
Semalaman Vero mencari anaknya kali ini lelaki itu menghubungi pihak kepolisian lagi untuk membantu.
Vero menebalkan mukanya karna sungguh lelaki itu begitu takut sang anak pergi.
Seorang pria mengenali Vero karna dulu saat Sofia dilaporkan hilang oleh Laura dia yg ikut membantu meski kenyataannya Sofia berada dirumah menunggu mereka semua pulang.
" Dia kemana lagi Pak ?" Tanya polisi itu bersikap biasa.
" Tadi dia keluar dari rumah dan berlari kejalanan " Jawab Vero.
" Apa kalian ada masalah ?" Tanya polisi satu lagi.
Vero diam,kedua polisi itu saling melihat dan mengangguk mengerti.
" Apa istri anda mencari juga ?"
Vero diam,ia baru teringat Yuna tak mengejar sang anak sama sekali.
Tangan pria itu terkepal seketika.
" Baiklah,kita berpencar mencarinya " Kata Polisi mengambil tindakan.
" Didaerah sini terjadi kecelakaan tadi " Ucap polisi 1.
" Iya dan korbannya dilarikan kerumah sakit " Celetuk polisi 2.
" Apa kau sudah mengeceknya ?" tanya kedua polisi itu serempak melihat Vero.
" Sudah,dia tidak ada disana dan juga bukan korban " Jawab Vero yakin.
" Baiklah "
Vero menghela nafas panjang,ia sudah kebingungan mau mencari sang anak kemana lagi.
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam tapi tanda2 Sofia belum juga muncul.
" Kamu dimana Nak ?" gumam Vero sedih.
Meski ucapan Yuna masih terngiang dikepalanya tapi Vero tak mau bicara begitu saja,lelaki itu yakin bahwa Sofia anak kandungnya..
Pencarian terus dilakukan,sampai pagi hari gadis kecil itu belum ketemu.
Polisi menyarankan Vero untuk pulang dulu beristirahat sejenak.
Mereka kasihan melihat lelaki muda itu sangat depresi.
" Kami akan mengerahkan personil lainnya,diam saja dirumah kami akan mencari putri anda " Ucap komandan yg datang kerumah Vero.
" Dia harta saya Pak " Ucap Vero ingin menangis.
Lelaki dengan seragam coklat itu mengangguk,ia tau bagaimana perasaan Vero saat ini karna mereka juga punya keluarga.
Para personil mulai bergerak,Vero duduk diayunan dengan helaan nafas panjang.
Ia merasa lelah,semalaman tak tidur dengan isi kepala penuh membuatnya ingin meledak.
Perasaan lelaki itu sudah campur sari apalagi ia melihat tidak ada tanda2 Yuna berada dalam rumah.
Lama termenung,lelaki itu masuk kedalam dan disambut suara dering telepon.
Vero mendekat dan mengangkatnya.
" Halo Vero,kalian udah bangun ?" Tanya seseorang diseberang.
" Nenek " Ucap Vero mengenali suara.
__ADS_1
" Hehe Iya,Nenek udah punya telfon rumah dibeliin Papa kamu " Kata Sintia terkekeh.
" Hm baguslah " Balas Vero tersenyum lesu.
" Oh iya,Sofia mana apa dia sudah bangun ? ah sepertinya Nenek menelfon terlalu pagi " kata Sintia semangat.
Vero diam,otaknya kembali berbelit mengingat sang anak.
" Mana Sofia nya aku mau ngomong " Ucap seorang lelaki.
" Nanti Yah,aku juga belum " Kata Sintia gemas.
Hening....
Vero tak bersuara sama sekali,lelaki itu makin merasa bersalah dengan anaknya..
" Vero " Panggil Sintia.
" Iya Nek " Jawab Vero.
" Mana anak kamu ? Opahnya mau denger cerita dia sekolah " Kata Sintia menunggu.
" Nek " Panggil Vero pelan.
" Iya " Kata Sintia tenang.
" Sofia....." Ucap Vero ragu.
" Apa ? dia masih tidur atau dia lagi mandi ?" Tanya Sintia tak sabaran.
" Hm anu em nanti Vero telfon lagi Nek,Sofia butuh bantuan " Kata Vero mengalihkan.
Pria itu langsung mematikan telefon,Vero tak sanggup memberitahu Neneknya tentang gadis tersebut.
Sungguh ia akan sangat merasa bersalah jika Sintia dan Beni mengetahui hal tersebut karna keduanya begitu menyayangi Sofia.
Lelaki itu berjalan gontai kearah kamarnya meski dering telfon kembali berbunyi.
Vero butuh waktu sendiri,ia ingin tenang dan memikirkan langkah apa yg harus ia ambil.
Cila dan David tidak diberitahu,karna jika keduanya mendengar kabar tersebut bisa dipastikan Cila akan sangat mengamuk.
Jam terus berdetak,dirumah sakit seorang gadis makan bubur dengan lahap dibantu oleh suster.
" Masih mau ?" Tanya Suster melihat mangkuk sudah kosong.
" Kenyang Bu Dokter " Jawab Sofia mengusap perutnya.
" Huh bagus lah,apa kau merasa baik2 saja ?" tanya Wanita itu lagi.
" Hm,Via mau keluar dari sini " Jawab Sofia.
" Tapi Nenek kamu masih dirawat,hm apa kau tau cara menghubungi Mama dan Papa mu ?" tanya suster hati2.
" Aku gak mau sama mereka " Jawab Sofia.
" Kenapa ?" Tanya Suster mengernyit.
" Mereka saling bentak,Via gak suka " Jawab Sofia mengkrucut.
Suster diam sejenak,melihat wajah Sofia meyakinkan wanita itu bahwa gadis kecil dihadàpannya saat ini mengalami trauma yg cukup berat.
" Kasihan sekali kamu,masih kecil udah melihat yg tidak patut kamu lihat " Ucap suster mengusap pipi Sofia..
Tak ingin membuat Sofia menangis mengenang orang tuanya,wanita itu berinisiatif untuk membawa si gadis keluar ruangan.
__ADS_1
Kaki Sofia sudah baikan,tak ada yg terlalu serius hanya saja sedikit sobekan karna gadis itu semalam melewati bebatuan tanpa alas kaki.
Sesampainya didepan rumah sakit,Sofia disuguhkan dengan berbagai macam tipe manusia.
Ada yg memakai tongkat,ada yg mengenakan kursi roda bahkan ada yg dibantu berjalan oleh orang lain.
Gadis itu melihat dengan seksama orang2 yg mereka lalui.
" Mereka kenapa Dok ?" Tanya Sofia polos.
" Mereka sakit " Jawab Suster tersenyum.
Sofia mangut2 mengerti dan kembali berjalan.
Suster terkekeh geli,ia merasa senang hari ini lantaran punya teman kecil.
Sofia melangkah semangat,ia ingin bermain dengan bebas dan melupakan semua yg sudah terjadi kepadanya.
Suster melihat dari kejauhan,pihak rumah sakit masih mencari data gadis tersebut karna pengakuan dari wanita yg kecelakaan semalam memberitahu bahwa gadis kecil itu bukan cucunya.
Semua orang bertanya2 siapa gadis kesasar tersebut.
Pihak rumah sakit belum mau mengubungi pihak berwajib lantaran gadis itu masih terluka dan terlihat trauma.
Dikejauhan,seorang lelaki berjalan cepat membawa tas berisi laptop dan berkas.
Pria tersebut terlihat buru2 tak menghiraukan orang2.
" Ooomm " Panggil seseorang.
Reka terus berjalan,hingga pria itu dihadang oleh seseorang.
Reka kaget dan sontak berhenti bergerak.
" Om huh huh " ucap seorang gadis ngos2an didepannya.
" Kamu.." Ucap Reka mencoba mengingat.
" Om masih kenal aku gak ?" tanya Sofia sumringah.
" Em siapa ya ?" Tanya Reka menggaruk kepala.
Sofia mengkrucut,gadis itu kira Reka masih mengingatnya.
" Aku Sofia Om yg waktu itu malam mingguan sama Om dan Tante " Kata Sofia masih ingat jelas.
" Hah " pekik Reka kaget.
Lelaki itu melongo mendengar pengakuan gadis asing didepannya.
" Oh ya udah,em kamu disini ngapain ?" Tanya Reka melihat kiri kanan.
" Main " Jawab Sofia polos.
" Dirumah sakit ?" Tanya Reka mengernyit.
Sofia mengangguk,gadis itu tersenyum manis melihat lelaki dewasa didepannya.
Reka diam sejenak mencoba berpikir hingga ia mengingat sesuatu.
" Astaga,kamu anak Vero ?" Pekik Reka terbelalak.
Sofia yg tadinya tersenyum lebar langsung mendatarkan wajahnya mendengar nama Vero.
Reka mengernyit bingung,lelaki itu menganjak Sofia ketempat lain untuk bicara karna mereka berada ditengah jalan lintas kendaraan.
__ADS_1
❤❤❤❤❤
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.