
Diluar rumah sakit,Yuna dan Vero terlihat canggung.
Sofia berada ditengah mereka yg bingung harus ikut kemana.
" Ayo " Ajak Vero menarik pelan tangan Sofia.
Sofia melihat Yuna,wanita muda itu diam tak memberi respon.
" Mama gak ikut Pa ?" Tanya Sofia melihat Vero.
Vero menggeleng pelan.
" Kita kerumah Nenek " Jawab Vero.
" Mama kenapa gak ikut ?" Tanya Sofia lagi.
" Mama em Mama ada kerjaan " Jawab Yuna mencari alasan.
" Mama kerja mulu,Papa kan udah kerja Ma " Kata Sofia heran.
Yuna diam melirik Vero yg juga meliriknya.
" Em Vero ikut Papa dulu ya,nanti Mama jemput " Kata Yuna mencoba tegar.
Sofia menunduk,gadis itu terlihat tak suka dengan jawaban ibunya.
" Bawa aja Ver,nanti em aku jemput dia kalo udah selesai " Kata Yuna pelan.
Vero mengangguk,lelaki itu kembali menarik tangan Sofia pelan.
" Mama selalu begitu sering ninggalin Sofia,Mama gak sayang sama Sofia " Kata Sofia kecewa.
" Bukan gitu Nak " Kata Yuna terkejut.
" Ayo Pa,Via gak mau sama Mama " Kata Sofia menarik tangan Vero cepat.
Vero menghela nafas panjang,pria itu juga terkejut mendengar ucapan anaknya barusan.
Keduanya melangkah mendekati mobil Vero,Yuna melihat dari kejauhan dengan wajah sedih.
" Maafin Mama sayang " Ucap Yuna lirih.
Wanita itu berjalan menjauh mendekati Taxi yg sudah ia pesan.
Dimobil Sofia menangis,gadis kecil itu terluka dengan sikap ibunya yg terkesan tak menginginkan dirinya apalagi ditambah kemarin ia juga tak bersama Yuna melainkan bersama pria asing.
" Udah gak papa " Ucap Vero memberi tisu.
" hiks hiks " Sofia terus menangis dengan air mata yg sudah banjir.
Vero menghela nafas panjang mengusap lembut kepala gadis itu.
" Bagaimana bisa aku melepaskan kamu kalo gini situasinya Sofia,kamu bakal sendirian dan Papa gak tega " Ucap Vero dalam hati.
Vero sebenarnya tidak perduli dengan hasil akhir karna Vero menganggap Sofia sudah menjadi anaknya sendiri.
Pria itu berkendara dengan tenang,hari ini ia meliburkan diri dari pekerjaan,Vero juga harus mengurus sekolah Sofia yg minggu depan akan masuk SD.
Meski banyak masalah yg sedang dihadapi,Vero mencoba bersikap profesional.
Pendidikan anaknya tetap nomor satu,Sofia tidak boleh putus sekolah..
" Kita kerumah Nenek kan Pa ?" tanya Sofia setelah sedikit tenang.
" Iya,kita kerumah Nenek dulu baru nnti kesekolahan baru kamu " Jawab Vero.
Sofia mengangguk setuju,gadis kecil itu pun kembali diam menikmati perjalanan.
Beberapa menit kemudian,Vero sampai dirumah Cila.
Seperti biasa,wanita tua itu selalu punya rutinitas yg sudah dihafali semua keluarga.
Terlihat disana ada seorang gadis yg nongkrong diayunan.
" Waaah ada Kak Tania " Ucap Sofia mengenali gadis itu.
Vero tersenyum mengangguk,pikir Vero adanya Tania akan membuat mood anaknya membaik nanti.
__ADS_1
Mobil berhenti,Sofia dengan cepat turun dan berlari.
" Kakaaakkk " Pekik Sofia heboh.
Tania yg asik berayunan terkejut diteriaki seseorang.
" Kakkk " Pekik Sofia lagi.
Tania bangun dari ayunannya dan Brugh....
Gadis itu malah tersungkur kebawah.
" Ehhhhhhhhhh " Pekik Sofia mengerem mendadak.
" Aduhhhhh " Ucap Tania mengusap wajahnya yg menghantam lantai.
Sofia menelan ludah kasar dan mendekati Vero yg mendekat kearah mereka.
" Ck,kasihaaan rusanya gak dapat " Olok Vero sambil menggeleng.
" Sofia sih bikin kaget " kata Tania kesal.
" Kan aku belum nyentuh " Kata Sofia tak terima.
Jetakkkkk....
Kepala Tania mendapat jitakan cantik dari tangan Vero membuat rasa sakit Tania bertambah parah.
" Ihhhh Kakak " Teriak Tania kesal.
Vero melongos kabur membuat Sofia tertawa ngakak dengan kejahilan Papanya.
" Awas aja ya nanti aku aduin sama Papa biar disalto !" Kata Tania geram.
Gadis itu menyeret tubuhnya duduk dikursi rotan yg sering dijadikan David tempat bersemedi.
" Kakak kapan kesini ?" tanya Sofia ikut duduk disana.
" Kemarin " Jawab Tania malas.
" Tidur dirumah Nenek ?" Tanya Sofia kaget.
" Waahh Kak Rania mana ?" Tanya Sofia lagi.
" Gak ada " jawab Tania ketus.
" Kemana ?" tanya Sofia mengernyit.
" Kuliahhhhhh " Jawab Tania ingin menelan gadis kecil itu.
Sofia ber Oh ria dan kembali tertawa.
" Huh bikin kesel aja " Kata Tania kesal.
Sofia diam melihat wajah garang anak Denis tersebut.
" Kamu nanti tinggal disini ya ?" tanya Tania melihat Sofia.
" Hm gak tau " Jawab Sofia polos.
" Kan Papa sama Mama kamu...." Ucap Tania menggantung.
" Kenapa ?" Tanya Sofia menunggu.
" Hehe gak papa,ayo minta uang sama Kakek,kita ke Mall " Jawab Tania semangat.
" Hah " Pekik Sofia kaget.
" Tapi kamu yg minta ya,dan jangan sampe Bibi tau " Kata Tania tersenyum smirk.
" Gak dibolehin Papa Kak " kata Sofia takut.
" Ck tenang aja,ada Kakak dan Papa kakak kan polisi jadi kalo ada yg jahatin nanti kita lapor aja " Kata Tania penuh dengan akal bulusnya.
Sofia diam sejenak mencoba berpikir.
" Udah ayokk pasti dikasih " Kata Tania memaksa.
__ADS_1
" Tapi aku takut Kak " Kata Sofia ngeri.
" Kalo Bibi gak tau kita bakalan aman " Kata Tania terkekeh.
Sofia diam lagi,gadis itu merasa tidak berani meminta uang kepada David apalagi jika Cila tau.
" Hm atau kita ke tempat kerjanya Om Justin aja gimana,disana ada Abang yg kamu suka " kata Tania teringat.
" hah siapa ?" tanya Sofia terkejut.
" Itu Om yg kamu cerita,dulu aku pernah kesana sama Tante Laura dan ketemu sama Abang ganteng itu " Kata Tania semangat.
Manik Sofia berbinar,ia memang ingin sekali bertemu dengan pria yg sudah menolongnya tersebut bahkan masih jelas diingat gadis kecil itu wajah sang malaikat.
Tania dan Rania tau bahwa Reka merupakan pria idaman Sofia karna dulu keduanya pernah melihat Reka dan Hani bersamaan,tapi gadis remaja itu merahasiakan pertemuan tersebut kepada orang tua dan Neneknya karna gadis kembar tersebut tau bahwa Hani cukup membuat kehebohan.
Dengan seribu bujukan dan rayuan maut Tania,Sofia setuju dijadikan kambing hitam.
Dengan gagah berani,gadis kecil itu masuk keruang kerja David.
Tania sudah memberitau stategi yg harus Sofia lakukan agar si Kakek menuruti permintaan mereka.
Tania menunggu diluar memantau kondisi aman atau tidak.
" Dah sana cepetan " Kata Tania meminta Sofia yg ragu untuk masuk.
" Kalo dimarahin,Kaka harus temenin aku ya " Kata Sofia ngeri.
" Iya tenang aja " Kata Tania mengangguk asal.
Sofia kembali masuk dan membuat pmilik ruangan membuka kaca mata.
David bersedekap dada melihat cucunya berjalan mendekat dengan tangan saling brrtautan.
" Kenapa ?" Tanya David tenang.
" Kakek lagi ngapain ?" Tanya Sofia naik ke sofa.
" Kerja " Jawab David singkat.
" Hmm Cape ya Kek kerja terus ?" Tanya Sofia lagi.
" Ya " Jawab David menyelisik.
" Huh sama Kek,aku juga cape dirumah terus gak ada temen,gak bisa jalan2,padahal Via tu butuh liburan gitu " Kata Sofia mulai masuk rencana.
David mengernyit mendengar keluh cucunya yg belum menginjak usia 10 tahun tersebut.
" Mau liburan ?" Tanya David menebak.
" Hm ya sih,tapi kangen juga ya sama Om Justin hehe " Jawab Sofia membuat David bingung.
" Mau ketemu Justin ?" Tanya David lagi.
" Iya,ditempat kerja juga gak papa " Jawab Sofia terkekeh.
" Hah tumben,biasanya Justin kesini kamu gak respeck sama dia ?" Tanya David heran.
" Tapi sekarang Via kangen Kek,maunya sekarang,kalo Kakek gak bisa anter gak papa Kok,Via bisa perginya bareng Kak Tania " Jelas Sofia lancar.
Deg....
David tersentak,wajah yg tadinya bingung kini berubah tenang.
" Oh jadi Taniaaaa " Ucap David mulai membaca akal bulus cucunya.
Sofia mengangguk dengan senyum cerah berharap David mengabulkan permintaan mereka.
" Butuh berapa ?" Tanya David sedikit meninggikan suaranya.
Tania yg daritadi menguping langsung berbinar mendengar suara David yg terkesan mengizinkan.
" Hm berapa ya ? bntar Kek aku tanya Kak Tania dulu " Kata Sofia turun dari duduknya.
" Ehhh " Pekik Tania kaget dengan jawaban Sofia.
Gadis remaja itu dengan cepat kabur dari sana sebelum rencana mereka hancur.
__ADS_1
❤❤❤❤
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya