi tak percaya.
" Astagfirullahh " Ucap Lulu ikut terkejut.
" Apa itu benar Pa ?" tanya Ana tak kalah syok.
" Iya dan sekarang Serkan dirumah sakit untuk mencari Sania " Jelas Reno menghela nafas.
" Kakakkkkk huhuhuhu " Sutar langsung menangis histeris.
Histi masih terduduk lemah tak percaya.
" Mama " Ucap sang putri dalam gendongan sang ibu.
" Histi kamu yg tenang sayang,Sania pasti selamat " Ucap Lulu iba melihat wanita tersebut.
" Sania hiks hiks " Histi menangis tak sanggup membayangkan apa yg terjadi kepada anak gadisnya.
❤❤❤❤
__ADS_1
Hay Guys jangan lupq Vote,Like,Coment ya.