Cahaya Untuk Suami Ku

Cahaya Untuk Suami Ku
Cobaan


__ADS_3

Angel tidur kamar Daniel setelah diberi makan dan Obat,Daniel menatap nanar gadis yg terbungkus dengan selimut tebal tersebut.


Ntah apa yg Daniel pikirkan saat ini,tapi lelaki itu merasa lelah dan sakit kepala.


Daniel diam menatap sekitar,hanya ada mereka berdua saja disana keadaan pun begitu hening.


" Aku harus tetap sehat,aku gak boleh sakit " Ucap Daniel bangkit dari duduknya.


Pria itu mendekati Angel dan duduk disamping ranjang.


Wajah ayu dan menggemaskan terlihat disana,Angel terlihat seperti Prito,garis wajahnya sangat mewarisi sang teman.


" Kamu terlihat seperti Papa mu persi wanita tapi tingkah mu sedikitpun tak mirip Prito,kau mewarisi tingkah konyol ini dari mana hem ?" Gumam Daniel pelan seraya merapikan anak rambut Angel.


Pria itu tersenyum kecil,dipikir2 Angel ada lucunya juga.


Semua kekacauan yg gadis itu buat memang merusak harinya yg damai,tapi Daniel merasa ada sedikit hiburan karna ia bisa memarahi gadis itu secara bebas dan meluapkan isi hatinya meski banyak tertahan.


Daniel sebenarnya memang butuh pundak seseorang untuk bersandar apalagi saat ini ia sedang dihadapkan dengan sakitnya sang buah hati yg begitu mengiris Hati.


Jika tak kuat,Daniel rasa dirinya pasti sudah gila menghadapi banyaknya cobaan tanpa henti.


" Kau akan tetap disini sampai kapan pun kau mau,tapi berjanjilah untuk tidak membuat aku kewalahan " Gumam Daniel pelan.


Angel tertidur pulas,ntah apa yg Daniel beri kepadanya membuat gadis itu sulit membuka mata.


Malam makin larut,Daniel melihat jam dinakas dan bangun dari duduknya.


Lelaki itu berjalan keluar meninggalkan Angel sendirian.


Pria itu mendekati dapur dan membuka kulkas.


Masih banyak makanan disana,pria itu juga mengecek air galon agar nanti Angel bisa minum saat bangun.


" Semua beres,dia tidak akan kekurangan " ucap Daniel tenang.


Dengan bergegas,Daniel mengambil jaketnya yg lain dan berjalan keluar.


Lelaki itu mengunci pintu dari luar dan tak lupa menyisipkan 1 kuncinya kepada Angel.


" Halo Bu " Sapa Daniel menelfon sang ibu.


" Kamu dimana ? Kenapa Lama ?" tanya sang Ibu diseberang.


" Iya ini udah jalan,tadi ada kerjaan sedikit " jawab Daniel.


" Cpatlah kesini,Zini nangis mau kamu "


" Iya Bu,aku udah deket " Balas Daniel.


Tut.


Panggilan terputus sepihak,dengan helaan nafas panjang lelaki itu langsung berlari keluar dan mengendarai mobilnya.


Dirumah sakit,Zini kembali muntah.


Efek kemoterapi membuat gadis itu begitu lemah.

__ADS_1


Helai demi helai rambut cantik Zini juga rontok parah.


Gadis itu terpaksa mengenakan kupluk yg sudah dihiasi agar Zini suka memakainya.


" Sabar ya sayang " Ucap sang nenek kasihan.


" Huhuhu Papa " Ucap Zini sambil menangis.


" Iya,Papa udah mau sampe " Kata Ibu Daniel ingin menangis.


Siapa yg tega melihat anak sekecil Zini sudah merasakan sakit yg luar biasa,bahkan orang yg sudah dewasa pun mungkin tak sanggup.


15 menit kemudian,Daniel sampai.


Lelaki itu terlihat begitu buru2 mendekati anaknya.


Zini diam melihat Daniel begitupun sang Ibu.


" Kamu gak papa sayang ?" tanya Daniel lembut langsung memeluk.


" Dia takut " Jawab sang Ibu.


" Maafin Papa ya,Papa tadi ada urusan sedikit " Kata Daniel lembut.


Zini memeluk Daniel erat seolah tak ingin kehilangan lelaki yg sudah memberinya cinta tersebut.


" Gimana hasilnya Bu ?" tanya Daniel.


" Ntah lah,Ibu tak bisa membacanya,tapi Dokter bilang ini resiko " Jawab Ibu Daniel sedih.


" Kita harus gimana Niel ? Ibu gak sanggup lihat Zini kesakitan gini " Kata Ibu Daniel berkaca kaca.


" Mau gimana Bu,aku juga gak tau " Jawab Daniel sedih.


" Mama " ucap Zini pelan.


" Mama ?" Ulang Daniel.


Zini mengangguk kecil membuat Daniel dan Ibunya terdiam.


" Ngga ada Mama sayang,dia sudah pergi " Kata Ibu Daniel tegas.


Zini menunduk sedih,sudah berulang kali Neneknya mengatakan bahwa sang ibu tak ada lagi.


" Apa aku harus menemui Nial ?" tanya Daniel.


" Tidak usah,hadir dia malah bikin pusing " Jawab sang Ibu tak suka.


" Bu,tapi ini Zini yg mau " Kata Daniel memelas.


" Nggak Daniel,kamu gak lihat dia perduli gak sama Zini ! Kamu ngga inget dia mau taruh Zini dipanti asuhan ! " kata Ibu Daniel marah.


Daniel terdiam,memang perkataan itu melekat diotaknya.


Daniel begitu kecewa kepada sang mantan istri.


Lelaki itu menatap sang anak yg masih pucat dan begitu kurus..

__ADS_1


Hatinya terasa sangat sakit,tapi Daniel tak ingin menunjukkan kesedihan dihadapan sang anak,Daniel yakin putrinya akan sembuh.


" Apa kita bawa saja Zini pulang ?" Tanya sang Ibu hati2.


" Maksud Ibu ?" tanya Daniel mengernyit.


" Ya,kita rawat dirumah saja Niel " Jawab Wanita itu takut.


" Maksud Ibu kita hanya menunggu Zini pergi begitu ?" tanya Daniel tak suka.


Sang Ibu diam,sungguh ia tak tega melihat Zini harus bertarung nyawa seperti sekarang.


Sebenarnya Dokter sudah memberitahu hasil yg mengejutkan,tapi wanita itu takut memberitahu Daniel hasil yg buruk apalagi lelaki itu begitu kuat dan percaya Zini akan sembuh..


" Teman aku bilang Zini gak papa,kita harus banyak bersabar aja " Kata Daniel tegas.


" Niel " Ucap sang Ibu lembut.


" Aku ga pernah berpikiran jauh kesana Bu,Zini ada disini !" Kata Daniel gemetar.


Wanita tua itu menjatuhkan air matanya mendengar ucapan Daniel yg mulai marah.


Ibu Daniel bisa memahami apa yg dirasakan Putranya saat ini,dirinya pun tak ingin menyerah tapi melihat kondisi Zini membuat wanita itu tak tega,apalagi saran Dokter begitu menghancurkan hatinya.


" Aku akan cari cara lain agar Zini sembuh !" kata Daniel tegas.


Lelaki itu pun berjalan keluar menutup pintu ruangan.


Sang ibu dan sang anak menatap lelaki itu penuh haru.


Zini dari tadi hanya diam melihat expresi Daniel yg tak bisa ia terka..


Terlalu lugu dan lemah bocah itu untuk mencerna setiap perkataan orang tuanya.


" Kamu yg kuat ya sayang " Ucap Sang Nenek memeluk cucu tercintanya tersebut.


Tangis tak bisa ia bendungkan lagi,air mata mengalir begitu saja membasahi wajah rentanya..


Tangan kecil Zini terangkat dan ikut memeluk serta menangis bersama.


" Malangnya nasib mu Nakk,jika bisa Nenek mau menanggung ini semua asal kamu sehat dan bahagia sayang " Kata Ibu Daniel terisak.


Tangis Zini makin besar,secara batiniah ia bisa merasakan kesedihan neneknya.


Diluar,Daniel menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Diam2 lelaki itu juga menangis tanpa suara.


" Apa yg harus aku lakukan Tuhan ?" Gumam Daniel serak.


" Ini terlalu menyakitkan,ujian ini begitu berat untuk ku " Ucap Daniel sedih.


Untuk pertama kalinya lelaki itu menangis begitu berat untuk sang buah hati.


❤❤❤❤


Hay Guys jangan lupa Vote,like,coment ya.

__ADS_1


__ADS_2