
Sania tidak tau harus berbuat apa,gadis itu hanya bisa berharap kedua orang tuanya akan baik2 saja.
Seperti ucapan Histy,wanita itu memang pergi kerumah orang tuanya.
Serkan tak mau ikut karna ia juga sedang tak berfikir jernih saat ini.
Keduanya sama2 egois dan belum mau saling mengalah.
" Mama jangan pergi " Ucap Sania memegang tangan Histy.
" Mama ga bisa disini dulu San " Balas Histy.
" Kalo Mama pergi aku gimana ?" tanya Sania sedih.
" Kamu kan udah gede,belajar urus diri sendiri dan ya urus juga Papa mu "Jawab Histy tenanv.
" Maaa " rngek Sania.
" Ma ayooo " pekik Sutar diambang pintu lengkap dengan tas ranselnya.
Bocah lelaki itu terlihat girang akan pergi kerumah sang Nenek,Sutar terlalu dini untuk paham keadaan orang tuanya.
" Mama pergi dulu " Kata Histy berpamitan.
Wanita itu pun keluar dari kamar membawa tas berupa perlengkapan dirinya dan sang anak.
Sania tak bisa melarang,Histy memang keras untuk dibujuk apalagi dengan keadaan tak akur.
Saat melawati ruang tamu,terlihat Serkan duduk disana dengan laptop didepannya.
Histy melirik sedikit tapi naas lelaki itu terlihat tak perduli.
Histy makin kesal dan mendengus keluar tanpa pamitan.
Sania hanya bisa pasrah dan menghela nafas panjang.
" Mama hati2 " Ucap Sania.
" Iya kamu juga " Balas Histi tersenyum.
Wanita cantik itu pun mendekati mobilnya dan keluar dari parkiran.
Sania masuk kedalam rumah dan berdiri didepan Serkan.
Lelaki itu masih sibuk dengan laptop didepannya.
" Pa " panggil Sania pelan.
" Hm " Jawab Serkan tanpa menoleh.
" Papa mau makan ?" tanya Sania hati2.
Serkan mendongak melihat gadis tersebut terlihat sedikit takut kepadanya.
" Ada makanan ?" tanya Serkan balik.
" Hm,kalo Papa mau aku bisa masak sekarang " Jawab Sania.
Serkan tersenyum,lelaki dingin itu mengangguk pelan menyetujui penawaran sang anak.
" Aku buatin dulu ya " Kata Sania ikut tersenyum.
" Hati2 " Balas Serkan.
Gadis itu pun berlalu menuju dapur.
Histi memang tak masak pagi ini,bahkan Sutar juga hanya sarapan dengan roti isi dan susu kemasan begitupun adiknya yg bungsu.
Tak banyak yg bisa Sania lakukan,ia hanya memasak seadanya agar Serkan bisa makan dengan layak.
Setelah hampir setengah jam berkutik didapur,akhirnya semangkuk sop ayam dan telur ceplok menghiasi meja makan.
Serkan yg penasaran akan masakan putrinya pun menghampiri dapur.
" Wahh masak apa nih ?" Tanya Serkan mengintip.
__ADS_1
" Mau makan sekarang Pa ?" tanya Sania.
Serkan mengangguk,Sania pun bergegas mengambil piring dan air minum.
Serkan merasa senang,ini kali pertamanya Sania melayani dirinya seperti bapak sendiri.
" Mau aku ambilin Tuan ?" Tanya Sania mencoba melawak.
" Hahah,ga usah Nona saya sendiri aja " Jawab Serkan.
Sania terkekeh geli,ia pun membiarkan Serkan mengambil makanannya sendiri.
" Kamu ga makan ?" Tanya Serkan.
" Aku dah kenyang Pa,tadi sambil masak sambil nyomot juga hehe " Jawab Sania
" Pantesan tinggal dikit " Balas Serkan menggoda.
Sania tertawa renyah,lelaki itu pun mulai makan tanpa protes sddikit pun.
Di jalan,pikiran Histy tak terlalu tenang.
Wanita itu masih memikirkan suaminya apalagi sikap dingin Serkan tadi.
" Mmaa jangan melamun " Tegur Sutar melihat sang ibu diam.
" Iya sayang " Balas Histi menoleh dan kembali fokus.
Sutar kembali diam melihat jalanan ibu kota.
Jarak rumah Bara dengan Histy lumayan jauh,ibu dan anak itu harus berhati2 dalam berkendara.
Hampir 45 menit,akhirnya Histy sampai.
Wanita itu berpapasan dengan adiknya yg siap2 akan pergi.
Juna mengernyit melihat Histy nyetir sendirian
" Mama ada ?" Tanya Histy mendekati sang adik.
" Lagi keluar " Jawab Juna.
" Dirumah " jawab Histy.
" Kamu mau kemana ?" tanya Histy lagi.
" Mau kekantor jemput Papa " Jawab Juna.
" Papa kenapa ?" tanya Histy merasa aneh.
" Katanya kurang enak badan,Papa ga mau pulang sendiri " jawab juna.
" Ya udah,sekalian bawa Sutar " kata Histy melihat anak lelakinya.
" Sutar mau ikut Om ?" tanya Juna.
Sutar mengangguk polos.
" Ya udah,kalian hati2 "
Juna dan Sutar mengangguk,keduany pun masuk kedalam mobil dan meluncur.
Histy juga masuk kerumah orang tuanya.
Wanita itu bergegas menuju kamar dirinya saat masih belia dulu.
Histy tak banyak bicara apalagi dirumah itu sedang sepi.
" Aku akan berdiam dsini ssmentara,kalo aku dirumah mungkin aku dan Mas Serkan akan cekcok lagi " Batin Histy saat merebahkan tubuhnya dikasur empuk.
Histy tau mungkin dirinya terkesan egois meninggalkan suami dirumah dengan masalah yg belum selesai.
Tapi disisi lain,Histy berpikir jika tetap berada ditempat yg terasa panas mungkin keduanya akan sama2 terbakar dan Histy takut hal2 yg tak ia inginkan terjadi.
" Semoga Sania bisa meredam emosinya Mas Serkan untuk sementara waktu " Harap Histy mengingat ada anak angkatnya dirumah.
__ADS_1
Histi mencoba tenang hingga akhirnya wanita itu tertidur dengan sendirinya.
Sang anak juga rupanya ikut tidur melihat ibundanya terlelap.
Sore menjelang,Zaiva pulang kerumah.
Wanita itu mendapat kabar bahwa sang putri berada dirumah merasa kaget dan heran.
" Dimana Histy Bi ?" tanya Zaiva kepada artnya.
" Dikamar Nyonya,dari tadi ga keluar " Jawab Bibi mengingat.
Zaiva mengangguk dan langsung menuju lantai atas.
Saat pintu kamar dibuka,nampaklah seorang ibu dan anak tidur terpisah.
Zaiva yg melihat cucunya sudah berbaring dipinggir ranjang pun bergegas memindahkan bayi kecil itu ketengah.
" Histy ini kalo tidur ga pernah sadar anaknya mau jatuh " Omel Zaiva heran.
Bocah kecil itu menggeliat hingga terbangun.
" Halo sayang " Sapa Zaiva hangat.
Putri menggeliat kesana kemari mencari ibunya.
" Itu,Mama mu disana " ucap Zaiva tau maksud sang cucu.
" Mama " Ucap Putri ingin menemui Histy.
Zaiva menggendongnya dan mendekatkan kepada Histy.
" Bangun His " Tegur Zaiva.
Histy membuka matanya dan melihat sang Mama sudah didepan mata.
" Mama " Ucap Histy kaget.
" Kenapa ga bilang mau ksini ?" Tanya Zaiva.
Histy bangun mengusap wajahnya.
" Jam berapa Ma ?" Tanya Histy.
" Udah mau jam 5 " jawab Zaiva
" Aduhh,Adek belum mandi " kata Histy panik.
" Hm,ayo turun " Balas Zaiva.
Wanita itu membawa cucunya dalam gendongan untuk turun kebawah.
Histy mengikuti dari belakang seraya mengumpulkan nyawa.
Dibawah juga sudah ada Bara dan Juna.
Bara melihat cucu bungsunya langsung tersenyum cerah.
" Udah bangun cucu kakek ?" Sambut Bara dengan girang.
Putri tersenyum malu mendapat sambutan hangat.
" Aku mandiin dia dulu " Kata Zaiva tak tahan melihat cucunya masih rungis.
Bara mengangguk setuju,Putri pun dibawa pergi ketempat lain.
" Histy " Panggil Bara membuat langkah kaki Histy terhenti.
" Iya Pa " Jawab Histy berbalik badan.
" Sini " Kata Bara melambaikan tangan.
Histy diam,kedua lelaki itu terlihat sedang memperhatikan dirinya.
" Kenapa Pa ?" Tanya Histy mencoba tenang.
__ADS_1
❤❤❤❤
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.