
Kebesokan paginya,Laura terbangun saat kembali mendengar suara tv dihidupkan.
" Hmmpp " Lenguh Laura menggeliat disofa ruangan.
Gadis itu merasa terganggu mendengar suara tv yang lumayan besar.
" Vero " Gumam Laura menoleh kearah pria itu.
Vero terlihat tenang duduk bersender diranjang menghadap televisi.
Jam masih menunjukkan pukul stengah 6 pagi,bahkan suasana diluar pun masih sedikit gelap.
Grgrgrgrgttt....
Suara perut Vero terdengar,lelaki itu mengusap perutnya merasa lapar.
Laura tersenyum melihat Vero mulai mengontrol expresi wajah.
" Kamu lapar ?" tanya Laura mendekati brangkar Vero.
Pria itu melihat Laura datar,Laura duduk disamping ranjang dengan senyum merekah.
" Bisakah kamu mengambilkan aku makanan ?" Tanya Vero datar.
Laura tersenyum semakin lebar.
" Bisakah jika meminta sesuatu kepada orang lain di selipkan kata (tolong) " Pinta Laura lembut.
Vero terlihat terkejut dan terdiam.
Gegrgrgrgrgr...
Perutnya kembali berontak minta diisi.
" Apa itu penting ?" Tanya Vero tajam.
" Iya,sangat penting agar orang yang kita mintai tolong mau membantu " Jelas Laura dengan senyuman hangat.
Vero mengangguk.
" Baiklah,tolong aku,kepala ku sakit jika harus berjalan " Kata Vero dingin..
" Mau makan apa ?" Tanya Laura memainkan alisnya.
" Kamu mau memberi nya ?" Tanya Vero kaget.
" Ya jika tak menyusahkan ku,aku akan lakukan "
" Baiklah,aku ingin makanan seperti diiklan semalam " Kata Vero menunjuk televisi.
" Hah iklan semalam ?" Tanya Laura terkejut.
" Iya " Jawab Vero mengangguk cepat.
" Mana aku tau iklan apa yang sedang tayang " Batin Laura bingung.
" Baiklah kalau kamu tidak bisa,makanan rumah sakit saja !" Kata Vero ketus.
Deg...
Laura kembali kaget melihat wajah merajuk Vero.
__ADS_1
" Em tapi ak..
" Sudah lah,jika tak mau membantu lebih baik kamu pergi sana membuat kepala ku sakit saja !" Usir Vero.
Deg...
Laura merasa hatinya tercabik2 mendengar kata kasar pria itu.
Vero benar2 sudah berubah.
" Baiklah,Kakak ambilkan dulu ya makanan nya " Kata Laura berusaha sabar.
Vero tak menjawab,pria itu serius menonton televisi.
Laura keluar dari ruangan meminta suster mengambilkan makanan untuk adiknya.
Siang harinya,dikantor kepolisian David dan Cila mendengar penjelasan polisi yang menangani kasus Vero.
" Saya yakin ada yang mencelakai anak saya " Kata David tegas.
" Bagaimana bapak bisa tau ?" Tanya polisi terkejut.
" Sebelumnya motor anak saya itu sudah saya cek semua bagian mesinnya sebelum kejadian,tapi setelah kecelakaan saya melihat ada kejanggalan,tali rem sengaja di putus " Kata David geram.
Cila hanya diam saja karna dirinya memang tak mengerti mesin.
" Iya kami juga sependapat dengan Bapak,kami menduga ini sudang di setting seseorang untuk mencelakai anak bapak dan ibu " Kata polisi membenarkan.
" Saya harap bapak polisi bisa menyelesaikan kasus ini hingga tuntas,saya mau tersangka bisa ditemukan secepatnya !" Kata David emosi.
" Kami akan melakukan olah TKP dulu pak,dan meminta keterangan korban "
Deg...
" Anak saya belum bisa bersaksi " Kata David lemah.
" kenapa ?" Tanya polisi.
" Vero hilang ingatan,bahkan dia tak mengenali kami sebagai orang tuanya " Kata David sedih.
Polisi diam mengangguk2an kepala.
" Kami ikut berduka Pak,kami usahakan kasus ini selesai dengan cepat " Kata Polisi ikut iba.
David mengangguk,pasangan itu pun keluar dari kantor polisi.
Malam harinya,giliran David dan Cila yang berjaga.
Laura pulang kerumah dan masuk kekamar Vero.
Ntah mengapa air mata gadis itu kembali turun melihat kamar yang biasanya ramai dengan suara nyanyian Vero yang girang kini sunyi tak berpenghuni.
" Vero huhuhuhu " Laura menangis memeluk guling adiknya.
Kenangan masa kecil mereka bagaikan kaset rusak yang terus berputar putar dikepala Laura.
Kenangan bagaimana Vero yang berlarian menjahili dirinya,Vero yang jatuh lalu kembali berlari dan jatuh lagi membuat Laura tersenyum mengenang masa2 indah itu.
Hingga tak terasa letihnya mengenang masa lalu membuat Laura tertidur dengan damai.
Kebesokan paginya,setelah sarapan seorang diri Laura masuk kekamar dan terdiam melihat jaket jins yang digantung rapi didepan lemari.
__ADS_1
Gadis itu mendekat dan mengusap jaket milik pria asing yang menolong dirinya.
Laura tau jaket itu bukan jaket murah,jadi Laura mencucinya dengan sangat hati2 dan memastikan semua nya aman.
" Dimana ya kartu nama pria itu ?" Gumam Laura teringat akan kartu nama yang sempat pria itu beri.
Gadis itu mencari di dompet dan menemukannya.
" Aku harus mengembalikan milik pria ini dulu baru kerumah sakit " Gumam Laura semangat.
Laura pun langsung menelpon orang tuanya,ternyata David tak pulang dari kantor semalaman jadi hanya Cila yang menjaga Vero dirumah sakit.
Stelah memberitahu Cila,Laura langsung bergegas ke alamat yang tertera disana.
Dirumah besar nan megah seorang pria duduk dihadapan kedua orang tuanya.
Seperti layaknya anak konglemerat lainnya,Pria itu dipaksa menikah dengan kolega sang pemilik rumah.
" Dad,Justin uda gede Dad,ngapain sih jodoh2 segala !" kata Justin mulai malas dengan pembicaraan yang membuat nafsu makannya hilang.
" Terus kapan kamu mau menikah Justin,ingat umur kamu itu udah kepala 3 bentar lagi kamu udah tua,siapa yang meneruskan perusahaan Daddy kalo kamu ngak punya anak !"
" Ya aku belum siap menikah Dad " Kata Justin kesal.
" Mau sampai kapan kamu hanya main celap celup sana sini hah! " Bentak Daddy Justin emosi.
Lelaki itu terasa tercekik dengan omongan prontal Daddynya.
Memang Justin bukan lah pria polos,dia cukup berpengalaman soal sex dan sampai kini Justin tak percaya dengan adanya Cinta,itu merupakan hal terbulshit dalam hidupnya.
" Udah lah Dad,kenapa sih kamu maksain Justin mulu " kata Mami Justin membela anaknya.
" Belain aja terus anak kamu itu,sampai tua juga bakalan seperti itu !" Kata Daddy Justin kesal.
" Kamu harus cari istri yang bermartabat ya Nak,pokoknya harus selaras sama kita !" kata Mami Justin lembut.
" Heh ini sama aja gila nya " Batin Justin malas.
Mami Justin selalu mengataskan harta dan tahta,hingga semakin membuat Justin merasa semua perempuan hanya menyukai harta saja bukan orang nya.
Acara sarapan pun selesai,seperti biasanya jika urusan keluarganya udah clear,Justin akan pulang ke apartemen.
" Jika kamu masih macem2 diluar dan tidak menuruti keinginan Daddy,siap2 saja semua fasilitas kamu Daddy ambil " Ancam Daddy Justin melihat pria itu akan melangkah keluar.
Justin hanya menghela nafas dan berlalu dari sana.
" Berapa Pak ?" Tanya seorang gadis kepada supir taxi.
" 105 ribu Neng " Kata supir itu tersenyum.
Laura mengangguk dan mengeluarkan uang pas.
Gadis itu turun dari taxi dan melihat gedung tinggi didepannya.
" Waw ini apartemen apa kantor ya ?" Gumam Laura bingung.
Karna semakin penasaran Laura pun membawa paperbag dan masuk kedalam.
❤❤❤❤
Hay guys jangan lupa terus dukung author dengan cara Vote,Like,Coment ya biar author semangat Up
__ADS_1