
Matahari terbit dengan begitu terang,sinaran kuning terlihat memasuki celah2 rumah yg ditempeli papan2 lapuk.
Seorang pria membuka perlahan matanya dan menatap langit2 rumah.
" Sudah pagi " Ucap lelaki itu serak.
Serkan menatap kiri kanan dan terlihat ruangan kecil yg cukup rapi itu tak ada siapapun.
" Hoaaammmm " Serkan menguap lebar seraya meluruskan tubuh2nya.
Lelaki itu bangun dan duduk sejenak.
Ingatannya belum sepenuhnya pulih,rasa lelah masih ia rasakan disekujur tubuh.
Dengan langkah pelan Serkan keluar dari kamar tersebut dan tersentak melihat pasangan suami istri sedang duduk makan diruang tengah.
" Selamat pagi Dokter " Sapa Kakak ipar Sania dengan senyum mengembang
" Ayo sini Dok,sarapan dulu " Ajak kakak laki2 Sania tak kalah ramah.
" Eh iya " Jawab Serkan seraya menggaruk kepalanya.
Kakk ipar Sania bangkit dan berjalan menuju dapur.
Serkan mendekat dan duduk didepan kakak laki2 Sania.
" Ayo sarapan dulu,istri saya bakal siapin kopi " Kata Abdul tersenyum.
" Iya terima kasih " Balas Serkan dengan senyum tipisnya.
Abdul memberikan piring dan Serkan dengan canggung mengambil nasi dalam tanak beserta lauk yg tak lain hanya telur dan sayur bayam.
" Maaf Dokter hanya seadanya " Ucap Abdul melihat Serkan diam.
" Iya,ini aja sudah bersyukur " Balas Serkan mengerti.
Lelaki itu mengambil telur dan sayur itu kedalam piring plastik..
Mereka sarapan seadanya dengan tenang,sesekali Abdul curi pandang Serkan yg makan dengan lahap.
Tak lama istri Abdul masuk lagi dengan 2 cangkir kopi panas.
" Silahkan Dokter " Ucap wanita itu menyodorkan.
" Terima kasih Mba " Balas Serkan ramah.
Ketiganya kembali makan tanpa banyak bicara.
Setelah semua selesai,Serkan menganjak Abdul untuk mengobrol diluar.
Keduanya duduk diteras menikmati deru sepoi angin pagi yg cukup dingin.
" Begini..." Ucap Serkan membuka obrolan.
" Iya ada apa ?" tanya Abdul mulai serius.
" Hm,maksud kedatangan saya kesini buat ngasih informasi " Ucap Serkan memberanikan diri.
" informasi apa ? Sania mau menikah ?" tanya Abdul dengan kekehan kecil.
Deg...
Serkan tersentak dan menunduk sejenak.
" Bukan " Ucap Serkan dengan helaan nafas.
" Lalu apa ?" tanya abdul penasaran.
__ADS_1
" maaf jika ini akan sangat mengganggu mu,tapi ini masalah yg cukup serius " Jawab Serkan.
" Bicara saja Dokter " Kata Abdul mulai jengah.
" Iya " Kata Serkan diam menarik nafas.
Hening....
" Beberapa waktu lalu,Sania mengalami kecelakaan " Kata Serkan mantap.
" Apa !" Pekik Abdul syok.
" Iya,ada Bom bunuh diri ditaman dimana teman Sania bersantai " Lanjut Serkan lagi.
" Astagfirullahhaalazim " Ucap Abdul tak percaya.
" Ya,saya sangat menyesal karna tidak bisa menolongnya saat itu " Kata Serkan sedih.
" Lalu bagaimana dengan adik saya ? Apa dia selamat ?" Tanya Abdul penuh khawatir.
" Saat ini Sania masih dalam perawatan,lukanya cukup parah membuat skujur tubuhnya dibungkus perban " Jawab Serkan
Pyqkkkkk.....
Bunyi tumpahan terdengar,kedua lelaki itu menoleh dan terkejut melihat kakak ipar Sania berdiri diambang pintu dengan tubuh mematung dan kue gaben yg jatuh ke tanah.
" Dibungkus ?" Ucap wanita itu gemetar
Serkan menghela dengan anggukan pelan.
" Dia masih hidup,kami mencoba melakukan perawatan terbaik " kata Serkan serius.
Abdul lemas seketika,lelaki itu masih tak menyangka hal gila terjadi kepada adiknya.
" Kemana kalian saat itu ?" Tanya Kakak ipar Sania .
" Itu salah saya karna meninggalkannya sendirian " Lanjut Serkan lagi.
" Apa Sania akan selamat ?" tanya Abdul lemah
" Saya harap begitu " Jawab Serkan.
" Ya Tuhannn,Ibu kami baru saja meninggal kemarin,sekarang Sania dalam keadaan hidup dan mati " kata Abdul menyugar rambutnya.
" maafkan saya,makanya kedatangan saya kesini untuk meminta maaf karna lalai menjaga Sania " Kata Serkan serius.
Abdul masih menyugar rambut kasar dan terlihat menangis sedih.
" Kasihan sekali nasib mu Sania " Ucap kakak ipar Sania sedih.
" jika nanti di siuman kami akan melakukan apapun ntuk membuat ia kembali seperti semula " Kata Serkan yakin.
" Bagaimana caranya Dok ?Sania pasti trauma sepanjang hidupnya " kata Abdul tak sanggup membayangkan.
Serkan kembali diam,memang bukan hal mudah untuk bisa kembali seperti semula,tapi ia yakin bisa melakukannya dengan benar.
" Jika Sania sudah sembuh,pulangkan dia kesini " Ucap Abdul sambil mengangkat kepalanya.
" Apa !" Balas Serkan syok.
" Ya,aku ingin melihat adik ku dan merawatnya,hanya dia yg aku punya di dunia ini " Kata Abdul meneteskan air mata.
Serkan lagi2 terdiam.
" Iya,lagipula hidup dikota pasti akan membuatnya minder dan jadi bahan olokan orang2 " Sahut Kakak ipar Sania
" Tapi Sania butuh perawatan dan...."
__ADS_1
" Saya mohon Dok,saya tidak ingin kehilangan orang yg saya sayangi lagi " Kata Abdul berharap.
" Bagaimana dia bisa sembuh jika berada disini ?" Batin Serkan bimbang.
" Dok " Panggil Abdul menegur.
" Tapi belum bisa sekarang,akan membutuhkan waktu yg sangat lama mengingat kondisinya yg parah " Kata Serkan serius.
" Baik Dok,saya akan tunggu selama apapun itu " Kata Abdul tak kalah serius.
Mau tak mau Serkan menyetujui permintaan lelaki itu karna Abang Sania memang berhak atas adikmya
Setelah mengobrol panjang dan menjelaskan semuanya dengan jujur,Serkan pun pamitan pulang.
Masih banyak yg harus ia lakukan dikota termasuk mengurus anak istri yg ditinggalkan.
Dirumah,Histy terlihat sedang masak ditemani anak perempuannya yg berada dalam kursi roda bayi.
Wanita itu terlihat sibuk membuatkan bubur hangat yg lezat.
" Maaa " Panggil seseorang masuk dapur.
Histy berbalik badan dan melihat Sutar berjalan gontai kearahnya.
" Ada apa Nak ?" Tanya Histy lembut.
Sutar terus berjalan dan memeluk kaki ibunya.
" Sutar pusing Ma " Ucap bocah itu lesu.
" hah ? Kamu sakit ?" tanya Histy kaget.
Dengan cepat wanita itu meraba kepala dan leher anaknya dan benar saja semua terasa panas
" Ya Tuhan " Ucap Histy melotot.
" Uk uuuk ukkk ueeekkkk " Sutar seketika memuntahkan isi perutnya membuat Histy panik seketika.
" Sutarrr ya Tuhannn " Ucap Histy makin panik.
Sutar terlihat masih muntah dan mual2.
Sang adik berjalan menjauh melihat abangnya tak karuan.
" Adekk tunggu disana " Kata Histy menunjuk kearah pintu keluar.
Bocah perempuan itu seolah mengerti dan menuruti permintaan ibunya.
Histy bergerak cepat mengambil percak dan mengusap punggung Sutar.
" Ya Allah Nak kamu kenapa ?" Kata Histy sambil menangis.
" Sakit perut aku Ma " Jawab Sutar dengan wajah pucat.
" Huhuhuhu " Histy makin menangis memeluk putranya.
Tak banyak yg bisa ia lakukan,Serkan tak ada dirumah dan tak ada yg bisa menolongnya selain Tuhan.
" Mama kenapa nangis ?" tanya Sutar mengusap air mata sang ibu.
" Huaaaa huaaaa " Histy makin kuat menangis membuat Sutar bingung.
Bocah lelaki itu mengusap punggung gemetar Ibu nya yg sedang memeluk.
" Masss huhu pulang Masss anak kita sakitt " Batin Histy memanggil sang suami dengan pilu.
❤❤❤❤❤
__ADS_1
Hay Guys jangan lupa Vote,Like,Coment ya.